Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
128. S2 - Love Contract


__ADS_3

"Linggar! Apa-apaan ini? Siapa tante-tante ganjen ini?" Wanita muda itu menghampiri Linggar lebih dekat, kembali bertanya dengan emosi yang semakin memuncak. Seakan ada kobaran bara api kemerahan disekitar tubuhnya yang sedang marah.


Aduh beneran mampoos ni. Malah dibilang tante-tante lagi? Tante-tante perebut brondong? Parah banget gelar yang baru didapatkan Ella. Ella semakin panik menyadari situasinya saat ini. Kesel juga si dibilang tante-tante, dasar cewek ABG labil cabe-cabean enak aja bilang aku tante! Ella ikutan mengumpat di dalam hatinya.


Ella mengamati wanita muda di hadapannya yang sedang dibakar amarah itu. Sekilas gadis itu memang terlihat sangat cantik dan se*y dengan dandanan yang glamour dan trendi kekinian. Mungkin usianya baru awal dua puluhan tahun, seusia Linggar.


Pantas saja emosinya masih sangat labil sehingga tidak bisa mengendalikan amarahnya seperti itu. Meledak-ledak di depan umum seperti itu tanpa memikirkan rasa malunya sama sekali.


Gak mikir apa ini rektorat lagi banyak orang sekarang? Bisa-bisa besok mereka bertiga viral masuk berita? Yah sejelek-jeleknya bakalan viral di media sosial dari para mahasiswa UNER yang banyak memotret dan merekam adegan mereka tadi. Bisa jadi artis Universitas dadakan pastinya.


Ella merasa beneran bisa gila ini situasinya. Makin panas dan runyam urusannya kalau berurusan dengan gadis labil yang sedang emosi begini.


Tapi Ella jadi sedikit merasa bersalah juga pada wanita di hadapannya itu. Mungkin memang dirinya tadi terlalu dekat dengan Linggar. Sebagai pacar Linggar yang memergoki kedekatan mereka, pantas saja kalau tidak terima dan marah-marah kayak gitu.


"Jawab, Nggar! Kamu jangan diem aja?! Ayo ngaku siapa dia? Dia pacar barumu? Selingkuhanmu? Kamu mau pilih aku atau dia?!" Gadis itu semakin menjadi-jadi emosinya karena Linggar terlihat santai saja sambil memasang ekspresi tak perduli.


Apa-apaan coba Linggar ini? Apa dia sudah sering berhadapan dengan cewek model beginian? Kenapa bisa tenang dan santai begitu?... Lagian Ella heran juga, kok bisa-bisanya cewek yang model kayak gini menjadi pacarnya Linggar? kayak gak ada cewek lain aja? Cantik sih tapi sifatnya itu lho...


"Ok, I'm done with you. Aku jelas pilih mbak Ella." linggar akhirnya menjawab dengan santainya.


Ella makin melongo, bengong demi melihat kejadian bak sinetron di hadapannya. Apalagi setelah mendengar reaksi Linggar.


Hah? Done? Linggar mutusin cewek itu? Mereka Putus? Semudah itu? Dan parahnya dirinya adalah penyebab mereka putus? Yang benar saja! Ella makin panik dibuatnya.


"Nggak, Nggak bisa kayak gitu! Aku gak terima!" Si cewek makin emosi, makin barbar saja sepertinya. Kelihatan tak terima dengan keputusan Linggar. Logikanya mungkin begini, ini dia yang mergokin cowoknya selingkuh kok malah dia yang diputusin?


"Apa kekuranganku coba jika dibandingkan sama dia? Kenapa kamu malah milih tante-tante ganjen pelakor kayak dia? Dia bahkan terlihat miskin dan tidak pantas untuk kamu!" si cewek makin menjerit histeris menyatakan protesnya.


Fix sudah! Tante-tante ganjen pelakor miskin, gelar Ella sekarang. Dan besok pasti dirinya sudah terkenal dengan gelar itu di media sosial. Ella tersenyum miris tapi tak mau ikut mencampuri urusan kedua anak muda itu, takut malah semakin memperkeruh suasana.


