
Kemudian suasana berubah menjadi sunyi dan sakral saat dr.Yanto dengan lantangnya menyuarakan ikrar sumpahnya yang diikuti oleh seluruh rekannya yang berdiri dibelakangnya.
"Demi Allah saya bersumpah, bahwa:
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya.
Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
.
.
.
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya."
Terharu, Ella mengikuti dan menirukan setiap ucapan dan janji suci yang diucapkan oleh dr. Yanto dengan suara lantangnya. Meresapi dan menanamkan setiap kata dan janji yang diucapkannya di dalam hati dan pikirannya. Menyimpan baik-baik disana agar dirinya dapat selalu mengingat akan janji sucinya ini.
Sungguh mengharukan untuk menyaksikan beberapa insan manusia yang berjanji dihadapan tuhannya, dihadapan kitab suci, dihadapan guru-gurunya, orang tua, keluarga serta semua kerabatnya. Bagaimana mereka berjanji dengan tulusnya untuk mengabdikan hidup mereka sebagai seorang dokter yang profesional demi kemanusiaan.
Ella berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak jatuh dari kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. Akhirnya kini dirinya telah menyandang gelar sebagai dokter spesialis penyakit dalam dengan resmi. dr. Amellia Rieka Safitri, Sp.Pd. Nama dan gelar yang sudah dicita-citakan dan diimpikannya sejak lama.
Selanjutnya Ella mengikuti seluruh prosesi sampai selesai dan terakhrir diakhiri dengan sesi pemotretan. Pemotreatan bersama para peserta penyumpahan, bersama jajaran dekanat, bersama para guru besar, bersama teman sejawat sampai terakhir bersama kedua orang tuanya.
Sesi pemotreatan informal dengan beberapa teman, dan adik kelas pun tak luput dilakukan Ella juga. Sementara kedua orang tua Ella menunggu putri mereka sambil menikmati jamuan yang telah disediakan untuk keluarga dokter yang menjalani penyumpahan.
"Ma, pa, kayaknya ini masih agak lama deh sesi pemotretannya. Sesi pemotretan outdoor juga masih belum dilakukan. Apa papa dan mama pulang duluan saja?" Ella merasa tidak enak kalau orang tuanya harus menunggu terlalu lama.
"Lha terus kamu pulangnya gimana nanti?" Bowo bertanya khawatir.
"Gampang. Ella kan bisa bareng teman-teman atau naik taxi nanti." Ella meyakinkan kedua orang tuanya. Karena dirinya juga tidak ingin terburu-buru untuk pulang. Dirinya ingin menghabiskan saat-saat terakhir bersama teman-teman seperjuangannya.
"Yaudah nanti pulangnya jangan terlalu sore. Inget kan nanti kita ada tasyakuran kecil-kecilan di rumah." Lilik akhirnya menyetujui juga usulan Ella.
"Siap, ma. Yaudah Ella gabung ke temen-temen dulu ya." Ella mohon diri untuk segera bergabung dengan teman satu genknya. Shanti, Putri, dan Yuli yang kebetulan dapat mengikuti penyumpahan bareng. Sungguh menyenangkan untuk dapat masuk kuliah bersama dan lulus bersamaan pula.
Keempat gadis yang kebetulan sama-sama masih singgle itu menghabiskan waktu mereka untuk berfoto bersama dan berselfi ria sampai puas. Mumpung pada berdandan cantik maksimal dan mumpung mereka masih bisa berkumpul lengkap sebagai kesatuan genk interna rempong hehe.
Betapa kagetnya Ella saat seseorang menepuk punggungnya di tengah ruangan yang semakin ricuh dan ramai suasananya. Ella membalikkan badannya dan mendapati seorang pria yang sudah tidak asing lagi baginya, Linggar. Kok bisa-bisanya bocah ini ada disini coba?
"Selamat ya mbak Ella, semoga menjadi dokter spesialis penyakit dalam yang mabrur hehe." ujar Linggar sambil tersenyum lebar menyalami Ella.
Dan belum sempat Ella membalas ucapan selamat itu, Linggar sudah menarik lengan Ella untuk berjalan mengikutinya dengan langkah yang lumayan cepat. Kearah taman kampus yang sedikit jauh lokasinya dari keramaian di gedung serba guna tadi.
Dan disanalah Ella dapat melihat lima orang dengan setelan baju kerja resmi berdiri disana. Empat orang pria dan seorang wanita memegang balon huruf bermotif pokadot dan berwarna warni tepat menutupi wajah mereka. Mereka berdiri berjajar berurutan dengan huruf-huruf G R A T S, membentiuk kata grats yang merupakan singkatan dari congratulation, selamat.
