DIARY ALYA

DIARY ALYA
147


__ADS_3

Pagi menjelang Angga sudah bersiap untuk ke rumah Alya karena ingin mengantarnya ke studio foto guna untuk foto untuk ijazahnya.


Angga mengambil helmnya kemudian keluar dari rumah dan tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu.


Sepeda motor ia lajukan meninggalkan rumahnya menuju ke rumah Alya dengan perasaan gembira.


Sekitar 20 menit ia telah sampai di depan rumah Alya, dia memarkirkan sepeda motornya dan melihat Ikhsan yang sedang mencuci sepeda motornya karena ini hari minggu.


"Hai San." Sapa Angga.


"Halo Mas, masuk aja Kak Alya di dalam."


"Oke."


Angga mengucapkan salam dan keluarlah Alya yang sudah bersiap akan pergi dengannya.


"Masuk Mas duduk dulu, Alya ambilkan minum ya."


Angga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Alya keluar dengan membawa nampan yang berisi minuman dan camilan.


"Silahkan Mas."


"Makasih Sayang, Ibu sama Bapak kemana."


"Ibu ke pasar, Bapak lagi istirahat. Mau Alya panggilkan Mas."


"Nggak usah biar Bapak istirahat, tadi sudah bilang kan kalau mau pergi sama Mas."


"Sudah Mas."


Angga nampak menganggukkan kepalanya dan mengambil minuman yang ada di depannya.


"Mas minum ya."


"Iya, Alya ambil tas dulu ya Mas."


Alya masuk lagi ke dalam untuk mengambil tasnya dan kemudian keluar dengan mengenakan jaketnya.


"Mau berangkat sekarang." Tanya Angga.


"Mas Angga masih capek nggak."


"Nggak, yuk kalau mau berangkat."


Alya membereskan minuman Angga dan meletakkannya ke dalam terlebih dahulu kemudian keluar dan mengambil helmnya.


Angga sedang ngobrol sama Ikhsan yang sedang mencuci motornya.


"Yuk Mas."


"Oke, pergi dulu ya San."


"Iya Mas hati - hati."


"San, Kak Alya pergi dulu Bapak masih tidur."


"Iya Kak."


Angga melajukan sepeda motornya meniggalkan rumah Alya menuju ke studi yang mereka inginkan.


Sekitar 30 menit Angga sudah memarkirkan sepeda motornya di depan studio foto itu, Mereka turun kemudian masuk ke dalam berdua.


Setelah bicara resepsionis Mereka pun diarahkan untuk masuk ke dalam Studio.

__ADS_1


"Silahkan Kak bersiap dulu."


Alya di arahkan pegawai di sana keruangan khusus untuk bersiap supaya hasilnya memuaskan.


Setelah siap Alya keluar dari ruangan dan Angga menatapnya sambil tersenyum.


"Kenapa Mas."


"Cantik banget kamu."


Angga meraih tangan Alya dan menatapnya lekat.


"Jadi foto nggak Mbak." Tukang fotonya udah manggil.


"Lepasin Mas." Alya menarik tangannya dan Angga melepasnya tak rela.


Alya mengikuti arahan juru foto untuk mendapatkan hasil yang terbagus dan Angga mengamatinya dari tempat duduknya tanpa berkedip memandang ke arah Alya.


Selesai juga sesi foto guna untuk ijazahnya, Angga mendekati Alya dan memintanya untuk berfoto bersama.


"Mas, tambah sekali ya. Sayang kita foto bareng."


Pinta Angga dan Alya memandangi Angga penuh tanda tanya.


"Yang mesra dong."


Ledek fotografer yang mengarah mereka.


"Gimana Mas, Alya nggak bisa."


"Mbaknya tangannya di pundak Masnya, kemudian tangan yang satunya bergandengan."


Mereka mengikuti arahan dari fotografer, dan jadilah foto mereka berdua.


"Sudah cocok untuk prewed ini." Ledek Tukang foto itu.


"Oke sudah selesai bisa diselesaikan di depan."


"Oke, makasih Mas."


Mereka berdua turun dari lantai 2 dimana seperti berada menuju ke kasir depan.


Setelah semua selesai mereka pun pergi meninggalkan studio itu.


"Sayang, kita jalan dulu yuk."


Kata Angga saat mereka diparkiran.


"Kemana Mas."


"Ke wisata yuk yang adem."


"Oke..."


Mereka menaiki sepeda motor dan Angga melaju dengan kecepatan sedang menuju ke tempat wisata yang mereka inginkan.


Sekitar 30 menit kemudian mereka telah sampai di tempat wisata yang memiliki hawa sejuk dengan pemandangan yang indah.


Hamparan hijau dipadukan dengan candi - candi yang berdiri kokoh menunjukkan dulunya itu merupakan daerah kawasan kerajaan yang terkenal.


Kabut akan semakin menyelimuti jika mereka semakin naik ke atas menuju ke puncaknya.


"Di sini aja Mas, Alya capek."


Alya meminta berhenti Sesampainya di candi ke lima karena dia sudah tidak kuat lagi untuk jalan walaupun sebenarnya tadi bersedia kuda jika ingin naik sampai ke puncaknya.

__ADS_1


"Iya udah kita duduk di sana Sayang."


Angga menunjuk pada sebuah bangku kosong.


Setelah duduk Alya mengambil minuman yang ia bawa tadi kerongkongannya terasa sangat haus.


"Haus Sayang."


Alya masih menenggak minumannya dan menganggukkan kepalanya.


"Ini camilannya dimakan."


"Iya Mas, baru sampai sini kok sudah capek ya Mas padahal dulu kalau main sama temen-temen bisa sampai puncak lho."


"Sayang pernah ke sini."


"Pernah sama temen - temen."


Angga tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Dia meraih tangan Alya dan menggenggamnya.


"Sayang..."


"Hmmm.. Iya Mas."


"Kamu mau kan menikah muda."


Alya memandang Angga yang juga memandang dirinya.


"Iya Mas." Kata Alya sambil tersenyum ke arah Angga.


"Sayang, Will you Marry Me."


Angga turun dari bangku itu dan berjongkok di depan Alya sambil menggenggam tangannya.


Alya tersenyum namun membuang mukanya ke arah lain dia kaget Angga melamarnya.


"Sayang, Mas mau kamu menjadi Istri Mas dan menjadi Ibu dari anak-anak Mas nanti."


"Mas Angga sudah yakin sama Alya."


"Mas yakin Sayang, kamu istri pilihan Mas."


Alya tersenyum,


"Kalau Mas Angga serius, Mas Angga bilang sama kedua orang tua Alya." Ucap Alya membuat Angga tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Iya Sayang, Mas akan bilang kepada kedua orang tua Mu. Tapi Sayang mau kan jadi istri Mas."


"Alya mau Mas."


Kata Alya sambil tersenyum dan itu membuat Angga senang sekali kemudian mencium punggung tangan Alya yang ia pegang.


"Makasih Sayang."


"Tapi Mas Angga harus bilang sama Ibu dan Bapak."


"Iya Sayang, nanti Mas akan bilang kepada Ibu dan Bapak jika Mas serius sama Kamu dan kita akan menikah."


Alya tersenyum, Angga mencium tangan Alya lagi membuat dia tersipu malu.


"I Love You."


Ucap Angga sambil memandang Alya namun Alya hanya tersenyum saja.


"Di jawab dong Sayang, emang kamu nggak cinta ya sama Mas."

__ADS_1


"Love You Too, Mas.."


😀😀😀😀😀😀


__ADS_2