
Setelah mengetahui hasil pemeriksaan mereka berdua, baik Alya maupun Angga tidak pernah membahasnya sama sekali. Mereka berdua hanya berfokus saja dengan pengobatan yang harus mereka jalani.
Antara Angga dan Alya tidak pernah ada kata saling menyalakan mereka berdua sudah bertekad untuk sama-sama berjuang supaya segera diberi momongan.
Tak ada gunanya saling menyalahkan nanti hanya akan memperburuk keadaan mereka, sudah menjadi suami-istri sudah seharusnya mereka berjalan bersama tanpa ada kata siapa yang sebenarnya yang menyebabkan belum adanya keturunan di dalam pernikahan mereka.
Orang tua mereka juga tidak pernah menuntut hanya saja kadang memberikan saran untuk melakukan pengobatan alternatif juga selain dokter, Alya dan Angga pun tidak menolak untuk itu ibarat kata apa punya diucapkan orang akan mereka coba.
Hari berlalu demi hari, hingga bulan pun berganti namun kali ini Allah pun juga belum mempercayakan kepada mereka untuk mempunyai keturunan.
Sedih...
Memang sangat sedih itu yang dirasakan oleh Alya saat tamu bulanannya datang kembali.
Angga sebenarnya juga merasakan hal yang sama, rasa sedih ketika istrinya masih kedatangan tamu bulanan namun dia tak pernah menampakkan nya di depan istrinya itu hanya kadang saat sendiri dia suka merenung langkah apa yang harus diambilnya.
Sebagai seorang laki-laki dia juga merasa ada yang kurang di dalam dirinya karena belum bisa membuat istrinya hamil, tetapi itu juga bukan karena kemauan dia.
__ADS_1
"Ga.. istrimu coba diajak pijat ke sana itu." Kata Ibunya.
"Nanti Bu, biarkan kami ke Dokter dulu." Jawab Angga, sesungguhnya istrinya menjadi tertekan yang bisa membuat alya malah menjadi stres.
"Tapi di coba, kalau kalau cuman pijat uangnya bisa untuk yang lain." Begitu kata Ibunya dan Angga hanya menghela nafas saja.
Kalau ibunya berkata seperti itu ke Alya bisa membuat istrinya enggan lagi untuk menyelesaikan program hamil mereka.
"Iya Bu, nanti dicoba. Sekarang lagi menjalankan program dengan Dokter doakan saja rezeki kami banyak Bu."
"Ya sudah Ibu ngasih saran saja, itu banyak yang cocok itu pijat di sana dan langsung pada hamil."
Angga pergi meninggalkan ibunya dan mencari Alya yang hanya terdiam di dalam kamar.
Dia melihat istrinya tertidur di atas tempat tidur mereka dan memiringkan badannya membelakangi pintu.
Angga ikut merebahkan dirinya di samping sang istri lalu mengusap rambut Alya yang tidak tertutup hijab.
__ADS_1
"Makasih Sayang."
dikecupnya pucuk kepala Alya dan dipeluknya tubuh sang istri yang terlelap di alam mimpi.
Alya sebenarnya Dia tidak benar-benar tidur, dia capek setelah menangis dan memilih memejamkan matanya supaya air matanya tidak mengalir lagi namun nyatanya tetap keluar dan membasahi pipi hingga ke bantal.
"Maafin Alya Mas."
Dalam hati Alya
Lalu mereka berdua pun akhirnya benar-benar terlelap dan masuk ke alam mimpi.
Esok hari Angga terbangun dan melihat jam yang ada di dinding kamarnya baru menunjukkan pukul 1 dini hari, Dia ingin melaksanakan hajatnya ke kamar mandi.
Sebelum ia beranjak dari tempat tidur, Angga mengusap kepala Alya lalu turun ke pipinya.
Dia mendapati ada air mata yang belum mengering yang terdapat di sudut mata Alya.
__ADS_1
Angga mengusapnya dan mengecup pucuk kepala Alya, lalu dia menuju ke kamar mandi dan tak lupa dia mengambil air wudhu ingin mengadu kepada sang khalik di atas sajadahnya..
😥😥😥😥😥