DIARY ALYA

DIARY ALYA
168


__ADS_3

Hari telah siang, dan ini waktunya angka pulang dari kerja. Alya keluar dari kamarnya dan menunggu suaminya itu sambil menyaksikan televisi.


Tak lama terdengar suara sepeda motor Angga yang berhenti di teras rumah. Alya segera keluar untuk menyambut suaminya yang baru pulang dari kerja.


Alya tersenyum manis ke arah Angga yang juga melebarkan senyumannya.


"Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam Mas."


Alya meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.


Angga melepaskan sepatunya dan Alya mengambil tas suaminya itu.


"Masuk Mas."


"Kok sepi pada kemana Sayang."


"Ibu tidur, Dani main yang lain belum pulang."


Angga mengikuti Alya masuk ke dalam kamar.


"Capek Mas."


Alya meminta jaket Angga dan menggantinya dengan hanger.


"Iya Sayang."


Angga melepaskan seragamnya karena badannya sudah terasa sangat gerah.


"Alya siapkan makan siang dulu ya Mas. Mas Angga mandi kalau terasa gerah."


"Sebentar Sayang."


Angga memeluk Alya yang akan keluar dari kamar dari belakang dan meletakkan kepalanya di pundak sang istri.


"Bau asem suami Ku."


Alya berlagak menutup hidungnya.


"Tapi sedap kan."


"Mas mandi dulu, biar seger."


"Mas kangen cantik banget tadi difoto."


"Tadi cantiknya Alya kalau difoto aja Mas."


"Ya lebih cantikan aslinya dong." Alfa mengecup pipi Alya dan membuatnya tersenyum.


"Itu perutnya udah bunyi, Alya siapin makan siang ya Mas."


"Oke, Mas laper."


"Mas bersihin badan dulu, Alya tunggu di meja makan."


"Oke Sayang."


Alfa kembali mengecup pipi Alya sebelum istrinya itu keluar dari kamar.

__ADS_1


Setelah menyegarkan badannya Angga menyusul Alya yang telah menunggunya di meja makan untuk makan siang.


"Silahkan Mas."


Alya cara mengambilkan nasi beserta lauk pauknya dan menghidangkannya di hadapan Angga.


"Makasih Sayang."


Mereka menyantap makan siang itu dengan nikmat kemudian terdengar orang yang mengucapkan salam di pintu depan ternyata Ikhsan.


"Makan San." Tawar Angga kepada adiknya itu yang baru pulang dari sekolah.


"Iya Mas."


Ikhsan langsung menarik kursi dan duduk di depan meja makan.


"San, kebiasaan deh... cuci tangan dulu sana." Alya sudah hafal dengan tabiat adiknya itu yang kalau pulang sekolah langsung mengambil piring dan makan.


"Udah tadi Kak."


"San.. Jorok kamu. Cuci tangan dulu sana." Suara Alya makin keras kalau Ikhsan tidak segera mencuci tangannya malah mengambil nasi.


"Iya... Iya..."


Ikhsan meletakan piringnya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan.


"Sayang, yang halus kalau nyuruh." Pinta Angga.


"Mana bisa Mas ngomong sama Ikhsan dihalusin, dia itu kebiasaan Mas kalau pulang sekolah kayak gitu tidak cuci tangan langsung ambil piring."


Angga tersenyum saja dan Ikhsan telah kembali lagi ke meja makan.


"Jangan kaget ya Mas, Kak Aly kayak gitu. Hati-hati ya Mas kalau pulang nggak cuci tangan dulu bisa dimakan sama Kak Alya." Kekeh Ikhsan dia suka menggoda Kakak perempuannya itu.


"Mas Angga kan beda nggak kayak kamu yang jorok itu."


"Sudah.. Di depan rezeki jangan berantem." Lerai Angga.


"Weeekkk..." Alya menjulurkan lidahnya ke arah Adik laki - lakinya itu.


"Sayang..." Angga menatapnya dan Alya terdiam.


"Ha ha ha..." Tawa Ikhsan melihat Kakaknya sekarang ada pawangnya.


Selesai makan Angga dan Alya beristirahat dulu supaya nasinya turun ke bawah dengan menonton televisi dan Alya mengupas kan buah untuk suaminya.


"Ini Mas."


"Makasih Sayang."


Ikhsan keluar dari kamarnya dan langsung menyambar piring yang berisi buah yang telah dikupas kan oleh Alya.


"Ikhsan... Itu buat Mas Angga." Protes Alya.


"Boleh kan Mas."


"Iya makan aja San."


"Itu... Mas Angga nggak papa kok Kak."

__ADS_1


"Nggak sopan Ikhsan."


"Sayang... Udah nggak papa, kupas lagi." Pinta Angga.


"Mas... Belain terus Ikhsan."


Dengan manyun Alya mengupasnya kembali karena telah berkurang dimakan Ikhsan.


"Ha ha ha..." Tawa Ikhsan dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sayang, jangan pelit sama saudara." Angga mengusap kepala Alya yang tertutup hijab.


"Nggak pelit Mas, tapi Ikhsan nggak sopan Mas."


"Udah, ayo makan Mas ngantuk."


Selesai makan buah, Angga mengajak Alya untuk tidur siang anak karena matanya terasa mengantuk sekali.


Di dalam kamar mereka merebahkan badannya dan menikmati tidur siang itu hingga tak terasa sore pun menjelang.


Angga terbangun mendengar adzan Ashar dan Dia kemudian membangunkan istrinya.


"Sayang bangun, udah ashar bantuin Ibu memasak di dapur."


Alya menggerakkan badannya dan menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas, Mas Angga mandi dulu aja."


"Iya Sayang."


Hingga tak terasa malam telah tiba Alya dan Angga telah beristirahat di dalam kamar karena mereka berdua besok pagi harus berangkat mengajar.


"Sayang.."


Angga memeluk istrinya sambil bersandar dari tempat tidur.


"Iya Mas."


"Kalau kamu nantinya ikut sama Mas tinggal bersama kedua orang tua Mas gimana."


Alya tiba - tiba teringat ucapan ibunya.


"Alya ikut ke rumah Mas gitu."


"Iya Sayang, Mas ini anak laki - laki satu-satunya dan adik juga sudah punya rumah sendiri jadi Mas ingin menjaga kedua orang tua. Kasihan Mereka kalau di hari tuanya hanya berdua."


Alya meresapi setiap ucapan suaminya, sehingga dia tak berani mengatakan apa yang sebenarnya diinginkan oleh ibunya yang menginginkan mereka berdua tinggal di situ saja.


Dia sadar sebagai istri sudah seharusnya mengikuti suaminya apalagi alasan suaminya adalah untuk menjaga kedua orang tuanya, letak surga seorang suami itu ada di ibunya dan letak surga istri itu ada di suaminya. Namun dia juga punya rasa ingin dekat dengan kedua orangtuanya.


Alya terdiam di pelukan Angga dia belum bisa menjawabnya.


"Sayang, nggak usah dipikirin juga sekarang. Mas hanya bertanya tadi."


Ucap Angga sambil menangkup wajah istrinya dan memberikan kecupan di bibirnya.


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Dia masih bimbang dan bingung.


😌😌😌😌😌

__ADS_1


__ADS_2