
"Mas... Alya minta maaf, Alya nggak bicara yang lain selain pekerjaan tadi."
Alya masih bicara sendiri tapi Angga cuma diam saja, tanpa mengucap satu kata pun sambil membelakangi istrinya itu.
"Mas... Hiks..hiks... Maafin Alya, jangan diam aja. Alya bingung harus gimana."
Merasakan sesak yang ada di dada, Alya menumpahkannya dengan menangis dan membelakangi Angga. Dia membenamkan wajahnya di bantal, rasanya mau teriak agar lepas semua dan semua orang mendengar.
"Terserah Mas, kalau mau marah terus Alya capek Mas menjelaskan semuanya. Ambil aja Alya Ya Allah, Alya capek rasanya mending mati aja."
Alya rasanya udah meluap sampai berucap begitu.
Mendengar begitu Angga membalik badannya dan memeluk Alya dari belakang.
"Jangan ngomong gitu."
Alya masih menangis dan Angga mengusap air matanya dengan jarinya.
"Jangan ngomong gitu, kalau ada malaikat lewat gimana."
"Biarin, Alya capek Mas Angga nggak dengerin Alya, hiks...hiks...Buat apa Alya ada."
"Husstt... Jangan bilang gitu, maafin Mas."
Angga memeluknya erat dan mengusap air mata Alya dengan lembut tapi hati Alya rasanya sakit.
"Udah berumur juga kelakuan kayak anak kecil." Dalam hati saja Alya bicara, dosa sebenarnya mengumpat suami seperti itu tapi benar-benar Angga kalau cemburu membuat Alya frustasi mungkin kalau mereka statusnya pacaran sudah minta putus tapi ini sudah menikah dan menikah itu bukan untuk dimainkan.
"Jangan suka ngomongnya nggak baik takutnya nanti ada malaikat lewat, Mas minta maaf."
"Mas Angga cemburunya kelewatan, Alya capek Mas rasanya." Alya masih memalingkan tubuhnya dan Angga memutar tubuh istrinya itu untuk menghadap kepadanya tapi Alya masih enggan.
"Sekarang aja rayu."
Lagi - lagi Alya hanya berani bicara di dalam hatinya saja.
"Sayang, hadap sini dong dosa lho membelakangi suami."
Rayu Angga dan malah membuat Alya tambah jengkel.
"Kalau istri gak nurut sama suami dosa katanya, terus kalau suami bikin istri jengkel apa nggak ada aturan yang bilang itu dosa."
Angga menghela nafasnya kemudian dia yang berputar ke hadapan Alya yang masih diam saja tak bergeming.
Alya tak memandang Angga yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Sayang.."
Angga menangkup wajah Alya dengan kedua tangannya.
"Maaf..."
Katanya sambil memberikan kecupan manis di kening Alya.
Alya sekarang hanya diam saja dia bingung dengan sifat Angga yang mudah marah terus berubah jadi romantis lagi.
"Jangan di ulangi lagi yang kayak tadi, cuma berdua dengan laki-laki lain Mas cemburu Sayang. Hampir aja itu cowok Mas sampar kakinya."
Alya menatap wajah Angga tak menyangka dirinya jika suaminya itu mau berbuat seperti itu.
"Mas bisa aja nonjok itu orang."
Tambah Angga dan Alya seperti tak percaya saja suaminya kalau udah cemburu bisa buta mata.
"Jangan nangis lagi, kita tidur ya."
Angga membawa Alya ke dalam pelukannya namun Alya yang biasanya memeluk juga tubuh suaminya kini dia diam aja menerima perlakuan Angga tanpa membalasnya.
Alya diam saja masih sakit hati dengan Angga sama sekali tidak mendengarkan apa yang ia katakan dan hanya marah saja.
Angga meraih tangan Alya dan melingkarkan nya ke tubuhnya.
"Gini kan lebih hangat."
Alya belum juga bisa tersenyum, Dia diam saja di pelukan Angga dan hanya pura-pura memejamkan matanya karena sebenarnya dia juga belum bisa tidur.
"Mas.."
Alya membuka matanya tapi tanpa menghadap ke Angga.
"Hmmm, iya Sayang."
"Alya keluar kerja saja ya."
Angga diam tak bereaksi apapun, yang di hati Alya saat ini hanya ingin mencari solusi supaya Angga tidak cemburuan jika bicara dengan lawan jenis.
"Tidur Sayang, udah malam."
Angga malah mendekapnya erat.
"Alya harus gimana Mas, biar Mas Angga nggak cemburu padahal teman Alya banyak yang cowok."
__ADS_1
Angga tak menjawab, Dia memejamkan matanya dan pura-pura terlelap padahal sebenarnya dia juga belum tidur.
"Mas..."
Alya menatap ke arah Angga tapi tak ada respon apapun, suaminya itu diam.
"Mas nggak bisa jawab Sayang." Dalam hati Angga.
"Entah kenapa hati ini rasanya sakit melihat kamu bicara dengan cowok lain rasanya Mas takut kehilangan kamu."
Angga memejamkan matanya dan berbicara di dalam hatinya.
Alya merasa Angga tak memperhatikannya, Dia melepaskan pelukannya dan kemudian membalik tubuhnya kembali.
Angga membuka matanya dan menahan badan Alya agar tidak membelakangi dirinya.
"Sayang, tidur udah malam."
Angga mengusap rambut Alya dan mencium keningnya.
Alya diam saja, Dia sudah merasa suaminya itu enggan di ajak bicara masalah mereka dan selalu mengalihkan pembicaraan.
Alya memejamkan matanya lagi, itu pun tak juga membuatnya tidur pikirannya malah sampai kemana - mana.
"Ibu... Alya mau pulang."
Alya hanya berani bicara di dalam hati juga dan air matanya pun lolos begitu saja.
Malam makin larut jam menunjukkan pukul 3 dini hari, entah jam berapa Dia baru terpejam dan kini Alya bangun merasakan ingin ke kamar mandi. Setelah menunaikan hajatnya Dia mengambil wudhu dan sholat malam meminta ketenangan hati.
Selesai sholat Dia melihat Angga duduk di tempat tidur sambil memandang dirinya, Alya kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.
Angga menatap mata Alya yang jelas terlihat sembab, karena menangis entah sampai jam berapa dan akhirnya tidur sendiri.
"Sayang..."
Angga ikut merebahkan tubuhnya di samping Alya dan memeluknya.
"Hmmm..."
"Maaf Sayang, maafin Mas ya."
☺☺☺☺☺
Entar kumat lagi udah baikan 😃😃😃😃😃😃
__ADS_1