DIARY ALYA

DIARY ALYA
127


__ADS_3

Alya sedang sibuk - sibuknya, skripsinya masuk Bab 4 dan disini dibutuhkan konsentrasi yang tinggi karena harus mulai mengerjakan produk akhir yang berupa sebuah program dan harus disertai dengan hasil uji coba oleh responden.


Konsentrasi sangat dibutuhkan dan juga dukungan dari orang sekitar harus mensuport nya dan selalu memberinya semangat.


Setiap hari Alya harus pandai mengatur waktu antara bekerja dan mengerjakan skripsi nya agar semuanya itu berjalan beriringan.


Beban berpikir yang berat kadang membuat Alya merasakan pusing dan tingkat stresnya meningkat.


Di saat begitulah dukungan dari Angga sangat dibutuhkan oleh dirinya. Dukungan dan semangat cari orang yang disayang sangat memberikan pengaruh yang luar biasa.


Saat Angga melihat Alya yang sepertinya butuh refreshing di akan mengajaknya keluar untuk sekedar menyegarkan pikirannya kembali.


Tak jarang saat Alya begadang di malam hari Angga akan setia menemani walaupun mereka terpisah jarak hanya lewat ponsel.


Hari minggu ini Alya beristirahat, pikirannya tak kuat lagi untuk meneruskan skripsinya, dia mau pergi ke rumah Silvi lama tak kumpul bersama dengan teman-temannya itu.


Pagi hari setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya Alya pun bersiap.


"Kemana Al."


Tanya Ibunya melihat Alya sudah mandi.


"Alya mau ke rumah Silvi ya Bu."


"Jangan sore kalau pulang."


"Iya Bu."


Alya masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya yang masih di charger.


Saat membuka ponselnya ada pesan dari Angga.


"Hari ini ngapain."


"Mau ke rumah Silvi Mas."


Alya membalas pesan Angga.


"Kenapa nggak main ke rumah Mas aja, Ibu sama Bapak mau kenal sama kamu"


Alya duduk di bibir tempat tidurnya sambil membaca pesan dari Angga.


"Lain waktu ya Mas, Alya malu."


"Kenapa malu."


Alya sebenarnya masih malu jika bertemu dengan keluarga Angga.


"Alya takut Mas. Maaf ya Mas lain kali. Alya udah ada janji."


Pesan itu Alya kirim ke Angga kembali dan Alya pun menunggu balasan dari Angga.


"Kemana Mas Angga ya, kok nggak balas."

__ADS_1


Alya merasa gelisah karena pesannya tidak langsung dijawab oleh Angga.


"Apa marah ya, Mas Angga. Nanti aku kirim pesan lagi deh."


Alya memasukkan ponselnya ke dalam tas dan kemudian pergi ke rumah Silvi.


Sesampainya di rumah Silvi sudah ada Ana, karena mereka memang sudah membuat janji untuk kumpul sedangkan Shifa tidak bisa karena ada kerjaan.


"Kamu kenapa sih Al."


Tanya Silvi.


"Pesan ku kok nggak di balas sama Mas Angga ya."


Alya nampak gelisah dengan melihat ponselnya terus dan tak ada balasan dari Angga.


"Dia marah sama kamu."


Tanya Ana.


"Nggak sih An, tadi juga masih kirim pesan."


"Coba di telepon." Saran Silvi.


Alya manakah nomor ponsel Angga dan mencoba menghubunginya.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan."


yang terdengar hanya pesan dari operator memberitahu jika nomornya tidak aktif.


"Mungkin handphone lagi di charger." Silvi mencoba memberi pemikiran yang positif saja.


"Iya kali Al, kirim pesan lagi coba. Nanti kalau ponselnya aktifkan pesan kamu masuk." pinta Ana.


Alya mengirimkan pesan kembali kepada Angga.


"Mas, Alya sudah sampai rumah Silvi, Alya nggak main-main kok Mas di sini Alya mau minta pendapat sama temen-temen sambil pinjem buku mereka."


