DIARY ALYA

DIARY ALYA
154


__ADS_3

"Sayang."


Angga meraih tangan Alya yang menikmati minumannya.


"Iya Mas."


Alya menatap Angga.


"Mas boleh tanya."


Angga berbicara pelan supaya tidak menyinggung perasaan Alya


"Boleh Mas tanya apa."


"Sayang, sudah mantap belum mau menikah sama Mas."


Alya terdiam memandang Angga, apa yang ia takutkan terjadi juga. Angga pasti merasakan karena dirinya terlihat murung sejak berangkat tadi efek pembicaraan dengan ibunya.


"Mas bertanya seperti itu pasti karena Alya terlihat tidak bersemangat ya hari ini cari seserahan." Kata Alya sambil menundukkan kepalanya.


"Sayang... Ada masalah."


Angga meraih tangan Alya.


"Nggak ada Mas." Katanya sambil menggelengkan kepalanya.


"Maafin Alya Mas, Mas pasti mikirnya Alya nggak seneng diajak nikah."


"Kalau ada masalah cerita Sayang."


Alya lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya, tetapi sebenarnya Angga pun merasakan Alya menyembunyikan sesuatu.


"Ya udah, kalau nggak mau cerita tapi ingat Sayang, Mas selalu ada untuk mendengarkan ceritamu."


"Makasih Mas, maafin Alya ya Mas. Alya hanya capek aja."


Ucap Alya dengan tersenyum agar Angga tidak berpikir yang aneh - aneh.


"Iya, wajar kalau kamu capek kemarin banyak kerjaan di sekolahan yang harus kamu selesaikan."


"Kita jadi cari seserahan kan Mas." Kata Alya dengan semangat untuk menunjukan jika dia juga serius dengan pernikahan ini.


"Jadi dong, habisin dulu minuman kamu."


Alya menganggukkan kepalanya dan kemudian menghabiskan minuman yang ada di gelasnya.


Setelah habis Angga menggandeng tangan Alya dan keluar dari cafe itu untuk mencari seserahan mereka.


"Mau cari apa dulu Sayang."


"Ke toko baju itu ya Mas."


Alya menunjuk sebuah toko yang menyediakan baju muslim karena Alya ingin untuk seserahan nya ada baju muslim.


"Oke."


Mereka lalu masuk ke dalam dan memilih baju sesuai dengan selera Alya dan setelah mendapatkannya Angga segera membayarnya ke kasir.


"Kita kemana lagi."


"Mukena Sayang." Mereka melewati sebuah gerai yang menjual berbagai macam model mukena dan Alya pun memintanya untuk ke sana.


Angga dengan senang hati menuruti semua keinginan calon istrinya itu, lagian Alya orangnya juga tidak neko-neko tidak meminta sesuatu yang aneh untuk seserahan nya.


Setelah melihat-lihat model yang ada di sana ternyata Alya kurang menyukainya.


"Yang mana Sayang."


"Alya nggak terlalu suka dengan model-model yang ada di sini."


"Ya udah kita cari ke tempat lain aja."


Mereka berdua keluar dari kedai itu, dan berpindah ke area sepatu dan sandal.

__ADS_1


"Cari sandal dulu aja Sayang." Pinta Angga.


"Oke."


Angga melihat sebuah model sandal yang cantik kayaknya cocok untuk kaki Alya.


"Sayang, coba ini."


Alya nurut saja dan mencobanya.


"Suka nggak."


"Suka Mas cantik."


"Kamu mau."


Ayo tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian Angga minta SPG yang ada di sana untuk membungkusnya dan segera membayar.


Ternyata tidak Alya aja yang tertarik Angga pun naksir dengan model sandal yang ada di sana, ia pun akhirnya ikut beli.


Tak terasa Adzan dhuhur telah berkumandang, Alya juga merasakan kakinya sudah pegal dan capek.


"Capek Sayang."


Angga melihat Alya yang duduk di kursi sambil memijat kakinya saat di gerai kosmetik.


"Mau lanjut apa besok lagi."


Angga berjongkok di depannya dan memijat kakinya.


"Mas, bangun ah.. Alya nggak papa. Kita istirahat dulu ya Mas."


Angga tersenyum dan menganggukkan kepalanya masih sambil memijat kaki Alya.


"Mas, udah Alya malu dilihatin sama Mereka."


"Biarin Mereka iri Sayang."


