DIARY ALYA

DIARY ALYA
44


__ADS_3

Senyum tak henti - hentinya terpancar dari wajah mereka berdua.


Tri pacar pertama tetapi bukan orang yang pertama kali dicintai oleh Alya. Namun dengan kehadiran Tri di kehidupannya Alya seperti mendapatkan semangat baru.


"Al, mau nambah lagi jusnya."


"Udah Mas kenyang."


"Setelah ini mau kemana Al."


"Udah siang ya Mas, emang mau kemana Alya takut kesorean pulangnya."


"Ya udah bentar aja yuk, ikut Mas."


Tri berdiri menuju ke kasir untuk membayar pesanan mereka dan Alya mengikutinya dari belakang.


"Udah, ayo Al."


Tri meraih tangan Alya dan membawanya keluar dari cafe itu.


Alya sebenarnya risih karena digandeng tangannya oleh Tri.


"Sebentar saja Al sampai parkiran ya."


Tri tau kalau Alya merasa risih tetapi dia malah mengeratkan genggamannya.


Alya mengikuti saja dan tetap berjalan seperti itu sampai parkiran.


"Pakai dulu masker kamu Al."


Selesai memakai maskernya Alya ingin memakai helmnya namun malah di ambil Tri dan dipakaikan.


"Udah enak."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Makasih Mas."


"Makasih terus Al, yuk naik."


Setelah Tri memakai helmnya sendiri dan naik ke atas motor kemudian meminta Alya untuk berpegangan pada dirinya saat naik motornya.


"Pegangan."


Tri sengaja menggoda Alya.


"Pegang jaket aja ya Mas."


"Mau peluk juga boleh, he he he.."


"Udah Mas jalan yuk."


"Kemana."


"Mas gimana katanya mau ngajak ke suatu tempat."


"Kalau ke KUA mau nggak."


"Alya mau kuliah dulu Mas."

__ADS_1


"Ha ha ha.. Oke..."


Tri melajukan sepeda motornya menuju suatu tempat sambil membonceng Alya.


"Mas mau beli apa ke sini."


Tri menghentikan sepeda motornya di parkiran sebuah distro.


"Cari sepatu, ayo masuk"


Alya berjalan mengikuti Tri, dan masuk ke dalam.


Beberapa sepatu dia coba dan bergaya di depan Alya menanyakan apa pantas atau tidak.


"Bagus yang tadi Mas."


"Tapi warnanya kurang suka Sayang."


Alya diam mencerna omongan Tri barusan yang memanggilnya Sayang.


"Sayang..."


Tri melihat Alya melamun.


"Eh.. iya Mas, kenapa."


"Kenapa melamun, bagus yang tadi ya."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Mas, warna lain ada nggak yang ini."


"Ada Mas sebentar."


Setelah di carikan ternyata terdapat 3 warna untuk sepatu yang dipilih di coba satu persatu sambil bergaya di depan Alya.


"Bagus Mas itu."


"Oke, Mas juga suka itu. Selera kita kok sama ya sayang."


Goda Tri, membuat pipi Alya bersemu merah apalagi sejak tadi dipanggil sayang.


"Karena bagus Mas, sepatunya."


"Mas, tolong yang buat ceweknya."


Tri memang sengaja mencari sepatu couple karena ingin membelikan Alya juga tapi tanpa sepengetahuan Alya.


"Oke, sebentar Mas."


Alya diam saja karena dia pikir mau membelikan adiknya yang perempuan.


"Di coba Sayang."


Tri berjongkok di depan Alya yang duduk menunggunya.


"Kenapa Alya yang nyoba Mas."


"Itu sepatu perempuan masa Mas yang nyoba."

__ADS_1


Tri melepas sepatu Alya dan memakaikannya yang baru untuk mencobanya.


"Apa ukurannya sama dengan kaki Alya Mas."


Tri tersenyum saja dan masih memasangkan tali sepatunya.


"Berdiri Sayang."


Tri meraih tangan Alya dan berdiri mensejajarkan sepatunya dengan sepatu Alya.


"Gimana Mas, cocok."


Tri Minta pendapat pada karyawan distro yang melihatnya.


"Cocok Mas, pasangan serasi."


Alya menatap Tri yang hanya tersenyum saja.


"Suka kan Sayang."


"Maksudnya ini buat Alya."


"He he he.. Iya Sayang, polos banget sih pacarku."


Tri gemas mengusap kepala Alya yang tertutup hijab.


"Tapi Mas, ini berlebihan."


"Sayang, please.. Di terima ya."


Tri meraih tangan Alya.


"Tapi Mas,..."


"Sussttt.. Mas nggak mau kamu nolak."


"Mas minta kantong untuk tempat sepatu."


Tri meminta tempat sepatu untuk membawa sepatu yang lama dan meminta Alya memakai sepatu mereka yang sudah sama.


Alya merasa Tri berlebihan baru jadi pacarnya sudah dibelikan sepatu dan harganya cukup mahal bagi dirinya yang selalu menghemat uang.


Tri sedang di kasir dan membayar sepatu Mereka, Alya menunggu sambil duduk dan memandangi sepatu baru yang ada di kakinya.


"Kenapa Sayang, ayo pulang atau mau kemana lagi."


"Mas, apa ini nggak berlebihan."


"Nggak Sayang, yuk kita masjid dulu ya sholat dhuhur."


"Iya Mas."


Tri meraih tangan Alya dan mengajaknya keluar dari distro, kemudian melajukan kembali sepeda motornya.


Setelah sholat dhuhur, Mereka memutuskan untuk pulang.


Tri memahami Alya ini anaknya rumahan jadi jarang banget pergi lama dan Dia nggak mau Alya di marahi kedua orang tuanya.


😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2