Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
131. S2 - Rindu


__ADS_3

Rindu tidak hanya muncul karena jarak yang terpisah.


Tapi juga karena keinginan yang tidak terwujud.


Kamu tidak akan pernah jauh dariku.


Kemanapun aku pergi kamu selalu ada.


Karena kamu selalu di hatiku,


Yang jauh hanya raga kita tapi bukan hati kita.


_Tyas Effendi


_______________________________________


Seorang pria dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan keren layaknya seorang direktur dari sebuah perusahaan besar. Postur tubuh itu, wajah tampan itu, gestrur tubuh itu, peragai itu, sama persis dengan apa yang ada dalam ingatan Ella. Terukir dengan sangat dalam disana. Tak salah lagi, pria itu adalah...Lazuardi Pradana, Ardi.


Untuk beberapa detik lamanya Ella dapat merasakan jantungnya berhenti berdetak. Bahkan dirinya juga sempat lupa untuk bernapas selama beberapa saat demi melihat sosok pria di hadapannya. Selanjutnya bahkan lebih parah lagi, jantungnya seakan melompat-lompat kegirangan dan berdetak dengan sangat kencangnya, dag dig dug, dag dig dug...


Rindu... mungkin rasa itu bernama rindu. Rasa yang memenuhi jiwa karena tak bisa berjumpa. Bahkan untuk sekian purnama tak saling bersua, tiga tahun lamanya. Rasa ini begitu unik, bukan sedih tapi juga bukan derita tapi yang pasti terasa menyiksa jiwa.


Perlahan namun pasti ada suatu rasa yang begitu menyenangkan dari perut berlanjut ke dada. Seakan tumbuh, membuncah, mengembang dan mekar bersemi bagaikan bunga di dalam dada Ella.


Dan rasa menyenangkan itu seolah langsung dapat menghilangkan kerinduan mendalam yang telah lama terpendam di dalam dada. Kerinduan yang seketika terasa terobati oleh hadirnya sosok pria di hadapannya itu. Lazuardi Pradana.


Pandangan mata Ella serasa terpaku, tak bisa beralih dari memandang wajah Ardi. Seakan mengagumi mahakarya Tuhan yang sempurna. Debaran di dada menetap tak mau pergi, dan berdetak dengan kencang tanpa kenal kompromi.


Wajah Ardi tidak banyak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu tiga tahun yang lalu. Tetap tampan tentu saja, hanya saja Ella merasa tatapan pria itu terlihat berbeda, jauh lebih serius, tajam, dingin, dan menusuk dari pada sebelumnya yang diingat Ella. Tak ada lagi kehangatan, keramahan dan keceriaan yang terpancar disana.


Pembawaan Ardi juga terlihat jauh lebih tenang, matang, dewasa dan berwibawa daripada yang diingat Ella tiga tahun yang lalu.


Sosok seorang eksekutif muda, CEO, pimpinan tertinggi dari sebuah grup perusahaan raksasa. Founder dari sebuah bussiness park. Sosok yang terlihat sangat tangguh, kokoh dan tak tergoyahkan. Mungkin pengalaman dan perjuangan hidup selama tiga tahun ini yang membuatnya menjadi seperti itu.


"Apa-apaan ini Nggar? Aku lihat mobilmu baik-baik saja tadi di parkiran? Apanya yang tabrakan hah?" Ardi bertanya pada Linggar. Dengan nada sangat marah dan jengkel. Merasa ditipu mentah-mentah dan dibohongi oleh Linggar, adiknya itu.


"Shhhhttttt..." Linggar memberi isyarat jari telunjuk di depan mulut pada Ardi untuk menghentikan protesnya lebih lanjut. Linggar juga menggerakkan kepalanya sedikit ke arah Ella duduk untuk memberi tahukan Ardi tentang apa yang perlu dilihatnya di dalam ruangan itu.


"Dia adalah korban yang aku tabrak di Rektorat. Dialah yang akan meminta kompensasi pada mas Ardi...Mbak Ella." Linggar memperkenalkan tamunya dengan sangat dramatis. Padahal Ardi jelas sudah kenal. Sangat mengenalnya bahkan...


Ardi reflek menolehkan wajahnya ke arah yang ditunjukkan oleh Linggar. Dapat dilihatnya seorang gadis duduk di salah satu kursi di tengah ruangan.


Seketika mata Ardi melebar dan terbelalak demi melihat sosok di hadapannya. Ardi mengerjap ngerjapkan matanya beberapa kali, menyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan mimpi. Bahwa gadis di hadapannya ini bukanlah bayangan dan ilusi semata. Bahwa gadis dihadapannya memang nyata, benar-benar Ella, gadis yang selalu hadir dalam mimpinya setiap hari.


