DIARY ALYA

DIARY ALYA
193


__ADS_3

Alya dan Angga baru saja keluar dari ruangan Dokter, nampak wajah Alya yang lemas setelah mendengar penjelasan dari Dokter.


"Mas, Alya mau duduk dulu."


Alya melihat bangku kosong di pojok dan aman untuk bicara.


"Kamu mau minum."


Alya pun menganggukkan kepalanya kemudian Angga beranjak akan ke kantin untuk membeli air minum.


"Kamu disini ya."


"Ikut aja Mas, Alya mau ke kantin."


"Ya udah yuk."


Angga menggandeng tangan Alya dan mereka berjalan bersama menuju ke kantin.


Sampai di kantin Alya di suruh duduk kemudian Angga yang membelikan air minum untuknya.


"Ini Sayang."


Angga memberikan air minum di dalam botol kemasan itu yang sudah dibuka tutupnya untuk Alya.


"Makasih Mas."


Setelah merasa tenggorokannya basah ingin berbicara dengan Angga.


"Mas, apa perlu kita lanjut program ini. Pasti butuh biaya banyak karena itu rumah sakit besar dan terkenal mahal."

__ADS_1


Alya telah tiga kali bertemu dengan dokter di rumah sakit ini dan menurut pemeriksaan tidak ada perkembangan yang begitu pesat dari hasil program hamil selama 3 bulan ini.


Dokter memberikan surat rujukan untuk menuju rumah sakit yang lebih besar yang memiliki peralatan yang lebih canggih sekaligus akan dilakukan pemeriksaan terhadap suaminya juga.


Rumah sakit ini terkenal sebagai Rumah Sakit elit karena memiliki peralatan dan metode perawatan pasien yang terbarukan.


Alya dan Angga disarankan untuk melakukan inseminasi jika nanti tidak didapatkan masalah pada sistem reproduksi Angga.


"Sayang, nggak usah mikirin biaya. Insya Allah kita bisa, berdoa rejeki kita lancar dan kita bisa ke Dokter."


"Iya Mas, tapi rasanya berat untuk di lakukan."


Angga meraih tangan Alya di atas meja dan menggenggamnya.


"Sayang kita bisa." Katanya sambil tersenyum untuk meyakinkan istrinya.


Setelah itu Angga mengajaknya pulang karena hari juga sudah sore.


Sesampainya di rumah, adzan maghrib berkumandang mereka segera membersihkan diri secara bergantian dan melaksanakan sholat maghrib dengan berjamaah.


Malam telah larut tapi Alya juga belum bisa memejamkan kedua matanya, Dia masih kepikiran dengan ucapan Dokter tadi sore.


Angga yang tergeletak di samping Alya sudah terlelap ke alam mimpi.


Alya memiringkan tubuhnya memandang wajah suaminya yang teduh di dalam tidurnya.


"Mas... Maafin Alya." Batin Alya dan air matanya lolos begitu saja.


"Alya belum bisa membahagiakan Mas Angga, Alya hanya membuat malu Mas Angga." Alya terus merasa bersalah dan menghakimi dirinya jika dirinya lah penyebab belum mendapatkan momongan di dalam pernikahan mereka.

__ADS_1


Dia semakin terisak dan banjir air mata, Angga sebenarnya juga belum terlelap apalagi telinganya samar - samar mendengar isakan tangis dan istrinya.


Alya melihat Angga bergerak kemudian dia segera mengusap air matanya dan membalik tubuhnya membelakangi Angga dan pura - pura tidur.


Angga membuka kedua matanya, Dia memiringkan tubuhnya kemudian memeluk Alya dari belakang.


Dia mengangkat kepala Alya dan menjadikan tangannya untuk bantal istrinya sehingga dia dapat mendekap tubuh Alya.


"Tidur Sayang, jangan menangis terus."


Angga meraba wajah Alya dan mengusap air matanya.


Alya malah terisak dan Angga memeluknya dengan hangat.


"Kita sebagai manusia harus terus berikhtiar, jangan putus asa dan yakin pasti Allah akan memberikan kita keturunan."


Alya diam saja karena tak sanggup untuk berbicara nanti malah membuatnya semakin menangis.


"Sabar, kita harus sabar dan kamu sayang jangan selalu menyalahkan diri kamu sendiri. Kita jalani bersama."


"Maafin Alya Mas."


Dalam hati Alya.


"Tidur Sayang, I Love you."


Angga mendekap Alya dan melewati malam itu dengan kehangatan.


🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2