
The world without you
Is just like a jigsaw puzzle
It's still eternally missing pieces and incomplete
Because it is imposible
For anyone to replace you
(*Dunia ini tanpa dirimu
Seperti sebuah teka-teki jigsaw
Selamanya masih kehilangan kepingan-kepingannya dan tidak lengkap
Karena rasanya tidak mungkin
Untuk siapapun menggantikan dirimu)
__________________________________
"Px 56 tahun dengan Gangren Diabetikum kaki kiri, dok. GDA 478. Ronsen tiga hari yang lalu bagus, tidak ada jaringan keras yang terlibat." Dina seorang perawat yang menemani Ella berkeliling bangsal untuk kegiatan visite paginya menjelaskan.
"Lanjutkan pemberian insulin, Obat injeksi dan infuse-nya juga tetap seperti kemarin. Rawat luka tetap tiap hari, nanti siang jadwalkan untuk ronsen dan GDA lagi. Laporkan hasilnya besok ya." Ella memberikan advice pada Dina yang langsung mencatatnya di buku besar ruangan.
"Dereng saget wangsul, bu dokter?" salah seorang keluarga pasien menanyai Ella dengan penuh harap. Pertanyaam klasik yang selalu saja ditanyakan pasien dan keluarganya setiap kali dirinya visite pagi. Yah mungkin para pasien dan keluarganya sudah lelah untuk terus berada di rumah sakit. Apalagi untuk pasien diabetes memang akan memerlukan waktu yang lama untuk proses penyembuhan.
"Ngapunten bu, dereng saget." Ella menjawab dengan sopan menggunakan bahasa jawa juga. Ella dan Dina kemudian beralih dari bed pasien itu, beranjak ke ranjang pasien berikutnya disebelah pasien tadi.
"Px 22 tahun, mahasiswa. Hepatitis A dok, hasil pemeriksaan kemarin SGOT 112, SGPT 117." Dina kembali menjelaskan keadaan pasien di hadapan mereka.
"Masih mual muntah?" Ella menanyai sang pasien kali ini. Pasien wanita muda ini sudah terlihat sehat dan dapat berkomunikasi dengan baik.
"Sudah tidak muntah dok. Cuma tinggal mualnya sedikit-sedikit," jawab sang pasien.
"Awal masuk berapa SGOT dan SGPT nya?" Ella kembali bertanya pada Dina.
"Diatas seribu dok, sampai kuning matanya."
"Yasudah berarti hari ini sudah boleh pulang ya. Nanti lanjut pengobatan rawat jalan, obat yang saya resepkan harus dihabiskan juga. Bed rest total dulu selama seminggu, jangan terlalu banyak kegiatan." Ella memberikan keputusan sekaligus advice-nya pada pasien dan keluarganya. Membuat mereka langsung sumringah bahagia dan berkali-kali mengucapkan terima kasihnya pada Ella.
Setelah menyelesaikan semua visite pasiennya dari bangsal penyakit dalam itu Ella kembali duduk di meja jaganya di depan ruangan rawat inap. Dina ikut mengekor saja di belakangnya dan duduk di meja perawat. Kemudian keduanya berkutat dengan tumpukan rekam medis pasien dan lembaran resep serta permintaan pemeriksaan laboratorium yang harus diisi.
__ADS_1
Selanjutnya Ella meneruskan jaga ruangan penyakit dalamnya sampai pergantian sift jaga. Tepat pukul dua siang, setelah dokter jaga sift berikutnya datang Ella melakukan operannya dan mengemasi barang-barangnya di meja kerjanya ke dalam tasnya.
"Yuk, El udah beres?" Seorang pria berjas putih menghampiri Ella di mejanya. Ella mendongakkan kepalanya dan mendapati Roni tersenyum manis kepadanya.
"Udah, Ron." Ella menenteng Shoulder bag-nya dan menghampiri Roni.
"Yuk semuanya, aku duluan ya." Pamit Ella pada semua crew ruangan penyakit dalam yang hadir di ruangan itu yang langsung meng-iyakan pamitnya. Ella kemudian berjalan beriringan dengan Roni meningalkan RSUD DR. Sutomi tempat mereka bertugas jaga untuk keperluan pendidikan mereka.
"Mau langsung pulang atau cari makan dulu, El?" Roni melepas jas putihnya saat mereka sudah sampai ke mobil CRV abu-abu Roni di parkiran. Melipatnya, dan melemparnya begitu saja ke jok belakang mobilnya. Ella juga melakukan hal yang sama, melepas, melipat dan memasukkan jas putihnya ke dalam tasnya.
