DIARY ALYA

DIARY ALYA
107


__ADS_3

Dinginnya angin laut menembus tulang rusuk, tepat pukul 2 dini hari rombongan bis sudah sampai di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.


Saat ini sedang mengantri untuk masuk ke dalam kapal dan melakukan penyebrangan.


Semua penumpang diharapkan untuk turun dari bis dan akan ikut masuk ke dalam kapal melalui jalur yang berbeda.


Alya mengenakan jaket karena tak tahan dengan dinginnya angin malam.


"Bu Alya, kita cari minuman hangat yuk."


Bu Susi mengajak Alya untuk mencari minuman hangat supaya badannya tidak terlalu kedinginan.


"Ya Bu."


Ada beberapa penjual yang berjajar di pinggiran pelabuhan menyediakan berbagai macam minuman hangat yang memang sangat ramai dengan para penumpang yang akan menyebrang.


Alya bersama Bu Susi berjalan menuju ke penjual itu ternyata sudah ada berapa Bapak Ibu guru di sana tak ketinggalan juga siswa - siswi mereka.


"Bu Alya mau minum apa."


Tawar Bu Susi.


Angga yang juga berada di sana langsung menoleh ke belakang mendengar nama Alya di sebut.


"Kopi boleh Bu."


Angga tersenyum kepada Alya dan dibalas senyum oleh Alya.


"Kopi Bu dua ya."


Pesan Bu Susi.


"Saya yang cappucino Bu."


Pinta Alya.


"Iya Mbak."


Kata penjual itu.


Alya menggosok-gosokkan tangannya yang terasa dingin karena angin malam.


"Bu Alya, ini."


Angga mendekat dan memberikan susu jahe hangat untuk Alya.


"Saya sudah pesan Pak."


"Nggak baik perempuan minum kopi, ini aja Bu."


Angga masih menyodorkan satu gelas susu jahe yang masih panas yang belum dia minum karena sengaja tadi nunggu Alya.


Perlakuan Angga jelas terlihat oleh rekan-rekan kerjanya, ia sekarang tak malu untuk memberikan perhatian kepada agar di depan umum.


Beberapa siswa - siswinya yang kebetulan pas ada di sana pun juga melihat.


Alya merasa tidak enak jika menolak pemberian Angga.


"Makasih Pak."


Alya pun menerimanya.


"Ciyeee... Sudah go publik ya Pak."


Ledek Pak Abdi.


"Wah, bakalan dapat syukuran nih."


Ledek bapak ibu guru yang lain.


Alya perasaannya malu, sangat malu karena mereka tanpa status dan Angga memberikan perhatiannya terus membuat Alya semakin bingung dengan perasaannya.


"Bu kopinya."


Kata penjual itu setelah tadi memberikannya kepada Bu Susi.


"Makasih Bu."

__ADS_1


Angga menerimanya dan meminumnya.


"Sekalian sama yang tadi Bu."


Kata Angga sambil memberikan uang dari sakunya.


"Makasih lho Pak, sering-sering ya he he..."


Tawa Bu Susi.


"Jangan dong Bu, nggak baik sering - sering minum kopi Bu."


Canda Angga.


Alya tersenyum saja menikmati susu jahe yang diberikan oleh Angga tadi.


"Mau nambah lagi Bu."


Tawar Angga.


Alya menggelengkan kepalanya.


"Makasih Pak."


"Kenapa Pak Angga memperlakukan aku seperti ini rasanya sakit pak cuma dapat perhatian perhatian saja tanpa adanya status, saya malu Pak."


Dalam hati Alya.


"Ayo Bu, kita naik ke kapal sudah dipanggil itu."


Ajak Bu Susi.


"Iya Bu."


Angga melihat Alya berjalan begitu saja bersama dengan Bu Susi.


"Apa kamu nggak nyaman Alya."


Dalam hati Angga.


"Ayo Pak."


Semua sudah naik ke atas kapal, Mereka bebas mau berada di mana saja di dalam kabin ataupun di atas anjungan juga terserah mereka menikmati penyeberangan kali ini.


Alya bersama para ibu guru menikmati pemandangan laut di atas anjungan, yang terlihat gelap hanya lampu kelap kelip yang terlihat di kejauhan.


