DIARY ALYA

DIARY ALYA
47


__ADS_3

"Kenapa Al."


Yuli melihat Alya seharian murung dari di pabrik tadi sampai kampus juga masih terlihat murung tidak seceria biasanya.


"Kamu Yul, nggak papa kok."


Dengan menunjukkan senyumnya Alya menjawab pertanyaan Yuli.


"Yakin..?"


Alya lagi -lagi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya agar Yuli berpikir dia baik-baik saja.


"Lagi kangen."


Ledek Yuli dengan senyum menggoda dan menggerak-gerakkan alisnya.


"Huft.. Tau Yul."


"Mas Tri sibuk ya sekarang."


Alya mencoba tetap tersenyum tetapi dia seperti berat mengambil nafas dan memejamkan matanya.


"Kamu yang sabar Al, mungkin memang lagi banyak kerjaan di tempat magangnya."


"Aku selalu memahami itu Yul, tapi kenapa ya mulutku bisa berkata seperti itu tapi hatiku tidak."


"Sabar Al, tapi dia masih balas pesan kamu kan."


"Masih, tapi jarang. Dia biasanya kalau pagi juga masih telepon ini dua hari ini nggak Yul."


Alya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya tak terasa bulir air matanya menetes.


"Mungkin memang sedang lagi sibuk-sibuknya."


"Aku tau Yul.."


Suara Alya sudah terdengar parau dia menangis.


Yuli hanya bisa mengusap punggung Alya yang duduk terdiam sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ini Al."


Yuli mengambil tisu dari dalam tasnya dan di terima Alya.


"Makasih Yul, aku mau ke kamar mandi dulu."


Yuli menganggukkan kepalanya dan Alya berlalu.


Alya mencuci mukanya, Dia malu jika di lihat temannya akan ketahuan habis menangis.

__ADS_1


Selesai dari kamar mandi Alya menemui Yuli yang masih menunggunya kemudian beranjak ke kelas karena Dosen sebentar lagi datang.


Saat sedang berada di kelas wilayah ada notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya dan Alya membukanya.


"Sayang, di kampus."


Pesan dari Tri.


Alya menghembuskan nafasnya akhirnya pesannya yang dari tadi siang dibalas juga oleh Tri.


"Iya Mas, ini masih di kelas."


"Mas tunggu di masjid ya."


balasan dari Tri.


"Iya Mas."


Ada rasa bahagia di hati Alya akhirnya berjumpa juga setelah satu minggu ini tak bersua.


Adzan maghrib berkumandang kelas juga telah terakhir Alya keluar dari dalam kelas bersama teman-temannya menuju ke masjid.


Dia tersenyum melihat Tri yang duduk di serambi masjid melambaikan tangannya.


"Cie, di tungguin itu."


Ledek teman Alya.


"Udah dari tadi Mas."


Tri tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kangen Sayang."


katanya manja.


"Sholat dulu ya Mas."


"Iya, kamu sudah tidak ada kelas kan."


"Iya Mas."


Mereka kemudian segera mengambil air wudhu untuk berjamaah.


Selesai berjamaah Alya keluar dari dalam masjid dan melihat Tri sedang ngobrol dengan seseorang, Alya tidak mau mengganggu hanya duduk di sana sambil menunggu.


Tri akhirnya menoleh ke belakang dan tersenyum melihat Alya yang menunggunya.


"Dari tadi Sayang, kok nggak manggil Mas."

__ADS_1


"Baru aja Mas, Mas lagi ngobrol serius jadi nggak berani manggil."


Tri tersenyum dan duduk di sebelah Alya, "Makan yuk."


Alya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berdua beranjak dari masjid tersebut menuju ke kedai yang ada di depan kampus.


Mereka masuk ke dalam kedai dan memesan menu untuk makan malam mereka.


"Kenapa lesu gitu."


Tri memandang wajah Alya yang terlihat kurang ceria.


"Capek aja Mas."


"Sayang.."


Tri meraih tangan Alya yang ada di atas meja dan menggenggamnya.


"Maafin Mas, Mas tahu Mas salah akhir-akhir ini kita jarang berkomunikasi dan jarang bertemu."


Alya diam saja sebenarnya itu yang ingin diungkapkannya tetapi dia memilih diam saja takut menyinggung perasaan Tri lebih baik dia menunggu supaya kekasihnya yang bicara sendiri.


"Mas sedang banyak kerjaan di tempat magang karena ada karyawan yang cuti jadi Mas dibebani beban pekerjaan di sana Sayang."


" Kenapa Mas enggak pernah cerita sama Alya."


Tri tersenyum memandang wajah Alya yang selalu bikin hatinya teduh.


"Mas nggak mau membuat kamu kepikiran sayang."


"Ya sudah kalau itu yang bisa membuat Mas nyaman Alya nggak papa."


"Bukan maksud Mas enggak mau cerita sama kamu sayang, kamu kan sudah sibuk kerja dan kuliah Mas nggak mau menambah beban pikiran kamu."


"Seenggaknya kan Mas bisa cerita sama Alya. Jadi Alya bisa tahu aktivitas Mas apa aja pikiran Alya tidak menerka-nerka Mas yang macam - macam. Alya kirim pesan sama Mas balasnya lama dari pagi sampai siang dan kadang malam baru balas seenggaknya kasih kabar."


Alya diam sejenak mengambil nafas dan Tri memandangnya.


" Maaf Mas, bukan maksud Alya itu menuntut Mas harus perhatian sama Alya. Tapi Alya cuma ingin tahu kabar Mas setiap hari. Maaf ya Mas."


Alya menundukkan pandangannya ke bawah rasanya sudah ingin mengalir saja itu air mata.


Tri menghembuskan nafasnya, di usap tangan Alya dengan lembut.


"Maaf Sayang, maaf."


Hanya itu yang diucapkan oleh Tri tanpa ada kejelasan yang lebih rinci lagi.


Pesanan mereka akhirnya datang juga, mereka menikmati makan malam walaupun masih ada yang mengganjal di dalam hati Alya, kenapa Tri tidak mau bercerita apa saja kegiatan dia.

__ADS_1


Alya merasa kekasih hatinya itu sudah berubah sekarang jauh lebih tertutup tidak mau berbagi apapun kesibukannya.


😥😥😥


__ADS_2