Rasanya Ardi tak sanggup bereaksi demi melihat Ella senyata dan berada sedekat ini dengannya. Jantung Ardi rasanya meloncat keluar dari sarangnya saking takjub dan bahagianya melihat sosok cantik di hadapannya. Selanjutanya bahkan jantungnya terasa bertalu-talu dan berpacu dengan irama kuat, cepat dan tidak teratur.


Ardi menatap wajah cantik gadis di hadapannya. Wajah Ella yang sekarang terlihat semakin cerdas dan dewasa. Make up sederhana yang dipakainya lebih berwarna daripada make up effortless yang dulu selalu menghiasi wajahnya. Membuat gadis itu terlihat semakin cantik, segar, dewasa, mempesona serta mampu membuat setiap mata tak pernah bosan untuk memandangnya.

__ADS_1


Hanya ada satu hal yang kurang disukai Ardi dari penampilan Ella yang sekarang. Rambut panjangnya yang dulu sangat indah terurai kini telah berganti dengan rambut pendek dengan kesan curly. Ella tetap cantik tentu saja dengan penampilan barunya ini, tapi Ardi lebih menyukai rambut Ella yang dulu.


Rambut panjang yang dulu selalu dibelainya dengan lembut, yang dulu dia main-mainkan saat bercanda dan bercumbu rayu, serta rambut yang suka dia ciumi wanginya...


'Aaaahhh kenapa kenangan indah itu tiba-tiba muncul dan berkelebat di otakku.'


Kedua insan manusia itu masih saja saling memandang untuk waktu yang cukup lama. Diam bagaikan patung. Saling mengagumi kehadiran sosok masing-masing. Mensyukuri perputaran sang waktu yang akhirnya membuat jalan yang mereka tempuh kembali bersinggungan. Menikmati debaran dan rasa menyenangkan yang ada di dalam dada.


Perpisahan mungkin memang dibuat untuk menjadikan pertemuan kembali terasa sangat indah.


Hanya perlu beberapa detik untuk Ella dan Ardi kembali jatuh cinta lagi satu sama lainnya. Segala rasa yang telah lama terkubur di dalam dada seakan bersemi kembali seketika mereka berjumpa. Rasa rindu karena lama tak berjumpa pun terobati sudah.


Detik pertama, mereka saling mengamati siluet keseluruhannya. Detik kedua, saling menatap dan beradu pandangan matanya. Detik ketiga, dapat terlihat dari ekspresi bahagia di wajah mereka. Detik keempat, terlihat dari senyumnya, serta bentuk bibirnya. Detik kelima, terlihat dari gayanya bergerak. Detik keenam dari adanya getaran yang melanda di perut kemudian dada mereka. Terakhir detik ketujuh, yang paling penting, kontak mata, seolah meyakini bahwa pertemuan ini tak terelakkan dan memang direncanakan oleh Takdir.


Linggar cukup tahu diri dan paham akan situasi yang terjadi. Pertemuan dua hati yang masih saling mencintai, namun terpaksa berpisah dan tak bisa saling memiliki. Bahkan putaran roda sang waktu pun tak sanggup untuk mengalahkan dan menghapuskan rasa cinta mereka berdua yang sudah terpahat di dalam hati masing-masing.


Disaat kedua orang dihadapannya saling berhadapan dan beradu pandang. Disaat keduanya seakan mematung, menata hati, dalam luapan perasaan di dada mereka. Linggar undur diri tanpa kata, meninggalkan ruangan itu, tak ingin mengganggu mereka berdua. Biarkan saja mereka berdua menyelesaikan segala urusan yang belum selesai diantara mereka.


"Mas Ardi?..." Ella yang pertama dapat menguasai dirinya dan sadar dari lamunan, menyapa duluan.


"Ella?..." Ardi ikut tersadar dari khayalan dan lamunan indahnya.


Oh jadi ini yang diinginkan Linggar? Dia sengaja berbohong untuk mengatur semua ini? Untuk mempertemukan dirinya dengan Ella? Dasar bocah tengil, ada-ada saja ulahnya. Tapi mau tak mau Ardi harus berterima kasih atas apa yang dilakukan Linggar ini. Good job bro!


"Duduk, mas..." Ella mempersilahkan pada Ardi yang daritadi masih berdiri di dekat pintu ruangan, luar biasa canggung rasanya.


Jadilah mereka berdua duduk saling berhadapan. Kembali terdiam, tak ada yang sanggup untuk sekedar berkata-kata. Hanya bisa saling pandang dan bermain dengan pikirannya masing-masing.


Kebersamaan akan lebih bermakna setelah kita merasakan kehilangan.


Kehilangan akan lebih bermakna ketika kita saling merindukan.


"Apa kabar, mas?" Ella lagi-lagi mengalah untuk memulai pembicaraan mereka.


Entah mengapa Ella merasa Ardi yang di hadapannya sekarang sangat berbeda dengan Ardi yang dulu dikenalnya. Seperti orang lain saja rasanya, hanya saja dalam casing tubuh Ardi.