Angga mengamatinya sejak tadi, tapi sepertinya untuk mendekat pun kurang enak rasanya karena ada rekan kerja yang lain.


"Pak Angga dimana ya, tadi aku tinggal begitu saja saat naik ke kapal."


Dalam hati Alya sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar namun tak nampak juga Angga.


Beberapa Ibu guru yang tadi bersama Alya merasakan badannya dingin jadi memilih masuk ke dalam kabin dan menikmati hiburan yang ada di sana.


"Bu Alya nggak masuk."


Kata Bu Laras yang masih di anjungan bersama Alya menikmati pemandangan yang gelap.


"Di sini enak Bu, di dalam pada rokok."


"Iya Bu."


Mereka berdua hening dalam pikirannya masing-masing kadang juga tersenyum sendiri melihat tingkah siswa-siswinya yang tak mau lepas dari ponselnya mengabadikan setiap momen.


Angga melihat kesempatan Alya hanya dengan Bu Laras Dia mendekat.


Alya asyik aja berdiri di pinggir pagar sambil menyandarkan tangannya di atas pembatas jadi dia tidak melihat ke belakang.


Laras melihat Angga mendekat kemudian pergi begitu saja meninggalkan Alya setelah memberi kode ke Angga.


"Melamun aja."


Angga menyandarkan punggungnya di pembatas di samping Alya berdiri otomatis Alya kaget ada seseorang di sampingnya.


Alya menatap ke samping dan mendapat senyuman dari Angga.


"Pak Angga, bikin kaget aja. Bu Laras kemana."

__ADS_1


"Itu foto sama anak - anak."


Angga memberi isyarat dengan matanya dan Alya melihat ke arah Bu Laras berfoto bersama anak - anak.


"Kok di luar, nggak masuk ke kabin aja."


Angga bicara dengan memandang Alya yang kemudian menatapnya balik.


"Banyak asap rokok, sesak rasanya di dada."


Alya mengalihkan pandangannya ke depan bisa lama - lama jantungnya tak terkontrol.


"Nggak suka orang merokok ya."


"Bukan orangnya yang nggak suka, tapi rokoknya. Boleh lah rokok asal jangan dihadapan aja."


"Wah, kalau Saya rokok nggak bisa deket - deket Bu Alya dong."


Alya memandang Angga dengan tersenyum.


"Awas aja."


Kata Alya sambil tersenyum.


"He he he... jadi takut."


Angga menunjukan wajah pura - pura takut.


Alya merasakan badannya semakin dingin padahal sudah memakai jaket, Dia mengusap kedua telapak tangan dan meniupnya.


"Dingin."


Angga menatap Alya dan mendapatkan anggukkan kepala dari Alya.


"Masuk ke kabin aja."


Pinta Angga namun Alya diam aja.


"Kita cari yang aman nggak ada asap rokoknya."


Ajak Angga.


"Enggak usah Pak, Saya di sini aja sebentar lagi juga sampai. Kapan lagi coba menikmati angin seperti ini di atas kapal."


Alya memandang lurus ke depan hanya melihat gelap dan lampu yang berkedip dikejahuan.


Angga memutar tubuhnya jadi posisinya sama seperti Alya.


"Melepas penat ya Bu."


Alya menghembuskan nafasnya dan tersenyum.


"Sesaat Pak, supaya nanti kembali sudah fresh dan siap tempur lagi he.."


"Semangat Bu, tinggal dikit lagi wisuda. Nanti semuanya akan terbayar."


"Aamiin, semoga bisa segera selesai."


"Bu... Boleh saya bicara sesuatu..."


Angga menatap ke arah Alya begitu pula sebaliknya.


"Bicara aja Pak, kenapa jadi serius begini."


Alya dengan sedikit tertawa.


"Saya mau jujur sama Bu Alya..."


Alya menunggu Angga menyelesaikan bicaranya .


"Ciyeee... Berduaan aja ini di sini."


Tiba - tiba Bu Susi datang bersama guru yang lain dan membuat Angga buyar dan menyesali kenapa tidak dari tadi bicaranya..


🤣🤣🤣🤣🤣🤣


Nih malam - malam Author kasih bonus..

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya ☺☺☺☺☺


__ADS_2