
Alya terdiam di dalam kamarnya, Angga yang baru masuk mendekatinya yang terduduk menatap ke arah jendela.
"Sayang.."
Angga memeluknya dari belakang.
Alya buru - buru mengusap air matanya yang membasahi dua pipinya.
"Iya Mas."
Angga meraih dagu Alya dan masih melihat sisa tangisannya karena kedua matanya memerah.
"Sayang, kenapa nangis."
Alya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Sayang, cerita sama Mas."
"Nggak ada apa - apa Mas."
Lagi-lagi Alya hanya bilang begitu sambil tersenyum.
"Nggak mau cerita sama Mas, Mas suami kamu kan.?"
"Kenapa Mas Angga bilang seperti itu, Mas Angga suami Alya lah."
"Tapi kenapa kamu tidak mau cerita sama Mas."
Alya menunduk dan tiba-tiba dadanya terasa sesak kembali air matanya pun mengalir lagi.
"Sayang.. Kok malah nangis lagi ada apa."
__ADS_1
"Maafin Alya, hiks...hiks... Maafin Alya Mas."
"Kamu salah apa sama Mas."
"Maafin Alya belum bisa hamil, Mas pasti malu kalau ditanya sama orang."
Angga membawa Alya ke dalam pelukannya dan mengusap kepalanya.
"Kita usaha lagi Sayang."
"Alya takut Mas Angga malu karena punya istri yang belum bisa hamil. Itu yang baru saja menikah kemarin sudah hamil sekarang, hiks...hiks..."
"Jangan iri dengan nikmat orang, kita usaha lagi Sayang. Kita disuruh pacaran dulu kali sayang, nanti kita juga punya keturunan. Yakinlah Allah pasti akan kasih sama kita."
Alya sesenggukan di dalam pelukan Angga, dia sangat takut jika Angga akan meninggalkan dirinya karena belum bisa memberikan keturunan.
Banyak sekali rumah tangga yang diterpa perpisahan hanya karena mereka tidak sabar menantikan keturunan yang tak kunjung datang. Belum lagi harus menanggapi omongan orang sekitar yang selalu mendikte dan menanyakan kapan kapan hamil.
"Mas... Alya takut Mas malu, terus Mas Angga ninggalin Alya."
"Maafin Alya Mas, kali ini belum berhasil Alya datang bulan lagi."
Sebenarnya ada juga kekecewaan di wajah Angga tetapi dia tersenyum kepada istrinya supaya tidak terlalu merasa bersalah dan terus menyalahkan dirinya sendiri karena belum kunjung hamil juga.
Alya selalu menyalahkan dirinya sendiri saat tamu bulannya datang dan pasti perasaannya langsung down dan hanya dengan menangis yang bisa membuatnya tenang.
"Mas marah sama Alya."
Angga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Alya nggak tau Mas, harus bagaimana."
__ADS_1
"Kita berdoa dan berusaha lagi Sayang."
"Alya merasa malah menjadi beban untuk Mas Angga."
"Mas tidak merasa terbebani sama kamu, kita hadapi semua ini bersama-sama."
"Maafin Alya."
Alya memeluk Angga dan membenamkan wajahnya di dada suaminya itu.
Angga mengusap punggung Alya dan menenangkannya.
"Kita nanti periksa ke Dokter Sayang, coba kamu tanya temen-temen kamu biasanya periksa kemana."
"Alya takut Mas."
"Takut kenapa."
"Alya takut nanti setelah ke dokter akan ketahuan semuanya dan apakah Mas Angga bisa menerimanya."
"Kenapa kamu bicara begitu."
"Alya baca - baca Mas, setelah Mereka periksa ke dokter dan ketahuan istrinya memiliki kekurangan kemudian suaminya meninggalkannya."
"Itu Mereka, kita kan nggak tau Sayang. Jangan terlalu banyak membaca seperti itu nanti malah membuat kamu berpikir yang aneh-aneh."
"Iya Mas."
Alya masih termenung diam menatap nanar ke arah jendela, Dia merasakan betapa beratnya cobaan yang diberikan dalam pernikahan mereka. Buah hati adalah salah satu tujuan kedua Insan menikah dan membina rumah tangga apalagi Angga pernah mengatakan ingin cepat - cepat mempunyai momongan.
Sekarang dihadapkan ujian yang seperti ini Alya hanya berharap dan selalu berdoa suaminya bersabar. Dia juga mengikuti berapa komunitas pejuang garis untuk mendapatkan motivasi karena mereka sama-sama berada di fase yang sama yaitu penantian datangnya buah hati di dalam pernikahan.
__ADS_1
"Maafkan Alya Mas..."
😥😥😥😥😥😥