
"Mbak, aku ke toilet sebentar ya," Linggar berdiri dari duduknya, mohon pamit pada Ella setelah menghabiskan satu porsi beef steak di hadapannya.
Waktunya untuk menjalankan rencana ni. Let's get the mission started. Tipu muslihat untuk membuat kakaknya, Ardi datang ke tempat ini. Untuk membuatnya bertemu dengan mbak Ella. Dan setelah itu terserah mereka saja. Linggar sangat yakin keduanya masih saling mencintai. Jadi pasti tak akan sulit untuk mempersatukan mereka.
"Buruan sana, keburu ngompol lho ntar hehe." Ella tidak keberatan, malah tertawa menggoda Linggar.
Ella heran juga pada dirinya sendiri. Kenapa bisa begitu saja mau ikut Linggar kesini. Kenapa bisa tanpa beban menghabiskan waktu dan mengobrol dengan Linggar sampai kesini? Kenapa dirinya bisa merasa nyaman dan akrab dengan Linggar meskipun sudah tiga tahun tidak pernah ketemu.
Padahal kan seharusnya dirinya menghindari semua hal yang berhubungan dengan pria itu? Seharusnya Ella juga menghindari Linggar jika ingin menghapus semua tentang pria itu. Membuang jauh-jauh segala memori tentang dia.
Bisa saja Ella pulang, dan pergi meninggalkan Linggar begitu saja disini. Untuk selanjutnya Ella akan melanjutkan hidupnya dengan tenang seolah kejadian hari ini tidak pernah terjadi. Tapi tetap saja ada satu bagian dari dirinya yang membuatnya untuk tetap tinggal. Entah apakah itu...
Linggar cepat-cepat keluar dari ruangan private mereka, berjalan sejauh mungkin dari ruangan itu agar Ella tak dapat menemukan dirinya atau mendengar pembicaraan yang akan dilakukannya. Diambilnya ponselnya dan ditekannya tombol dial untuk menelpon kakaknya, Ardi.
"Halo mas Ardi, gawat mas! I need your help!" Linggar memulai aksinya untuk berakting.
"Ya Nggar, Kenapa? Kamu dimana kok bolos kerja?" Ardi sepertinya tak terpengaruh, tetap santai bahkan malah menanyainya soal bolos kerja hari ini. Membuat Linggar mengutuk dirinya sendiri yang lupa meminta ijin tidak masuk ke kantor hari ini.
"Aduuuuh mas dengerin dulu! Gawat banget ini."
"Apaan si? Buruan ngomong aku ada staff meeting abis ini." Ardi sedikit penasaran juga dengan apa yang ingin dikatakan adiknya itu.
"Mas tolongin aku. Aku abis nabrak orang!" Linggar memulai drama picisannya. Tipu muslihat yang dirancangnya agar Ardi mau datang kesini.
Gak sepenuhnya bohong juga kan? Lhawong dirinya beneran tabrakan sama mbak Ella tadi waktu di gedung rektorat. Tabrakan badan tepatnya, bukan tabrakan mobil atau kecelakaan lalu lintas lainnya.
"Hah? Tabrakan gimana? Kamu bisa nyetir yang bener gak si? Mobilnya gimana?" Ardi langsung kaget dan mengomeli Linggar saat mendengar kabar adiknya itu tabrakan. Sedikit khawatir juga akan keadaan dan keselamatan adiknya itu.
Ardi masih ingat betul beberapa tahun yang lalu Linggar juga pernah kecelakaan. Tabrakan mobil dengan pohon, pohon diem dan gak salah apa-apa aja ditabrak sama dia. Waktu itu Linggar bahkan masih di bawah umur untuk berkendara. Masih baru bisa nyetir mobil, masih tahap belajar. Eh malah udah nekat make mobil papanya tanpa ijin.
Jelas aja dia kesusahan menyetirnya, karena mobil mewah import kan drivernya ada di sisi kiri. Sedangkan Linggar masih tahap belajar dan cuma bisa menggunakan mobil dengan posisi kemudi di sisi kanan. Untungnya itu hanya kecelakaan tunggal yang tidak melibatkan pengendara lain. Hanya mengakibatkan kerusakan parah pada mobil mewah papanya.
Kalau saja yang dipakainya waktu itu bukan mobil mewah keluaran luar negeri, pasti sudah fatal akibatnya. Tapi Linggar benar-benar beruntung waktu itu, dirinya selamat bahkan tanpa terluka sama sekali. Linggar selamat berkat air bag mobil yang dapat menahan guncangan dan benturan saat terjadi kecelakaan.
Kejadian itu sempat membuat heboh dunia persilatan. Bahkan masuk head line news dan koran besar-besaran. Ardi lah yang harus mengurusi segalanya waktu itu. Mulai dari urusan membungkam media, urusan kepolisian karena Linggar mengemudi sebelum punya SIM, asuransi, sampai urusan rumah sakit untuk terapi psikologi Linggar yang sedikit syok waktu itu.
