
Ardi mengajak Ella menjauh dari kedua temannya yang terus saja tertawa ngakak, mencari tempat yang enak untuk bisa menjelaskan segalanya pada Ella dengan baik.
Dibawanya Ella menuju ruangan di sebelah restoran, ruangan persiapan atau ruangan keluarga untuk acara pesta tertentu. Tempat Linggar dan Ditha tadi melakukan pembicaraan berdua saja. Didudukkan Ella di salah satu sofa yang ada disana.
"Jadi...Siapa lagi itu Cecil?" Ella yang memulai pertanyaan saking keselnya. Sudah tidak tahan lagi memasang aksi ngambek mode mogok ngomong.
"Dulu Cindy sekeretaris yang cantik. Terus ada Luna dan Jillia yang sultanwati, cewek-cewek import. Eh ternyata masih saja ada Renata sang putri konglomerat Sudibyo sekaligus model Internasional. Bahkan Rena adalah mantan pacar mas Ardi. Sebenarnya ada berapa banyak wanita yang sudah pernah kamu pacari sebelumnya, mas?" Ella mulai ngomel-ngomel gak karuan. Menumpahkan segala kekesalan di dadanya pada Ardi.
"Aku capek mas kalau harus cemburu terus, aku benar-benar merasa sesak dan gak nyaman. Karena kamu tahu kan untuk masuk ke duniamu saja sudah sangat berat bagiku. Apalagi untuk tahu dan dapat memahami bagaimana pergaulan bebasmu. Pergaulanmu dengan para sultan dan sultanwati itu semakin membuatku panas dingin saja rasanya."
"Dan kalau aku harus berebut mendapatkanmu dengan para wanita hi class seperti mereka tentu saja aku gak sanggup. Karena aku bukan apa-apa dimata kalian, aku cuma gadis kecil yang tak ada artinya dibandingkan para sultanwati dan putri konglomerat seperti mereka..." Ella mengutarakan rasa insecure-nya akan hubungan mereka. Sedikit lega juga karena akhirnya berhasil mengutarakan semua yang menjadi uneg-unegnya selama ini.
Segala hal yang terus saja mengganggu dan menghantui pikirannya selama bertahun-tahun. Rasa minder dan tidak percaya diri untuk bersanding denga pria sekelas Ardi Pradana. Seorang sultan putra konglomerat serta sang CEO dari Pradana Grup. Memang rasanya bagikan langit dan bumi saja jurang pemisah status sosial diantara mereka.
Ardi dengan segala kekayaan, kekuasaan, kekuatan finansial, kesempurnaan fisik, yang terlihat sangat menyilaukan. Sudah pasti tidak sedikit wanita lain yang menginginkan pria seperti itu. Memang tak bisa dipungkiri Ella harus bersiap dengan segala cobaan dari berbagai macam wanita lain kalau ingin tetap menjadi pasangan Ardi, bersanding di sisinya.
"I know..." Ardi menyetujui. Memang benar tak mudah bagi Ella untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupannya sebagai seorang sultan.
"Udah puas ngomel-ngomelnya?" Tanya Ardi dengan nada sesabar mungkin, setelah Ella akhirnya terdiam beberapa saat. Ini sih bukan taraf ngambek lagi namanya, tapi sudah meledak-ledak. Sepertinya segala tumpukan kegundahan, kegalauan dan beban pikiran Ella diluapkan semuanya sekaligus.
Kalau Ardi ikutan menanggapinya dengan emosi juga bisa berakhir sebagai perang dunia ketiga ini. Jadilah Ardi memasang mode sabar saat ini. Apa jangan-jangan si Ella ini lagi PMS ya kok jadi ngambekan kayak gini? Biasanya dia cewek paling sabar dan gak bisaan untuk marah padahal. Tapi sekalinya ngembek emang agak nyeremin juga si, bahkan bisa meledak-ledak juga kayak sekarang.
"Belum!"
"Lho masih belum? Lanjutin lagi deh, aku dengerin." Ardi berkata sehalus mungkin. Sabar, harus sabar ngadepin cewek yang lagi ngambek begini.
"Siapa lagi itu Ceicillia Tang? Dari namanya saja sudah ketahuan kalau cewek cantik. Mas Ardi gak mau menjelaskan tentang hubungan sama dia? Juga tentang wanita-wanita lain yang mungkin akan muncul lagi dikemudian harinya?"
"Kamu kayak dukun aja, bisa tahu orang cantik cuma dari namanya saja." Ardi sedikit geli mendengar ucapan Ella yang terdengar lucu. Yaampun beneran ya, cewek kalau lagi marah yang diomongin suka gak rasional begini.
"Jadi dia memang beneran cantik ya?" tanya Ella.
"Cantik banget. Kamu tahu Park Min Yo, Artis koreya yang cantik itu? Ceicillia Tang itu hampir mirip kayak gitu. Bahkan mungkin Cecil lebih cantik lagi karena menang modal." Ardi menjelaskan tentang Cecil dengan gambaran yang sekiranya bisa dibayangkan oleh Ella dengan jelas. Ella yang pecinta drama koreya pasti tahu kan sama Park Min Yo?
