DIARY ALYA

DIARY ALYA
121


__ADS_3

Alya masih diam saja, dia sedang mencerna apa yang disampaikan Angga tadi.


"Pak Angga nembak."


Dalam hati Alya.


"Dek, aku serius. Aku sayang sama kamu."


Angga mengulanginya lagi dan Alya nampak tersenyum menatapnya.


"Mau kan jadi pacar aku."


Angga menatap Alya penuh dengan kesungguhan.


"Aku boleh jujur ya Pak."


Alya mulai bicara.


"Jangan panggil Pak ya, Mas aja he he he.. Kedengarannya kok aku tua banget."


Alya malah terkekeh.


"Iya Mas."


Angga pun ikut tertawa walaupun di dalam hatinya masih berkecamuk menunggu jawaban dari Alya.


"Mau jujur apa."


Lanjut Angga.


"Aku sebenarnya kalau untuk pacaran sudah bukan prioritas Mas tapi bukan berarti aku nggak mau untuk pacaran cuma pengen yang serius aja."


Kata Alya sambil menatap ke arah Angga.


"Aku juga pengen yang serius Dek enggak cuman main-main."


"Ini bukan berarti aku memaksa Mas untuk serius dengan aku, nggak begitu maksudnya Mas tapi ingin kita punya hubungan itu punya tujuan yang jelas."


"Dek, usia Mas juga sudah tidak muda lagi kayak anak SMA tapi memang Mas dari awal itu pengen mencari seseorang yang bisa diajak serius. Mas paham kok maksud kamu, dan Mas setuju kalau kita punya hubungan ingin yang serius."


Alya pun menganggukkan kepalanya.


"Jadi gimana."


Angga menanyakan kembali jawaban Alya.


"Apanya Mas yang gimana."


Sengaja Alya menggoda Angga.


"Jadi gimana Mas di terima."


Angga serius sekali menatap kearah Alya yang malah cengengesan.


"Kita jalani aja ya Mas."


Kata Alya sambil tersenyum kearah Angga.


"Jadi kita jalan nih, beneran."


Raut muka Angga sudah terlihat bahagia sekali.


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Angga rasanya ingin berteriak cintanya diterima namun malu juga di rumah orang.


"Di minum Mas, jadi dinginkan tehnya."


Angga mengambil kembali cangkir yang ada di hadapannya dan meminumnya.


"Ibu sama Bapak pulang kapan."


Angga sama Alya sebenarnya gugup dengan status baru mereka namun mereka berdua sama-sama pandai menyembunyikannya.


"Pulang lusa mungkin, soalnya besok aku sama Ikhsan dan Dani mau nyusul ke sana."

__ADS_1


"Besok mau ke sana, rumahnya kan jauh."


"Ya nggak papa kan, saudara nikah masa nggak ke sana."


"Mas antar ya."


"Nggak usah Mas, nanti kita nginep sana."


"Nggak papa nanti Mas pulang sendiri."


"Nggak Mas, makasih ya. Alya malah repotin Mas."


"Mas nggak merasa direpotin."


"Mas makasih tapi nggak usah ya." Alya menolaknya dengan halus.


"Ya udah kalau begitu, hati - hati kalau naik motor."


"Iya.."


Ucap Alya sambil tersenyum dan mendapat senyuman balik dari Angga.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan tak enak rasanya bertamu di rumah seorang perempuan tanpa ada orang tuanya.


"Mas pamit pulang ya, nggak enak lama-lama di sini tapi nggak ada bapak sama Ibu."


"Iya Mas."


Angga berdiri dari kursinya kemudian diikuti Alya yang mengantarnya sampai ke depan.


Di rumah sebelah Dani dan Ikhsan sedang main ponsel bersama keponakannya ada juga Mas Eko Alya.


Angga berjalan mendekati mereka bermaksud untuk berpamitan nggak sopan rasanya bertamu tak pamit.


"Mas, pamit pulang."


Angga mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan mereka.


Alya menunggu Angga di sepeda motornya.


Pesan Angga.


"Iya, Mas hati - hati kabari kalau sudah sampai rumah."


"Oke Sayang, Assalamualaikum."


Jantung Alya serasa berhenti berdetak dipanggil sayang oleh Angga.


" Waalaikumsalam."


Angga melajukan sepeda motornya ke arah rumahnya dengan kecepatan sedang dan pastinya dengan perasaan yang berbunga-bunga di dalam hatinya.


Alya mendekati kedua adiknya dan juga keponakannya.


"Wah.. Tante diapelin itu."


Ledek Mas Eko.


"Apaan sih."


Alya meraih keponakannya itu dan menggendongnya.


"Ciee..cie.. Habis di tembak ya."


Ledek Ikhsan.


"Kok mereka tau, pasti menguping mereka."


Dalam hati Alya dan mukanya sudah memerah karena menahan malu.


"Dek, mau gak jadi pacar Ku. Ha ha ha..." Tawa Dani dan di ikuti tawa mereka semuanya membuat Alya tambah malu.


"Kalian menguping."


Alya mulai jengkel, tapi kalau marah malu juga.

__ADS_1


"Ha ha ha.. Terdengar ya Kak sampai sini."


Tawa Dani enggak berhenti-henti.


"Tau ah, tidur Besok berangkat pagi atau mau Kakak tinggal."


Karena malu Alya langsung pulang dan masuk ke dalam rumah membereskan gelas dan piring yang ada di meja.


"Ihh... Mas Angga nembak juga di rumah."


Alya berceloteh sendiri sambil membereskan cangkir bekas minum Angga tadi.


Alya segera laksanakan salat Isya dan ingin beristirahat di dalam kamar.


Selesai sholat ada notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel miliknya.


"Mas, sudah sampai rumah Dek."


Pesan dari Angga.


"Rumahnya mana kok cepet ya."


Gumam Alya sendiri karena memang dia belum tahu di mana rumah Angga.


" Alhamdulillah, Iya Mas selamat istirahat."


Balasan Alya.


"Lagi apa, Video call boleh."


Alya meletakkan ponselnya begitu saja di meja di dalam kamarnya kemudian keluar untuk memanggil adiknya supaya pulang dan tidur.


Angga melakukan video call hingga tak terjawab dan mengulanginya lagi hingga Alya masuk ke dalam kamarnya dan baru menjawab panggilan video call dari Angga.


" Assalamualaikum Mas."


Alya melihat wajah Angga yang khawatir.


" Waalaikumsalam dari mana kok gak dijawab video call-nya."


"Dari depan Mas, lagi manggil Ikhsan sama Dani supaya tidur kalau nggak besok bisa ngantuk."


"Kirain Mas kemana bikin khawatir."


"Memangnya aku mau pergi kemana sih Mas, khawatir banget."


"Mas udah kangen, Sayang."


Muka Alya langsung memerah, detak jantungnya tak terkendali debarannya. Angga benar - benar bucin ini.


"Baru juga setengah jam Mas."


"Nggak tau ya, kok udah kangen aja."


"Mas udah dulu ya, mau tidur."


Pamit Alya.


"Sayang nggak kangen sama Mas."


"He he he... Iya kangen nih udah lihat jadi kangennya udah terobati."


"Secepat itu."


"Mas udah ya, bye.. Assalamualaikum. Tidur jangan main lho."


Pesan Alya.


"Iya Sayang, Waalaikumsalam. I Love You."


Alya tersenyum saja dan langsung mengakhiri panggilan itu.


😝😝😝😝😝


Virus Pak Angga menyebar ini...

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣


__ADS_2