Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
110. S2 - Rival


__ADS_3

"El, kita ke bawah yuk. Kita makan dulu sampai puas terus pamit pulang." Kali ini Roni mengajak Ella dengan nada sangat serius yang seolah tak ingin penolakan.


"Lho?! Kok kayaknya buru-buru gitu?" Ella sedikit heran dengan sikap Roni kali ini.


"Penasaran pengen cepet-cepet baca ini." Roni mencoba mencari alasan dengan dokumen di tangannya.


Pembicaraan mereka terhenti saat seorang wanita dengan seragam Baby sitter memasuki kamar dengan langkah terburu-buru. "Maaf saya datang terlambat, nona bisa pergi sekarang biar tuan Rangga sama saya saja," ujarnya saat menghampiri Ella.


"Yuk, El..." Roni lega akhirnya Ella tak punya alasan lagi untuk berlama-lama disini.


Roni menarik sebelah lengan Ella agar gadis itu bangkit dari duduknya. Kemudian menautkan lengan Ella tadi ke lengannya sendiri. Mengajak Ella berjalan berdampingan menuruni tangga ke lantai satu dengan kedua lengan mereka masih bertautan.


Tindakan Roni ini mutlak membuat Ella menurut dan mengikuti langkahnya begitu saja. Membuat Ella mau tidak mau harus rela mengurungkan niatnya untuk melihat ada apa gerangan di ruangan kerja Mahes. Mengabaikan firasat dan rasa penasaran yang dari tadi berkecamuk di dalam dadanya sendiri.


Kali ini Ella menurut saja menerima perlakuan Roni yang sedikit intim padanya. Ella masih mencoba untuk tidak menolak segala perlakuan Roni untuknya. Apalagi saat ini Ella dapat merasakan Roni sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menerima penolakan darinya. Mungkin Roni sedang membutuhkan sedikit suport dan dorongan semangat darinya untuk menghilangkan kegelisahan dan kegundahan di hatinya saat ini.


Kejadian selanjutnya di party hall bahkan terasa jauh lebih aneh dan janggal lagi bagi Ella. Dimana Roni seolah ingin menunjukkan kemesraan dan keintiman hubungannya dengan Ella di depan umum.


Roni membantu mengambilkan makanan dan minuman untuk Ella. Bahkan sesekali pria itu juga menyuapi Ella dengan sesendok makanan dengan mesranya. Seolah-olah Roni ingin membuktikan pada semua orang yang hadir disana kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih dengan hubungan yang harmonis.


Ella benar-benar keheranan dan tak habis pikir dengan sikap janggal Roni yang tiba-tiba ini. Tetapi Ella juga tak dapat menolak perlakuan Roni padanya. Karena selain sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menolak tindakan Roni, selama tidak melewati batas tentunya. Akan terlihat sangat aneh kalau dirinya tiba-tiba mencampakkan Roni setelah kemesraan yang mereka tampakkan sebelumnya.


Ella hanya bisa bertanya-tanya keheranan dalam hatinya kenapa dan untuk apa Roni melakukan semua ini? Dia mau pamer kepada siapa? Bukankah kebanyakan residen prodi jantung sudah banyak yang menganggap mereka pasangan kekasih?


Pada akhirnya karena tak dapat menemukan jawaban, Ella menurut saja mengikuti apa kemauan Roni. Berusaha terlihat seluwes mungkin menjadi pasangan Roni malam ini.


Mereka berdua menikmati berbagai jamuan mewah pesta dan sesekali beramah tamah dengan beberapa tamu lainya. Sebelum akhirnya keduannya pamit undur diri dari pesta itu beberapa saat kemudian.


"Ron, kamu kenapa? Kok kayaknya gak tenang gitu?" Tanya Ella saat mereka berdua sudah berada didalam mobil honda CRV Roni, dalam perjalanan pulang. Tak dapat menutupi rasa penasarannya.


"Enggak, gak pa-pa kok..." jawab Roni singkat.


Kelihatan sekali Roni sedang tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka. Ada apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan setelah meninggalkan kediaman Hartanto pun pria itu masih tampak gelisah.

__ADS_1


Sikap Roni membuat Ella ikut terdiam membisu tak berani bertanya lebih jauh lagi. Bertanya-tanya dalam hatinya tentang apa sebenarnya yang telah terjadi pada Roni di pesta tadi. Tepatnya apa yang telah terjadi di ruangan kerja Mahes.


