
"KYAAAAAAAAAA"
Ardi langsung terlonjak kaget begitu mendengar teriakkan Ella dari arah kamarnya.
"Ella? Kamu kenapa honey?" tanya Ardi kaget.
Dengan kepanikan tingkat dewa, Ardi langsung berlari ke kamar Ella. Saking takutnya gadis itu kenapa-napa. Memang memar di kaki kanan Ella yang terkilir terlihat sangat parah tadi. Pasti sakit sekali rasanya. Apa Ella terpeleset? Terjatuh?
"El, aku masuk ya..." Ardi mengetuk pintu kamar Ella.
Meminta ijin saat dirinya sudah tiba di depan pintu kamar Ella yang tak terkunci. Tak ingin dianggap tidak sopan karena menerobos masuk ke kamar seorang gadis tanpa permisi. Tak ingin melihat 'sesuatu yang diinginkan' yang mungkin akan ditemuinya. Yah paling tidak biar Ella bersiap dulu sebelum dirinya masuk kamar.
"I, iya...uuughh" jawab Ella lemah diikuti oleh rintihan pelannya, seperti sedang kesakitan.
Ardi semakin panik mendengarnya. Buru-buru pria itu memasuki kamar untuk memastikan keadaan Ella. Ardi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Dapat dilihatnya Ella terduduk di lantai dengan posisi aneh, tepat di depan kamar mandi. Gadis itu terlihat memegangi pergelangan kaki kanannya nya sambil meringis kesakitan.
"Kamu kenapa honey?" Ardi refleks ikut berjongkok menghampiri Ella di lantai. Memeriksa keadaan Ella dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan teliti.
Mau tak mau sebuah gemuruh berkecamuk di dalam tubuh Ardi demi memandangi keadaan Ella saat ini. Sangat menggairahkan! Ella dengan rambutnya yang masih basah terurai, aroma shampoo yang sangat wangi beraroma cytrus. Serta tubuh Ella hanya dibalut dengan bath robe warna putih yang hanya dililit dengan tali. Gimana Ardi gak panas dingin coba melihatnya? Pamandangan yang bikin meriang saja rasanya.
Pikiran Ardi semakin tak karuan menyadari mereka hanya berduaan di dalam kamar ini, di kamar hotel yang sangat private. Meskipun tujuan utama mereka menyewa kamar adalah untuk sekedar beristirahat, menghangatkan tubuh, berganti pakaian, dan menunggu kiriman pakaian ganti dari Bambang.
Tapi nyatanya mereka berdua tetaplah sepasang lovie dovie yang sedang kasmaran, gimana kalau ada setan lewat nantinya? Gimana kalau terjadi hal yang iya-iya? Menyadari hal itu tentu saja membuat Ardi semakin nervous saja.
"Kepeleset..." Ella menjawab lemah, sambil tetap meringis kesakitan.
"Kamu bisa berdiri?"
"Bisa..." Ella sedikit ragu menjawab kali ini.
"Ayuk pelan-pelan aku bantuin." Ardi melingkarkan lengan Ella ke pundaknya dan membantu gadis itu berdiri dengan perlahan dari posisi duduknya.
"Uuuuuhhh." Ella merintih kesakitan tak tertahankan.
"Aku gendong aja deh."
Ardi semakin tak tega mendengar rintihan kesakitan Ella. Diraihnya tubuh gadis itu dan sekali lagi digendongnya di depan dada dengan mode bridal style. Karena sedikit gerakan tiba-tiba dari Ardi, membuat bath robe Ella sedikit bergeser juga. Tepat di bagian depan tubuh gadis itu.
'Glek!'
Ardi menelan ludah saat tanpa sengaja pandangan matanya terarah pada gundukan kembar di dada Ella. Sesuatu yang sedikit terlihat menyembul ketika kain penutupnya bergeser. Sesuatu yang sangat indah terlihat disana! Memanjakan mata.
'Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan?'
Ardi buru-buru memejamkan matanya dan menata napas, untuk menenangkan pikirannya yang sudah kemana-mana. Ardi memusatkan konsentrasinya untuk berjalan ke arah ranjang dan meletakkan tubuh Ella disana dengan hati-hati. Mendudukkan Ella di ranjang, menata bantal dan menyandarkan punggung gadis itu di sandaran ranjang.
