
Satu bulan sudah Alya bekerja di pabrik itu, dan hari ini dia menerima gaji pertamanya.
"Alhamdulillah Ya Allah."
Alya mengucap syukur saat melihat nominal uang di mesin ATM.
Memang sistem penggajian Alya menggunakan transfer melalui ATM, yang baginya itu juga baru jadi masih dibantu temannya saat mengecek ATM barunya.
Alya sangat senang sekali menerima gaji pertamanya jadi dia bermaksud ingin membelikan sesuatu untuk oleh - oleh keluarganya.
"Mas, martabak telur spesial satu sama martabak manisnya satu."
pesan Alya di penjual martabak di pinggir jalan.
"Baik Mbak, di tunggu ya."
Alya duduk di kursi plastik yang tersedia di sebelah gerobak penjualnya, sambil membuka ponselnya.
"Besok kumpul yuk gays..."
pesan Silvi di group empat sahabat.
Alya tersenyum, memang sudah sekitar 1 bulan ini mereka tidak kumpul karena kesibukan masing-masing.
"Ok, berangkat..." Ana.
"Yah... aku nggak bisa pulang 😥😥😥." Sifa.
__ADS_1
"Nggak asyik kamu." Ana.
"Oke, dimana." Alya ikut membalas.
"Ada mie ayam enak nih, kumpul di rumahku dulu ya." Silvi.
"Maunya enak aja." Ana.
"👍." Alya.
"Ini Mbak, sudah."
Penjual martabak itu mengagetkan Arya dan Dia kemudian mengeluarkan uang untuk membayar pesanannya.
Alya setelah mendapatkan pengembalian dia langsung melajukan motornya menuju ke rumah karena hari juga semakin sore.
Sesampainya di rumah Alya tersenyum senang karena semua mengumpul dan kebetulan Ikhsan pas pulang ke rumah.
Alya meletakkan kantong plastik yang ia bawa di atas meja, Dani yang langsung berlari dan tak sabar membukanya.
"Wah.. enak iki martabak telur.. Buk makan." teriak Dani.
"Iya .. nggak usah teriak Dani. Ibu dengar."
Ikhsan juga tak mau kalah dia yang pulang mengajak seorang temannya ikut menikmati martabak yang dibawakan oleh Alya.
"Mandi Al, nanti Ibu sisihkan."
__ADS_1
"Iya Buk."
Alya sudah cukup senang melihat adik-adiknya senang mendapatkan oleh-oleh dia pun langsung bergegas mandi karena badannya juga sudah terasa lengket.
Selesai mandi dia ikut bergabung bersama kedua orang tuanya dan juga adiknya menikmati martabak sekaligus makan malam bersama.
"Ikhsan nggak balik pondok."
"Balik Mbak, bentar lagi maghrib."
Emang jarak Pondok Ikhsan dari rumah cukup dekat hanya sekitar 1 km, dia pun sering pulang untuk sekedar makan ataupun mandi.
Adzan maghrib mulai berkumandang Ikhsan bergegas untuk kembali ke pondoknya bersama temannya.
Sedangkan Bapak mengajak Deni untuk ke masjid Alya dan ibunya berjamaah di rumah.
Setelah selesai salat magrib mereka berkumpul nonton televisi bersama.
"Buk, Alya hari ini gajian. Ini sedikit untuk ibu bisa nambah uang belanja."
"Nggak usah Alya, simpan buat kamu saja uangnya dikumpulin katanya masih ingin kuliah ditabung ya, biar nanti tahun depan bisa daftar kuliah." Ibunya menolak uang pemberian Alya.
"Buk, Tolong diterima Alya sudah bisa nabung kok Bu. Insya Allah tahun depan juga Alya bisa masuk kuliah."
"Alya, disimpan saja. Nanti Bapak tambahi untuk bisa daftar kuliah dan bisa beli sepeda motor."
Alya akhirnya menurut saja akan keinginan kedua orang tuanya, Dia bersyukur memiliki kedua orang tua yang sangat pengertian.
__ADS_1
Alya sudah bertekad harus bisa kuliah tahun depan dan memiliki sepeda motor jadi tidak merepotkan bapaknya jika mau kerja.
Dalam doanya Alya selalu meminta kepada Allah untuk dipermudah kan segala apa yang menjadi hajatnya dan selalu diberi kesehatan untuk bisa kerja dan mengumpulkan uang membantu kedua orangtuanya untuk bisa kuliah.