
"Hiks..hiks..."
Alya tak tahan lagi untuk tidak menangis, Dia di depan minimarket menunggu Yuli yang sedang membeli obat luka.
Dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya menahan rasa sesak di dadanya.
"Al.."
Yuli memegang pundaknya dan membuat Alya mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata.
"Sruuutt..."
Alya mengusap hidungnya dengan tisu.
"Ini obatnya."
Yuli memberikan kapas, plester dan obat merah ke Alya.
"Di bawah aja ya Yul, sulit kalau duduk di kursi."
Yuli mengangguk saja, mereka berdua duduk di lantai.
Alya mengambil kapas untuk membersihkan darah di jempolnya.
"Hiss...."
Alya menahan rasa perih.
"Pelan - pelan Al."
Setelah darah bersih terlihat luka ternyata jempolnya terkelupas di dekat kukunya, sebab kakinya tadi harus menahan sepeda motor yang hampir ambruk.
__ADS_1
Alya meneteskan obat merah dan kemudian memasang plester di jempolnya.
"Perih banget."
Alya meringis.
"Kamu nggak papa kan Yul, nggak ada yang terluka."
" Tenang aja Al, aku gak papa."
"Ini minum, Kita jadi mau nyari es krim." lanjut Yuli.
"Disini dulu Yul."
Alya menenggak minuman yang diberikan oleh Yuli tadi hingga membasahi kerongkongannya.
"Kamu nggak papa kan Al."
"Apa salah aku Yul, kenapa semua terjadi bersamaan."
"Mas Tri mutusin aku Yul, dan sekarang harus terluka karena ditabrak orang belum lagi dianya malah yang minta ganti rugi."
"Apa Al, Mas Tri mutusin kamu."
Yuli kaget mendengarnya.
Alya menganggukkan kepalanya sambil memandang ke depan dengan tatapan nanar.
"Dia cuma chat, katanya lebih baik kita temenan saja sekarang. Itu putuskan Yul artinya."
"Alasannya apa."
__ADS_1
" Aku sendiri tidak tahu Yul, padahal kemarin sore kita masih jalan. Dia ngajak ketemu habis pulang kerja dan dia pun nggak ngomong apapun kita baik-baik saja. Tapi malam harinya dia mengirimkan pesan lebih baik kita temenan saja sekarang."
"Mutusin kamu hanya lewat chat aja Al."
"Iya Yul, aku sampai sekarang masih belum paham aku berbuat salah apa sama dia. Katanya cuma maaf dan maaf tanpa memberikan penjelasan apapun, hufft...."
Alya menghela nafas yang terasa sangat berat di dadanya.
"Nggak gentleman banget Mas Tri, mutusin cewek cuma lewat pesan."
"Sudah lah Yul, itu kemauan Dia. Aku cuma mengikutinya saja."
"Tapi kamu masih sayang kan Al sama Mas Tri. Dan setau aku Mas Tri itu sayang banget sama kamu. Dulu ya waktu pertama dia datang ke pabrik dia sering nanyain kamu sama aku."
"Kalau ditanya apa masih sayang, jawaban ku iya Yul. Aku masih sayang sampai saat ini, karena selama kita bersama jarang banget namanya berantem, tapi lagi - lagi ini sudah jalannya Yul, mungkin yang terbaik."
"Kenapa kamu nggak tanya apal
alasannya Al."
"Huft.. Aku nggak bisa Yul, aku bingung dengan diriku sendiri sebenarnya telah berbuat salah apa sama dia. Kalau memang itu mau Dia, Ya sudah aku ikuti saja ini yang terbaik untuk kita."
"Huft.. Sabar ya Al."
Yuli memeluk Alya yang terlihat sangat menyedihkan setelah diputuskan pacarnya kini malah dia ditabrak orang dan terluka walaupun hanya luka ringan tapi rasanya sangat sesak di dada.
Alya tersenyum, "I am Oke, Yul."
Tapi beda dengan hatinya yang masih terasa sakit tapi tak berdarah.
"Ya udah ,yuk kita cari yang seger -seger." ajak Yuli
__ADS_1
"Oke..."
☺☺☺☺