"Sakit banget ya?" Ardi tak tega melihat pergelangan kaki Ella yang semakin bengkak dan memerah.
"Udah mendingan..." Ella sedikit berbohong. Tak ingin Ardi terlalu khawatir padanya.
Ardi mengambil posisi duduk tepat di sebelah kaki Ella. Disentuhnya kaki kanan Ella yang sakit dengan sangat lembut, ingin memeriksa keadaannya.
"Uuuhhh." Lagi-lagi Ella merintih tak tertahankan.
"Apanya yang udah mendingan? Bohong banget." Ardi memprotes Ella yang masih saja tak mau jujur padanya untuk menceritakan rasa sakitnya. Gadis itu selalu saja sok kuat, tak mau merepotkan orang lain. Gak suka, Ardi tak suka sikap Ella yang begitu.
"Kita berdua sudah hampir menikah, tapi kamu masih saja susah untuk jujur padaku. Kamu itu boleh mengeluh sama aku, kamu boleh menangis, kamu boleh rapuh dan di hadapanku." Protes Ardi.
Ella diam saja tak menjawab. Kedua matanya sudah berair karena menahan rasa sakit di kakinya yang amat sangat. Sakit bahkan hanya untuk disentuh dan digerakkan saja.
"Aku bantu pijitin kakimu ya? Agak sakit si tapi pasti dijamin manjur." Ardi menawarkan bantuannya.
"Pelan-pelan ya..." ujar Ella memohon.
"Iya..." Ardi berkonsentrasi penuh untuk mengurut pergelangan kaki Ella dengan selembut mungkin.
"Aaaahhh! Aduh, duh, duh..." Ella semakin menjerit-jerit karena kesakitan yang tak tertahankan.
"Tahan dikit lagi..." Ardi melanjutkan pijatannya pada kaki Ella, membenarkan letak persendian kaki Ella yang tadinya sedikit bergeser dari posisi normalnya. Sebenarnya dirinya tak tega untuk melakukan terapi yang menyakitkan itu, tapi kalau tidak dilakukan maka gadis itu akan terus kesakitan lebih lama lagi.
Karena rasa sakit yang amat sangat, Ella refleks menarik kakinya sedikit ke atas. Membuat bagian bawah bath robe gadis itu sedikit tersingkap. Tak sengaja menampakkan bagian kaki jenjang Ella lebih banyak lagi, bagian pahanya yang mulus dan indah.
Ardi terngangah untuk sejenak melihatnya
__ADS_1
Pikiran bawah sadar Ardi yang disuguhi dengan pemandangan indah itu langsung travelling dengan liar kemana-mana. Apalagi saat dirinya tiba-tiba teringat bahwa Ella sama sekali tak memakai under garment di bawah bath robenya...
'Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?'
Ardi semakin panik dan kalut saja dibuatnya. Sedikit takut dengan pikirannya sendiri. Pikiran sebagai pria dewasa normal yang disuguhi pemandangan sangat menggoda dari tubuh wanita yang sangat dicintainya, Ella. Berkali-kali Ardi terpaksa menelan air ludah untuk membasahi tenggorokannya yg tiba-tiba terasa sangat kering.
"Sekarang gimana rasanya?" tanya Ardi setelah menyelesaikan pijatannya di kaki Ella.
Ella menggerak-gerakkan kaki kanannya perlahan, tidak sakit. Ella menggerakkan lagi dengan lebih bersemangat dan ternyata memang sudah tidak sesakit tadi. Wah ternyata mas Ardi beneran bisa memijit dan menyembuhkan kaki yang terkilir.
"Udah gak begitu sakit lagi, makasih ya." Ella tersenyum manis menjawab pertanyaan Ardi. Terlihat sangat senang karena sakitnya sembuh.
"Aku gak ngira mas Ardi bisa ilmu memijat juga." Ella berkata penasaran dengan kemampuan Ardi ini.