~∆∆∆~


...Beberapa waktu sebelumnya...


Roni membuka pintu ruang kerja Mahes yang memang tidak pernah terkunci. Roni dan teman-teman satu prodi-nya dulu sering sekali berkumpul di ruangan ini untuk melakukan riset penelitian, mencari data serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan mereka. Memanfaatkan fasilitas akses internet dan jurnal unlimited Mahes serta koleksi buku-buku medis yang lumayan lengkap di ruangn ini.


Roni berjalan perlahan masuk kedalam ruangan bernuansa klasik itu. Dia langsung mengarahkan kakinya ke arah meja kerja Mahes di salah satu sisi ruangan. Tempat Mahes seharusnya meletakkan dokumen yang dijanjikan kepadanya.


Betapa kagetnya Roni saat mendapati ada seseorang pria yang sedang duduk di kursi kerja Mahes dengan santainya. Seolah-olah dirinya adalah tuan rumah di dalam kediaman ini. Pria itu tidak menyadari kedatangan Roni, membaca lembaran-lembaran dokumen yang ada di hadapannya.


Roni menjadi lebih kaget lagi saat dirinya semakin dekat dengan meja kerja itu. Saat kedua matanya dapat melihat dengan jelas wajah pria yang duduk di kursi itu. Wajah yang sangat tidak asing baginya beberapa tahun yang lalu.


Wajah yang sangat menjengkelkan baginya. Wajah yang dapat menyulut emosinya hanya dengan malihatnya saja atau bahkan hanya mendengar namanya disebut. Wajah si pria brengsek itu, Ardi Pradana.


Ardi menyadari adanya seseorang yang mendekat kearahnya, dia mendongakkan kepalanya dengan malas untuk melihat siapa yang datang. Ardi mengira Bambang yang datang menjemputnya untuk segera pulang kembali ke komplek perkantorannya. Tapi ternyata bukan, malah orang lain yang datang menghampirinya kali ini.


Betapa kagetnya Ardi saat melihat siapa yang berjalan mendekat ke arahnya. Pria dengan wajah penuh senyuman menyebalkan yang diingatnya beberapa tahun yang lalu, wajah yang sering dilihatnya dari laporan-laporan orang suruhannya selama ini.


Kedua pria itu saling bertatapan untuk beberapa lama. Saling menilai satu sama lainnya setelah beberapa tahun mereka tidak bertemu. Kelihatan sekali kalau keduanya saling membenci. Keduanya tanpa ragu menampakkan pandangan tidak sukanya. Saling menusuk dengan tatapan tajamnya masing-masing. Tak ada yang mau mengalah satu sama lainnya.


Ardi mendengus dan akhirnya mengalah untuk mengakhiri adu pandang mereka beberapa menit kemudian. Terlalu malas untuk meladeni perang dingin dengan Roni.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Ardi dengan nada sinis. Dirinya sedikit keheranan juga, bagaimana Roni bisa masuk ke ruangan ini.


"Mau mengambil dokumen di meja itu." Roni menjawab tak kalah sinis. "Justru aku yang harusnya bertanya ngapain kamu duduk disana?" tambahnya penasaran.


"Emang kenapa? Ini kan rumah adikku." Ardi menjawab dengan nada mengejek, merasa menang kali ini.


Roni mengutuk kebodohannya sendiri yang sampai melupakan kalau isteri Mahes adalah adik dari si brengsek ini. "Ya sudah aku cuma mau ambil ini." Roni cepat-cepat mengambil map berisi dokumen tujuannya di meja.


"Cih, gitu doank?" Ejek Ardi saat Roni berbalik membelakangi dirinya setelah mengambil mapnya. Ardi bangkit berdiri dari kursinya, mendekat ke arah Roni. Entah mengapa Ardi masih ingin berbicara dengan pria itu meskipun rasanya menyebalkan.

__ADS_1


"Kamu masih idup? Kok gak sekalian mati aja?" Ujar Roni sinis. Kembali membalikan tubuhnya untuk berhadapan dengan Ardi, menumpahkan segala kekesalannya pada Ardi. Ngapain ini si brengsek pakai muncul lagi? Mengganggu ketenangan saja?


"Kecewa ya aku masih hidup?" Ardi tertawa tertahan. "Tenang aja. Aku gak bakal mati sebelum dapetin Ella," lanjut Ardi dengan nada sedikit menantang Roni.