"Langsung pulang aja, Ron." Ella mengikuti Roni masuk ke dalam mobilnya. Kemudian Roni pun segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkiran RSUD.
"Besok ada prosesi pengambilan sumpah di Gedung serba guna Uner. Prodi kami, jantung dan pembuluh darah yang ngadain. Mau ikut bantuin atau sekedar mengucapkan selamat?" Roni menawarkan ajakannya.
"Kan aku gak ada yang kenal, lagian kalian butuh bantuan apa?" Ella mencari-cari alasan untuk menolak ajakan Roni. Kan gak lucu juga kalau dirinya hadir di acara penyumpahan yang diadain prodi lainnya.
"Kan ada aku sama mas Mahes."
"Mas Mahes akhirnya ikutan sumpah juga?"
"Iya. Dia sudah resmi jadi spesialis sekarang. dr. Maheswara Satya Hartanto, Sp. Jp sudah dapat dipastikan tu gelarnya. Keren banget Mas Mahes bisa lulus lumayan cepet meskipun banyak cutinya." Roni menjelaskan.
"Boleh deh, udah lama gak ketemu mas Mahes. Sekalian ingin ngucapin selamat serta selamat tinggal. Soalmya setelah lulus gak bakal bisa ketemu lagi kan kecuali pas seminar." Ella ingin memanfaatkan kesempatan yang mungkin akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk dapat ketemu Mahes.
"Bener banget itu. Yaudah nanti kamu ikutan bantuin aku aja jadi panitia," ajak Roni.
"Bantu-bantu aku jaga stan konsumsi aja, gampang tinggal bagiin kotak kue ke tamu-tamu hehe." Roni menjelaskan tugas yang harus dilakukannya bersama Ella.
"Kayaknya udah lama banget aku gak lihat Mas Mahes di kampus," celetuk Ella.
"Mas Mahes memang sering bolak-balik pulang kampung sekarang. Kebanyakan urusan dia kan orangnya sibuk pakai banget. Apalagi jadwalnya di kampus juga tinggal sedikit. Ditambah lagi isteri mas Mahes katanya baru melahirkan beberapa bulan lalu, masih lucu-lucunya tu anaknya." Roni menjelaskan.
"Hah? Isteri? Anak? Mas Mahes udah nikah?" Kali ini Ella yang kaget mendengar penjelasan Roni. Jadi Mahes sudah menikah? Kapan?
"Lho kamu gak tahu? Aku belum cerita ya? Udah lebih dari setahunan yang lalu sih. Serba surprize banget kayaknya nikahnya, tapi ya tetep gila-gilaan dan meriah banget. Dia kan tajir melintir, anak sultan."
"Kamu dateng, Ron? Diundang?" tanya Ella penasaran. Entah mengapa ada sedikit rasa kecewa juga dihatinya mengetahui dirinya tidak diundang di pernikahan Mahes. Padahal hubungan mereka berdua cukup baik dan dekat selama ini di kampus. Walaupun Ella tahu pasti Mahes juga tak mungkin dapat mengundangnya. Mahes mungkin tak tega untuk membuat Ella hadir dan bertemu keluarga besarnya.
Di lain sisi tentu saja diundang pun Ella tak mungkin akan sanggup untuk hadir ke pesta itu. Karena sudah jelas dan pasti pria itu dan seluruh keluarganya pasti juga hadir disana. Yah bagaimana pun Mahes dan pria itu kan masih satu kerabat dekat. Sangat tidak mungkin pria itu tidak hadir disana.
Mau tidak mau Ella jadi teringat sosok pria itu, sosok pria yang pernah singgah dan mengisi relung hatinya. Nama yang sudah terpahat sangat dalam disana. Lazuardi, gimana ya keadaan mas Ardi sekarang? Apa dia sudah menikah juga? Atau bahkan mungkin sudah memiliki anak-anak yang lucu? Segalanya mungkin saja terjadi karena waktu sudah bergulir selama tiga tahun sejak terakhir kali Ella bertemu dengannya.
"Aku gak bisa dateng waktu itu pas kebetulan ada ujian. Jadinya ya lupa juga bilangin ke kamu kalau sebenarnya mas Mahes mau ngundang kamu juga...sorry ya." Roni menjelaskan sesuatu yang sudah dapat Ella duga.
__ADS_1
Ella diam saja tak menjawab, masih sibuk menata hatinya yang tiba-tiba menjadi kacau dan gundah hanya karena mengingat kembali nama dan sosok Lazuardi Pradana. Ternyata sosok Ardi masih terukir dengan jelas jauh di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Terus kita kapan nyusul, El?" Roni bertanya tiba-tiba pada Ella.
