
Setelah kejadian itu mereka jadi saling introspeksi diri. Angga menyadari jika dia egois belum tentu yang dia anggap baik akan baik pula untuk Alya. Begitu pula dengan Alya dia harus lebih terbuka lagi dengan Angga.
Alya kembali fokus dengan skripsinya dan produk yang harus dia selesaikan segera, kalau tidak bakalan molor dan dia bisa ketinggalan wisuda.
Alya membutuhkan bantuan dari teman-temannya karena ada beberapa bagian yang belum dapat dia pahami.
Bersama Vera dia kerap berdiskusi bersama dengan teman-temannya yang lebih menguasai pemrograman yang sedang dia kerjakan.
Teman - teman Alya kebanyakan cowok dan Dia nggak mau terjadi kesalahpahaman lagi dengan Angga. Maka dari itu setiap akan berkumpul dengan teman-temannya Alya selalu meminta izin kepada Angga dan pasti mengajak Vera.
"Al, Mas Angga cemburuan ya."
Alya menganggukkan kepalanya saja dan tetap fokus dengan mie yang ada di depannya karena perutnya sudah terasa keroncongan.
"Kamu sabar banget Al, dia aja kalau marah nggak mikir dulu."
Vera yang sewot karena Alya sudah bercerita kemarin mereka berantem.
"Kalau mikir ya nggak jadi marah Ver."
"Alya.. Santai banget sih kamu menghadapi cowok kamu."
"Ver, kalau di dalam sebuah hubungan tidak ada yang mengalah enggak akan jadi. Nggak papa aku yang ngalah demi kebaikan bersama, toh aku juga salah Ver."
"Tau ah Al, semangat ya."
"Hemmm..."
Alya hampir menghabiskan mie yang ada di hadapannya membuat Vera melongo.
"Cepet banget kamu makannya Al."
"Laper, kamu sih ngajak ngomong masalah Mas angga terus bikin aku semakin lapar."
Vera tersenyum kecut aja dan menghabiskan mienya.
Alya menunggu Vera sambil memainkan ponselnya dan tiba - tiba masuk panggilan video dari Angga.
"Panjang umurnya dia."
"Mas Angga." Tebak Vera.
Alya tersenyum saja dan menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
"Assalamualaikum Mas."
"Waalaikumsalam Sayang, dimana."
Nampak wajah Angga yang tersenyum dan terlihat background belakangnya masjid berarti dia sedang beristirahat habis sholat terlihat wajahnya fresh.
"Ini lagi makan sama Vera Mas."
Alya mengarahkan kameranya ke arah Vera yang sedang makan.
"Mas udah makan belum."
Alya mengembalikan kembali kameranya ke arah dirinya.
"Belum, pulang jam berapa."
"Makan dulu Mas, nanti setelah ini pulang."
"Iya nanti makan Sayang, kalau pulang hati - hati."
"Iya Mas, Mas jangan lupa makan."
"Iya, rasanya nggak semangat nggak ada kamu."
Alya tersenyum.
"Kangen."
Jantung Alya rasanya mau lompat mendengar Angga bilang kangen.
Blushh...
Muka alya memerah.
"Mas, makan dulu deh pucat itu wajahnya."
__ADS_1
"Ini bukan pucat Sayang, kangen sama kamu seharian nggak lihat."
Alya lagi - lagi tersenyum mendengar gombalan Angga.
"Udah ah Mas."
Vera jadi merasa seperti obat nyamuk melihat Alya pacaran sama Angga padahal orangnya nggak ada didepannya.
"Kamu nggak kangen sama Mas."
Alya kikuk, kalau mau bilang nggak nanti takut dia marah kalau bilang iya rasanya juga malu mengakui.
"Kangen Mas."
Vera mendengar Alya bilang kangen menjulurkan lidahnya dan Alya melirik ke Vera membuatnya terkekeh.
"Beneran."
"Iya Sayang." Alya dengan tersenyum.
"Nanti malam jalan ya Sayang, malam mingguan biar kayak pasangan yang lain."
"Mau kemana Mas."
"Jalan aja, menyegarkan pikiran kasihan kamu berkutat dengan skripsi mu terus nggak pernah Mas ajak jalan-jalan."
"Oke deh, Mas ke rumah."
"Iya dong, ijin sama Bapak dan Ibu."
"Oke, Alya tunggu."