Dalam keadaan emosi seperti begitu apapun yang dikatakan Ella tak akan ada yang benar dimata gadis itu. Dirinya tetaplah tokoh antagonis, sang perebut laki orang...Jadi biarkan Linggar saja yang mengatasi masalahnya sendiri dengan gadis itu.


"Sudah jelas kan jawabannya? Kamu yang kayak gini ini. Kamu yang mulutnya gak bisa direm kalau emosi kayak gini. Kamu yang kalau ngomong gak pernah pakek otak. I'm sick off you!!" Jawaban Linggar kali ini benar-benar setajam belati. Belati yang pastinya tepat menusuk ke hati si cewek.


"Mbak Ella itu jauh lebih baik dan berharga daripada cewek kayak kamu. Persetan sama kaya atau miskin. Persetan sama hartamu! Ribuan cewek kayak kamu pun gak akan ada apa-apanya jika dibandingkan dengan seorang mbak Ella." Linggar lagi-lagi mengeluarkan kata-kata sinisnya pada si cewek. Kata-kata yang sedikit membuat Ella ngeri karena namanya disangkut pautkan dalam masalah pertengkaran mereka.


Si cewek terdiam kali ini. Menyadari dirinya sudah kalah telak, menyadari Linggar telah mencampakkan dirinya. Membuangnya begitu saja. Tubuh gadis itu terlihat bergetar hebat, entah karena emosi atau sedih. Nangis, cewek itu akhirnya hanya bisa menangis sejadi jadinya sekarang.


Entah itu tangisan beneran atau akting belaka. Tapi yang pasti memang menyedihkan dan sangat memalukan untuk diputusin di depan umum dengan cara sekasar itu. Linggar tega bener ini jadi orang...


"Ngaaar...Please kasih aku kesempatan, aku gak bisa hidup tanpa kamu... Masa hanya karena masalah kecil kayak gini kamu mau putusin aku?" Si cewek sudah berubah nada bicaranya sekarang.


Dari yang tadinya emosi meledak-ledak berubah menjadi memelas dan menyedihkan. Berusaha merayu Linggar untuk mengubah keputusannya. Masalah kecil dia bilang? Bikin kehebohan begini dia bilang masalah kecil? Dasar cewek edan.


"Aku selama ini sudah berusaha nerima semua sifat buruk kamu. Aku udah sabar dan pura-pura gak tahu aja ulah kamu. Tapi aku gak bisa terima kamu ngatain mbak Ella kayak tadi!" Linggar menjawab dengan nada makin sinis.


"Cewek kayak kamu sama sekali gak berhak ngatain mbak Ella!" Entah mengapa Linggar menjadi emosi juga mengingat perkataan kasar tentang Ella tadi. Bisa-bisanya dia ngatain gadis sebaik mbak Ella kayak gitu. Kalau saja mas Ardi ada disini sekarang, bisa kelar hidup loe!

__ADS_1


"Good Bye Lisa..." Linggar beralih meninggalkan mantan pacarnya yang ternyata bernama Lisa itu.


"Yuk mbak Ella," Linggar kembali menghampiri Ella yang cuma bisa bengong dari tadi. Menonton akhir drama percintaan yang sangat dramatis ini.


Linggar menarik tangan Ella, membukakan pintu mobilnya dan menggiring Ella masuk ke dalam mobilnya. Dirinya juga segera masuk mobil dan melajukan mobil super mewah itu meninggalkan parkiran di kawasan rektorat UNER.


Untuk beberapa saat baik Ella dan Linggar hanya terdiam di dalam mobil. Terlalu canggung untuk memulai percakapan. Mereka akhirnya hanya menyibukkan diri menikmati alunan musik dengan hentakan up beat favorit Linggar yang sedang diputar.