Sekitar 10 menit kemudian Ia membuka ponselnya kembali tapi tidak terkirim juga kepada Angga.


"Nggak terkirim An."


"Dia tahu kan kalau kamu kesini." Tanya Silvi.


"Tau Sil, cuman tadi pas aku mau berangkat ke sini Dia kirim pesan. Kalau aku di suruh main ke sana Bapak sama Ibunya mau kenal sama Aku. Ya tapi gimana Aku malu banget kalau main ke sana sendiri kalau nggak dijemput sama dia."


"Bisa jadi dia itu marah karena kamu lebih milih main ke rumah Silvi daripada ke rumah Dia." Ucap Ana membuat Alya baru kali ini Angga marah.


"Apa iya An, aku harus gimana. Aku kan cuma mau ketemu kalian sama pinjam bukunya Silvi."


"Coba nanti di telepon lagi." Pinta Silvi.


Seharian itu Alya main ke rumah silvi bersama dengan Ana namun pikirannya sangat tidak tenang, ponsel Angga benar-benar dimatikan olehnya karena semua pesan Aliya dan panggilannya tidak tersampaikan kepada Angga.

__ADS_1


Hingga habis dhuhur karena cuaca juga sudah mendung Alya berpamitan untuk pulang ke rumah.


"Al, hati-hati jangan tahu berpikir sama Mas Angga. Jangan melamun." Pinta Silvi.


"Iya Sil, aku pulang ya."


Baru sekitar 1 kilo dari rumah Silvi hujan pun turun, Alya berhenti dan mengenakan jas hujannya.


Pikiran Alya masih saja terpaut dengan Angga, dia pun tak bisa menahan air matanya dia menangis ditengah deraian air hujan yang menerpa tubuhnya.


"Mas.. maafin Alya. huuukk..hukkk..."


"Maafin Mas."


🌹🌹🌹🌹🌹


~Angga PoV~


"Matikan saja ponselnya, ternyata dia lebih memilih temannya daripada aku."


Angga marah karena Alya tidak mau main ke rumahnya dan lebih mementingkan main ke rumah Silvi.


Seharian Angga juga kepikiran dengan Alya, namun karena keegoisan dirinya dan hatinya terpenuhi dengan rasa marah Dia tetap mematikan ponselnya tak menghidupkannya sama sekali.


"Biarin saja dia bingung, coba gimana caranya dia akan membujuk ku."


Angga hatinya benar-benar merasakan kecewa karena Alya lebih mementingkan teman-temannya.


" Aku akan mematikan ponselku ini dan tak akan menghidupkannya sebelum dia minta maaf."


"Biarin saja dia tahu, kalau aku kecewa sama dia."


Sehari semalam ponsel benar - benar dimatikan oleh Angga, dia seperti menguji Alya sampai di mana rasa cintanya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Pagi pun datang, Alya merasakan tubuhnya sangat lemas sekali hari itu. Dia hanya tidur sekitar 3 jam tadi malam, karena terlalu memikirkan Angga.


Entah berapa puluh kali dia menghubungi Angga dan juga mengirimkan pesan kepada Angga untuk minta maaf namun semua tak masuk begitu pula dengan Sosial medianya Alya sudah mengirimkan Messenger tapi tidak ada balasan sama sekali.


Karena tak bisa tidur Alya pun akhirnya membuka skripsinya kembali dan coba mengerjakan programnya agar dia lupa dengan masalahnya dengan Angga.


Namun apa yang didapat beban pikiran yang sangat berat dan membuat badannya terasa sangat capek sekali karena kurang tidur.


"Kamu sakit Al."


Ibunya melihat Alya tak bersemangat hari itu.


"Nggak Bu, capek aja."


" Kalau capek izin aja gak usah berangkat."


"Alya nggak papa Bu."

__ADS_1


Alya berpamitan dengan kedua orang tuanya kemudian berangkat untuk bekerja Dia berharap hari ini bisa bertemu dengan Angga dan menyelesaikan masalahnya.


😥😥😥😥😥


__ADS_2