
Angga dan Alya menjalani hari-harinya penuh dengan semangat dan optimis kalau mereka bakalan punya momongan.
Alya tak pernah bercerita kepada siapapun tentang diagnosa dokter alasan mereka belum punya momongan rasanya belum siap aja kalau nanti mendengar hinaan dan celaan dari orang.
Dia selalu berusaha untuk berpikir positif dan yakin kepada sang Maha Pencipta nanti jika sudah waktunya pasti akan punya momongan.
Beberapa obat yang diberikan oleh Dokter selalu ia konsumsi untuk satu bulan pertama ini dan sangat besar harapan dia bisa positif bulan ini.
Angga juga selalu memberi semangat dan mendukung apapun yang dilakukan Alya, dia tidak mau menekan istrinya hanya saja kadang Alya terlihat sedih dan dia akan menjadi seseorang yang selalu menghiburnya.
Tak dipungkiri kadang Angga sendiri juga merasa sedih ketika melihat teman-teman sebayanya sudah menggendong anak dan mengajaknya jalan-jalan di sore hari naik sepeda motor. Ada rasa iri akan nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada orang lain.
Sebagai manusia biasa Angga juga punya perasaan malu jika berpapasan dengan temannya bahkan ada yang di bawah dia tetapi sudah menggendong anaknya. Usia Angga hampir menginjak kepala tiga dan itu yang kadang membuatnya semakin berpikir keras untuk segera mempunyai momongan.
Alya memahami itu dan dia bisa menangkap dari raut muka wajah suaminya yang terlihat pengen banget untuk menggendong anaknya sendiri.
"Mas malu ya belum punya anak." Dia sering bertanya seperti itu kepada suaminya.
__ADS_1
"Nggak Sayang, tapi Mas udah pengen ngajak jalan-jalan sore-sore gini naik sepeda motor."
Ucapan Angga membuat relung hati Alya serasa ditusuk.
"Maafkan Alya Mas."
Itu di dalam hati Alya tetapi di wajahnya dia masih tetap tersenyum untuk memperlihatkan jika dia baik-baik saja.
"Aamiin Mas, semoga segera."
Alya merasa dirinya lah yang belum bisa memberikan anak kepada suaminya, hingga kadang sering dia menangis sendiri di dalam sepinya.
Alya pun punya rasa ingin menghindari setiap orang karena enggan di tanya kapan hamil, di suruh untuk periksa ke sana kemari belum lagi yang pijat ke sanalah ke situ lah.
"Hufftt.... Siapa juga yang mau kayak gini." Keluhnya sendiri setelah tadi ditegur oleh tetangganya.
"Mereka nggak rasain, coba kalau anak dia sendiri."
__ADS_1
Alya menggerutu sendiri mengusap dadanya dan mengucapkan istighfar.
"Astaghfirullahaladzim, Alya nggak boleh kayak gitu."
Makanya Alya malas kalau disuruh keluar rumah belum lagi kadang dibandingkan dengan orang lain yang baru aja menikah udah hamil.
Kalau orang tua Mereka tak pernah menyinggung momongan cuman kadang memang di suruh usaha dengan pijit di sana atau dengan ke Dokter mana yang mereka dengar dan berhasil setelah dari sana.
"Mas apa Alya juga pijat aja."
Karena mendengar dari orang - orang membuat Alya bingung dan rasanya ingin mencoba cara yang lain agar bisa segera hamil.
"Jangan dulu, kita kan sudah ke Dokter di tunggu dulu." Kata Angga.
Alya pun terus diam saja, rasanya beban yang ia pikul terasa berat banget.
"Boleh nggak aku pergi dari sini, pergi kemana tak ada orang yang mengenalku tal ada orang yang tau masalah Ku. Pergi dimana semua orang tak mengurusi urusan orang lain."
__ADS_1
Batin Alya bergemuruh setiap kali menanggapi omongan orang.
😥😥😥😥😥😥