
Sesuatu yang basah dan hangat terasa meleleh dari mata Ella tanpa disadarinya. Air mata yang sedari tadi ditahannya sekuat tenaga. Akhirnya jebol juga dan meleleh membasahi pipinya. Mewakili segala kegundahan hatinya.
Cepat-cepat disekanya air matanya dengan telapak tangannya. Dan ditahannya sekuat mungkin lelehan air mata itu untuk tidak keluar lagi. Aku harus kuat, aku tak boleh menangis...Tidak dihadapan mereka, keluarga Pradana.
Ella semakin bingung tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan dari kedua orang tua Ardi. Hatinya semakin gundah dan bimbang. Ella memaksakan otaknya untuk loading lebih cepat untuk mencari jawaban. Tetapi tetap saja selalu mentok seakan menabrak tembok sebelum menemukan jalan keluar. Sebelum menemukan jawaban.
Ardi melirik Ella perlahan. Dia menyadari Ella meneteskan air matanya untuk sesaat. Dia juga sempat melihat Ella berusaha keras menghapus air matanya itu. Berusaha untuk terlihat tetap kuat dan tegar di hadapan kedua orang tuanya.
Entah mengapa Ardi juga dapat merasakan rasa sakit yang sama demi melihat Ella begitu. Hatinya terasa teriris, berdarah dan meradang. Ardi merasa sangat tak berdaya juga kali ini. Tak berdaya untuk melindungi Ella, tak berdaya untuk menentang kehendak kedua orang tuanya.
Apakah memang begini takdirnya sebagai pewaris utama Pradana Group? Untuk apa semua harta dan kekayaannya jika untuk memiliki dan melindungi wanita yang dicintainya saja tidak bisa? Untuk apa dia menjadi bos dari ribuan karyawan jika untuk memilih seorang isteri yang dicintainya saja tak bisa dia lakukan?
"Kalian berdua still young. Pikirkanlah lagi semua baik dan buruknya. Dengan kepala dingin. Pikirkan tentang segala konsekuensi yang harus harus diambil untuk mendapatkan segala sesuatu. You two just need some times to think. Semoga waktu dapat memberikan jalan keluar bagi kalian." Erwin Pradana kembali memecahkan kebisuan.
(*Kalian berdua cuma butuh waktu untuk berpikir)
Erwin tahu benar bahwa Ardi sangat mencintai gadis dihadapannya ini. Putra sulungnya sangat penurut sejak dulu, Ardi sejak kecil tak pernah melakukan kenakalan berarti seperti Linggar. Ardi juga selalu melaksanakan apapun yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.
Baru kali ini putranya ini membangkang dan memberontak kepada mereka. Hanya demi seorang gadis. Yah Ella memang sangat cantik, baik, sopan dan cerdas. Sangat wajar untuk pria manapun jatuh cinta padanya. Bahkan rela melakukan apapun untuk mendapatkan cintanya.
"Papamu itu sudah semakin menua, Ardi. Sudah mulai sakit-sakitan juga. Tak lama lagi kamu lah yang harus memegang perusahaan inti. Bukan saatnya lagi untuk merajuk begini" Ucapan Kartika kali ini sedikit melunak.
Kartika tahu betul tak akan bisa memaksa Ardi dengan kekerasan. Setidaknya dia ingin mengingatkan beban dan tanggung jawab yang harus ditanggung Ardi sebagai putra pertama keluarga Pradana.
"Sepertinya nak Ella juga belum ingin buru-buru menikah kan? Masih mau mengejar carier? Buat apa? Kalau mau uang dan harta Ardi dapat memberimu segalanya. Sepuluh juta? Dua puluh juta? Tiga puluh juta perbulan? Gak masalah." Kartika kembali memusatkan pertanyaannya kepada Ella. Dia juga tahu betul tipe wanita seperti Ella. Tipe yang tak akan mudah menurut.
"Bukan...Sama sekali bukan masalah uang" Ella merasa sedikit terhina. Apa mereka menganggapnya cewek matre? Memangnya dia mendekati Ardi karena hartanya? Ella bahkan tidak tahu sebelumnya bahwa Ardi adalah seorang sultan. Dirinya mencintai Ardi apa adanya, just the way he is.
