
"Alya berangkat Buk."
Pamit Alya kepada Ibunya untuk bekerja.
"Iya hati - hati Al, nanti Kamu langsung pulang ya Ibu mau berangkat siang ini."
"Iya Buk, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Alya melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang menuju ke arah sekolahan.
Karena lalu lintas pagi itu yang padat membuat Alya harus memerlukan waktu yang lebih lama untuk bisa sampai ke sekolahan.
Sesampainya di sekolahan waktunya sangat mepet sekali dan bel pun langsung berbunyi untuk masuk jam pertama.
"Alhamdulillah, untung aja nggak telat."
Alya mengucapkan syukur begitu bel berbunyi dia sudah sampai di sekolahan.
Dia bergegas menuju ke lab karena ada jam mengajar di mata pelajaran pertama pagi itu.
Angga melihat Alya yang langsung masuk ke dalam lab dari lapangan karena dia sedang mendisiplinkan siswanya.
"Baru datang, apa macet ya."
Dalam hati Angga.
Alya mempersiapkan materinya dan siswa - siswinya kemudian berdatangan dan masuk ke dalam Lab.
Tak terasa waktu berlalu dan jam istirahat telah tiba, itu artinya jam mengajar Alya harus break sejenak untuk merefresh pikirannya.
"Oke, istirahat dulu kita di lanjutkan lagi nanti setelah istirahat."
"Baik Bu."
Semua siswa - siswinya keluar dari dalam lab karena sudah aturan tidak boleh makan ataupun minum di dalam lab komputer.
Alya menghempaskan tubuhnya di kursi di dalam ruangan khusus guru, merasakan capek juga karena datang terlambat dan langsung mengajar tanpa istirahat terlebih dahulu.
"Haus."
Alya berdiri dan mengambil air minum di dispenser yang tersedia.
"Assalamualaikum."
Saat Alya mengambil minum ada suara laki - laki yang mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam."
Alya menengok ke arah pintu keluar dan melihat seseorang yang tersenyum kepadanya.
"Pak Angga, ada apa."
Alya menaruh minumnya yang diambil kemudian keluar untuk menemui Angga.
"Nggak papa sendirian di sini."
Alya tersenyum dan Menganggukkan kepalanya. Dia memang seorang diri di dalam lab karena Joko hari ini kosong jam jadi tidak masuk.
"Minum pasti haus."
Angga menyodorkan sebuah botol minuman berasa yang masih dingin kepada Alya.
"Buat Saya."
"Iya, buat siapa lagi."
"He he he.. Makasih Pak."
"Tadi terlambat kenapa."
"Macet banget, padahal berangkatnya juga sudah seperti biasa dari rumah."
"Ya udah istirahat dulu, saya keluar ya gak enak cuma berdua di sini."
Alya menganggukkan kepalanya.
"Makasih minumannya."
Angga tersenyum.
"Dihabiskan."
"Pasti."
Angga pergi dari lab dan Alya masuk lagi ke dalam ingin menikmati minuman dingin yang dibawakan oleh Angga tadi.
"Rejeki anak sholehah, Bismillahirohmanirohim."
Alya membuka tutup botolnya dan menenggak isinya terasa buliran air yang sangat menyegarkan di tenggorokan nya.
"Alhamdulillah."
Alya merasakan lega dahaganya terasa hilang karena Dia masih membutuhkan tenaga lagi untuk menyelesaikan tugasnya hari ini.
Bel pun berbunyi tanda masuk kembali dan siswa-siswinya pun telah kembali dari kantin.
Alya mengajar kembali hingga jam mengajarnya habis dan waktunya pulang.
Mengingat pesan Ibunya Alya pun langsung pulang karena sudah dipasrahi oleh kedua orang tuanya untuk menjaga rumah dan kedua adiknya.
__ADS_1
Alya sudah berada di parkiran sedangkan Angga mencarinya di lab, karena Alya di kira belum pulang.
"Kok sudah tutup, apa langsung pulang Dia."
Angga kemudian menuju ke parkiran berharap masih bisa bertemu Alya, Dia akan bicara sesuatu.
"Sepeda motornya sudah tidak ada."
Angga terlihat kecewa karena tak menemukan Alya.
"Nanti kirim pesan aja."
Angga kemudian melakukan sepeda motornya meninggalkan sekolah untuk pulang menuju ke rumahnya.
Alya sendiri sudah sampai rumah dan kedua orang tuanya sudah berangkat ke tempat saudara yang punya hajat, karena lokasinya lumayan jauh membutuhkan perjalanan sekitar 1 jam.
"Dan, Dani."
Alya memanggil adiknya yang ternyata sedang makan di dalam.
"Kenapa sih Kak, lagi makan juga."
"Ya udah kirain nggak di rumah, jangan main di rumah aja pesan Ibu tadi begitu."
"Iya."
Dani melanjutkan makannya karena dia lapar karena habis pulang dari sekolah.
"Mas Ikhsan mana."
"Belum pulang."
"Masa jam segini belum pulang."
"Paling bentar lagi kan jauh."
Alya masuk kedalam kamar yang untuk segera ganti baju karena sudah merasakan gerah.
Adzan dhuhur berkumandang Alya segera melaksanakan kewajibannya karena sudah ingin beristirahat.
Tak terasa matanya terasa sangat lengket sekali dan akhirnya pun dia tertidur hingga sore menjelang.
