
Tepuk tangan menggema seiring berakhirnya penampilan Alya dan teman - temannya.
"Lagi... lagi...lagi...."
teriak para siswa - siswi di bawah panggung.
"Terima kasih untuk semuanya, tepuk tangan untuk kalian semua." ucap Surya dia memang sudah terbiasa tampil dengan band nya.
"Lagi... lagi... lagi...."
mereka yang berada di bawah panggung masih berteriak-teriak meminta untuk menyanyikan satu lagu lagi.
"Bagaimana ini MC."
tanya Surya karena merasa tidak enak juga harus bergantian dengan kelas lainnya yang akan tampil.
"Mohon maaf sebenarnya kita juga mau menuruti kalian, tapi untuk hari ini khusus untuk penampilan yang dinilai oleh juri jadi untuk besok hari baru bebas untuk para siswa - siswi bisa tampil berapapun lagu yang diinginkan bisa mendaftarkan diri ke panitia."
jelas MC dan mendapat sorakan dari para siswa - siswi yang sedikit kecewa, tetapi nggak papa besok pagi bisa seru-seruan lagi.
Kemudian The Triples beserta Alya turun dari panggung dan bergantian dengan kelas lain yang akan tampil.
"Bagus banget Al..."
teriak Diana yang berada di belakang panggung.
"Panas dingin ini..."
Alya memang merasakan demam panggung waktu tampil di depan tadi.
"Al, besok kita tampil lagi ya aku daftar kan." ucap Surya.
__ADS_1
"Lagunya gimana."
"Tenang aja, nanti kita lewat chat aja."
Alya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja hitung-hitung untuk refreshing setelah satu tahun penuh dengan pelajaran.
"Alya...."
Ana dan Silvi memanggilnya, dia pun menemui mereka.
"Keren banget sih teman ku satu ini, ajarin main gitar dong."
Silvi meminta gitar yabg di bawa Alya.
"Belajar aja sendiri itu pakai mbah utup, he he he...."
"Kamu ngajarin siapa." tanya Ana.
Mereka ngobrol asik bertiga sambil sesekali memainkan gitar Alya dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengamati mereka bertiga.
"Lihat apa sih Fi."
Wahid yang duduk bersebelahan dengan pacarnya memperhatikan Rafi sejak tadi memandang kearah lain bukan penampilan yang ada di atas panggung.
"Ehmm.... nggak ada."
bohong Rafi.
"Udah sana nanti nyesel lho kalau sudah pergi." kata Wahid sambil menepuk pundak Rafi.
Rafi tersenyum sesaat dan menghela nafasnya.
__ADS_1
"Nggak usah Hid, biar saja."
Kemudian datang Nunik dan tadinya akan bergabung dengan Erna pacarnya Wahid tapi ada Rafi kemudian dia hanya memberi kode kepada Erna untuk menghampirinya.
"Kenapa ada Nunik."
Wahid mendekat ke Rafi setelah Erna pergi ke arah Nunik.
"Biarkan Dia tetap tersenyum seperti itu dan biarkan dia tau jika aku hanya menganggapnya sebagai adik saja tak lebih."
"Kamu jahat Fi, sama diri kamu sendiri."
"Nggak papa Hid, melihat Dia tersenyum bahagia seperti itu sudah senang sekali hati ini."
kata Rafi sambil memandang ke arah Alya dengan tersenyum.
"Seenggaknya coba kamu ngomong sama dia walaupun nantinya kamu pergi dari sini seenggaknya dia tahu perasaan mu dan aku yakin sebenarnya Alya juga suka sama kamu." terang Wahid.
"Nggak Hid, cukup begini saja aku sudah bahagia melihat senyumnya dan mendengarnya tertawa lepas."
"Kamu nggak takut menyesal nanti."
Rafi tersenyum dan rasanya terlihat berat sekali.
"Sudah jadi keputusan ku, kalau kita begini saja, melihatnya bahagia sudah cukup untuk Hid. Sudah cukup sekali kemarin aku menyakitinya aku tahu dari dia memandang ku."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Cieee....cieee....
Ada yang pernah ngalamin nggak nih ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1