__ADS_1
Kemudian dengan aba-aba tepukan tangan dari Linggar kelima orang itu kompak menggerak-gerakkan balon di tangan mereka dan menurunkan balon itu dari wajah mereka, sambil berkata pada Ella.
"Selamat atas kelulusannya sebagai dokter spesialis penyakit dalam!" ujar kelimanya kompak.
Ella benar-benar kaget saat mendapati wajah Ardi, Cindy, Bambang dan dua orang pria yang tidak dikenalnya dibalik balon itu.
Mau tak mau Ella jadi tertawa dan terharu atas surprise dari Ardi ini. Apa-apaan coba? suprise heboh sampai melibatkan banyak orang begini? Dan pastinya mereka semua adalah anak buah Ardi di kantornya. Bisa-bisanya coba dia menyuruh anak buahnya berbuat begini? Benar-benar pemanfaatan jabatan.
"Selamat ya, El." Ardi yang pertama menghampiri Ella sambil tersenyum memberikan sebuah buket bunga mawar sintesis yang indah. Bunga dari sutra yang dibuat sangat detail dan mirip dengan mawar aslinya, bunga abadi yang gak bisa layu tentunya.
Kemudian Cindy mengikuti langkah Ardi mendekat pada Ella, menyodorkan sekotak hadiah yang sepertinya berisi coklat mewah dari luar negeri.
Bambang yang selanjutnya menyodorkan sebuah boneka beruang lucu berukuran besar yang memakai baju serta topi toga. Penanda kelulusan.
Sementara kedua pria lainnya menyodorkan kue-kue dengan hiasan indah dan bertuliskan ucapan selamat disertai nama dan gelarnya secara lengkap. dr. Amellia Rieka Safitri, Sp. Pd. Cheese cake dan chocolate cake. Kue-kue favorit Ella tentunya.
"Apa-apaan ini, mas?" Ella benar-benar speachless, tak dapat menyembunyikan kekagetan serta kebahagiannya untuk menerima hadiah yang begitu banyak dari Ardi itu. Hadiah yang tidak akan berakhir di tempat sampah tentunya. Tipe hadiah yang disukai Ella, tidak mubazir dan buang-buang uang.
"Part of celebration for you," Ardi menjawab santai.
(*Bagian dari perayaan kelulusan untukmu)
"Thank you. Thanx you for every things." Hanya kata-kata itu saja yang mampu terucap dibibir Ella.
(*Makasih ya. Makasih untuk segalanya)
"And thanx to you kami semua bisa off kerja hari ini." Ujar Cindy menyeletuk yang langsung disambut dengan tawa renyah semua yang hadir disana.
(*Dan terima kasih juga karena kamu)
"Gampang nanti bisa dikirim ke rumahmu. Yang penting kamu bahagia aja" Ardi menjawab dengan santainya, tanpa beban.
"Makasih...makasih banyak..." Ella tak bisa ngomong apa-apa lagi selain kata itu.
"Salam kenal, calon nyonya bos. Sepertinya cuma kami berdua yang belum pernah bertemu dan kenal dengan anda. Perkenalkan nama saya Gery, pengacaranya pak Ardi sementara si cowok dengan aura suram ini Kresna, bagian IT." pria yang membawa cheese cake memperkenalkan dirinya.
"Kresna," si cowok suram yang membawa chocolate cake juga ikut mengenalkan dirinya.
"Mereka berempat ini tim inti kepercayaanku di kantor, El." Ardi menjelaskan pada Ella peranan keempat anak buahnya.
"Intinya kami tim serba bisa yang bahkan dapat melakukan berbagai macam pekerjaan untuk pak Ardi. Termasuk jadi badut begini." Bambang menambahkan ucapan Ardi yang langsung ditimpali tawaan riang teman-temannya yang lain.
"Apa sih yang nggak buat pak Ardi?" Cindy menambahkan. "Kami ini tenaga profesional yang selalu all out dalam bekerja."
"Kalian si parah banget. Mau-maunya disuruh yang aneh-aneh sama mas Ardi." Linggar ikut mengomentari setelah puas tertawa.
"Yang penting bonusan ngalir, pak." Celetukan Gery kembali membuat mereka tertawa bersama.
"Udah-udah, masukin semua hadiah ke mobil porsche-ku. Lalu kalian balik ke kantor. Selesaikan kerjaan kalian di kantor." Ardi memerintahkan sambil mengusir anak buahnya.