Bangun tidur Alya mencari ponselnya yang tidak dia pegang semenjak dia pulang dari kerja tadi.
Ada panggilan dari ibunya yang tak terjawab begitu pula beberapa pesan yang masuk kedalam ponselnya.
"Pak Angga."
Alya langsung tertarik dengan pesan yang dikirimkan oleh Angga.
"Tadi kok langsung pulang, ada acara hari ini."
Alya segera membalas ponsel yang dikirimkan oleh Angga karena sudah Sejak pulang sekolah tadi dia mengirimkannya.
Balasan dikirimkan oleh Alya.
Tak lama kemudian ada pesan masuk lagi.
"Berati malam ini tidak ada acara kan Bu."
Alya membaca pesan dari Angga dengan mengerutkan dahinya.
"Nggak ada Pak, emang kenapa."
"Mau main ke rumah boleh ☺."
Alya melotot membaca pesan dari Angga itu .
"Nggak salah baca kan aku."
Gumamnya sendiri.
"Mau ngapain."
Balas Alya, karena bingung mau bales apa masa iya langsung membolehkannya gengsi dong kelihatan banget kalau mengharapkan.
"Main aja, boleh nggak."
Balasan masuk lagi.
"Iya boleh."
"Oke, tunggu aku ya ☺☺☺."
"Ikh... PD banget ini Pak Angga. ini kan malam minggu masa iya apel." Alya menebak-nebak sendiri mau ngapain coba Angga datang.
Alya segera membersihkan dirinya karena hari juga semakin sore dan segera melaksanakan salat ashar.
Malam menjelang Alya sudah pesan kepada kedua adiknya untuk tidak pergi dari rumah ataupun main ke rumah temannya.
"Mau main ya Kak."
pinta Ikhsan.
"Nggak ada, aku telepon Ibu nih kalau kamu pergi.
" Iya, di rumah aja."
Ikhsan mengambil remote TV dan tiduran di depan televisi bersama Dani.
"Kak, pinjem ponselnya dong."
__ADS_1
Pinta Dani.
"Buat apa."
"Nonton lah, bosen nonton TV terus Mas Ikhsan tuh nggak boleh diganti acaranya."
"Ini."
Alya mengalah saja daripada ribut kedua adiknya dan pergi dari rumah.
Kemudian terdengar suara sepeda motor yang berhenti di depan rumah Alya.
"Siapa Kak."
Dani yang penasaran langsung melihat ke luar.
"Siapa Dan."
"He he he.. Itu pacar Kak Alya datang."
"Ngarang kamu." Sangkal Alya.
" Assalamualaikum."
Angga terlihat tersenyum di depan pintu.
"Datang juga kirain cuman bercanda." Dalam hati Alya.
" Waalaikumsalam."
Alya beserta kedua adiknya menjawab salam dari Angga.
"Kak, kita main di luar ya."
Ikhsan menarik adiknya untuk keluar rumah mengajaknya main ke rumah Masnya yang di sebelah.
"Jangan pergi lho."
"Iya.."
"Masuk Pak, silahkan duduk."
"Makasih, mereka mau kemana."
Alya berdiri kemudian membuka jendela rumahnya biar kelihatan dari luar karena mereka cuman berdua di dalam rumah.
"Itu main di Mas sebelah, Maaf Pak saya buka ya jendelanya soalnya kedua orang tua saya enggak ada di rumah."
Angga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Bapak sama Ibu kemana."
"Ke tempat saudara mau hajatan besok pagi."
"Kamu nggak ikut ke sana Dek."
Alya menatap ke arah Angga nggak salah dengar dia dipanggil Dek.
"Nggak kan aku panggil dek ini kan di rumah bukan di sekolahan masa iya aku panggil Bu."
"He he he.. Iya nggak papa. Saya ambilkan minum dulu ya Pak."
Alya masuk ke dalam rumah dan kemudian keluar dengan membawa nampan yang berisi 2 cangkir minuman untuk dirinya dan juga Angga tak lupa juga camilannya.
"Silahkan di minum Pak."
"Makasih."
Angga mengambil cangkir yang ada di depannya itu dan menyeruput isinya.
"Alhamdulillah."
Ucap Angga dan Alya pun tersenyum.
"Dek, ikut saya keluar sebentar yuk."
"Kemana."
"Cari makan atau kemana gitu nongkrong menikmati malam minggu."
"Maaf Pak, saya enggak bisa saya sudah dipesan sama ibu untuk jaga adik dan rumah."
"Bentar aja."
"Maaf Pak, nggak bisa beneran. Masa Iya adikku aja aku larang untuk pergi malah aku pergi sendiri. Barusan ibu telepon pokoknya bertiga nggak ada yang pergi dari rumah."
"Gitu ya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Ngomong aja di sini, Saya beneran tidak bisa keluar Pak."
Kata Alya dan perasaan malah berubah jadi deg-degan.
"Begitu ya, aku mau ngomong serius sama kamu Dek."
"Iya aku dengerin Pak, ngomong aja."
Angga terlihat menarik nafas kemudian menghembuskannya.
"Dek, aku mau jujur sama kamu. Sebenarnya aku sudah jatuh cinta sama kamu, mau nggak kami jadi pacar aku."
🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Pecah telur... Mana suaranya.. ☺☺☺☺☺