"Lalu apa? Untuk apa kamu bersih keras tak mau melepaskan pekerjaanmu. Bukannya tujuan utama bekerja adalah untuk uang?" Kartika semakin mendesak.
"Saya sebagai orang medis sama sekali tidak memikirkan tentang uang. Saya dan sebagian besar teman saya tergerak di bidang ini lebih didorong oleh rasa kemanusiaan dan empati kami...Bukan hanya memperhitungkan untung dan rugi seperti kalian yang bergerak di bidang bisnis." Ucapan halus Ella kali ini terasa sangat menggelegar dan menggaung diseluruh ruangan.
Semua terdiam, seakan disadarkan oleh ucapan Ella bahwa ada sebagian orang yang memang tulus. Tulus untuk membantu sesama manusia meskipun tanpa pamrih. Prinsip yang tentu saja sangat bertentangan dengan yang prinsip yang dianut oleh para pebisnis seperti keluarga Pradana ini.
__ADS_1
"Sepertinya apa yang dikatakan papa benar" Ardi menengahi. Memecahkan kesunyian yang kembali terjadi disana.
"Mungkin kami membutuhkan waktu. We just need some times to think and talk about this..." Ardi meraih tangan Ella di bawah meja. Digenggamnya tangan Ella yang terasa sangat dingin itu. Seakan memberikan isyarat pada gadis itu bahwa cukup disini dulu saja pembicaraan mereka hari ini.
"You're right. Kalian jalani saja dulu hubungan kalian. Bicarakan baik-baik berdua. And let the times give you the answers." Erwin memberi saran dengan bijak.
(*Dan biarlah waktu yang nantinya akan memberi jawaban).
"Yasudah pa, ma. Setelah ini Ardi dan Ella langsung pamit kembali ke Genting." Ardi beranjak dari kursinya. Mengajak Ella beranjak juga dari kursinya, menghampiri kedua orang tuanya dan mencium tangan Erwin dan Kartika Pradana bergantian.
"Sering-sering pulang, Ardi. Banyak hal di perusahaan yang ingin papa diskusikan denganmu. So many things to discuss." Ujar papanya setelah mereka berdua pamit.
"Ok, Pa. Nanti aku atur lagi jadwalnya." Jawab Ardi sebelum menarik dan membawa Ella pergi menjauh dari hadapan kedua orang tuanya. Membawa gadis itu menaiki tangga pualam dan berjalan terus sampai memasuki kamar Ardi di lantai dua.
Didalam kamar Ardi ternyata sudah menunggu mereka Linggar dan Laras. Kedua adik Ardi itu menanti mereka dengan gelisah dan harap-harap cemas. Keduanya pun dapat mengerti apa yang kira-kira terjadi dari raut wajah Ardi dan Ella yang baru saja memasuki ruangan. Sepertinya percakapan mereka tidak berjalan lancar.
"Nggar, bantu bawain tas Ella ke bawah ya. Sekalian bilang si Agus suruh siapin mobilku." Perintah Ardi pada Linggar yang langsung dituruti oleh adiknya itu tanpa membantah. Linggar mengambil tas ransel Ella yang sudah disiapkan di atas sofa. Membawanya pergi keluar dari kamar Ardi.
"Iya. Ella butuh istirahat. Besok kan udah senin harus kerja lagi." Jawab Ardi. "Yuk aku balik dulu ya." Lanjutnya sambil menepuk halus kepala Laras dengan sayang.
"Kami pamit dulu ya." Ujar Ella sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Laras. Tapi gadis itu malah memeluk tubuh Ella dengan sangat erat, seakan tak ingin berpisah dari Ella.
"Mbak Ella, Yang kuat ya. Kalian harus tetap besama. Apapun halangan yang menghadang, kalian harus dapat mengatasinya bersama-sama." Ujar Laras.
"Laras...Makasih ya." Ella membalas pelukan Laras dan melepasnya kemudian. Dia menggigit erat bibir bawahnya. Berusaha keras untuk kembali menahan gemuruh di dadanya yang mendesak untuk mengalirkan kembali air matanya.
"Hati-hati dijalan. Jangan ngebut nyetirnya, mas." Laras melambaikan tangan mengantar kepergian mereka berdua.