"Hmmm, dulu waktu muda aku sering hiking ke gunung atau traveling ke tempat-tempat ekstrim sama temen-temen kuliah. Kaki terkilir sudah jadi makanan sehari-hari. Jadi kami minimal harus bisa menyembuhkan kaki teman kami." Ardi menjelaskan sambil mengalihkan pandangannya dari tubuh Ella.
Ella dengan bath robe-nya yang masih tersingkap di bagian bawahnya. Ella yang dengan tidak punya dosa malah menggerak-gerakkan kakinya begitu. Tingkah yang mampu membuat membuat bulu kuduk Ardi semakin berdiri saja.
'Rasanya ada sesuatu yang menonjol tapi bukan bakat, sesuatu yang tegak tapi bukan kebenaran, serta sesuatu yang padat tapi bukan ibu kota.'
"Aku, aku tadi bikin minuman hangat buat kamu... Aku ambilkan sebentar ya." Ardi memantapkan tekadnya untuk pergi meninggalkan Ella sebelum semakin gila saja rasanya. Sebelum khilaf dan kebablasan untuk menerkam gadisnya itu bagaikan hewan buas menemukan mangsa empuk.
'Sial! Kenapa aku jadi kayak kabur begini ya?'
Ardi mengumpat dalam hati saat berjalan perlahan menghampiri mini bar. Berdiam sejenak disana, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya.
Ambil napas
Hembuskan
Ambil napas lagi
Hembuskan perlahan
Berkali-kali Ardi melakukan ritual itu untuk sedikit menenangkan dirinya. Menenangkan sesuatu yang sudah terlanjur bangkit dari tidurnya.
Setelah keadaan cukup tenang dan bisa mengendalikan diri, Ardi memutuskan untuk kembali. Ardi kembali ke kamar Ella dengan membawa secangkir coklat hangat yang tadi dibuatnya untuk calon istrinya.
Sesampai di kamar, gadis itu menyambut Ardi dengan senyuman indah merekah untuknya. Sesenang itukah kamu melihatku, El? Girang banget.
"Makasih ya..." Ella menerimanya dan meneguk minuman coklat hangat itu. Meminumnya perlahan sampai habis. Minuman hangat dan manis yang mampu mengembalikan sebagian kehangatan tubuhnya. Ella meletakkan bekas cangkirnya di side table yang tepat berada di sebelah ranjangnya setelah gelas itu kosong.
Ardi terdiam mengamati saja Ella yang meminum dan menghabiskan coklat hangat bikinannya. Senang karena wajah Ella yang tadinya pucat karena kedinginan sudah perlahan kembali merona...
Sampai kemudian, ada sesuatu yang mengusik ketenangan batin Ardi. Bekas coklat yang belepotan di sudut bibir Ella. Duh jelek-jelekin aja.
Seakan terhipnotis dengan pandangannya sendiri, Ardi mengambil duduk tepat disebelah ranjang Ella. Dan tanpa Ardi sadari, dirinya sudah mengulurkan sebelah tangannya ke wajah Ella. Untuk menghapus noda coklat di sudut bibir gadisnya itu dengan jempol tangannya. Lalu melanjutkan menyentuh pipi Ella dengan punggung jemarinya sebagai tambahan.
Ella kaget sekali karena tiba-tiba menerima perlakuan Ardi yang begitu lembut. Pria itu membantu menghapus noda coklat di bibirnya, bahkan menyentuh dan membelai lembut pipinya.
Mau tak mau membuat Ella geli dan senang sekaligus, membuatnya merasakan panas dingin juga dibuatnya. Deg-degan asli. Apalagi dengan penampilan Ardi yang hanya mengenakan bath robe-nya. Membuat dada bidang pria itu yang sedikit berbulu halus terpampang dengan jelas. Sexy!
Kemudian baik Ella dan Ardi hanya terdiam, saling memandang satu sama lainnya dengan penuh kasih sayang. Saling menikmati keindahan wajah pasangan yang terkasih dihadapannya.
Memang tidak sempurna. Tapi bagi Ardi, Ella tetaplah yang makhluk Tuhan yang paling cantik di dunia. Begitu pula sebaliknya, bagi Ella Ardi lah yang paling tampan dari semua pria lainnya.