Kali ini Linggar memutar lagu-lagu dari Imagine dragon sebagai play listnya. Dan lagu berjudul Demon yang sedang dimainkan sekarang cukup membuat suasana sedikit cerah dengan musik yang bersemangat.


"You have seen the Demon side of me. This is my demon side..." Linggar mengutip salah satu lirik lagu itu.


(*Kamu telah melihat sisi burukku. Ini adalah bagian diriku yang seperti setan)


"It's Ok..." Ella jadi bingung bagaimana harus menanggapi ungkapan Linggar. Memang tadi dirinya terlihat jahat si, tapi si cewek juga keterlaluan banget.


"Nggar, maaf ya kamu jadi putus sama pacarmu gara-gara aku," Ella mengutarakan rasa bersalahnya pada Linggar saat suasana sudah sedikit tenang.


"Bukan karena mbak Ella kok, sebenernya aku juga udah lelah sama spoiler brat kayak dia. Malah harusnya aku yang berterima kasih sama mbak Ella. Aku jadi punya alasan buat mutusin dia," Linggar menjawab dengan entengnya seakan tak ada beban.


"Hah?..." Ella benar-benar kebingungan mendengar reaksi tanpa beban Linggar itu.


"Aku gak ada perasaan apa-apa sama dia. Gak cinta sama sekali. Aku mau jalan sama dia itu cuma karena dia adalah putri dari keluarga Rajasa. Cuma sebagai kedok dan tameng aja. Dia juga tahu itu kok. Kalau ada cewek kayak dia di dekatku pasti gak bakal ada yang berani mendekat lagi...Anggap aja dia kaya satpam penghalau cewek-cewek lain yang ingin mendekatiku hahaha."


"Kamu jahat banget lho Nggar, awas kuwalat."


"Lisa juga cuma manfaatin aku agar gak ada cowok-cowok nyebelin yang berani deketin dia. Tapi belakangan ini dia makin resek, She has accrossed the line. She really pissed me off."


(*Dia sudah melewati batas, dia benar-benar membuatku muak dengan sifatnya.)


"Berarti itu tandanya dia cinta beneran sama kamu." Ella menebak-nebak. Dari reaksi yang dilihat Ella tadi, sepertinya kelihatan marah beneran si Lisa. Berarti dia beneran cemburu, berarti dia beneran cinta sama Linggar.


"Terserah dia aja. Akunya gak cinta..."


Haduh enteng banget si Linggar bilangnya. Kayaknya emang penyakit playboy-nya belum sembuh deh. Gampang bener ini anak mutusin cewek, gampang bener dia bikin cewek patah hati. Awas kena karma lho kamu Nggar, batin Ella.


"Kalian para sultan emang kadang mengerikan ya..." entah mengapa kata-kata itu yang keluar dari mulut Ella. Dia tahu benar banyaknya aturan tidak tertulis dan tidak masuk akal yang dianut oleh keluarga para sultan ini. Aturan yang kadang tak bisa dipahami oleh rakyat jelata seperti Ella.


Linggar tidak menjawab celetukan Ella, hanya tertawa ringan. Kemudian dia ikut bernyanyi menyanyikan lagu mengikuti alunan musik di mobil. Menandakan dirinya tak ingin melanjutkan pembicaraan lebih lanjut.


Linggar membawa Ella ke sebuah restoran terkenal yang terlihat sangat mewah. Memesan private room untuk mereka tempati berdua dan memesan makanan serta minuman juga untuk mereka.


"Ngapain make private room gini?" Ella kebingungan.


"Biar enak ngobrolnya gak ada yang ganggu."


"Yaudah terserah lah sultan mah bebas..." Ella pasrah saja tak ingin berdebat lagi.

__ADS_1


Tak lama kemudian hidangan pesanan mereka tiba, dan mereka pun langsung menyantapnya dengan lahap. Sepertinya benar-benar kelaparan.


"Porsi makanmu masih banyak aja ya..." Ella tersenyum geli melihat Linggar yang makan dengan lahapnya dalam porsi doble like always.


