
Akhirnya satu bulan berlalu dan Alya masih mendapati dirinya kedatangan tamu bulanan lagi.
Lagi dan lagi dan itu membuat Alya down kembali dan menyalahkan dirinya sendiri.
Alya duduk menghadap ke jendela di dalam kamar, matanya nanar memandang keluar dan masih ada aliran air mata yang terus saja keluar sendiri.
"Dik."
Angga mencarinya karena sejak tadi Dia tidak kelihatan dan ternyata ada di kamar. Alya pun langsung buru-buru mengusap air mata yang membasahi pipinya dan tersenyum kepada suaminya itu.
"Iya Mas."
Angga bukannya dia tidak tahu bahkan malah Dia sangat tahu kalau istrinya itu sedang bersedih dan menangis.
"Ngapain."
Angga mengusap lembut kepala Alya dan menciumnya.
"Nggak Mas."
Alya selalu menyembunyikan kesedihannya dari suaminya karena dia ingin nampak tegar dihadapan semua orang dan berusaha kelihatan baik-baik saja.
"Nggak ngapa-ngapain Mas, kenapa."
Alya menatap Angga sambil tersenyum.
"Jangan sedih, sabar ya."
Angga menangkup wajah Alya dan mengusap sisa air mata yang ada di sudut mata istrinya itu.
Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya namun perlakuan Angga itu justru membuatnya ingin menangis lagi dan air matanya pun lolos dengan sendirinya.
__ADS_1
"Hiks... maafin Alya Mas."
"Susstt.. Jangan nangis terus. Ini matanya merah - merah, hidungnya kayak tomat ini matanya kelihatan bengkak sekarang."
Alya tersenyum dan menghapus air matanya.
"Mas sabar nggak menunggu kita dikasih momongan."
"Insya Allah Sayang, Mas sabar. Kita jalani ini berdua dan jangan lupa bersyukur. Jangan hanya karena belum dikasih keturunan kita jadi lupa bersyukur dengan nikmat lain yang sudah Allah kasih ke kita."
"Iya Mas, tapi rasanya memang Alya selalu sedih setiap tamu bulanan datang lagi dan itu artinya Alya belum hamil."
"Sabar Sayang."
"Mas, ujian kita kenapa begini ya."
"Sussttt... Jangan begitu, semoga ada hikmahnya dibalik semua ini."
"Allah lebih tahu Sayang apa yang kita butuhkan, jangan berprasangka buruk kita tidak tahu apa kebaikan dibalik semua ini."
"Mas pasti malu punya istri kayak Alya yang belum kunjung hamil juga."
"Jangan bilang begitu, sudah ah.. jangan sedih terus keluar yuk cari angin biar pikirannya tidak kalut di rumah terus."
Angga mengusap pipi Alya dan meraih tangannya.
"Kemana Mas."
"Kamu maunya kemana."
Alya hanya menggelengkan kepala saja.
__ADS_1
"Ganti baju, jilbabnya dipakai kita jalan-jalan yuk. Mau bakso.?"
Angga sudah sangat hafal dengan isterinya itu dan makanan favoritnya bakso apalagi lagi dalam keadaan sedih dia pasti ingin mencari yang segar.
"Mau."
Angga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Pakai jilbabnya."
"Mau bakso yang besar."
"Iya, mau sebesar apa, hmmmm..." Angga suka menggoda Alya.
"Memangnya ada yang lebih besar lagi dari ukuran bakso umumnya."
"Ada."
"Mana, yang jual mana Mas."
"Nanti kita cari, udah buruan cuci muka biar nggak kayak tomat itu hidungnya."
Alya beranjak dari tempat duduknya dan segera mengenakan jilbabnya.
"Mas tunggu di luar ya."
Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Angga menghela nafasnya setelah keluar dari kamar, sebenarnya dia juga merasakan sedih jika mendapati istrinya yang suka menangis saat datang bulan tapi, Dia harus tetap terlihat semangat di depan Alya jika dirinya menampakan kesedihannya di depan istrinya itu pasti akan membuat Alya semakin bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri terus.
😥😥😥😥
__ADS_1
Tetap dukung Alya ya ☺☺☺