
"El coba kamu liat dan pilih, suka yang mana. Atau gampangnya cobain semua saja satu-satu." Perintah Ardi dengan entengnya, gak mau ambil pusing.
"Whaat? Semuanya?" Ella gak tahu harus bilang apa.
Diamatinya lima orang pegawai butik dihadapannya, yang masing-masing menenteng kebaya di tangan kanan dan kirinya. Jadi total jumlah kebaya yang ditawarkan ada sepuluh baju. Masa iya mau nyobain semua kebaya sekaligus? Bisa semalaman donk?
"Aku pilih dua aja ya buat dicobain..." Ella menawar.
"Lima!" Ardi menolak.
"Tiga deh," Ella tetap mencoba menawar lagi.
"Empat, fix. Gak bisa ditawar lagi." Ardi memutuskan.
Ella mendengus pasrah mendengar titah sang sultan yang gak bisa diganggu gugat. Akhirnya dirinya berkeliling memilih mana saja kebaya yang ingin dicobanya dari kesepuluh buah kebaya yang ditawarkan. Memilih empat diantaranya yang sesuai dengan seleranya yang simple serta tidak terlalu glamour dan mencolok. Kan cuma buat penyumpahan bukan buat resepsi pernikahan, manggung atau acara fashion show.
"Mari kesini, nona." Para pegawai butik segera mempersilahkan Ella ke fitting room setelah gadis itu menetapkan keempat kebaya pilihannya.
"Sana El, kamu cobain." Ardi beranjak mengambil duduk di sofa empuk yang tersedia sembari menantikan Ella fitting kebaya. Sementara Iwan, sang desainer nyentrik mengekor saja kemana Ardi pergi seperti anjing yang setia. Ikut duduk di sebelahnya di sofa.
Ella mengangguk saja sebagai jawaban dan mengikuti para pegawai ke ruangan lebih dalam lagi.
"Tuan ganteng gak sekalian cari baju atau jas?" Iwan menawarkan barang dagangannya.
"Ogah ah, ntar kamu pegang-pegang badanku." Ardi menolak mentah-mentah.
Ardi memang paling geli kalau dipegang-pegang sama orang yang gak jelas gendernya begini. Untuk desainer atau hair stylist pun NO.
Tapi kalau masalah kualitas tak dapat diragukan lagi karya-karya Iwan Gunadi memang bagus. Bahkan mama Ardi dan Laras yang detail dan cerewet saja demen banget langganan pesen baju sama dia. Sementara Ardi dan papanya lebih memilih Ani Avanie saja sebagai langganan jas dan suits mereka. Kadang kalau terpaksa pesan disini juga Ardi lebih memilih memberikan contoh baju sebagai ukuran daripada dipegang-pegang oleh Iwan.
"Iiiiih ketahuan deh maksud akika hahhaha." Iwan mengakui terang-terangan maksud tersembunyinya.
Tak lama kemudian Ella keluar lagi menghampiri mereka dengan memakai kebaya simple model kutubaru berwarna coklat nude yang soft. Dengan beberapa hiasan payet dan manik-manik di bagian kutubaru-nya yang membuatnya terlihat mewah. Tak lupa juga pegawai butik memasangkan kain sasaringan dari daerah kalimantan dengan warna yang matching sebagai bawahannya. Membuat penampilan Ella seanggun ratu keraton solo.
"Gimana, mas?" Ella bertanya pada Ardi ragu-ragu.
Ardi ternganga sesaat melihat penampilan Ella di hadapannya. Benar-benar mahkluk tuhan yang paling cantik di dunia rasanya. "Cantik..." hanya kata itu saja yang mampu keluar dari mulutnya.
"Beautifull!" Iwan juga menyeletuk senang. "Next!" lanjutnya bertepuk tangan sekali.
Beberapa pegawai menggiring Ella kembali ke fitting room untung mencoba kebaya kedua. Tak lama kemudian Ella kembali ke hadapan Ardi dengan kebaya berbahan bruklat berwarna baby blue yang soft yang menyegarkan. Dipadukan dengan rok berwarna putih dengan model mermaid. Terkesan lebih modern bak artis atau foto model ibu kota.
"How do i look?" Ella bertanya pada Ardi yang mengamatinya tanpa berkedip.
(*bagaimana penampilanku?)
Butuh beberapa saat bagi Ardi untuk menata debaran di hatinya sebelum bisa menjawab. "Stunning..." jawabnya singkat sambil tetap memandangi pemandangan indah di hadapannya.
__ADS_1
"Aiaya So stunning like a holiwood actrees hehehe."
(*Membekukan seperti artis holiwood).
