DIARY ALYA

DIARY ALYA
108


__ADS_3

"Ibu - ibu pengganggu."


Umpat Angga di dalam hatinya.


"Bu Alya yuk kita absen anak - anka."


Ajak Bu Susi yang langsung menggandeng tangan Alya meninggalkan Angga hingga belum tahu tadi mau bicara apa.


Angga menatap Alya yang dibawa pergi oleh Bu Susi kemudian Dia pun akhirnya juga mengabsen siswa-siswi yang ada di bis nya sebelum turun dari kapal.


Kapal bersandar dengan selamat di pelabuhan Gilimanuk Bali. Setelah semua penumpangnya turun kini bergantian dengan armada mereka yang turun satu persatu dari kapal dan siap menunggu para penumpang untuk naik ke atas guna melanjutkan perjalanan.


Semua telah di cek kembali dan perjalanan menyusuri Pulau Bali baru akan dimulai.


Agenda pagi ini Mereka akan melaksanakan kunjungan kerja industri di sebuah perusahaan mobil yang ternama cabang di Pulau Bali.


Namun sebelumnya rombongan akan berhenti di sebuah restoran kembali untuk melaksanakan ibadah sholat subuh sekalian sarapan pagi.


Sesampainya di restoran mereka sudah punya agenda sendiri-sendiri dan menuju tempat yang mereka inginkan. Yang menjadi favorit tentu saja kamar mandi karena mereka ingin menyegarkan badan sekaligus menunaikan hajatnya.


Alya bersama ibu guru lainnya yang mendapatkan fasilitas berbeda dengan siswa-siswinya lantas membersihkan badannya dan bersiap untuk melaksanakan salat subuh.


Di mushola yang tersedia di restoran tersebut sudah penuh dan Mereka bergantian untuk melaksanakan salat subuh secara berjamaah.


Matahari kini telah terbit dari ufuk timur menampakan dirinya menyinari seluruh dunia ini untuk memberikan kehangatan.


Sarapan pagi pun telah tersedia siswa-siswi sudah tidak sabar lagi mereka mengantri dengan tertib untuk mendapatkan jatah makan. Mereka sudah rapu mengenakan seragam sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh sekolahan untuk melaksanakan kegiatan kunjungan kerja industri.


Begitu pula bapak ibu guru pendamping mereka juga sudah rapi mengenakan seragam untuk ikut mendampingi siswa-siswinya.


Sarapan pagi ini sudah tersedia menu khas Bali salah satunya ada sate lilit, mereka semua antusias ingin merasakannya apalagi ini di daerah asalnya.


Hari semakin siang dan jam sudah menunjukkan pukul 8 semua siswa-siswinya dibariskan di halaman restoran itu yang cukup luas yang biasa digunakan untuk parkir bis.


Mereka mendapatkan pengarahan dari Bapak kepala sekolah dan pendampingan dari bapak ibu guru mereka.


Selesai pengarahan Siswa - Siswi semuanya naik ke bis dan perjalanan akan dilanjutkan menuju ke perusahaan untuk melakukan kegiatan kunjungan kerja industri.


Di sana Mereka semua disambut dengan ramah oleh pihak perusahaan serta diperlihatkan bagaimana proses dari sebuah kendaraan itu bisa jadi dan dapat dikendarai di jalanan.


Hampir 2 jam mereka di sana dan perjalanan pun dilanjutkan menuju ke destinasi selanjutnya yaitu berlibur ke Pantai Pandawa.



Pantai Pandawa adalah salah satu kawasan wisata di area Kuta selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini terletak di balik perbukitan dan sering disebut sebagai Pantai Rahasia (Secret Beach). Di sekitar pantai ini terdapat dua tebing yang sangat besar yang pada salah satu sisinya dipahat lima patung Pandawa dan Kunti. Keenam patung tersebut secarara berurutan (dari posisi tertinggi) diberi penejasan nama Dewi Kunti, Dharma Wangsa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.


Sesampainya di pantai siswa-siswi sudah sangat antusias mereka Langsung berganti pakaian yang tadinya mengenakan seragam ini sudah bebas mengenakan baju mereka masing-masing tetapi tetap sopan.


Mereka dibatasi di sana hanya sampai jam 3 sore karena setelah itu mereka akan menuju ke penginapan.


Cukup banyak wisatawan yang datang di sana mereka melakukan berbagai macam kegiatan yang tersedia di pantai tersebut.


Alya berada di bibir pantai sambil mengawasi beberapa siswa-siswinya.

