
Tak terasa pernikahan Mereka sudah memasuki tahun kedua, dan penantian mereka untuk menantikan kehadiran buah hati masih berlanjut karena Alya juga belum menunjukkan tanda-tanda kehamilannya.
Proses pengobatan di Dokter akhirnya mereka hentikan karena beberapa faktor. Salah satunya dengan kendala dana karena sekali datang juga harus menyediakan anggaran yang cukup besar. Karena masalah dana tersebut malah membuat mereka berdua juga menjadi beban pikiran sehingga menambah keresahan mereka berdua dalam menjalani program kehamilan.
Terutama Alya yang malah menjadi semakin kepikiran setiap akan konsultasi ke Dokter lagi.
"Sayang, kita lanjut lagi. "
Angga sebenarnya masih ingin melanjutkan program mereka.
"Mas, tabungan kita sudah menipis. Mending kita siapkan untuk keperluan yang lainnya. "
Angga menatap istrinya itu.
"Mas... Kalau waktunya nanti dikasih pasti akan dikasih. Kalau kayak gini malah menjadi beban pikiran Alya Kita harus menyiapkan uang setiap saat untuk konsultasi ke dokter tapi hasilnya juga belum memuaskan Mas. "
Angga meraih tubuh Istri dan kemudian memeluknya.
"Kalau itu bisa membuat kamu lebih tenang, Mas akan ikuti kamu Sayang. "
Alya memeluk balik tubuh suaminya dan tak terasa air matanya pun meleleh.
"Sabar ya Mas. Kita nanti pasti punya Mas hanya masalah waktu saja kita akan dikasih. "
Angga melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.
"Iya Sayang, kita harus berpikiran positif pasti nanti kita akan punya anak. "
Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Angga mengusap air mata Alya yang mengalir di pipinya dengan kedua ibu jarinya.
"Jangan nangis Sayang. "
__ADS_1
"Maafin Alya Mas. "
"Kamu nggak salah sayang, kita jalani ini berdua. "
"Iya Mas, Mas nggak akan ninggalin Alya kan. " Alya menatap wajah suaminya itu dengan sendu.
Sungguh perasaannya saat ini sangat bersalah dengan suaminya karena dirinya tak kunjung hamil juga.
"Kita akan selalu bersama Sayang. "
Angga mengucap kening sang istri dengan lembut dan terasa dalam, Alya sangat bersyukur di dalam hati suaminya tak pernah sekalipun menyalahkan dirinya.
"Kita hadapi semuanya bersama sayang. "
"Iya Mas, Alya sayang Mas Angga. "
Alya mendekap tubuh Angga dan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya itu.
"Mas juga Sayang sama Dik Alya, I Love You Sayang. "
Mereka menikmati malam itu dengan saling berpelukan hingga terlelap ke alam mimpi masing-masing.
Hingga pagi menjelang, adzan subuh telah berkumandang membangunkan setiap Insan untuk segera melaksanakan kewajibannya kepada Sang Khalik.
"Bangun Mas. "
Alya mengusap lembut pipi suaminya.
"Hmmm... "
Hanya suaranya saja yang terdengar tetapi kedua mata Angga masih tertutup.
__ADS_1
"Mas bangun, Alya mandi dulu ya. "
Alya beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum melaksanakan kewajibannya.
Mereka berdua kini telah punya rumah sendiri, jadi Alya sudah tidak merasa sungkan lagi dengan kedua mertuanya walaupun rumah mereka berdekatan tetapi sudah pisah rumah membuatnya lega.
Jadi sekarang semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab Alya dan Angga pun tidak pernah sungkan untuk membantu istrinya sekedar membersihkan rumah.
Selesai mandi Alya membuka pintu kamar mandi dan betapa terkejutnya melihat suaminya sudah ada di depan pintu.
"Mas, ngagetin aja. "
"Kenapa nggak bangunin Mas, mau mandi bareng. "
"Udah dibangunin dari tadi cuman, hmmm... Gitu aja jawabannya Ya udah Alya mandi duluan. "
Angga masih berdiri di depan pintu hingga Alya tidak bisa keluar dari kamar mandi.
"Mas, minggir Alya mau sholat nanti kesiangan berangkatnya kerja. "
"Nggak mau, temenin Mas mandi. "
Angga mundur perlahan dan dibuat Alya pun masuk lagi ke dalam kamar mandi.
"Alya udah mandi Mas, dingin ini mau ganti baju. "
"Nggak bisa, ayo mandi lagi. "
Pintu kamar mandi ditutup oleh Angga dan Alya pun tak bisa berkutik.
🤩🤩🤩🤩🤩..
__ADS_1
Hai.... Author cone back..
Maafkan Author ya 🙏🙏🙏