"Ok, next!" perintah Iwan lagi kegirangan. Seneng banget karyanya bisa membuat si sultan sampai terperangah begitu.
Ella kembali memasuki kamar ganti. Dan beberapa lama kemudian keluar lagi dengan kebaya berbahan sutra yang tipis berwarna krem dengan hiasan embordier bunga-bunga berwarna coklat yang besar dan indah di sepanjang pinggiran kebaya. Untuk pelengkap bagian bawah, Ella mengenakan jarik batik dengan motif parang melingkari tubuh bagian bawahnya. Simple but elegant too. Kali ini terlihat lebih fresh layaknya putri kerajaan jawa kuno.
"Kalau yang ini gimana, mas?" Ella kembali bertanya dengan wajah bahagia. Sepertinya merasa cocok dengan baju kebaya kali ini.
"Sangat cantik..." Kali ini Ardi bahkan sampai tak bisa berkedip rasanya demi melihat kecantikan dan keanggunan gadis di hadapannya. Artis atau foto model manapun lewat dah kalah sama Ella semua rasanya bagi Ardi.
"Simply Elegant!!" Iwan bertepuk tangan makin kegirangan melihat reaksi Ardi yang terpukau. Yah lebih-lebih karena cewek yang memakainya sangat cantik dan berbadan ideal. Dan yang lebih penting si bos Pradana ini sepertinya memang sudah tergila-gila pada cewek itu.
"Yuk next!" perintahnya pada para pegawainya.
"Siapkan hatimu ya, tuan ganteng..." Iwan kembali menggoda Ardi saat Ella kembali ke kamar ganti.
"Lama gak pernah denger kabar kamu deket sama cewek, tahu-tahu bawa cewek buat milih kebaya... Hayo mau ngapain? Lamaran?" tanyanya kepo.
"Brisik! Awas aja kalau jadi gosip!" Hardik Ardi.
"Eits tenang aja. Mulut akika terkunci rapat untuk you." Iwan kegirangan mendapat berita hangat yang bisa dijadikan bahan gosip.
Terakhir dan dengan persiapan yang sedikit lebih lama Ella kembali berjalan ke hadapan Ardi. Dengan balutan kebaya bruklat berwarna soft pink yang terlihat sangat mewah. Potongan lehernya sederhana, melebar dan sedikit rendah, mampu menampilkan lekukan leher Ella dan sedikit belahan dadanya yang sangat indah. Untuk bagian bawahnya kain tenun songket dengan warna senada dengan hiasan bruklat yang senada dengan kebayanya menjadi pilihan kali ini.
Ardi sampai berdiri dari sofanya saat Ella berjalan perlahan menghampirinya, demi melihat penampilan memukau Ella kali ini. Debaran jantung makin liar saja tak terkendali. Bahkan beberapa kali Ardi harus menelan air ludah untuk menghindari air liurnya yang seakan ingin menetes. Bagaimana tidak? Bagian leher jenjang itu bagian dada yang menunjukkan sedikit belahan indah itu...begitu menggoda. Duh rasanya Ardi ingin membungkus saja gadis itu untuk dibawa pulang.
Kau yang mempesona
Anggun senantiasa menawan istimewa
Kau membuatku jatuh cinta
Memukau tingkah lakumu bikinku tergila - gila
Khayalku selalu inginkan kehadiranmu
Walau terhalang ribuan rintangan
"Gimana mas?" Ella bertanya malu-malu. Karena merasa bagian lehernya dan dadanya terasa terlalu terbuka. Ditutupkannya sebelah telapak tangan di bagian belahan dada yang terlihat.
Ardi tetap diam saja tertegun, terpaku, membisu, tak sanggup menjawab selama beberapa saat. Seakan tenggorokannya keluh tiba-tiba.
"Totally georgeous!" Iwan yang kali ini menjawab mewakili Ardi yang seakan membatu. Totally stunned. Iwan sampai tertawa geli cekikikan melihat reaksi kliennya itu. Jarang-jarang ni melihat Ardi Pradana yang biasanya selalu cool sampai bertingkah begini hanya gara-gara seorang gadis.
Ella akhirnya undur diri karena tak kunjung mendapatkan komentar dari Ardi. Kembali ke kamar ganti untuk berganti memakai pakaian kasual yang dipakainya sebelumnya.
__ADS_1
"Mas Ardi suka yang mana?" Ella bertanya saat menghampiri Ardi kembali di ruangan VIP.
"Semuanya. Bungkus semuanya, Wan." Jawab Ardi masih dengan pandangan menerawang jauh dan senyum-senyum gak jelas. Entah mikirin apa.
"Ok. Asiaaap bos ganteng!" Iwan benar-benar sumringah kegirangan. Dirinya kembali menepuk tangannya sebagai perintah pada pegawainya.