Ella hanya dapat mengangguk saja menjawab. Terlalu kalut untuk dapat membayangkan wanita secantik pemeran Secretaris Kim itu yang akan menjadi saingannya. Benar-benar beda kelas! Beda level dan kalah telak rasanya.
"Kamu tahu kan diatas langit masih ada langit lagi. Para sultan pun begitu, ada kelas dan tingkatan sendiri. Dan Cecil itu adalah putri dari Ciputra Grup, meski seorang wanita Cecil menjabat sebagai CEO Ciputra Grup untuk regional Timur ini. Bahkan orang awam pun pasti kenal dengan Ciputra Grup dengan segala asetnya kan? Intinya Cecil ini beda kelas, terlalu tinggi tingkatannya yang bahkan aku dan Tyo tak akan berani untuk merayunya." Ardi menjelaskan.
Ella tak sanggup membayangkan bagaimana sosok wanita yang bahkan Ardi Pradana dan Tyo Sampoerna saja tak berani mendekatinya. Benar-benar unreachable woman sepertinya. Wanita hebat yang bahkan bisa menjabat sebagai CEO dari perusahaan sekelas Ciputra, pastinya sangat cerdas dan berkharisma. Ditambah kecantikan yang setara artis koreya? Pria mana yang gak kesemsem coba?
"Waktu itu aku, Tyo, Mahes dan Irza sedang kerjasama buat bikin Pradana Bussines Park. Bisa kamu bayangkan berapa dana yang dibutuhkan untuk membuat komplek perkantoran semegah itu? Bahkan seluruh aset Pradana pun gak akan cukup. Kami sudah abis-abisan waktu itu. Aku sudah gak bisa mikir lagi siapa yang bisa dimintai tolong. Cuma Cecil yang kepikiran di otakku waktu."
__ADS_1
Sekali lagi otak Ella seakan dipaksakan untuk loading lebih cepat. Bayangan kemegahan bisnis park yang pernah dikunjunginya berkelebat diotaknya. Mencoba mengira-ngira berapa Trilliun kira-kira dana yang dibutuhkan untuk pembangunan kompleks perkantoran elit itu. Bahkan gabungan dana dari empat sultan dari grup raksasa pun masih tak sanggup untuk mencovernya. Bisa gila mikirin jumlah angka nol untuk dana sebesar itu.
"Jadi untuk merayu Cecil agar mau kerjasama dan menandatangani kontrak aku sengaja datengin dia secara pribadi. Bahkan aku membawakan sebuah buket bunga mawar super besar yang dikatakan Tyo tadi. Dan memang ada surat yang terselip disana, tapi bukan surat cinta melainkan kontrak kerja." Ardi menjelaskan kronologis kejadian fenomenal dirinya dengan Cecil beberapa tahun yang lalu.
"Haaaa? Jadi demi kontrak kerja mas Ardi sampai mau merayu wanita pakai buket bunga?" Ella setengah gak percaya mendengarnya.
Memang terdengar sedikit aneh dan lucu juga si, benar-benar anti mainstream. Tindakan yang semakin membuktikan bahwa Ardi ini totalitas dalam urusan pekerjaannya, berani melalukan apapun demi untuk keuntungan perusahaannya.
"Cecil itu agak susah orangnya, yah hampir mirip seorang ratu. Tapi kalau diperlakukan sehormat itu dia pun tak akan sanggup menolak, bahkan lebih jauh Cecil merekomendasikan Nick Marcus untuk ikutan join proyek kami. Investor kelas internasional yang tentu sangat kami butuhkan saat itu."
"Terus mas Ardi ngapain aja sama Cecil?" Ella masih tak bisa membayangkan apa lagi yang telah dilakukan Ardi untuk merayu Cecil agar mau menandatangani kontrak kerja mereka.
"Gak ada. Setelah penanda-tanganan kontrak, kami gak pernah ketemu lagi. Kecuali dalam forum resmi dan rapat dewan direksi. Terakhir kali aku ketemu dia waktu di pesta pembukaan resmi Pradana Bussiness Park, beberapa bulan yang lalu."
"Beneran gak ada hubungan apa-apa diantara kalian?" Ella kembali menyelidik, memastikan.
"Yaampun El, kamu mau dijelasin kayak gimana lagi si biar mau ngerti?" Ardi udah kehabisan kata-kata.
"Gak perlu penjelasan. Cukup dibuktikan dengan perbuatan aja. Jangan lagi seenaknya peluk-peluk dan cium-cium wanita lain." Ella menjawab.
"Iya...iya..." Ardi menjawab pasrah saja.
"Terus cewek-cewek lainnya gimana?"
"Beneran gak ada lagi?"
"Iya beneran. Aku bukan tipe yang suka gonta ganti pacar kayak Linggar."
Ella beranjak dari duduknya di sofa. Berdiri menghadap Ardi yang masih terduduk di sofa. Ella memandangi wajah Ardi dengan lekat-lekat sebelum akhirnya bertanya dengan nada serius.
"Sama Rena sudah ngapain aja?"