__ADS_1


"Bu, kita naik perahu yuk."


Ajak Bu Susi.


Alya hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum.


"Kenapa, ayo Bu."


Ajak Bu Laras.


"Nggak Bu, makasih."


Alya sebenarnya takut kalau naik perahu di atas laut ngeri rasanya walaupun ombaknya tenang tetap aja dia merasakan tidak nyaman.


"Ayo lah Bu, kurang satu ini."


Ajak Bu Eni yang ikut juga naik.


"Nggak Bu, makasih saya di sini aja. Saya ambil foto aja."


"Ya sudah Bu."


Alya di tinggal di bibir pantai bersama dengan ibu guru lainnya yang tidak naik.


"Bu Alya nggak naik."


Mas Aji pihak Biro itu mendekati beberapa ibu guru yang berdiri di pinggir pantai dan dia berdiri di samping Alya.


"Nggak Mas, di sini aja."


"Seru lho Bu, lu bisa coba juga paralayang."


"Apa lagi itu Mas, ngeri sedap he he he.."


Mereka ngobrol aja santai sambil sesekali memperingatkan siswa-siswinya yang berenang ke tengah laut.


Alya nggak sadar ada sepasang mata yang mengamati dirinya.


"Ngapain coba Biro itu deketin Alya."


Geram Angga di dalam hati melihat Alya tertawa bersama dengan Aji.


Waktu tak terasa sudah berlalu cepat, mereka semua sudah rapi kembali setelah membersihkan badan bermain di pasir ini pelajaran dan akan dilanjutkan kembali menuju ke penginapan.


"Camilan Bu Alya, Bu Susi."


Tawar Aji di dalam Bis.


"Wah.. Makasih ya Ma."


Bu Susi mengambilnya.


"Ini Bu Alya."

__ADS_1


"Iya Bu."


Alya melamun saja menatap kearah depan dengan memakai kacamata hitam agar tidak terlalu silau dimata dia sebenarnya sedang berfikir.


"Dari semalam Pak Angga nggak kirim pesan, apa dia marah."


Dalam hati Alya.


"Mau ngomong apa ya tadi malam Pak Angga."


"Ngapain coba Alya, kamu mikirin dia ya dia memang perhatian tapi mungkin hanya sebatas teman."


Rasanya sesak kadang di dada Alya, menuruti perasaannya yang tak terbalas namun selalu dapat perhatian yang membuatnya semakin berharap.


Mata Alya sebenarnya sudah berkaca-kaca namun karena terhalang oleh kacamata hitam tak ada yang melihatnya.


Bis Angga juga terlihat kosong keluar jendela Bis di sampingnya.


"Dia terlihat senang banget ngobrol sama cowok itu."


Dalam hati Angga, ada rasa cemburu yang timbul melihat kedekatan Alya dengan cowok lain.


"Apa lagi mereka satu Bis, pasti sekarang mereka sedang tertawa-tawa bersama."


Angga terbakar cemburu hingga dia tak mengirimkan pesan apapun kepada Alya.


Kini Bis sudah merapat ke penginapan mereka semua turun dengan membawa barang bawaan masing-masing, ada yang membawa ransel besar koper hingga tas jinjing yang terlihat banyak sekali barang bawaannya.


Pembagian kamar sudah diatur di dalam bis jadi para siswa siswi mereka sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.


Alya satu kamar dengan Bu Susi dan Bu Eni, karena satu kamar dihuni oleh 3 orang.


Sesampainya di kamar rasanya ingin sekali merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Alhamdulillah ya Allah, nemu kasur juga."


Alya terlentang begitu saja di atas tempat tidur yang tak terlalu besar itu.


"Bu Alya ini ada - ada aja, kayak berapa hari aja nggak lihat kasur ku."


"Capek Bu duduk di kursi tidur di kursi capek semua badannya."


Agenda sore menjelang malam itu hanya istirahat saja di penginapan dan kegiatan akan dilakukan mulai esok hari.


Angga juga masuk kamar merebahkan tubuhnya, kemudian teringat Alya karena tadi juga hanya melihatnya dari kejauhan saat turun dari bis.


"Pak Angga malam ini ngapain, kagak ada acara nih dengan siswa-siswi gimana kalau kita keluar."


Ajak Pak Abdi yang satu kamar dengannya.


"Belum tau Pak lihat nanti."


"Semoga malam ini ada kesempatan lagi, aku cemburu melihat Ya ngobrol dengan cowok itu."

__ADS_1


Dalam hati Angga.


☺☺☺☺☺


__ADS_2