Ardi yang sekarang terkesan dingin, sombong dan angkuh, serta tidak ramah. Menebarkan aura yang sangat mengintimidasi dan membuat bergetar siapa saja yang berani menantangnya. Dia terlihat sangat menjaga jarak dan menata sikapnya.


Sifat yang memang wajar ditampakkan oleh seseorang dengan kaliber CEO perusahaan besar. Ella semakin sadar bahwa pria ini berada di tingkatan yang jauh berbeda dengan dirinya. Lazuardi Pradana sang sultan dari kerajaan bisnis raksasa, terlalu tinggi dan tak terjangkau oleh rakyat jelata seperti dirinya.


"Baik..." jawab Ardi singkat. "Kamu gimana?"


"Baik juga..." Ella ikutan menjawab singkat saja. Masih terlalu canggung dan bingung bagaimana harus bersikap di hadapan Ardi.


Bukannya dirinya sudah memutuskan untuk tidak berharap lagi pada pria ini? Bukankah dirinya sudah bertekad untuk mengikhlaskan saja pria ini pergi? Kenapa dirinya masih bingung dalam bersikap?...


'Seharusnya aku bersikap wajar saja padanya selayaknya client atau pasien'.

__ADS_1


Sunyi lagi, tak ada yang bersuara selama beberapa saat. Hanya alunan musik sayup-sayup lagu dari Bruno Mars yang terdengar merdu di seluruh ruangan, When I was your man.


Same bed but it feels just a little bit bigger now


Our song on the radio but it don't sound the same


When our friends talk about you, all it does is just tear me down


'Cause my heart breaks a little when I hear your name


(*Tempat tidur yang sama tapi sekarang terasa sedikit lebih besar


Lagu kita diputar di radio tapi suaranya terdengar tidak sama


Saat teman-teman kita membicarakanmu,


yang aku rasakan hanyalah hatiku yang terluka


Karena hatiku sedikit hancur saat mendengar namamu)


Canggung. Benar sekali ada rasa yang berbeda pada hal-hal yang seharusnya sama. Seperti kata Bruno Mars, tempat tidur yang seharusnya ukurannya tetap malah terasa lebih besar. Lagu yang sama di radio pun terdengar berbeda...Begitulah kira-kira apa yang dirasakan Ella dan Ardi saat ini. Rasa itu masih ada, jelas terasa di dalam dada dan mereka faham betul akan nama dari rasa itu, cinta.


Tapi tetap saja ada yang terasa berbeda. Entah mengapa mereka berdua jadi susah untuk sekedar berkata-kata dan berbagi cerita. Apalagi untuk mengungkapkan cinta. Rasa canggung ini begitu menyiksa, bagaikan es yang sangat dingin dan menciptakan kebekuan. Mungkin hanya sang waktu dan sedikit kehangatan yang dapat melelehkannya.


"Kamu makin cantik..." Entah mengapa kata-kata itu yang meluncur begitu saja dari mulut Ardi. Ungkapan hatinya yang paling jujur dari lubuk hati yang paling dalam.


"Makasih," tanpa dapat Ella cegah wajahnya terasa memanas dan mungkin sudah memerah karena pujian Ardi ini. Apa-apaan ini? Kenapa aku tidak bisa menahan diri untuk bahagia hanya karena pujian ini? Kenapa tidak bisa bersikap wajar?


"Gimana kuliahmu?" Ardi mencoba berbasa-basi, mencari topik paling aman untuk dibahas.


"Lancar, sebentar lagi selesai," Ella menjawab


"Oh... gratz ya..." lagi-lagi respons singkat dan datar.


"Gimana perusahaan?" Ella bingung juga mencari topik bahasan yang aman.


"It's getting larger." Ardi bingung harus menjelaskan tentang perusahaannya. Dijelasin beneran juga bakalan panjang kali lebar, tak mungkin dijelaskan saat hubungan mereka masih secanggung ini.


"Rambutmu..." Ardi tak dapat menahan dirinya untuk menanyakan soal rambut Ella. Ingin memprotes saja rasanya, kenapa harus dipotong sependek itu?


"Gerah banget di Surabaya," Ella menjawab sekenanya. Sebenarnya alasan utama Ella memotong rambutnya adalah karena dirinya ingin move on, ingin menjadi dirinya yang baru. Agar bisa melupakan kesedihan masa lalu serta bisa terus hidup dan menjalani masa depan dengan lebih baik.


"Cocok buat kamu," puji Ardi terpaksa membohongi hatinya sendiri. Gak mungkin untuk protes kan? Sudah tidak berhak protes tepatnya. Ella hanya tersenyum manis menjawab pujian Ardi.


Keduanya kembali terdiam tanpa kata. Tak ada keinginan untuk terus berkata-kata. Mereka lebih tertarik untuk terus memandangi sosok di hadapannya masing-masing. Mengobati rasa rindu yang mengharu biru dalam hati mereka.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN 🤭🌼


__ADS_2