
Dua hari sepulang dari Bali, Alya sudah merasa sehat kembali setelah sehari kemarin memang rasanya badannya drop.
Pagi ini Alya tidak ada jam mengajar jadi dia sama Vera sudah membuat janji akan ke kampus untuk bimbingan bab 3 dulu yang sudah ia kerjakan sebelum berangkat ke Bali kemarin dan malam tadi ia koreksi kembali.
Pukul 8 Vera sudah sampai di rumah Alya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Ibunya Alya yang menjawab.
"Masuk Vera."
"Iya Buk."
Vera cara meraih tangan ibunya Alya dan mencium punggung tangannya.
"Duduk dulu, Alya masih mandi itu."
"Iya Buk."
"Mau minum apa Ver."
"Nanti Vera ambil sendiri aja."
"Ya udah, nanti buat sendiri aja ya anggap ini seperti rumah kamu sendiri."
"Iya Buk."
Alya keluar dari kamar mandi dan melihat Vera mendengar ibunya sedang bicara dengan seseorang.
"Siapa Buk."
"Itu Vera udah datang, buruan."
"Iya Buk."
Selesai berganti baju dan bersiap-siap Alya menenteng tas ranselnya keluar dari kamarnya menemui Vera.
"Gimana udah siap punya kamu Ver."
"Udah, langsung berangkat yuk."
"Oke."
Alya dan Vera berboncengan menuju ke kampus menggunakan sepeda motor Alya dan sepeda motor Vera ditinggal di rumah Alya.
Sesampainya kampus Vera langsung menuju ke ruang dosen karena sudah janjian jam 9.
Hampir sekitar setengah jam Vera pun keluar dari ruangan itu, dengan muka lesu.
"Gimana."
Tanya Vera.
"Lumayan sih, enggak kayak kemarin tapi juga masih dicorat-coret aja."
"Sabar nanti juga acc."
Vera duduk di samping Alya sambil membuka-buka berkas yang ada di tangannya.
Alya masih nanti jam 11 membuat janjinya dengan dosen karena yang bersangkutan masih ada jam mengajar.
"Ver, kita ke perpustakaan aja dulu yuk." ajak Alya.
"Yuk, tapi harus kita cari minum dulu ke kantin ya."
"Oke."
Mereka berdua menuju ke kantin dan menikmati minuman yang telah mereka pesan.
"Ini oleh - oleh buat kamu."
Alya mengeluarkan 1 buah kaos yang disimpan di dalam ranselnya tadi.
"Wah, lumayan nih makasih ya."
Vera senyum-senyum dia senang mendapatkan kaos, apalagi bergambar band kesukaan dia.
"Eh.. gimana di Bali berdua sama dia." Vera penasaran dengan kelanjutan cerita antara temannya itu dengan Angga.
"Seru."
Alya tersenyum aja.
"Wah, jangan-jangan udah jadian ini nggak bagi-bagi kabar bahagianya."
"Apaan, sering sih Dia ngajak ngobrol berdua tapi nggak ada kemajuan juga."
"Tapi pas malam itu waktu nyebrang ke Bali dia tuh mau ngomong sesuatu katanya serius, eh keburu ada guru lain jadinya ya nggak jadi." Lanjut Alya.
" Wah jangan-jangan waktu itu dia mau nembak kamu."
"Tau ah Ver, tapi dari raut wajahnya dia udah kelihatan serius sih."
"Terus nggak pernah lanjutin omongannya lagi Dia."
__ADS_1
"Nggak. kita tuh kalau lagi ngobrol berdua pasti aja ada yang ganggu."
"Itu bisa jadi dia sebenarnya mau ngomong sama kamu cuman suasananya aja terlalu banyak pengganggu."
"Nggak tau juga Ver."
Mereka telah menghabiskan minuman masing-masing dan kemudian menuju ke perpustakaan sambil menunggu jam 11 baru Alya akan ketemu dengan dosen pembimbingnya.
"Eh, Ver besok acara nikahan Ida ya." Alya baru ingat kemarin dapat undangan dari temannya.
"Iya ya, wah nanti sekalian nyari kado ya."
"Oke."
Mereka berdua mencari beberapa buku sebagai referensi tambahan, karena udah masuk bab 3 dan bab 4 ini butuh juga referensi dari skripsi Kakak kelasnya."
Saat serius ponsel Alya bergetar karena nadanya di matikan saat di perpus ternyata ada pesan masuk.
"Lagi ngapain Bu."
Pesan dari Angga.
Alya tersenyum, dia merasa senang juga jika mendapat perhatian dari Angga.
"Di kampus Pak."
balas Alya.
"Bimbingan ?, pulang jam berapa."
Pesan masuk lagi ke ponsel Alya yang membuat Dia senyum-senyum sendiri.