"Mas, udah ya. Kita pulang ya, Alya capek."


"Kita pulang atau mau cari yang belum." Tawar Angga saat mereka berjalan menuju keluar.


"Pulang ya Mas, nggak papa kan kita cari besok lagi."


"Nggak papa Sayang."


Angga merangkul pundak Alya dan tangan yang satunya membawa belanjaannya.


Sesampainya di parkiran Angga menata belanjaan Mereka dan kemudian mereka menaiki sepeda motor meninggalkan mall tersebut.


Alya sepanjang jalan hanya diam, bedanya memang terasa sangat capek.


"Mau makan lagi Sayang."


Angga mengusap tangan Alya yang melingkar di perutnya.


"Nggak Mas, Alya masih kenyang."


"Oke, kita pulang nih."


"Kita mampir di gerai muslim yang deket bunderan ya Mas, kayaknya di sana mukenanya cantik-cantik."


Angga tersenyum dan semangat lagi, "siap Sayang."


Sesampainya di daerah yang dimaksud oleh Alya Angga menghentikan sepeda motornya dan mereka masuk ke dalam gerai muslim itu.


Benar saja Alya menemukan mukena serta perlengkapan salat lainnya yang ia inginkan sebagai seserahan nya.


"Alhamdulillah sudah semua ya Sayang." Ucap Angga saat bergandeng tangan Alya keluar dari gerai itu.


"Iya Mas."


Alya tersenyum senang, namun dia punya firasat kayaknya nggak lama lagi deh keluarganya Angga akan datang melamarnya.

__ADS_1


Mereka akhirnya pulang ke rumah Angga mengantar Alya sampai ke rumah dan hanya mampir sebentar kemudian pulang.


Alya bercerita dengan ibunya apa saja yang sudah ia beli bersama Angga dan ibunya mengatakan jika mungkin juga sebentar lagi keluarganya Angga akan datang tinggal menunggu kabar saja.


Alya sendiri tidak berani bertanya kepada Angga, hari semakin sore dia memilih untuk beristirahat.


Malam menjelang Alya membuka laptopnya untuk sekedar mencari materi sebagai bahan ajarnya esok pagi.


Kemudian dia dikejutkan dengan ponselnya yang berbunyi.


"Mas Angga."


Dia menjawab panggilan dari Angga.


" Assalamualaikum Mas."


" Waalaikumsalam, Sayang di rumah."


"Iya Mas ada apa."


"Ini Bapak mau bicara sama kamu Sayang."


Perasaan Alya langsung deg-degan kok bapaknya Angga yang mau bicara.


"Iya Mas."


"Assalamualaikum, Alya."


" Waalaikumsalam Pak."


"Bapak mau bilang sama kamu kalau besok malam Bapak sekeluarga mau ke rumah."


Alya terdiam, dan tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang.


"Bapak ada Alya."


"A.. ada Pak, sebentar."


" Alya keluar dari kamarnya dan mencari Bapaknya karena Bapaknya Angga mau bicara."


"Pak, Bapaknya Mas Angga mau bicara."


Bapaknya Alya langsung menerima ponsel Alya dan mereka berbicara tidak terlalu lama kemudian pun diakhiri.


"Kenapa Pak." Tanya Ibunya.


"Besok malam keluarganya Angga mau ke sini mau melamar Alya."


Alya kaget dan melongo saja, kenapa Angga tidak bilang dari tadi siang.


"Kok mendadak Pak."


Ibunya Alya juga kaget tidak menyangka secepat itu.


"Kata Bapaknya Angga, nggak usah terlalu repot-repot mempersiapkan Mereka cuma bawa sekeluarga aja."


"Tapi kan Kita juga harus mempersiapkan Pak untuk menjamu mereka."


"Ya sebisa kita aja Bu, Bapak ke rumah Pak de ya mau memberitahunya."


"Iya Pak."


Bapaknya Alya langsung memberi tahu kakak tertuanya karena besok akan ada acara lamaran.


"Kok nggak bilang sih Alya, mendadak gini." Kata Ibunya.


"Alya juga tidak tahu Bu, Mas Angga tadi siang juga nggak bicara apa-apa soal lamarannya kapan."


"Ya sudah, ibu akan belanja besok ke pasar."


"Iya Bu."


Alya masuk dalam kamarnya dan kemudian menelepon Angga kembali.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2