Mungkin karena itulah, sekarang saat kejadian terulang lagi, saat Linggar mengalami tabrakan sekali lagi, Ardi adalah orang pertama yang dia pikirkan untuk dimintai pertolongan.
"Yaelah mas, kok malah nanyain mobil sih? Gak nanyain akunya?" Linggar mendengus kecewa.
"Kamu kan masih bisa nelpon berarti masih sehat? Lagian kamu pakai ferarry, nabrak kayak gimana pun juga aman pastinya." Ardi mengemukakan logikanya, pasti Linggar baik-baik saja saat ini.
"Terus kamu mau minta bantuan aku buat apa? Ngurusin perbaikan mobilmu? Biar gak ketahuan mama? Kamu udah gede, urusin sendiri lah, bawa ke bengkel sendiri."
Kalau dulu Ardi membantu Linggar karena memang masih di bawah umur. Kalau sekarang kan seharusnya Linggar sudah dewasa dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Yah Ardi ingin melihat sekaligus melatih kemandirian adiknya itu. Kalau ngurusin beginian aja gak bisa gimana mau ngurusin semua perusahaan Pradana sekaligus?
__ADS_1
Linggar semakin dongkol demi mendengar jawaban Ardi. Duh susah bener ya mau bohongin mas Ardi ini. Harus bener-bener logis bohongnya. Mungkin sebagai bos perusahaan raksasa Ardi sudah terlalu sering mendengar kebohongan dari anak buahnya. Makanya jadi sangat peka dan kritis banget dalam menghadapi kebohongan. Membuat Linggar semakin mengumpat dan misuh-misuh dalam hati karena kebingungan mikir kebohongan.
"Bukan masalah mobilnya. Tapi masalah orang yang aku tabrak. Katanya mau nuntut ganti rugi."
"Ya kasih aja lah. Kan kamu yang salah nabrak dia..."
Done. Masalah kedua yang diajukan Linggar selesai. Ganti rugi memang harusnya selesai dengan uang. Dan Linggar punya kartu sakti untuk membayar semuanya. Ngapain minta bantuan Ardi?
"Dia gak mau uang mas, dia mau penjarakan aku..." Linggar memutar otaknya lagi untuk mencari alasan lain agar Ardi mau datang. Susah bener si bohongin orang satu ini. Ardi terlalu cerdas untuk ditipu...
"Yaudah, gak pa-pa kan sekali-kali kamu nginep di hotel bintang tujuh? Sel tahanan hahaha." Ardi mulai merasa ada yang janggal dengan adiknya itu. Beneran tabrakan nggak si? Beneran kecelakaan? Kok makin lama kayak makin ngaco aja alasannya.
"Tega bener si mas, gak malu apa punya adik masuk penjara..." Linggar mencoba merengek kali ini.
"Ok aku kirim Gery pengacaraku buat ngurusin deh biar aman. Dia lebih pinter masalah hukum daripada aku. Kamu dimana sekarang?" Ardi memutuskan.
"Gak bisa kalau Gery. Harus mas Ardi sendiri yang datang! Pokoknya harus mas Ardi sendiri yang datang kesini. Aku kirim lokasinya. Buruan datang secepatnya pokoknya! Gak pakek lama! Urgent banget soalnya ini!!" Linggar sudah kehabisan ide untuk menyuruh Ardi datang kesini. Bingung cari alasan apa lagi. Masa iya dirinya harus bilang jujur kalau ada mbak Ella disini?
Linggar menutup panggilan telponnya. Dikirimnya lokasinya saat ini, koordinat GPS, nama restoran serta nama ruangan private yang dipesannya.
Yah semoga saja mas Ardi sedikit peka. Semoga saja mas Ardi sadar kalau Linggar mengharapkan kedatangannya. Semoga saja mas Ardi mau datang kesini. Meskipun Linggar sedikit ragu juga karena Ardi mengatakan akan ada meeting habis ini...
Ya Tuhan tolonglah gerakkan hati kakakku yang tidak peka itu untuk mau datang kesini. Untuk bertemu kembali dengan pujaan hatinya, cinta sejatinya. Tuhan, tolong pertemukanlah mas Ardi dengan mbak Ella, Linggar berdoa dalam hatinya.
~∆∆∆~
Ella langsung saja membalas beberapa pesan yang sekiranya penting. Terutama pesan-pesan dari teman-teman sejawatnya yang sama-sama akan mengurusi penyumpahan dokter spesialis penyakit dalam. Tak ingin ketinggalan info apapun yang mungkin diperlukan untuk keperluan prosesi penyumpahan-nya kelak.
Setelah selesai membaca pesan dari grup penyumpahan-nya, Ella melanjutkan untuk membaca pesan-pesan perorangan dan membalas beberapa pesan yang menurutnya penting. Ella juga dapat melihat beberapa missed call dari Roni.
Roni
Ella, udah selesai belum urusannya di rektorat? call me if you done. Nanti aku jemput kamu. Kita makan siang bareng kayak biasanya.
