DIARY ALYA

DIARY ALYA
19


__ADS_3

Alya berhasil mendapatkan peringkat dua di kelasnya, dia harus mengakui kecerdasan Salsa kali ini yang berhasil mendapat peringkat satu.


Sesampainya di rumah Alya masuk ke dalam kamar, dia tadi juga sudah menemani ibunya untuk mencarikan seragam untuk adiknya.


Alya berganti pakaian dan keluar dari kamar kemudian mencuci kaki, tangan dan wajahnya.


Dia merasakan capek memilih untuk istirahat di kamar sambil mendengarkan musik dari ponsel pintarnya.


Alya membuka tas untuk mengambil ponselnya dan dia melihat bingkisan yang diberikan oleh Raff tadi yang disimpan di dalam tas.


"Apa isinya."


Alya menebak - nebak sendiri isi bingkisan itu.


Dibukanya kertas pembungkus dan terdapat sebuah kotak di dalamnya, Alya membuka kotak berbentuk persegi panjang tersebut dan melihat sebuah tumbler berwarna hijau tosca sesuai dengan warna kesukaannya.


"Bagus banget, tapi apa semua dikasih seperti ini. Kalau di kasih harusnya kasihnya waktu makan bersama tapi kenapa Mas Rafi kasih aku dan udah bela-belain datang ke sekolahan." Alya berbicara sendiri.


Kemudian dia melihat jam dan kayaknya acara makan-makan juga sudah selesai dia mau coba tanya ke Ana.


"An, dapat kenangan juga dari Mas Rafi." pesan ia kirim ke Ana.


Pesan udah sampai tapi belum ada jawaban juga, Alya meletakkan tumbler tersebut di atas meja belajarnya dan sambil dia pandangi.


Kemudian Dia melihat ada yang tertulis di tumbler tersebut tetapi di buat transapran ketika kena cahaya akan terlihat.


Terima kasih Alya sudah mewarnai hari - hari Ku


Itu tulisannya dan terdapat foto Alya tersenyum.

__ADS_1


"Foto kapan ini."


Alya sendiri mengingat-ingat itu foto-foto dimana dan Rafi bisa memasang foto itu.


Ponsel Alya berbunyi ada notifikasi pesan masuk dan ternyata dari Ana.


"Gak ada Al, kayaknya cuma kamu yang di kasih."


Alya kemudian memfoto tumbler pemberian dari Rafi dan diperlihatkan di bawah cahaya sehingga nampak foto dirinya dan juga tulisan tadi.


"What..."


Balasan dari Ana, dan kemudian panggilan video call pun masuk tak hanya dari Ana tersambung pula ke Silvi.


"Wah... spesial ini."


suara Ana memecahkan gendang telinga.


"Itu hadiah dari Mas Rafi."


Silvi yang masih bengong aja.


"Hmmm...."


Alya menganggukkan kepalanya.


"Fix.. ini fix...."


Ana mengangguk serius.

__ADS_1


"Apa An."


Silvi lemot amat.


"Lemot kamu Sil, udah bisa di tebak dong kalau Mas Rafi itu suka sama Alya."


Alya melongo aja mendengar Ana bilang begitu, Silvi ikut senyum - senyum sendiri.


"Iya itu bener, kita aja nggak di kasih kenang - kenangan kenapa Alya spesial banget pakai fotonya juga."


kelakar Silvi panjang lebar.


"Benar kan dugaan ku, kenapa coba tadi Mas Rafi belain ke sekolahan begitu aku kasih tau Mas Wahid kamu nggak bisa ikut."


Alya melotot menatap Ana,


"Jadi kamu tadi sengaja kasih tau Mas Wahid dan sengaja kan ngajak aku ke basecamp. Itu semua rencana kalian bertiga kan."


"He..he... he... maaf Al, aku dimintai tolong saja sama Mas Wahid katanya Mas Rafi mau pamitan sama kamu."


"Ana...."


"Ana berjasa kali Al, kalau nggak ada Ana kamu nggak akan lihat Mas Rafi lagi."


"Emang Mas Rafi nggak akan ke sini lagi."


Anggapan Alya Rafi akan balik lagi.


"Mas Rafi akan menetap di sana dan memang asli orang sana terus kuliah dan mungkin nanti juga jodohnya orang sana. Dia bilang tadi kalau ada waktu masih mau ke sini."

__ADS_1


jelas Ana dan Alya hanya diam mendrngarkannya...


☺☺☺☺☺


__ADS_2