"Haa? Nyusul kemana?" Ella kebingungan.
"Nyusul nikah hehe. Kamu gak kepikiran buat nikah? Temen-temen kita udah banyak yang sold out, El." Roni menjelaskan dengan sabar.
"Ron...Aku, aku belum kepikiran. Aku mau fokus lulus dulu deh ini residen."
"Yaudah bentar lagi juga kan kamu bakal lulus. Tapi kalau nunggu aku yang lulus ya masih dua tahunan lagi donk." Roni sedikit kecewa dengan jawaban Ella. Harus berapa lama lagi dirinya untuk bersabar menunggu? Sudah dua tahun Roni mencoba untuk memaksakan hubungan tanpa status yang jelas dengan gadis itu.
Sejauh ini dari luar mereka berdua nampak seperti pasangan yang harmonis. Namun dari dalam, tak dapat dipungkiri bahwa hubungan mereka berdua terasa sangat hambar. Ella masih saja sangat susah untuk membuka hati untuk Roni. Memang gadis itu membiarkan Roni memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Tetapi sebagai balasan Ella tak pernah sekalipun terlihat benar-benar memberikan cintanya pada Roni.
Roni tahu benar akan hal itu, dan dirinya juga sudah berkali-kali ingin menyerah saja akan hubungan tidak jelas dengan Ella. Tetapi rasa cintanya pada gadis itu juga semakin besar. Semakin lama bersama dengan Ella, Roni semakin ingin selalu bersama dan memiliki gadis itu. Membuatnya mampu bertahan sejauh ini menghadapi sikap Ella padanya. Tak masalah Ella belum bisa mencintaiku, yang penting kami berdua masih bisa selalu bersama.
"Kita bicarain lain kali ya..." Ella selalu saja meminta excused saat membahas hubungan mereka. Ella juga kebingungan sebenarnya, di satu sisi dirinya ingin sekali membuka dirinya dan menerima cinta Roni yang terlihat sangat tulus padanya.
Tetapi dilain sisi ada satu bagian dari dirinya yang menolak mentah-mentah untuk menerima Roni. Bukan hanya Roni saja, pria mana pun seakan tak akan sanggup menakhlukkan bagian dirinya ini. Hatinya, didalam hatinya seakan sudah terpahat dan terukir nama Lazuardi dengan sangat dalamnya sehingga waktu tiga tahun berlalu pun tak sanggup untuk menghapus nama itu.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Ella di jalan Ketintung. Lilik, mama Ella membukakan pintu untuk mereka berdua dan mempersilahkan masuk setelah mereka bertukar sapa dan bersalaman.
"Masak apa ma? Ella laper banget ni." Ella langsung nyelonong ke ruang makan.
"Nak Roni udah makan? Ayo sekalian makan bareng sama Ella aja yuk." Lilik mempersilahkan Roni juga. Roni sudah sering main ke rumah mereka, dan hubungannya dengan Ella juga terlihat sangat dekat. Jadi Lilik sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu.
"Wah jadi ngerepotin, Te." Roni berbasa-basi menolak. Padahal aslinya juga udah laper.
"Udah sini gak usah jaim, Ron. Gak bakal kenyang kalau jaim hehe." Ella memanggil Roni untuk bergabung di meja makan. Berbagai hidangan masakan rumahan sudah tersaji disana. Lilik yang hafal jadwal Ella sudah mempersiapkan menu makan siang untuk putrinya itu di meja makan.
"Iya ayo sana temenin Ella makan." Lilik sedikit mendorong tubuh Roni ke ruang makan.
"Ok deh. Makasih banyak, te. Maap kalau makan saya banyak hehe." Roni akhirnya mengalah dan mengambil duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Ella.
"Ayo dimakan, hidangan seadanya ya hehe." Lilik menyuguhkan dua gelas minuman dingin untuk kedua anak muda itu. Sebelum pamit dan undur diri, tak ingin menggangu kebersamaan keduanya.
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
Pemerikasaan yang dilakukan untuk pasien dengan penyakit hepatitis A adalah dengan pemeriksaan faal hati. Pemeriksaan tes darah pada pasien biasanya akan menunjukkan peningkatan jumlah SGOT dan SGPT jika terjadi kerusakan pada sel hati.
-Kadar normal SGOT adalah 5-40 mikro per liter.
__ADS_1
-Kadar normal SGPT adalah 7-56 mikro per liter.
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