
Malam membius setiap manusia terlelap ke alam mimpi setelah seharian beraktivitas dan menghabiskan tenaga mereka.
tok... tok..tok...
"Al.. Bangun Al."
Suara ibunya terdengar mengetuk pintu dan memanggil namanya.
"Al. Alya..."
Alya baru mendengar setelah panggilan kedua kalinya.
"Ibu kenapa." Alya baru membuka matanya dan masih mengumpulkan nyawa.
Alya bangun dari tempat tidurnya dan segera membuka pintu kamarnya.
"Kenapa Bu."
"Bapak kamu Al, muntah - muntah terus dari tadi ibu mau bapak ke rumah sakit."
Ibunya ternyata sudah memanggil tetangganya yang memiliki mobil untuk mengantar Bapaknya ke rumah sakit.
Alya kaget langsung keluar dari kamar dan melihat Bapaknya yang sudah lemas dipapah masuk ke mobil.
"Kamu jaga rumah Al, Ibu berangkat."
"Iya Bu."
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, akhirnya mobil itu membawa pergi bapaknya Alya untuk ke rumah sakit.
Ikhsan yang mendengar ada keributan dia pun ikut bangun dan keluar dari kamarnya.
"Kak, ada apa."
Ikhsan melihat Alya yang terdiam di pintu sambil melihat mobil itu berlalu meninggalkan rumahnya.
"Bapak San."
"Bapak kenapa Kak, Ibu kemana."
"Bapak tadi kata ibu muntah-muntah sekarang dibawa ke rumah sakit sama Ibu."
"Kamu tidur lagi aja San, besok kan harus sekolah kita doakan bapak baik-baik saja dan besok kita bisa jenguk ke rumah sakit."
"Iya kak."
Alya dan Ikhsan kembali ke kamar masing-masing sedangkan Dani sama sekali tak terusik tidurnya.
Alya berada di dalam kamarnya namun dia mau memejamkan matanya belum bisa. Dia keluar dari kamarnya kemudian mengambil air wudhu dan menggelar sajadahnya, bersimpuh di hadapan sang Kholik meminta kesembuhan untuk bapaknya.
Selesai sholat Alya merasakan kantuk menyerangnya kembali, dia memejamkan matanya sebentar sebelum mendengar adzan subuh dan dia terbangun.
Alya segera menyegarkan badannya dan melaksanakan salat Subuh karena dia ingin membuat sarapan untuk kedua adiknya dan juga mengirim ke rumah sakit.
Tak lupa Alya membangunkan kedua adiknya untuk melaksanakan salat subuh.
Dani yang baru bangun dan sudah diberitahu Ikhsan, Dia terlihat bengong baru mengetahui jika bapaknya masuk rumah sakit tadi malam.
__ADS_1
"Kak..."
Dani menunggui Alya di dapur.
"Iya, kenapa Dan."
"Bapak sakit apa, Dani tadi malam kok nggak dengar kalau bapak masuk rumah sakit. Bapak di rumah sakit mana Kak Dani ikut."
"Kakak belum tahu bapak sakit apa, kamu sekolah aja dulu nanti biar kakak yang ke sana."
"Dani ikut."
"Dani, kamu sekolah aja nanti berangkat sama Mas Ikhsan nanti sore kalau mau ke sana nggak apa-apa."
"Iya Kak."
Selesai memasak Alya kemudian bersiap, dia ingin mengirim sarapan kepada ibunya tapi dia sebelumnya memastikan kedua adiknya sudah sarapan dan berangkat ke sekolah.
Alya menemui tetangganya yang mengantar bapaknya tadi malam untuk bertanya di rumah sakit mana bapaknya dirawat.
"Di rumah sakit A Mbak Alya. Di ruang Anggrek lantai 2."
"Makasih Pak, Alya mau ke sana."
"Bawakan baju ganti buat ibu sama Bapak mu."
"Iya Pak."
Alya kemudian bersiap menata baju bapak dan ibunya ke dalam tas ransel kemudian menggendongnya dan juga tak lupa membawakan sarapan untuk ibunya.
Angga belum tahu, karena Alya tadi juga sibuk mengurus kedua adiknya jadi dia belum sempat memberikan kabar kepadanya.
Butuh sekitar 30 menit dari rumah untuk sampai ke rumah sakit, Alya memarkirkan sepeda motornya kemudian menuju ke ruangan dimana bapaknya dirawat.
Sesampainya di ruangan, Alya melihat Bapaknya yang terbaring lemah di atas tempat tidur sedangkan ibunya menunggu di sampingnya duduk di kursi.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." Jawab Bapak dan Ibunya.
"Al, kamu nggak kerja kok ke sini." Tanya Ibunya.
"Alya ijin Buk."
Kata Alya sambil masuk ke dalam ruangan dan meletakkan tas serta sarapan yang ia bawa di meja.
"Sarapan dulu Buk, Bapak sudah makan."
"Sudah tadi Al." Kata Bapaknya.
"Bapak sakit apa Buk."
"Bapak Kamu mengalami Hernia."
"Penanganannya gimana Buk."
"Nunggu Dokter melakukan pemeriksaan selanjutnya, Al."
__ADS_1
"Ya udah ibu makan dulu."
Alya duduk di kursi yang ada di dalam ruangan perawatan bapaknya, kemudian ponselnya pun bergetar.
Alya menghela nafas melihat Angga memanggil.
"Siapa Al."
"Mas Angga Buk."
Alya menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
" Assalamualaikum Mas."
" Waalaikumsalam, Sayang dimana sekarang."
"Alya di rumah sakit Mas."
Terdengar helaan nafas dari Angga.
"Kenapa nggak kasih kabar Mas, sejak kapan masuk rumah sakit Bapak."
"Maaf Alya belum sempat kasih kabar, semalam Mas jam 2 bapak masuk rumah sakit."
"Sekarang gimana keadaannya Bapak."
"Nunggu pemeriksaan dokter Mas."
"Kamu yang sabar ya Sayang, jangan lupa jaga kesehatan kamu sendiri."
"Iya Mas."
"Mas kerja dulu ya Sayang, maaf belum bisa nemenin kamu. Kamu sama siapa di rumah sakit."
"Sama Ibu, ya nggak papa Mas. Mas kan harus kerja."
"Iya, maaf ya Sayang. Udah dulu ya nanti Mas telepon lagi ya. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Telepon berakhir dan Alya meletakan ponselnya di atas meja, ikut sarapan bersama ibunya karena di rumah tadi juga belum sempat.
Siang hari dokter yang memeriksa bapaknya Alya datang setelah melakukan pemeriksaan dokter memutuskan Bapaknya Alya harus menjalani operasi bedah karena kondisinya yang sudah tidak memungkinkan untuk pengobatan menggunakan obat saja.
Alya menghela nafasnya seumur hidupnya baru kali ini menghadapi orang yang akan dioperasi apalagi ini orang tuanya sendiri.
"Bapak akan baik - baik saja Al."
"Iya Buk."
Sore menjelang, Alya dari pagi sama sekali belum pulang. Adiknya pun sepulang sekolah langsung menyusul ke rumah sakit.
"Bapak di ruang apa."
Sebuah pesan masuk dari Angga dan Alya segera membalasnya.
😇😇😇😇😇😇
__ADS_1