
Sudah hampir satu bulan berlalu Alya menjadi seorang pengajar dan tak terasa pula magangnya di perusahaan yang telah ia lalui selama tiga bulan.
Hari ini Alya akan berpamitan dengan pihak perusahaan serta teman - teman satu divisinya yang selama ini telah membantunya.
"Makasih untuk semuanya yang sudah membantu saya selama 3 bulan di sini dan mohon maaf jika selama saya di sini merepotkan kalian semuanya."
"Alya, aku bakal kangen."
Hanzelin yang selama ini bersamanya merasa kehilangan walaupun hanya teman magang.
"Kita masih bisa ketemu Mbak."
"Bener ya."
Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian dia mengeluarkan sesuatu sebagai kenang - kenangan untuk mereka semua.
Alya masih membutuhkan data dari perusahaan sebagai bahan acuannya untuk membuat skripsi.
Setelah ini Alya akan masuk ke semester 7 dan bersiap untuk pengajuan judul proposal nya dan kemudian jika telah mendapat persetujuan akan dikembangkan menjadi skripsi.
Sore itu Alya melajukan sepeda motornya meninggalkan perusahaan dimana selama 3 bulan kemarin telah begitu banyak memberinya pengalaman baru.
Saat melihat penjual martabak dia ingat dengan kedua adiknya, apalagi kemarin Dia baru saja menerima gajinya jadi ingin membelikan sesuatu untuk kedua adiknya.
"Martabak manis satu dan martabak asin satu ya Mas."
Pesan Alya kepada Abang penjualnya.
"Oke, Mbak. Silakan duduk dulu sambil menunggu pesanannya."
"Makasih."
Alya mengambil kursi plastik yang kosong dan kemudian duduk di sana.
Dia melihat kendaraan yang begitu ramai dan berlalu lalang di jalan raya tak heran karena bertepatan dengan jam pulang kantor jadi lalu lintas terlihat sangat padat.
"Orang sebanyak itu kok aku nggak ada yang kenal ya."
Batin Alya sendiri dengan tersenyum dibalik maskernya yang menutupi mulutnya.
__ADS_1
Alya mendengar ada panggilan di ponselnya kemudian dia pun mengambilnya yang berada di dalam tas.
"Silvi.."
Senyum Alya terbit, rasanya merindukan para sahabatnya dulu di masa SMA.
Alya, Ana, Silvi dan Shifa dulu semasa SMA mereka sering menghabiskan waktu bersama namun setelah itu disibukkan dengan kegiatan kampusnya masing-masing jadi intensitas bertemunya pun sangat berkurang.
Walaupun begitu jika hanya sekedar chat masih mereka lakukan dan sambil bercanda, dan saling memberi kabar satu sama lain walaupun tidak begitu mendetail hingga ke urusan pribadi masing-masing.
" Assalamualaikum, Silvi."
" Waalaikumsalam, Alya.... kangen."
Alya terkekeh sendiri, mendengar Silvi bilang begitu.
"Ada apa, Sil."
"Hmmm.... Kapan jumpa."
"Paham aku ini, ada maunya pasti."
"He he he he...."
Silvi tertawa tanpa dosa.
"Mau minta tolong, tapi nggak enak kalau bicara telepon."
Lanjut Silvi."
"Ya ke rumah, kapan mau main."
Jawab Alya.
"Mbak... Pesanannya sudah siap."
Abang penjual martabak yang sudah memanggil Alya.
"Oh Iya Mas, sebentar."
__ADS_1
"Udah dulu ya Sil, nanti dilanjut lagi kalau aku sudah sampai rumah ini masih di jalan bye Silvi... Assalamualaikum."
"Oke, Waalaikumsalam hati-hati Alya."
Alya menaruh kembali ponselnya ke dalam tas dan kemudian mengambil uang memberikan kepada penjual martabak itu untuk membayar pesanannya.
Selesai menerima pengembalian dari Abang penjualnya Alya pun segera melajukan sepeda motornya kembali menuju ke rumah.
Hanya butuh sekitar 15 menit kemudian Alya pun sudah memarkirkan sepeda motornya di teras rumahnya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam,..."
Jawab beberapa orang dari dalam rumah.
Alya sebenarnya juga sudah curiga kenapa banyak sandal di teras depan, ada tamu rupanya.
Alya masuk ke dalam rumah dan rupanya ada teman-teman dari Ikhsan waktu dulu di pondok lagi main ke rumah.
"Mbak bawa apa."
Dani langsung mengikuti Alya yang begitu saja masuk ke dalam.
"Sini ke dalam."
Katanya kepada Dani.
"Ngapain mereka Dan, ke sini."
Tanya Alya kepada adiknya itu.
"Main Mbak, biasa temennya Mas Ikhsan."
Alya nampak mengangguk-anggukan kepalanya namun bersyukur di dalam hati.
"Untung itu orang nggak ikut ke sini, kalau masih berani ke sini aku bongkar semuanya busuknya."
🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Kejam amat Alya 😃😃😃