"Eeehhmm...banyak. Kalau dijelasin kamu bisa tambah ngamuk ntar." Ardi semakin serba salah untuk menjawab pertanyaan ini. "Tapi tenang saja, kami gak sampai melewati batasan kok." Lanjut Ardi meyakinkan Ella bahwa sebebas dan seliarnya pergaulan mereka, batasan tetap masih ada. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilanggar.
Dan betapa kagetnya Ardi saat Ella tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya ke wajah Ardi. Gadis itu mencium lembut pipi Ardi kanan dan kiri. Ciuman ringan yang mampu membuat janjung Ardi serasa terlonjak kaget dan berlanjut dengan detakan kacau tanpa irama yang jelas.
"Ka, kamu ngapain El?" Entah mengapa malah pertanyaan bodoh itu yang keluar dari mulut Ardi. Saking kagetnya mendapatkan surprized kiss dari Ella, Ardi seakan membeku. Hanya sanggup bereaksi saat Ella sudah kembali menarik tubuh menjauh darinya.
"Menghapus jejak ciuman yang ditinggalkan wanita lain di pipimu." Ella menjawab dengan membalikkan tubuhnya membelakangi Ardi. Terlalu malu untuk memperlihatkan wajahnya pada pria itu saat mengatakan kata-kata yang memalukan begitu.
Ardi buru-buru bangkit dari sofanya juga, berjalan beberapa langkah menghampiri tubuh Ella. Isi kepalanya terasa penuh karena pompaan darah dari jantung yang terlalu kencang. Dibalikan tubuh Ella untuk menghadap padanya, dipandanginya sejenak wajah cantik yang bersemu kemerahan itu. Sebelum dipelukknya tubuh gadis itu dengan sangat erat.
__ADS_1
"Mas?...Ngapain?" Ella yang sekarang kaget dan kebingungan menerima pelukan mendadak dari Ardi.
"Menghapus jejak pelukan dari cewek-cewek lain yang pernah memeluk tubuhku." Ardi semakin mengeratkan pelukannya pada Ella, membiarkan gadis itu mendengarkan debaran di dadanya yang semakin kencang tak beraturan.
Ella berusaha memberontak dan berusaha melepaskan pelukan Ardi dari tubuhnya. Bahaya, bahaya banget ini kalau diterusin. Tapi apalah daya tenaga Ella tak ada apa-apanya dibandingkan dengan tenaga Ardi. Pria itu tak bergeming bahkan semakin kencang saja memeluk tubuhnya.
"Mas...Lepasin..." Ella memohon, sudah panas banget rasanya sekujur tubuhnya. Panas karena temperatur tubuhnya sendiri yang naik, juga ditambahi panas dari tubuh Ardi yang mendekapnya terlalu erat, tubuh Ardi yang memanas juga, naik beberapa derajat.
Ardi tidak mendengarkan permintaan Ella, malah meraih kepala Ella dan menyandarkan tepat di dadanya. "Coba dengerin detak jantungku...Sangat cepat dan tak beraturan. Sepertinya sudah sakit parah. Sakit cinta, karena kamu."
Ella tak sanggup menjawab, terlalu...aaaahhh tak terkatakan. Bayangkan saja, bagaimana rasanya dipeluk seerat itu oleh Ardi, dengan kepalanya disandarkan di dada bidang Ardi?...Rasanya seakan melayang di angkasa saking senangnya. Bisa gila...
"Cuma kamu, El. Cuma kamu yang bisa bikin aku sampai kayak gini. Cuma kamu yang bisa bikin aku sekacau ini hanya dengan memeluk tubuhmu... Gak ada yang lain selain kamu. You're the one and only."
"Aku cinta sama kamu, El. Aku sayang banget sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi..."
Ella mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Ardi. Wajah Ardi yang terlihat memerah juga entah karena malu atau karena sebab yang lainnya. Ella menyunggingkan senyumannya sebelum akhirnya menjawab.
"Aku juga sayang sama kamu, mas."
"I love you Ella..." Ardi mendaratkan ciuman ringannya di puncak kening Ella dengan lembut.
"I love you too mas Ardi." Ella menjawab sambil tersenyum manis.
Kemudian keduanya bertukar pandangan dan senyuman sebelum akhirnya saling melepaskan pelukan mereka. Saling menata dan mengatur debaran di dada untuk sedikit mereda.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, membuat keduanya terlonjak kaget seketika. Aaaaaarrhh siapa coba yang gangguin di saat-saat kayak gini? Ardi mengumpat frustasi dalam hatinya.
"Akhirnya saya menemukan bapak, semuanya sudah nyariin untuk acara penutupan," ujar Bambang tanpa dosa sambil memunculkan kepalanya dari pintu.
"Ok," Ella buru-buru menjauhkan tubuhnya dari Ardi dan berlari keluar ruangan menghampiri Bambang.
Ardi berjalan perlahan sambil menata napasnya yang belum teratur.
"Mbang..." ujarnya saat melewati Bambang.
"Iya pak?"
"Fvck You!"
Ardi berlalu begitu saja mendahului Bambang yang kebingungan. Salah apa lagi coba?
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