"Lho ngapain semua? Kan penyumpahan cuma butuh satu baju. Gak pake acara ganti baju segala." Ella memperotes. Tak ingin Ardi menghamburkan terlalu banyak uang untuknya. Berapaan coba harga satu set kebaya dari butik desainer kenamaan Iwan Gunadi? Eh ini mau bungkus empat-empatnya sekaligus? Buang-buang duit aja.
"Kalau kamu suka yang mana?" Ardi balik bertanya.
"Heeemm kalau aku suka yang ketiga." Ella menjawab. Jawaban yang bisa Ardi tebak sebenarnya, pasti Ella suka yang simple-simple. Bahkan dari ekspresinya saat memakai baju ketiga tadi saja sudah kelihatan kalau Ella suka yang itu.
"Ok, waktu penyumpahan pakai itu saja. Sisanya buat nemenin aku ke pesta lain kali." Ardi menjawab dengan santainya tanpa beban sama sekali.
"Haaah?" Ella bertanya semakin kebingungan. Nemenin Ardi ke pesta? Pesta para sultan?
"Kamu sudah harus terbiasa berperan sebagai wanitaku, wanitanya Ardi Pradana. Dan salah satu tugasnya yaitu tampil cantik untuk menemani aku ke pesta." Ardi menjelaskan pada Ella.
"Wa...wanitanya mas Ardi?" Mau tak mau wajah Ella memanas dan memerah juga demi mendengar Ardi mengucapkan kata-kata itu.
Ardi tersenyum lebar sangat puas melihatnya reaksi Ella, sementara Iwan cekikikan terus melihat kedua orang yang dimabuk cinta itu.
"Oiya cantik, ukurannya bajunya gimana? Apa ada yang kebesaran atau kesempitan? Mumpung disini biar dipermak dan dipasin badan kamu." Iwan menanyakan pada Ella tentang baju-bajunya.
"Nggak. Pas banget tadi. Kok bisa gitu ya? Kan kalian gak pernah ngukurin badanku?" Ella juga keheranan bagaimana bisa sepas itu baju-baju tadi dibadannya. Apa memang begitu ya rasanya pakai baju bikinan desainer kenamaan.
"Hahahha kamu percaya gak, cantik? Si tuan ganteng ini yang ngasih tahu ukuranmu lho," jawab Iwan semakin jahil.
"Apa? Bagaimana, bagaimana mas Ardi bisa tahu ukuranku?" Ella sangat kaget mendengarnya. Perasaan dirinya tak pernah memberitahukan ukuran tubuhnya pada mas Ardi.
"Begini caranya..." Ardi merentangkan kedua lengannya seperti sedang berpelukan. Seakan memeluk punggung Ella. "Lingkar dada segini."
Kemudian dia menurunkan lengannya sedikit kebawah seolah sedang memeluk pinggang Ella. "lingkar pinggang segini."
Dan terakhir kedua lengannya bergerak lebih kebawah lagi, "lingkar pinggul segini." Ardi menjelaskan dengan tidak punya dosa. Iwan sudah berusaha keras menahan tawanya melihat tingkah laku Ardi. Benar-benar tidak mengira bos Pradana grup bisa sebucin ini kalau sama ceweknya.
"Dasaaarrr mesuuuummmm!!!" Ella berteriak tak dapat menahan rasa malunya. Wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus sekarang. Apa-apaan coba Ardi, ukuran tubuhnya berdasarkan pelukan. Dan lagi bagaimana mungkin pria itu mengingat ukurannya dengan detail? Gila benar-benar gila!
"Hahahahahaha." Ardi, Iwan dan semua pegawai yang hadir kompak tertawa ngakak melihat reaksi Ella yang sangat berlebihan.
"Tapi ukurannya sangat akurat lho." Iwan menambahkan komentarnya sambil tersenyum dan mengedipkan matanya dengan nakal. Ella makin manyun saja dibuatnya.
"Ya nggak lah, El. Aku kasiin fotomu ke Iwan dan dia bisa ngira-ngira sendiri berapa ukuranmu, dia kan profesional." Ardi menjelaskan dengan gemas akan keluguan Ella.
Tak beberapa lama kemudian baju-baju yang dipilih Ella tadi sudah siap dibungkus dalam paper bag-nya. Empat paper bag besar. Ardi segera membawakannya untuk Ella, membayarnya dan pamit kepada Iwan sebelum undur diri.
Mereka berdua pun kembali berjalan beriringan keluar dari mall yang sudah mulai sepi karena hari sudah semakin malam. Berjalan ke arah parkiran mobil dan mengambil mobil Ardi disana.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