Ardi kembali menggenggam tangan Ella dan membawa gadis itu keluar dari kamarnya. Menuruni tangga, melintasi ruang tamu dan keluar dari pintu utama rumah. Agus dan Linggar sudah menanti mereka disana. Agus memberikan kunci mobil pajero sport Ardi padanya dan mobil itupun juga sudah stand by terparkir di depan rumah.
"Kuliah yang bener ya, Nggar. Jangan banyak main-main lagi." Pamit Ardi pada Linggar sambil menepuk bahu adiknya itu.
"Ok mas. Jangan khawatir, aku udah tobat kok." Jawab Linggar ringan. Dia tahu benar mungkin dirinya tak akan dapat bertemu Ardi lagi sampai dirinya berangkat ke Surabaya untuk kuliah. "Mbak El, klo di Surabaya ntar aku mampir-mampir boleh?" Linggar beralih kepada Ella.
__ADS_1
"Wah boleh banget. Nanti kita main ya disana." Jawab Ella dengan antusias.
"Oh gitu?...Udah berani nikung waktu aku gak di Surabaya?" Celetuk Ardi sewot.
"Hehehe tenang aja mas, Linggar bakal ajak mbak Ella seneng-seneng ntar di sana" Jawab Linggar mampu membuat mereka semua tersenyum dan tertawa.
"Kami pergi duluan ya." Pamit Ardi memasuki mobilnya. Ella pun segera mengikuti memasuki mobil, duduk di sebelah Ardi. Tak lama kemudian mobil hitam itupun melaju meninggalkan kediaman keluarga Pradana.
Cukup lama Ella dan Ardi hanya berdiam diri saja tanpa berbicara. Entah mengapa rasanya terlalu canggung bagi mereka untuk memulai percakapan. Sesekali Ardi melirik pada Ella, didapatinya gadis itu sesenggukan, dengan air matanya yang mengalir deras membasahi pipinya. Ella menagis dalam diam tak bersuara. "Matanya kelilipan ya, El?" Ardi mencoba menggoda Ella.
"Heem," jawab Ella ringan. Diambilnya beberapa helai tisue mobil dan disekanya air matanya yang semakin deras mengalir.
"Kamu boleh nangis sampai puas. Kamu boleh nangis, kamu boleh rapuh dan lemah di depanku, El. Jangan ditahan lagi. Keluarkan semuanya, tumpahkan semua perasaanmu."
Ella tetap tak menjawab, terlalu sibuk untuk menyeka air matanya. Membersihkan wajahnya dari cairan lengket dan asin yang tak kunjung mau berhenti mengalir itu.
"Aku sayang kamu, El. Aku gak mau kehilangan kamu." Ardi mengarahkan tangan kirinya kearah Ella. Menepuk halus kepala gadis itu dan membelai lembut rambutnya.
"Berat mas. Kayaknya terlalu berat yang harus kita lalui untuk dapat bersama."
"Memang tak akan mudah. Tapi kita pasti bisa melaluinya. Cinta kita pasti bisa berakhir bahagia." Ujar Ardi meyakinkan.
Ella kembali terdiam tak sanggup menjawab. Hatinya terlalu hancur saat ini. Kesedihan terasa memuncak memenuhi dan menyesakkan dada. Dia tak bisa berpikir rasional saat ini. Terlalu emosional untuk dapat berpikir dan memutuskan sesuatu.
"Jangan pergi, El. Jangan menghilang lagi..Jangan tinggalkan aku." Akhirnya hanya kata-kata itu saja yang sanggup diucapkan Ardi sebagai permohonan dari hatinya yang terdalam. Dia akan berjuang, pasti akan memperjuangkan hubungannya dengan Ella.
Tapi Ardi tak bisa membayangkan jika harus berpisah dengan Ella. Tak bisa membayangkan Ella menghilang lagi darinya. Bagaimana dia harus bertahan? Bagaimana dia mampu berjuang?
Mereka berdua kembali terdiam. Ella tertidur tak lama kemudian, mungkin kecapekan karena terlalu banyak menangis. Terlalu banyak mengeluarkan air mata untuk dua hari ini. Sementara Ardi masih harus berkontraksi menyetir mobilnya sampai ke Genting. Dengan berbagai macam pikiran yang berputar-putar dikepalanya. Berfikir dan berfikir tanpa bisa menemukan solusi. Membuatnya semakin frustasi.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼
__ADS_1