Ardi tahu benar dari orang suruhannya yang mengikuti Ella kalau hubungan Roni dan Ella belum terlalu jauh. Masih ada kesempatan baginya untuk merebut kembali Ella kepelukannya. Sebelum janur kuning melengkung dihari pernikahan mereka.


"Brengsek! Jangan coba-coba ganggu Ella lagi!" Balas Roni marah dengan mata berkilat-kilat penuh ancaman. Dirinya tak menyangka Ardi masih saja berniat untuk mendapatkan Ella kembali. Menjadi rival dalam perjuangannya mendapatkan cinta Ella. Rival yang sanggat tangguh tentunya.


Padahal selama ini Roni berharap Ardi sudah menemukan pengganti Ella dan bahkan sudah hidup damai dengan keluarga barunya seperti yang terjadi dengan Mahes. Tapi nyatanya pria itu juga gagal move on dan masih berharap kembali kepada Ella. Roni mengumpat nasib dan takdir yang seolah mempermainkan mereka bertiga dalam drama percintaan yang pelik ini.


"Well...Kita liat aja nanti..." Ardi tersenyum simpul penuh ancaman, semakin senang memprovokasi Roni. Senang melihat wajah Roni yang sedikit gentar mendengar dirinya masih ingin mendapatkan Ella.


"Jangan sekali-kali mencoba mendekati Ella lagi!" Kali ini Roni balik mengancam Ardi. Serasa ada percikan api yang menyala-nyala dari matanya yang penuh ancaman.


"Ella sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Orang brengsek kayak kamu hanya akan membuatnya bersedih menangis lagi."


Ardi terdiam tak dapat membantah tuduhan Roni padanya. Tak dapat memungkiri kebenaran perkataan itu. Memang benar dirinya lah yang telah membuat Ella bersedih dan menangis selama ini. Dirinya yang membuat Ella patah hati dan terluka.


"Aku serius dan gak main-main sama Ella. Aku serius ingin menjalin hubungan resmi dengannya. Aku bahkan juga sudah mendapatkan restu dari orang tuanya. Sebaiknya kamu terus menghilang saja dan biarkan Ella bahagia bersamaku." Roni menambahkan kata-katanya dengan penuh penekanan, menunjukkan kesungguhannya.


Ardi semakin membisu demi mendengar perkataan Roni yang sanggup menusuk dada dengan sangat telak. Jadi Roni sudah bergerak sejauh itu? Dia bahkan sudah berhasil mendapatkan restu dari orang tua Ella? Restu yang tidak bisa didapatkannya beberapa tahun yang lalu.


"Apa benar Ella sudah bahagia?..." Entah mengapa pertanyaan tak berdaya itu malah yang keluar dari mulut Ardi.


"Paling tidak Ella sudah tidak pernah menangis lagi. Dan aku pasti akan selalu menemaninya, menjaganya dan membahagiakan dirinya. Aku tak akan melepaskan genggaman tangannya, meninggalkannya seperti yang pernah kau lakukan pada Ella..." Roni mengakhiri pembicaraan mereka berdua dengan sangat dramatis sebelum membalikkan badan meninggalkan Ardi, meninggalkan ruang kerja itu.


"Sebaiknya kamu tahu diri...Jangan pernah dekati Ella lagi!" Roni menambahkan ucapanya saat dirinya sudah sampai di pintu ruangan. Menutup daun pintu itu dengan sedikit debaman keras, sebagai tambahan gertakannya pada Ardi.


Roni kemudian melangkahkan kakinya ke kamar tempat Ella mencari asal tangisan bayi tadi. Ingin cepat-cepat menghampiri Ella, membawa gadis itu pergi menjauh dari rumah ini, sesegera mungkin.


Roni tahu benar Ella masih bimbang dan masih galau dengan hubungan mereka. Roni juga tahu jauh dilubuk hatinya, Ella masih saja mencintai Ardi. Roni tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Ella bertemu kembali dengan Ardi. Segala usahanya untuk mendapatkan hati gadis itu bisa saja hancur seketika.


Tidak! Aku tak mau begitu! Jangan sampai Ella ke ruang kerja Mahes. Jangan sampai Ella tahu si brengsek itu ada disana, di rumah ini. Jangan sampai Ella bisa bertemu dengan Ardi Pradana. Roni akhirnya bertekad dalam hatinya untuk tidak membiarkan Ella dan Ardi bertemu, tidak hari ini dan di tempat ini.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2