DIARY ALYA

DIARY ALYA
26


__ADS_3

"Selamat siang dengan Mbak Alya."


suara perempuan dari balik ponsel Alya.


"Siang Mbak, benar ini saya Alya. Maaf dengan siapa ya."


tanya Alya karena tidak ada nama di ponselnya hanya nomor baru yang dia tidak tahu.


"Saya dari PT Maju Outsourcing ingin memberi tahu jika mbak Alya besok bisa berangkat ke Pabrik untuk tes wawancara dengan mengenakan kemeja putih dan bawahan hitam."


"Baik Mbak, jam berapa ya."


"Jam 8 sudah di lokasi ya Mbak."


"Baik, Saya akan datang."


"Terima kasih."


Alya setelah menerima telepon tak bisa dipungkiri dia sangat senang sekali, saking gembiranya dia teriak - teriak sendiri.


"Al.. kamu kenapa."


Ibunya yang tadinya ada di belakang rumah sampai kaget mendengar teriakan Alya.


"He he he... Alya diterima kerja Bu besok disuruh berangkat ke pabrik."


"Alhamdulillah, ya sudah sekarang di persiapkan semuanya apa yang perlu dibawa besok."


"Iya Buk."


Hari itu juga Alya mempersiapkan semuanya dari baju kemudian beberapa dokumen miliknya yang mungkin nanti akan ditanyakan di sana dia mau bawa aja semua daripada nanti menjadi masalah jika ditanyakan dan dirinya tidak membawa.


Hari semakin sore Alya terbiasa membantu ibunya untuk di dapur mempersiapkan makan malam untuk keluarga mereka.


Setelah sholat maghrib mereka makan malam semua, walaupun dengan menu sederhana tetapi rasa syukur tak pernah mereka tinggalkan atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

__ADS_1


Selesai makan malam Mereka terbiasa nonton TV bersama sambil bercanda tawa.


Tahun ini juga Ikhsan, Adik Alya yang pertama lulus Sekolah Dasar. Dia sekarang sudah tercatat sebagai siswa Madrasah Tsanawiyah karena kemarin keinginan sekolah di dekat rumah saja.


"Buk, Aku mau mondok."


tiba - tiba kata Ikhsan membuat semua orang kaget Kenapa anak ini tiba-tiba ingin mondok di pesantren.


"Kamu serius Ikhsan."


tanya Ibunya.


"Serius Bu, Ikhsan mau mandiri mau belajar ngaji."


Bapaknya malah terkekeh dan mengusap kepala Ikhsan.


"Apa bener mau mondok San."


tanya Bapaknya.


Wajah Ikhsan terlihat memelas dia berharap sekali boleh mondok di pesantren.


"Mondok di Pesantren sekolahan saja Bu."


Memang sekolahan Ikhsan ada pondok pesantrennya dan biasanya diperuntukkan untuk anak-anak yang jauh dari tempat tinggalnya mereka sekaligus nyantri di pondok pesantren.


"Bapak nggak papa, asal kamu bertanggungjawab dengan pilihan kamu. Ngaji yang bener belajar agama yang bener jangan cuma pulang minta uang saku, paham Mas Ikhsan." nasehat Bapaknya.


"Paham Pak."


"Kalau memang maunya begitu, Buk siapkan peralatan Ikhsan kita antar ke pesantren." lanjut Bapaknya.


"Baik Pak, Ikhsan kamu harus buktikan sama Bapak dan Ibu jika kamu benar - benar serius dengan pilihan kamu."


"Iya Buk, Pak. Ikhsan akan ngaji dengan benar dan belajar agama dengan serius."

__ADS_1


"Ya sudah, besok belanja sama Ibu kebutuhan kamu." pinta Bapaknya.


"Dani ikut mondok nggak."


tanya Alya.


"Nggak mau, nanti yang nyuci baju siapa. Aku nggak bisa main."


lucunya Dani yang baru kelas 4 SD."


"ya nyuci sendiri."


"Nggak mau.."


Dani cemberut menyilang kan tangannya didepan dada.


"Ya sudah, Dani nggak mondok. Tidur yuk udah malam."


Ajak Ibunya.


"Wekk...." Dani menjulurkan lidahnya ke Alya.


"Weeekkkkk..... anak Mama."


ledek Alya.


"Nggak...... "


teriak Dani.


"Udah, Mbak Alya masuk tidur."


perintah Ibunya.


Memang mereka suka bercanda jika lagi kumpul, walaupun nanti marahan dan akhirnya berbaikan kembali.

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏


__ADS_2