DIARY ALYA

DIARY ALYA
162


__ADS_3

Resepsi berlangsung meriah, para tamu undangan datang silih berganti memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.


Alya dan Angga bagaikan raja dan ratu sehari, mereka berdua terlihat cantik dan juga ganteng.


Hiburan juga disediakan untuk menghibur para tamu yang datang, sahabat Alya semasa SMA yaitu Ana, Shifa dan Silvi juga hadir yang sangat mengejutkan tiba-tiba memeluknya dan menangis.


Alya mengusap punggung Ana, dan mencoba menenangkannya Alya juga tidak paham kenapa Ana datang memeluknya dan menangis.


"Kamu kenapa Ana."


Alya pertanyaan setelah melihat temannya itu reda menangisinya.


"Kamu kok menikah duluan Alya." Katanya sambil masih memeluk Alya, Angga yang di sebelahnya tersenyum.


"Memangnya kenapa."


"Aku mau menikah seperti kamu tapi kenapa kedua orang tuaku belum menyetujuinya juga."


"Sabar Ana, nanti juga kedua orang tuamu akan setuju mungkin masih ada yang dipertimbangkan oleh mereka.


" Alya, kamu mudah sekali mendapatkan restu aku iri sama kamu."


Alya menghembuskan nafasnya, "Sabar Ana."


Setelah reda dan sepertinya Ana juga malu setelah sadar dia menangis di atas pelaminan, Mereka berfoto bersama dengan gaya anak masa kini.


Para tamu menikmati hiburan dan hidangan yang tersedia, para bapak dan ibu guru teman mengajar Alya juga Angga mereka juga datang.


Cinta lokasi yang menyatukan mereka akhirnya berakhir bahagia dengan pernikahan.


Hingga hari semakin sore nampak Alya juga sudah kelelahan memilih duduk karena kakinya juga terasa pegal berdiri sejak tadi menyalami para tamu yang datang.


"Capek Sayang."


Angga memandang istrinya yang terlihat lemas.


"Iya Mas."


"Kita istirahat aja ya, kayanya tamu juga sudah reda tinggal keluarga saja."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Angga pun mengambilkan minum untuk sang istri.


"Minum sayang."


"Makasih Mas."


Vera juga sudah pamit pulang tadi bersama kedua orangtuanya bahkan tidak hanya kedua orang tuanya yang datang tante dan Om nya juga ikut.


Kebahagiaan mereka terasa sempurna dengan kehadiran para keluarga, kerabat, teman terdekat dan sahabat yang datang ke pernikahan mereka dan mengucapkan selamat serta memberikan doa kepada mereka berdua.


Hingga senja telah datang, tamu juga tinggal sedikit, malah tinggal tamu kedua orang tua Alya saja.


Angga menuntun Alya yang terlihat susah berjalan karena gaun yang ia kenakan untuk masuk ke dalam rumah beristirahat.


Mereka menuju ke kamar Alya, karena adzan maghrib pun sebentar lagi dan mereka harus sholat.


"Mas boleh masuk Sayang."

__ADS_1


Tanya Angga saat berada di depan kamar Alya.


"Boleh Mas."


Kata Alya dengan tersenyum.


Angga membuka pintu kamar Alya dan melihat dalamnya yang sudah dihias menjadi kamar pengantin. Dia tersenyum dan membantu Alya untuk masuk kemudian menutup pintunya.


"Maaf ya Mas, kamarnya kecil."


"Nggak papa Sayang, ini juga sudah luas buat berdua."


Mereka duduk di bibir kasur dan saling melempar senyum masih canggung rasanya mereka berdua.


"Mas mandi dulu sebentar lagi maghrib." Kata Alya dan Angga tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Handuknya itu Mas."


Alya sudah mempersiapkan keperluan suaminya.


"Iya Sayang."


Angga meraih tangan Alya dan mengecupnya.


"Mas bawa baju ganti."


Angga tersenyum dan menunjuk sebuah ransel yang ada di sudut kamar Alya.


"Kok sudah ada di situ."


"Ikhsan tadi yang masukin."


Angga meraih kepala Alya dan mengecup kening wanita yang kini telah menjadi istrinya.


"Sayang, terima kasih sudah menjadi istri Mas."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Angga menangkup wajah Alya dengan kedua tangannya, Dia semakin mendekatkan wajahnya dan nafas mereka saling bersahutan.


Angga menempelkan bibirnya di bibir Alya berulang kali dia mengecupnya. Angga sangat menikmati apa yang dilakukannya walaupun Alya tak membalas dan hanya diam.


Adzan maghrib berkumandang membuat Angga menghentikan aktivitasnya dan mencium kening Alya.


"I Love You Sayang."


"Love You too Mas."


"Kamu nggak gerah Sayang."


Angga melihat Alya masih mengenakan gaunnya.


"Gerah Mas, panas bajunya."


"Mas bantu Sayang."


Alya menganggukkan kepalanya, Angga membantu membuka resliting belakang gaun Alya. Setelah sampai di pertengahan bajunya Alya menghentikannya.

__ADS_1


"Sudah Mas, Alya bisa sendiri. Mas Angga mandi dulu ya."


"Mas bantu lepas Sayang."


Angga masih mau membantu istrinya untuk melepaskannya.


"Alya bisa Mas."


Katanya sambil tersenyum agar tidak menyinggung Angga.


"Ya udah Mas mandi dulu nih."


"Iya Mas."


Angga melepaskan baju yang menempel di badannya di depan Alya tanpa malu walaupun masih mengenakan kaos dan celana pendek Alya malu untuk melihatnya.


"Mas sabun dan lainnya sudah dikamar mandi."


"Iya Sayang."


Angga keluar dari kamar dengan membawa handuk untuk menyegarkan badannya yang sudah terasa sangat lengket.


Setelah Angga keluar dari kamar baru Alya melepaskan baju dan juga jilbab yang tadi masih menempel di badannya dan berganti dengan pakaiannya sehari-hari di rumah.


Selesai mandi Angga kembali ke kamar dan melihat Alya sudah mengganti bajunya.


"Sayang mandi kita sholat jamaah."


"Iya Mas."


Alya keluar dari kamar dan kemudian dia pun mandi untuk membersihkan badannya.


Selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi Alya pun kembali ke kamarnya dan segera menggelar dua sajadah karena mereka akan sholat berjamaah untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri.


Angga memanjatkan doa selesai mereka sholat kemudian mengeluarkan tangannya dan diraih oleh Alya yang mencium punggung tangannya. Dia pun tak lupa mengecup pipi dan juga kening Alya.


"Sayang.."


Angga mengusap pipi Alya.


"Iya Mas."


"Boleh Mas buka."


Alya paham maksud Angga suaminya itu ingin melihatnya tanpa berjilbab dan ia pun menganggukkan kepalanya.


Angga membuka mukena Alya dan kemudian jilbab instan yang dikenakan istrinya itu.


"Kamu cantik Sayang."


Ucap Angga begitu melihat rambut hitam panjang Alya yang tergerai karena pengikatnya ia lepaskan.


Alya tersenyum malu mendapat pujian dari suaminya.


"Mas makan yuk, Alya laper. Mas Angga pasti juga lapar kan makan sedikit doang tadi siang."


"Iya Sayang."

__ADS_1


Mereka berdua membereskan peralatan sholatnya dan kemudian keluar dari kamar.


😌😌😌😌😌😌


__ADS_2