(*Telpon aku ya kalau udah selesai)
Ella
I'm done. Tapi tadi aku ketemu temen lama di gedung rektorat. Jadinya kami keluar makan siang bareng. Kamu makan sendiri aja ya hari ini. Aku juga bisa pulang sendiri kok nanti.
Alih-alih menjawab pesan Ella, Roni malah langsung menghubunginya dengan panggilan telpon. Ella jadi heran kenapa ya para cowok ini perasaannya sensitif dan peka banget kalau ceweknya sedang keluar dengan pria lain?
Gak Ardi dulu, gak Roni sekarang sama saja pekanya soal beginian. Mereka seperti punya radar atau indera keenam saja rasanya. Dengan sedikit ragu-ragu Ella mengangkat panggilan telpon dari Roni itu.
"Halo El? Kamu lagi ketemuan sama siapa? Dimana? Nanti pulangnya kamu gimana? Kamu bawa kendaraan sendiri?" Roni langsung memberondong Ella dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
Mengingat sekarang posisi Roni sudah resmi menjadi pacar Ella, pertanyaan seperti ini seharusnya sangat wajar untuk ditanyakan bukan? Tapi entah mengapa Ella menjadi sedikit merasa tidak nyaman juga karena perlakuan protektif yang berlebihan seperti ini, seakan sebagian kebebasannya terenggut.
Memang sudah menjadi kebiasaan Ella untuk berangkat ke kampus dengan menggunakan jasa transportasi online untuk menghindari kemacetan di pagi hari. Dan pulangnya biasanya Roni yang mengantarkan sampai rumahnya. Sekalian mereka makan siang bersama atau sekedar ngobrol saja. Itung-itung kencan kecil-kecilan lah.
"Ini lagi di restoran Imperial, sama temen lama."
"Imperial?" Roni mulai sedikit curiga. Ngapain Ella ke restoran mewah begitu? Kalau hanya ingin ketemuan atau makan siang bareng teman kenapa gak ke family restoran aja? Siapa sebenarnya orang yang sedang ditemui Ella saat ini?
"Teman lama siapa?" tanya Roni menyelidik.
"Teman lama waktu Interenship di Genting dulu."
"Siapa? Aku kenal juga sama dia? Orang RSUG G?"
"Hmmm...kayaknya kamu nggak kenal. Kamu juga belum pernah ketemu sama dia. Bukan orang medis kok orangnya." Ella menjawab pertanyaan Roni.
"Siapa? Dia gak punya nama?" Roni semakin kesal saja rasanya. Kenapa Ella sepertinya berbelit-belit untuk mengatakan siapa nama teman yang akan ditemuinya? Seolah ingin merahasiakan sesuatu dari Roni.
"Ron, dia cuma aku anggap sebagai adik aja kok. Gak ada hubungan apa-apa diantara kami." Ella coba meyakinkan Roni.
"Siapa nama temanmu?" Roni bertanya semakin bersih keras.
"Linggar...Linggarjati..."
"Linggarjati...?" Roni sedikit tidak nyaman juga mendengar nama itu. Nama-nama bangsawan jawa, jangan-jangan ada hubungannya sama mereka?
"Linggarjati Pradana..." Ella akhirnya mengaku juga.
Roni mendengus kesal demi mendengar nama itu. Sudah dia duga sebenarnya, nama-nama mereka sedikit mirip. Lazuardi, Larasati dan Linggarjati ... Mereka semua pasti berhubungan... Pradana bersaudara.
"Dia siapanya si brengsek itu?"
"Adiknya. Linggar adalah adik terakhirnya."
Roni diam saja tak menjawab kali ini. Terlalu kesal, marah, dan gregetan dengan sikap Ella. Ngapain coba Ella masih saja mau bertemu dan berhubungan dengan adiknya si brengsek itu?
Pasti ada yang tidak beres disini. Pasti ada tipu muslihat adiknya si brengsek nemuin Ella. Apa adiknya si brengsek itu mau mencoba untuk menyatukan Ella dengan kakaknya kembali?
Kenapa keluarga anggota Pradana itu masih saja mengusik dan mengganggu kehidupan Ella? Kenapa mereka tidak membiarkan saja Ella hidup tenang dan bahagia? Kenapa mereka tidak menikahkan Ardi dengan wanita lain dari golongan mereka saja? Apa belum cukup mereka membuat Ella menderita? Kenapa harus Ella...
"Udah dulu ya Ron, nanti sampai rumah aku kabari lagi." Ella pamit untuk mengakhiri panggilannya. Mau tak mau jadi merasa bersalah juga karena dirinya ketahuan pergi berduaan bersama dengan pria lain disaat dirinya resmi pacaran dengan Roni. Bahkan parahnya Ella tidak ijin atau memberi tahu Roni sebelumnya akan hal ini.
Ah sudahlah, toh dirinya juga gak ngapa-ngapain dengan Linggar. Dirinya hanya murni temu kangen dengan adik kecilnya itu tanpa ada maksud yang lain. Hanya saling bercerita dan melepas kerinduan.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, pliiiiissss kasih KOMEN. 🤭🌼