"Lho pak, katanya bebas kerja hari ini?" Bambang memperotes, tidak peka seperti biasa.
__ADS_1
"Baik, pak. Kami kembali dulu sekarang." Cindy yang lebih peka segera menggiring teman-temannya untuk pergi menjauh dari Ardi dan Ella. Duh Bambang, masa gak ngerti aja si kalau pak bos lagi pengen berduaan sama ceweknya? Parah banget!
"Kamu juga kembali ke kantor, Nggar." Ardi juga memerintahkan Linggar yang masih diam disana.
"Naik apa? Mobilnya gak muat." Linggar berusaha memperotes perintah kakaknya.
"Gak ada urusan. Pokoknya kamu balik ke kantor sekarang." Ardi bersungut marah.
"Pak Linggar, ayo bapak duduk depan. Biar ketiga cowok itu dibelakang. Saya yang nyetir nanti. Muat kok." Cindy menjelaskan pembagian tempat duduk mereka nantinya di mobil BMW Ardi.
"Dasar, bilang aja mas Ardi pengen berduaan sama mbak Ella," goda Linggar nakal.
"Brisik! Pergi sana!" Ardi mengusir Linggar yang akhirnya menurut pergi sambil ketawa geli.
"Nah sekarang semua pengganggu sudah bubar..." Ardi menghela napas lega.
"Kayaknya tim-nya mas Ardi asik-asik orangnya." Ella mengomentari, senang melihat keakraban dan kedekatan Ardi dengan anak buahnya. Pasti mereka adalah orang-orang kepercayaan yang paling dapat diandalkan sesuai bidangnya masing-masing.
"Hahaha mereka kumpulan orang-orang gila kerja. Makanya pada jomblo aja sampai sekarang."
"Sama dong kayak yang ngomong, jomblo." Ella balik menggoda Ardi.
"Eh bentar lagi sold out ya." Ardi gak terima.
"Emang siapa yang mau sama mas Ardi?"
"Lho...lho El? Masa kamu lupa sama janjimu kemaren?" Ardi bingung juga , takut Ella beneran tidak mau kembali padanya.
"Hahahaha, I got You." Ella tertawa ngakak.
"Dasar kamu makin jahil aja." Ardi ikut tertawa garing menghadapi kejahilan Ella.
"Kamu cantik banget hari ini, El." Ardi memuji Ella sambil mengamati penampilan Ella dari atas kebawah. "Make upnya beneran cocok buat kamu."
"Makasih banget ya mas. Outfit , Make up and Hairdo suponsored by Ardi Pradana." Ella berkata dengan nada seperti diiklan-iklan TV.
"Dan Ardi Pradana layak mendapatkan reward yang pantas untuk semua ini." Ardi balik menagih haknya.
Ella mendekat perlahan ke arah Ardi tanpa mengalihkan pandangannya dari pria itu. Sambil menyunggingkan senyuman terindahnya. Begitu cukup dekat Ella menjinjitkan kakinya untuk dapat menyamai tinggi badan Ardi yang masih lebih tinggi darinya meskipun Ella memakai highheels.
Ella mendaratkan sebuah ciuman ringan di pipi kanan Ardi. Ringan dan singkat saja tapi terasa sangat manis dan mendebarkan. Bahkan mampu membuat tubuh Ardi terasa membeku untuk sesaat. Paralized.
Ella tersenyum geli melihat reaksi Ardi. Lalu dia berjalan meninggalkan pria itu. "Udah dulu ya, masih ada sesi pemotretan dengan teman-temanku." Ella pamit meninggalkan Ardi. Tak ingin ketinggalan sesi pemotretan outdoor dengan teman-temannya.
"Lho El? Terus aku gimana?" Ardi memperotes. Padahal dirinya sudah berharap dapat berduaan dengan Ella, atau paling tidak dapat makan siang bersama di restoran dan mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya.
"Anterin hadiah-hadiah tadi ke rumahku aja. Papa dan mama sudah pulang kok." Ella memberi alternatif pekerjaan buat Ardi.
"Ok deh terserah kamu saja." Ardi akhirnya pasrah saja. Paling nggak kan sudah dapat satu ciuman ringan. Lumayan. Better than nothing.
Selanjutnya Ella beranjak pergi meninggalkan Ardi. Untuk kembali berkumpul bersama teman-teman sesama peserta penyumpahannya. Mereka akan meneruskan sesi pemotretan outdoor yang pasti ribet.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