"Mbak Ella masih ingat aja." Linggar memakan satu potongan besar beef steaknya.


"Eh kamu tadi ke rektorat ngapain? Mau daftar wisudah?" Ella menanyakan rasa ingin tahunya.


"Iya donk. Aku bisa wisudah dalam 7 semester lho." Linggar membanggakan dirinya.


"Wah keren banget, congratz ya."


"Mbak Ella sendiri ngapain kesana?


"Sama aja, aku juga daftar penyumpahan."


"Wooow ini lebih keren lagi. Jadi makin naksir aja ni sama mbak Ella hehe." Linggar menggoda Ella.


"Gombal banget hahaha..." Ella tertawa ringan.


"Mbak Ella udah nikah? Udah tunangan?" Linggar bertanya langsung to the point. Dapat dilihatnya jemari tangan Ella masih polosan tanpa ada sebuah cincin pun disana. Tapi tetap saja Linggar ingin memastikan tentang hal ini.


Karena sebagai dokter kadang memang tidak suka untuk memakai cincin. Mengganggu saat memakai hand gloves dari karet yang sangat ketat. Linggar jadi ingat soal Laras yang sering memarahi Mahes yang melepas cincinnya. Dan Mahes selalu beralasan saat melakukan tindakan atau operasi dia terpaksa harus melepas cincinnya agar tidak menggangu.


"Apaan si? Kok tiba-tiba nanya gitu?


"Biar tahu aku masih ada kesempatan nggak buat deketin mbak Ella hehe." Linggar menjawab sekenanya. Tentu saja gak mungkin bilang mau jodohin sama mas Ardi-nya kan? Bisa langsung kabur ini mbak Ella.


Linggar bahkan sudah berusaha untuk tidak membahas atau menyebut nama kakaknya itu sama sekali di depan mbak Ella. Lebih jauh Linggar juga tidak menyebut soal keluarga Pradana. Linggar tak ingin gadis itu merasa tidak nyaman dan pergi meninggalkannya begitu saja.


Linggar hanya ingin membuat Ella merasa nyaman dengan dirinya dan keberadaanya. Dirinya sebagi seorang Linggarjati saja yang sudah dianggap sebagai seorang adik oleh Ella. Ingin membuat Ella cukup nyaman untuk sedikit bercerita. Membuka informasi tentang dirinya yang ingin Linggar ketahui.


"Nggar...Please jangan bikin aku jadi tante-tante perebut brondong donk," Ella memelas.


"Hahahaha, aduh masih nancep dihati kayaknya ya perkataan si Lisa." Linggar ngakak mendengar jawaban nyeleneh Ella.


"Tapi aku serius nanya mbak. Mbak Ella udah atau belum...?" Linggar kembali pada pertanyaannya.


"Belum. Masih kepikiran lulus sekolah dulu."


Nah bagus! Sesuai dugaan Linggar, Ella pasti juga masih mencintai Ardi. Ella ini sama saja dengan kakaknya itu, begitu kerak kepala dan begitu tulus dalam mencintai seseorang. Saking dalamnya rasa cinta mereka sampai rasanya tak mungkin untuk berpaling ke lain hati.


Makanya selama tiga tahun ini gadis itu masih saja belum menikah atau sekedar bertunangan. Padahal kalau dilihat dari berbagai segi pastinya tidak sedikit pria yang naksir pada mbak Ella ini. Bahkan mungkin yang ingin langsung melamarnya juga banyak.


Sepertinya masih ada harapan untuk mission imposible yang ingin dijalankan Linggar. Misi mempersatukan kembali Ardi dan Ella. Menyatukan kedua orang yang saling mencintai ini. Linggar semakin bersemangat untuk menjalankan aksinya. Rencana yang sudah berkelebat di dalam otaknya. Untuk mempertemukan Ella dan Ardi disini...


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN.🤭🌼


__ADS_2