
"Yeay... Alhamdulillah."
Alya bahagia sekali sesudah keluar dari ruangan kepala program studi karena judul yang ia ajukan akhirnya mendapatkan persetujuan juga.
"Alhamdulillah ya Al, sekarang kita tinggal fokus mengerjakan proposal ini."
Kata Vera yang juga merasa lega akhirnya judulnya di setujui juga.
"Iya Ver, semangat..."
Mereka berjalan menuju ke masjid untuk menunaikan kewajibannya sholat maghrib dan setelah selesai segera ke parkiran dengan semangat baru dan siap untuk mengerjakan proposal.
Alya melajukan sepeda motornya menuju ke rumah bersama dengan Vera yang malam ini akan menginap di rumah Alya.
"Ver, makan dulu yuk."
Saat akan keluar dari gerbang kampus.
"Yuk, kedai depan itu enak Al."
Alya melihat ke kedai tersebut yang terlihat dari hadapannya.
"Ogah, kita cari tempat yang lain aja."
"Kenapa."
Vera mengerutkan dahinya nggak paham, atau hanya pura - pura lupa saja kalau tempat itu bagi Alya penuh kenangan.
"Pokoknya aku malas ke situ, bebek bakar aja sana depan dekat pom bensin."
"Oke deh ikut aja."
Vera masih berpikir kenapa Alya nggak mau diajak makan ke sana padahal dulu Alya suka sekali makan ke sana.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim."
Vera tiba - tiba menyebut seperti itu sambil menepuk pundak Alya dari belakang.
"Kenapa sih Ver, bikin kaget aja Kamu lagi nyetir ini."
"He he he.. Sorry ya Al, aku benar-benar lupa kalau tempat itu penuh kenangan."
Kata Vera dengan menahan tawanya dan sengaja menekankan pada kata kenangan.
"Heleh... Kamu itu, udah enggak usah dibahas lagi males mengingatnya."
"He he he... Oke deh. Lho kok kita belok ke sini."
Alya membelokan sepeda motornya kedai bebek bakar yang terkenal di sana.
"Mau makan nggak."
Alya mematikan mesin sepeda motornya kemudian melepas helmnya dan meletakkannya di spion.
Vera menggoda Alya.
"Lapar, bikin emosi."
Alya berjalan menuju ke dalam untuk segera memesan pesanannya karena perutnya juga sudah terasa keroncongan. Vera langsung mengikutinya dia tertawa sendiri, senang sekali menggoda Alya.
Tak butuh waktu lama pesanan mereka sudah datang, Vera dan Alya langsung menyerangnya seperti orang yang beberapa hari tidak makan.
Selesai menyantap hidangannya, Alya dan Vera menuju ke kasir untuk segera membayar dan pulang ke rumah.
🌹🌹🌹🌹🌹
Angga meletakan tangannya di belakang kepala sambil menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"He...hemmm... "
Dia menerawang jauh ke depan didalam pikirannya dan senyum-senyum sendiri.
"Lucu juga Dia."
Angga masih menatap langit kamarnya namun bibirnya selalu tersenyum dengan senyuman.
"Semangat anaknya, bertanggungjawab juga rajin juga ibadahnya."
Angga bicara sendiri dan senyum-senyum sambil mengingat kebersamaannya tadi bersama Alya di ruangan waktu mengawasi ujian siswa - siswinya.
Sebenarnya tanpa sepengetahuan Alya, Angga sering mencuri pandang ke arah dirinya. Tadi pun saat mereka bersama mengawasi ujian siswa-siswinya Angga yang duduk berseberangan meja dengan Alya juga sering memperhatikan Alya dalam diamnya.
"Aku jadi penasaran sama Dia, semangatnya itu yang luar biasa Dia masih kuliah tapi sudah pandai bekerja."
Angga kemudian bangun dan mengambil ponsel pintarnya. Dia membuka aplikasi pesan singkat yang saat ini terkenal dan mencari grup sekolahan.
"Ini nomornya kayaknya, tapi kalau aku mau hubungi nya aku cari alasan apa ya."
Angga membuka profil dari nomor ponsel Alya.
"Cantik juga."
Angga tersenyum sendiri melihat foto profil Alya yang terpampang di sana.
"Kayaknya aku harus cari tahu dulu tentang dia, dia kan anak IT pasti punya media sosial."
Angga membuka aplikasi media sosial yang dia punya dan mulai menggantikan nama Alya untuk mencari info tentang Alya.
☺☺☺☺☺
Yeayy... Ada yang Stalking..
__ADS_1
😁😁😁😁