
Hari berganti hari antara Alya dan Mang Ahsan semakin sering berbalas pesan, bahkan kalau longgar waktunya Mang Ahsan tak malu lagi untuk menelpon Alya.
Alya sekarang sudah benar - benar melupakan Tri, "Biarlah aku juga bisa bahagia." Begitu katanya.
Kuliah Alya sudah semester 4 dan dia masih kerja di pabrik, walaupun kadang rasa lelah melanda namun dia akan kembali semangat kita mengingat tujuannya.
"Aku harus berhasil, membanggakan kedua orang tua ku." Kata Alya ketika lelah melanda dan rasanya ingin menyerah.
Weekend telah tiba, saatnya Alya beristirahat dari rutinitasnya.
Pingin rasanya kumpul dengan sahabatnya semasa SMA tapi mereka sibuk.
Alya memilih di rumah saja, menikmati tontonan televisi kesukaannya nonton kartun, kadang harus berebut remote televisi dengan Dani yang ingin nonton acara yang berbeda.
"Mbak, remote mana."
Dani dari luar duduk di sebelah Alya yang tiduran.
"Nggak ada."
Padahal Alya sembunyikan.
"Mbak...!! Mana. Acaranya udah mau selesai ini."
Dani mulai mencari di bawah bantal Alya.
"Nggak ada Dik."
Alya masih ngeyel juga.
" Mbak jangan menang sendiri gantian dong."
Dani mulai emosi semua di bukain mencari remote.
"Dik, jangan diberantakin sudah Mbak bereskan."
"Mana remote nya."
Dani menatap tajam Kakaknya itu.
"Nih.. "
Alya akhirnya memberikan remote televisi nya dia nggak mau capek lagi membereskan rumah karena diobrak - abrik oleh Dani.
"Thu kan diumpetin Mbak Alya."
Alya menjulurkan lidahnya mengejek Dani.
"Wekkk..."
"Tak bilangin Ibu."
"Suka ngadu."
Ejek Alya lagi dan sebuah bantal terlempar ke arah Alya.
Dani pun tertawa sepuasnya.
__ADS_1
Ya begitu kalau ada berantem kalau nggak ada dicari.
Kemudian ponsel Alya berbunyi ada notifikasi pesan masuk.
" Assalamualaikum mbak Alya."
pesan dari Mang Ahsan.
" Waalaikumsalam."
Alya pun membalasnya.
"Lagi ngapain, libur ya."
"Iya Mang libur, di rumah aja."
"Kayaknya ada yang mau ulang tahun nih sebentar lagi."
"Siapa Mang."
Balas Alya pura-pura nggak tahu saja padahal dirinya yang mau ulang tahun seminggu lagi.
"Yang baca pesan ini 😉😉. Di tunggu traktirannya."
Alya tidak menyangka sampai segitunya Mang Ahsan tahu tanggal ulang tahun dirinya, dari mana lagi coba kalau nggak tanya Ikhsan ya dia pasti mencari dari sosial medianya Alya.
"Tau darimana Mang."
"Gampang gitu, cari tahu tentang kamu."
Alya senyum-senyum sendiri membalas pesan dari Mang Ahsan, hingga tak sadar kalau dia sedang dilihatin oleh ibunya yang ikut nonton televisi bersama Dani.
"Makan di luar yuk Mbak, sekalian traktirannya."
Ada pesan lagi masuk kedalam ponsel Alya.
"Berani juga ya, ngajak keluar."
batin Alya.
"Al..."
Suara ibunya yang memanggil membuatnya kaget.
"Eh.. Iya Buk kenapa."
"Ngapain dari tadi senyum-senyum sendiri nggak jelas."
"He he he.. nggak apa-apa Buk Lagi chat aja sama temen."
Alya belum jujur kepada ibunya tapi pasti orang tua pun tahu apa yang dirasakan oleh anaknya.
"Kamu masih sering chat sama Mang Ahsan."
tanya Ibunya yang akhirnya pun Alya berbicara memang niat ibunya untuk memancing Alya bercerita.
"Masih Buk, nih juga chat sama Dia."
__ADS_1
Alya akhirnya jujur.
"Dia gimana kalau sama kamu."
"Biasa Buk, suka chat kadang juga telepon."
"Oh..."
Gitu aja tanggapan ibunya.
"Emang kenapa Buk."
"Nggak papa, Ibu cuma ingin mengingatkan saja jangan terlalu di ambil hati ya kalau cowok suka ngomong manis - manis."
saran Ibunya dia nggak mau aja Alya bersedih lagi.
"Iya Buk."
kata Alya dengan tersenyum.
"Iya nanti kayak Mas Tri, ditinggal gitu aja kan Mbak Alya."
Dani anak kecil bisa berkomentar seperti itu.
"Anak kecil tau apa."
Alya mengacak rambut adiknya.
"Iya nanti nangis lagi, hua ..hua.... ha ha ha..." ledek Dani.
"Siapa yang nangis."
Sangkal Alya.
"Heleh.. gak usah bohong Mbak, aku tuh lihat ya Mbak Alya nangis di kamar."
"Cerewet.."
"Kalau ada laki-laki yang ngajak kamu pacaran coba aja di tantang, aku enggak nyari pacar tapi nyari calon suami."
nasehat ibunya, jujur Alya kaget.
"Tapi Alya belum mau menikah Buk."
" Ya enggak harus menikah sekarang Al, Ibu juga nggak mau kamu menikah sekarang kamu harus lulus dulu kuliahnya. Nanti kalau kamu menikah dan belum lulus kuliah, kamu bakalan ke teteran karena sudah harus mengurus keluarga."
"Iya Buk."
"Kalau laki-laki sudah kamu gitu kan dia akan berpikir kalau dia suka sama kamu dia akan datang ke rumah dan benar-benar berbicara dengan Ibu dan Bapak kalau dia berniat baik. Nggak seperti kamu sama Tri kamu cuma dimainkan Al."
"Iya Buk."
Alya meresapi nasehat dari ibunya.
"Jadi perempuan itu harus mandiri, carilah laki-laki yang benar-benar mencintai kamu bukan kamu yang mengejar-ngejar dia, Al."
"Iya Buk."
__ADS_1
☺☺☺☺☺