Ardi semakin terhanyut dan terhipnotis oleh pesona kecantikan wajah Ella. Oleh bibir tebal Ella yang merekah indah seakan memanggil dirinya untuk mampir ke sana. Menikmatinya.
Ardi memajukan tubuhnya mendekat kearah tubuh Ella. Tak menghiraukan detakan jantungnya yang sudah beetalu-talu dengan kerasnya. Maju terus dengan satu titik tujuan yang pasti. Bibir Ella...
I have a desire for every inch of you
The smell of your breath on my needing lips
The taste of you under the cover
And your voices rummaging through
Every vein in my body
(*Aku memiliki nafsu untuk setiap inci tubuhmu
Aroma nafasmu di bibirku yang membutuhkanmu
__ADS_1
Sensasi manis tubuhmu di bawah penutup
Dan suaramu mampu mengobrak-abrik
Setiap pembuluh darah di tubuhku).
Dan hanya dalam beberapa helaan napas yang terasa berat saja, akhirnya kedua bibir mereka pun bertemu. Sekali lagi Ardi dapat merasakan sensasi empuk, manis dan memabukkan dari bibir Ella. Rasa khas yang hanya bisa dirasakannya dari bibir Ella seorang. Rasa yang membuatnya ketagihan dan ingin terus merasakannya lagi dan lagi...
Keduanya saling menyalurkan perasaan, hasrat dan gairah membara yang ada di dalam dada mereka. Tak ada yang mau mengalah untuk menunjukkan betapa besarnya rasa cinta mereka pada satu sama lainnya. Ciuman panas dan basah yang sampai membuat keduanya beberapa kali bertukar posisi. Butuh cukup banyak waktu sampai ciuman panjang itu berakhir.
Ella dan Ardi mendapati tubuh mereka sudah terbaring di atas ranjang dengan posisi Ardi di atas tubuh Ella. Ardi menahan beban tubuhnya dengan sebelah tangan dan pahanya. Sementara sebelah tangannya yang lain memeluk erat tubuh Ella.
Sementara Ella juga entah bagaimana sudah mengalungkan sebelah tangannya di leher Ardi, sementara sebelah tangan lainnya berada di sekitar dada bidang Ardi. Pikiran Ella terasa kosong, tak bisa berpikir apa-apa karena gairah yang terasa panas membara.
Hold me into your hands
And hide me fully in desire
Hold me tight then tighter
All over my skin
Weaken me
Make me yours
I want to melt in you fire
And burn in your wish
(*Dekap aku di tanganmu
Dan sembunyikan aku sepenuhnya dalam nafsu
Peluk aku erat dan semakin erat
Di seluruh permukaan tubuhku
Melemahkan tubuhku
Menjadikan aku milikmu
Aku ingin meleleh di dalam api mu
Dan terbakar keinginanmu).
Ardi mengatur napasnya yang tidak teratur dan debaran di dada yang semakin gila berdetak. Memandangi wajah Ella di bawahnya yang sudah terlihat merah merona kepanasan, mengatur napasnya. Cantik, cantik sekali bagaikan bidadari.
"Ella...I love you..." bisik Ardi di telinga Ella dengan lembut.
Seakan sebagai ijin dan kata permisi untuk melanjutkan tindakan yang lebih jauh lagi. Hasrat membara sudah menguasai dirinya, sudah tidak bisa ditahan lagi...
Ardi tahu benar ini akan menjadi suatu kesalahan, dosa besar. Tapi tetap saja ini akan menjadi kesalahan yang manis, sweet mistake.
Dan harapan Ardi hanya satu... semoga segala kegilaan ini masih dapat dihentikan. Semoga baik dirinya atau Ella tidak kebablasan sebelum akhirnya mereka sah menjadi suami istri...
________________________________
There is a great different between love and desire,
Where there is desire there is no love,
And where is love, there is love only.
(*Ada perbedaan besar antara cinta dan hawa nafsu,
Dimana ada hawa napsu maka tidak akan ada cinta,
Dan dimana cinta, hanya ada cinta saja).
~∆∆∆~
Kok kayaknya agak panas ya cuaca hari ini? Sampai bikin banyak berkeringat dan ngos-ngosan.
__ADS_1
Apa karena updatenya di siang bolong ya? 🤭
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa 🌼