"Oke, Sayang. Mas ke kantin dulu ya udah lapar lihat kamu makan mie kayaknya segar siang - siang gini."
"Iya Mas, bye.. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Panggilan video telah berakhir dan Vera masih terkekeh melihat Alya.
"Puas kamu."
"Ha ha ha... wajah kamu Al, kelihatan gak ikhlas banget bilang kangen, apa Mas Angga nggak curiga."
"Ha ha ha... "
"Udah kamu mau pulang nggak, aku mau pulang istirahat nanti malam mau ngedate."
Alya dengan lagak kecentilan.
"Virus bucin merebak lagi."
Vera berjalan mengikuti Alya menuju ke kasir untuk membayar makanan mereka dan kemudian pulang.
Sesampainya di rumah Vera beristirahat sebentar dan langsung pamit untuk pulang.
"Nggak nginep Ver."
"Nggak ah, Aku males jadi obat nyamuk nanti malam."
"Bukan obat nyamuk Ver, tapi raket nyamuk. Ha ha ha..."
Tawa Alya.
"Puas kamu."
"Banget, ha ha ha." Tawa Alya lagi.
Vera melajukan sepeda motornya meninggalkan rumah Alya untuk pulang ke rumahnya.
Alya memilih untuk beristirahat sembari menunggu sore.
Malam pun tiba setelah sholat maghrib Alya bersama keluarganya makan malam bersama.
Selesai makan Mereka berkumpul bersama di ruang tv untuk melepas penat bersama dan sambil bercerita.
Kemudian terdengar suara sepeda motor yang berhenti di depan rumah Alya.
"Cie. diapelin itu." Ledek Dani.
__ADS_1
Dani melihat yang datang Angga.
"Apa sih Dan." Elak Alya padahal mereka sudah janjian dan pastinya Alya belum siap-siap sama sekali.
" Assalamualaikum."
Ucap Angga dan dijawab oleh mereka semua yang ada di ruang tv.
"Waalaikumsalam."
Alya berdiri dan menghampiri Angga yang berdiri di depan pintu.
"Masuk Mas."
Angga masuk ke dalam memberikan paper bag yang dia bawa ke alya kemudian menyalami kedua orang tua Alya dan mencium punggung tangannya.
"Darimana ini Angga."
Tanya Bapaknya Alya dan mereka ngobrol bersama di ruang tamu sedangkan oleh masuk ke dalam untuk membuatkan minum.
"Dari rumah Pak."
Jawab Angga.
"Silahkan Mas, ini buat Bapak sama Ibu."
Alya menyuguhkan tiga cangkir di hadapan Angga, Ibunya dan juga Bapaknya.
"Makasih Alya."
Ucap Angga dan Alya tersenyum.
Alya memilih duduk di bawah bersama kedua adiknya yang tumben anteng di rumah. Ya gimana enggak anteng dibawain oleh - oleh sama Angga.
"Makasih ya Mas."
Dani emang sudah akrab dengan Angga apalagi kalau sering dibawain kayak gitu.
"Nggak tau malu."
Alya sambil mencubit Dani.
"Biarin, wekk..."
Dani menjulurkan lidahnya ke arah Alya.
"Pak, Angga kesini mau minta izin sama Bapak dan Ibu untuk ngajak Alya keluar sebentar."
Angga meminta izin kepada kedua orang tua Alya untuk membawa anak gadisnya keluar.
Alya langsung menoleh ke arah Angga.
"Al, sana siap - siap sudah ditungguin sama Angga." Titah Bapaknya.
"Iya Pak."
Dan Angga langsung tersenyum itu artinya Bapaknya mengijinkan.
"Jangan pulang malam-malam ya Mas Angga." Pesan ibunya Alya.
"Iya Bu."
Tak lama Alya keluar dan sudah berganti dengan mengenakan pakaian casual di padukan sepatunya, menambah aura kecantikannya semakin keluar.
"Cantik."
Dalam hati Angga, sambil memandang ke arah Alya.
"Jangan malam - malam ya Angga." Pesan lagi Bapaknya Alya.
"Iya Pak."
Alya dan Angga berpamitan dengan kedua orang tua Alya untuk keluar menikmati malam minggu.
"Kamu cantik banget."
Puji Angga saat Mereka sudah di luar dan sedang mengenakan helm.
Blush...
__ADS_1
Muka Alya langsung memerah.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