DIARY ALYA

DIARY ALYA
83


__ADS_3

"Pengganggu, ngapain juga aku balas tadi."


Alya menyesali kenapa juga kemarin membalas pesan Mang Ahsan dan sekarang dia menghilang.


"Bikin malas, blokir aja kali itu nomor."


Saking kesalnya di blokir juga itu nomor biar nggak ganggu lagi..


😁😁😁😁


Pagi hari tahun sudah berganti baru dan semalam tak ada perayaan tahun baru di keluarga Alya, hanya saja Bapaknya membawakan beberapa makanan untuk di santap bersama dengan anak dan istrinya.


"Mau kemana Mbak."


Ikhsan melihat Alya sudah rapi.


"Jalan dong, masa di rumah aja."


Alya berlagak menyindir adiknya itu.


"Kayak punya pacar aja jalan.."


Balas Ikhsan.


"Emang jalan sama pacar doang."


Alya nggak mau kalah.


"Anak muda gitu."


"Rempong amat kamu."


Alya mencari kedua orang tuanya untuk berpamitan ingin pergi dengan sahabat-sahabatnya.


"Buk, Pak. Alya mau pergi sama temen-temen."


Pamit Alya sambil bergantian meraih tangan kedua orang tuanya dan mencium punggung tangannya.


"Kemana Al."


Tanya Ibunya.


"Mau nongkrong aja Buk, lama nggak pernah kumpul Mereka sibuk banget."


"Ya udah hati - hati."


"Iya Buk."


"Jalan ramai Al, hati-hati jangan ngebut."


Pesan Bapaknya.


"Iya Pak. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Alya mengenakan helm dan menyalakan sepeda motornya.


"Janjian sama Mang Ahsan ya Mbak."


Celetuk Ikhsan.


"Siapa tu."


"Ha ha ha ... Mantan ya."


"Mantan dari hongkong, nggak ada ya mantan."


"Ha ha ha..."


Ikhsan tertawa saja dia memang suka menggoda Kakak perempuannya itu.


Ikhsan sebenarnya sudah tahu jika Mang Ahsan juga tidak akan pernah serius dengan kakaknya itu karena sudah terdengar di pondok dia akan dijodohkan dengan anak Kakak pemilik pondok tersebut.


"Nggak usah sebut nama Dia, nggak kenal."

__ADS_1


Kata Alya sambil menaiki sepeda motornya dan mulai menjalankannya.


"Ha ha ha... Siap komandan."


"Kenapa sih San."


Ibunya keluar mendengar mereka berdua berargumen.


"Nggak papa Buk, Ikhsan suka aja ngeledek Mbak Alya sama Mang Ahsan."


"Jangan begitu San, Kamu kan tahu sebenarnya seperti apa Mang Ahsan. Biarkan Mbak Mu mencari sendiri bagaimana orang yang dia suka."


"Iya Buk, Ikhsan juga nggak suka kalau mbak Alya deket sama Mang Ahsan, banyak itu perempuan yang dirayu kayak gitu."


"Lha.. itu tau kasihan Mbak Mu."


Alya tak butuh waktu lama sampai di rumah Silvi, Mereka memang membuat janji untuk berkumpul dulu di sana.


"Assalamualaikum."


ucap Alya.


" Waalaikumsalam."


Jawaban terdengar laki - laki.


Alya menoleh ke arah sumber suara dan ternyata Adit yang sedang duduk di depan televisi.


"Alya."


"Hai... Silvi mana."


"Itu di belakang, masuk dulu."


Alya masuk ke dalam dan Silvi sebenarnya sudah tau kalau dia datang tapi dia sengaja diam di dalam mendengarkan pembicaraan Alya dan Adit.


"Sil.. Silvi, kemana Dia Dit. Terus teman - teman yang lain mana belum datang juga."


"Belum cuma aku doang ini."


Adit tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja, Alya tak enak ngobrol berdua dengan Adit.


"Sil.."


"Hai, wah ada bu guru nih."


Mereka cipika - cipiki.


"Apaan sih, mana yang lain."


"Belum ada, itu ada Adit kan di depan."


"Nggak enak aku ngobrol berdua sama dia. Kemana sih Mereka lama banget Ana sama Shifa."


"Bentar lagi datang, kamu di depan aja aku mau mandi dulu, he he he..."


"Kebiasaan kamu Sil."


"He he he... Udah sana di depan aja sama Adit."


"Di sini aja aku."


Alya masih duduk aja di kursi.


"Ya udah terserah, aku mandi dulu."


Silvi beneran masuk ke dalam kamar mandi dan menunggunya. Kemudian terdengar suara sepeda motor yang berhenti di depan rumah Silvi.


"Assalamualaikum."


Terdengar orang mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam."


Suara Adit yang terdengar keras menjawab, Alya masih di dalam dan mengintip.

__ADS_1


"Adit, mana Alya sama Silvi."


"Di belakang."


Alya kemudian keluar.


"Hai.. Jeng Kelin.... 😁😁😁😁"


"Kamu itu yang jeng kelin."


Ana tak terima, tapi mereka cipika - cipiki juga.


"Mana Silvi."


"Biasa, itu kamar mandi."


Ucap Alya.


"Kebiasaan, Shifa."


"Belum lah, paling juga sama cowoknya."


"Ha ha ha... Iya ya."


Silvi setelah selesai dan keluar dari kamar mandi dia senyum-senyum sendiri tanpa dosa melihat kedua sahabatnya telah menunggunya.


"Cepetan ganti baju atau mau aku gantiin."


Ancam Ana.


"Ha ha ha... Woles..."


Silvi langsung masuk ke dalam kamar untuk segera berganti baju.


Selesai bersiap Shifa pun datang, Mereka berencana akan makan bersama.


"An, aku bonceng ya."


Kata Silvi.


"Aku sama siapa."


Ucap Alya, karena Shifa udah sama pacarnya.


"Kamu bareng Adit aja."


Enteng Silvi menjawab.


"Nggak mau, kamu sama Adit aku sama Ana."


Alya melingkarkan tangannya ke lengan Ana.


Adit pun memberi kode kepada Silvi supaya mengiyakannya.


"Oke deh, yuk berangkat."


Mereka mulai menjalankan sepeda motornya, di atas motor Silvi dan Adit membicarakan sesuatu.


"Sil, beneran Alya lagi nggak ada pasangan."


"Setau aku nggak ada. Kalau kamu beneran suka deketin dia."


"Aku kok minder ya."


"Kamu dari dulu minder aja."


"Ya sekarang dia guru, aku apaan Sil cuma karyawan biasa."


"Alya itu nggak seperti itu orangnya."


"Tau ah Sil."


"Terserah kamu lah, yang jelas Alya itu gadis baik-baik."


Adit mengangguk-anggukan kepalanya saja sampai fokus menyetir.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2