Vera yang tak jauh dari Alya mengamati temannya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Alya.. Alya, pasti dapat pesan dari gebetannya." Gumam Vera sendiri.
"Belum tahu ini mau sekalian nyari kado besok teman ada yang menikah."
" Sama siapa."
Balasan masuk lagi.
"Biasa sama Vera."
" Nanti sore di rumah."
Pesan masuk lagi dan Alya terdiam membaca pesan itu.
"Ver.."
"Kenapa sih Al."
"Ini."
Alya memperlihatkan pesan itu ke Vera.
"Dia mau ke rumah."
"Kurang tau, gimana Ver."
Alya malah bingung.
"Kenapa kamu malah bingung jawab aja."
"Insha Allah sudah di rumah Pak." Balasan di kirimkan Alya.
"Saya mau ke rumah Bu Alya, boleh?."
Pesan dari Angga masuk lagi membuat jantung Alya bergemuruh.
"Ver, ini."
Vera membaca pesan itu dan tersenyum.
"Jawab aja boleh."
Kata Vera sambil menahan tawanya.
"Nanti kalau dia beneran datang gimana."
"Ya nggak gimana - gimana Al, berati dia ada niat baik sama kamu."
"Gitu ya."
"Lagian kamu kok malah tidak senang gitu."
"Aku bingung Ver."
"Udah buruan di balas."
"Boleh aja Pak, Tapi Pak Angga mau ngapain."
Alya mengirimkan balasannya.
"Silaturahmi, Oke sore Saya ke sana ya."
Alya rasanya ingin berteriak membacanya hingga nggak bisa mau balas apa.
__ADS_1
"Iya Pak."
Alya merasakan jantungnya bergemuruh, hingga membuatnya tak konsen lagi membaca buku dan mengajak Vera keluar.
"Kita keluar yuk Ver."
"Yang mau di apelin malah gerogi gini." Ledek Vera.
"Diam ah Ver, aku harus gimana."
"Bimbingan dulu sana nggak usah dipikirkan itu."
Alya menunggu di depan kelas dimana dosen pembimbingnya mengajar. Tak begitu lama mahasiswanya sudah pada keluar dan Alya pun segera masuk ke dalam.
Sekitar setengah jam Alya keluar dengan senyum yang mengembang.
"Gimana." Tanya Vera.
" Alhamdulillah Ver, cuman sedikit yang dicoret-coret."
"Wah, beruntung banget kamu hari ini Al."
"Apaan sih, Ayo kita cari kado."
"Supaya cepat pulang ya ha ha ha..." Ledek Vera.
"Mulai deh.."
Mereka menuju ke toko yang menyediakan beberapa barang yang bisa dijadikan untuk pernikahan.
Sesampainya di sana Alya dan Vera langsung memilih dan sekalian memintanya untuk dibungkus.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang Mereka langsung pulang ke rumah karena belum juga melaksanakan sholat dhuhur juga.
Sesampainya di rumah Alya dan Vera segera sholat dhuhur dan beristirahat.
"Kamu tidur sini kan Ver, besok sekalian ke pernikahannya Ida."
"Iya, aku juga penasaran sama Pak Angga itu."
"Udah deh Ver, Jujur aku deg-degan banget ini."
"Ha ha ha.. udah buat tidur aja."
Mereka berdua istirahat dan tak terasa adzan Ashar berkumandang ia bangun dan segera menyegarkan badannya untuk melaksanakan sholat Ashar.
Selesai sholat Alya membuka ponselnya ternyata sudah ada sebuah pesan yang masuk.
"Rumahnya sebelah mana dari masjid."
Pesan dari Angga.
"Maju lagi, sekitar 100 meter di depan ada yang main badminton."
Balas Alya karena kedua adiknya sedang di depan bermain badminton.
"Oke."
Balasan masuk dan membuat Alya semakin deg - degan berarti Angga sudah di dekat situ.
"Vera.."
"Kenapa sih Al."
"Dia udah dekat sini."
"Kak Alya.. Ada temennya ini."
Teriak Dani.
deg..deg..deg...
Jantung Alya semakin berdebar hingga nafasnya rasanya naik turun.
"Al, dia di depan.. Ciyeee...."
Ledek Vera.
"Ayo Ver temenin."
"Duluan sana aku belum sisiran dan pakai jilbab."
Alya pun keluar tak enak jik yang datang benar Angga.
"Assalamualaikum."
Suara laki - laki di pintu rumah Alya.
"Waalaikumsalam."
Jawab Alya yang keluar dari dalam dan mereka saling pandang, Angga pun tersenyum manis ke arah Alya.
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Gimana bisa senyum - senyum sendiri kan 😆😆😆😆...
Jangan lupa Like, komen, bunga juga yang banyakkkk ☺☺☺☺☺
__ADS_1