
Malam makin larut, Alya sudah beristirahat di dalam kamar sedangkan Angga masih berada di dalam kamar mandi.
Alya membaringkan tubuhnya kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Angga masuk ke kamar dan mematikan lampu mengganti dengan lampu tidur, Dia ikut membaringkan tubuhnya di samping Alya.
Alya memiringkan tubuhnya dengan menutupinya dengan selimut, Angga melirik ke arah istrinya itu sambil tersenyum lalu merebahkan dirinya dan ide jahilnya muncul.
Perlahan Dia memasukan tangannya ke dalam selimut dan mulai meraba tubuh istrinya.
"Mas..."
Alya memang belum tidur tapi dia memang suka memiringkan tubuhnya ke arah kanan sambil memeluk guling.
"Hmmmm... "
Hanya itu yang keluar dari mulut Angga tetapi tangannya sudah sampai ke mana-mana membuat Alya menggeliat.
"Mas, geli."
"Lagian suka tidur miring terus selimutan sendiri. Sengaja ya mau menggoda Mas."
"Mas Angga kayak nggak hafal aja kebiasaan Alya."
Angga menyibakkan selimutnya dan kemudian membalik tubuh Alya menjadi terlentang dan dirinya sudah berada di atas tubuh istrinya itu.
"Mas mau ngapain."
Angga mendekat ke wajah Alya dan mengecup keningnya
" Bismillahirohmanirohim."
__ADS_1
Alya tersenyum dan menirukan doa yang dibaca oleh Angga.
Malam yang panas telah berlalu, Alya menyembunyikan wajahnya di dada Angga sambil memeluk tubuhnya.
"Tidur Sayang."
Angga mengusap kepala istrinya dan mengecup keningnya.
"Mas..."
"Iya Sayang."
"Alya mau tinggal di rumah Mas."
Angga mengangkat wajah istrinya itu dan tersenyum dia mencari kebohongan di mata Alya tapi tak ada.
"Kamu serius Sayang."
Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya dia sudah berpikir dengan matang sepertinya itu jauh lebih baik.
"Besok Mas akan bicara dengan Bapak Ibu, jika kamu memang sudah yakin mau ikut Mas."
Alya menatap Angga, ternyata suaminya itu menunggu momen dirinya mengatakan untuk mengiyakan tinggal bersamanya dengan kedua orang tuanya.
"Alya akan bicara sendiri dengan Ibu, Mas."
"Kamu istri Mas, dan akan ikut Mas tinggal bersama kedua orang tua Mas. Berati memang seharusnya Mas yang bicara dengan kedua orang tuamu sayang. Meminta restu kalau anak perempuannya akan ikut dengan suaminya."
Angga mencubit pelan hidung istrinya itu.
"Mas Angga berani bicara sama Bapak dan Ibu sendiri."
__ADS_1
"Berani dong Sayang, Kamu itu sudah menjadi tanggung jawab Mas."
Alya menatap wajah Angga dengan lekat.
"Mas, tapi kalau libur Alya boleh ke sini ya dan kadang boleh nginep juga di sini kalau lagi kangen."
"Iya Sayang, kita juga harus meluangkan waktu untuk Ibu dan sama Bapak kamu."
"Iya Mas, makasih Mas."
"Mas Sayang sama kamu."
Angga mengecup kening Alya dan mendekapnya.
"Kalau seperti ini Mas Angga tak seperti kalau pas dia marah."
Alya bicara sendiri di dalam hatinya dia mengingat sifat Angga yang pencemburu.
"Sayang."
"Iya Mas."
"Apa yang membuat kamu akhirnya mengiyakan untuk tinggal bersama kedua orang tua Mas."
Alya tersenyum karena tak mungkin dia mengatakan apa yang sebenarnya ada di pikirannya.
"Karena Alya sudah memang seharusnya menjadi tanggung jawab Mas. Jadi Alya harus ikut Mas."
"Insya Allah Sayang, Mas akan selalu berusaha membuat kamu bahagia walaupun tak bisa dengan kemewahan tetapi Mas akan berusaha semampu Mas membahagiakan kamu."
"Makasih Mas."
__ADS_1
Malam itu rasa damai menyelimuti Angga, tetapi dalam diri Alya masih ada yang mengganjal bagaimana nanti reaksi ibunya saat Angga akan meminta Alya tinggal bersamanya.
😌😌😌😌