
Masalah dengan Gengen ternyata semakin memanas. As expected dari Gengen yang juga seorang sultan, dia tak segan untuk balik melakukan perlawanan. Duit ada bos!
Sebagai contoh Gengen ingin memblow up kasus dengan membayar awak media untuk menerbitkan di berbagai media. Membuat Bambang harus bekerja ekstra keras untuk mengawasi pergerakan media. Mengontrol apa saja yang bisa dan tidak bisa mereka tulis disana.
Kresna juga jadi mendapat tambahan tugas untuk mengawasi peredaran informasi di dunia Maya. Menghapus, memblokir bahkan mem-banned situs-situs, artikel atau halaman apapun yang sekiranya membahas tentang Ardi Pradana.
Capek, lelah, penat dan galau. Semua perasaan sumpek itu bergabung menjadi satu memenuhi kepala Ardi. Lebih galau lagi saat memikirkan dirinya yang akan menikah dalam hitungan hari.
Persiapkan pernikahan yang heboh dan rempong bener-benar memberikan tekanan tersendiri. Padahal segala persiapan sudah dilakukan oleh E.O profesional yang sudah dipesan oleh keluarganya.
Ardi semakin galau lagi saat memikirkan Ella. Bagaimana reaksi tunangannya itu nanti kalau mengetahui kasus Gengen jadi serumit ini? Mungkin seharusnya Ardi menuruti apa kata Ella untuk membiarkan saja kasus ini. Jangan membuat masalah berarti mengingat hari pernikahan mereka yang sudah dekat.
Entah bagaimana reaksi Ella nanti kalau tahu kemungkinan acara penikahan mereka terpaksa harus ditunda. Kalau tahu Ardi bahkan sampai dapat surat panggilan dari kepolisian. Panggilan untuk interogasi atas dugaan penganiayaan. Lebih jauh lagi mungkin Ardi akan dipenjara kalau nantinya terbukti menjadi tersangka.
'Masa aku mau nikah di penjara? Gila aja!'
'Terus gak bisa honeymoon donk?'
'Gak jadi belah duren juga?'
'Aaaaarrrghhh FVCK YOU Gengen!'
Dan seolah kegalauan Ardi belum cukup, perasaan kacaunya malah ditambahin dengan rasa rindu yang amat sangat pada Ella. Mama Kartika seakan bisa membaca pikiran Ardi yang sudah kebelet kawen. Beliau sudah mewanti-wanti agar Ardi dan Ella tidak boleh ketemuan. Bahaya katanya, banyak setan...
'Padahal udah hampir kebablasan ma, untung ada setan...Bambang.'
Setelah acara pertunangan lima hari yang lalu, mereka berdua sama sekali tidak boleh bertemu kecuali untuk hal-hal yang memang harus. Misalnya untuk urusan fitting baju pernikahan, atau pemotretan untuk foto prewedding mereka.
Tapi hari ini entah mengapa sudah tak tertahankan lagi rasanya bagi Ardi. Kangen.
Dan begitu sadar Ardi sudah kabur kari kantornya, tanpa pamit. Kabur begitu saja melajukan mobilnya. Kemana? Tentu saja ke arah Ella berada. RS.Hartanto Medika.
Ngapain? Cuma pengen nge-charge sebentar, peluk-peluk tubuh Ella. Udah gitu doank... Kalau dapet lebih boleh juga sih...
Begitu sampai di depan ruangan poli penyakit dalam Ardi mengetuk pintunya. Kemudian Ella membukakan pintu untuknya dengan pandangan sangat keheranan. Jam pelayanan memang sudah selesai, jadi tinggal Ella sendirian di ruang itu.
'Ngapain ini orang kesini? Bukannya lagi dipingit?'
Ella sudah hendak memprotes dan memarahi Ardi yang muncul tiba-tiba ini. Kok bisa-bisanya gak nurut sama perkataan mamanya sendiri?...
Tapi niat itu diurungkannya saat melihat wajah Ardi yang terlihat sangat muram. Auranya gelap banget kayak langit yang tertutup mendung. Wajah Ardi juga sedikit pucat dan letih juga, seperti kurang tidur dan kebanyakan lembur. Banyak pikiran kayaknya.
"Mas Ardi? Masuk yuk." Ella akhirnya mengalah, mempersilahkan Ardi untuk masuk ke ruangan. Ella mendahului berjalan kembali ke arah meja kerjanya.
Begitu masuk ke dalam ruangan, Ardi buru-buru menutup pintu ruangan rapat-rapat. Kemudian Ardi mengikuti langkah Ella. Meraih tubuh gadis itu dan memeluk tubuhnya dari arah belakang.
Erat, Ardi memeluk tubuh Ella dengan sangat erat. Meletakkan kepalanya di sebelah bahu gadis itu. Seakan ingin meletakkan beban pikiran berat yang sedang membebani kepalanya untuk sejenak disana.
Ardi mencium wangi rambut Ella yang beraroma cytrus. Menyegarkan. Mencium pula bagian leher Ella yang menyuguhkan aroma tubuh Ella yang menurutnya sangat wangi. Wangi parfume yang beraroma bunga lembut berpadu dengan aroma keringat Ella. Memabukkan.
'Kamu sudah seharian beraktivitas kok masih sewangi ini sih El? Jadi ketagihan kan...'
"Mas?...Mas Ardi?..." Ella bertanya. Kaget dan malu sekaligus dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan Ardi padanya.
"Sebentar...Sebentar saja..." pinta Ardi.
"Mas...Aku keringetan lho...Badanku pasti bau." Ella sudah panik dan malu dengan tindakan terlalu intim Ardi. Pria itu bahkan terang-terangan menciumi rambut dan lehernya, aroma tubuhnya.
"Wangi...Kamu wangi banget kok."
"Mas Ardi ngapain si?" Ella berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Ardi. Tapi tentu saja tidak bisa karena Ardi mendekapnya dengan sangat erat.
"Charging." Jawab Ardi sambil meneruskan aksinya memeluk dan menikmati wangi tubuh calon istrinya itu. Rasanya gak bisa berhenti...
"Charging apaan? Emangnya mas Ardi ini ponsel?" Ella tertawa ringan mendengar jawaban Ardi.
"My battery is low..."
Ella menghentikan perlawanannya. Membiarkan saja Ardi melakukan apa yang diinginkannya selama masih dalam tahap wajar. Mungkin pria itu memang sedang lelah dan butuh tempat untuk melampiaskan segala stressnya. Stress release. Dan mungkin bagi Ardi Ella adalah pereda stress paling ampuhnya.
"Udahan yuk. Takut ada orang yang ngelihat." Ella memberikan usapan lembut kepada lengan Ardi setelah cukup lama mereka berpelukan. Masa belum puas aja si? Dan pria itupun menurut untuk mengendorkan pelukannya. Melepaskan tubuh Ella.
Ella segera memanfaatkan kesempatan untuk menjauh dari Ardi. Mengambil duduk di kursinya dan mencari kesibukan mengentry kartu statusnya ke sistem pencatatan online rumah sakit. Berusaha meredakan debaran di dada yang mau tak mau tersulut karena tingkah Ardi tadi.
__ADS_1
Ardi mengikuti langkah Ella dan mengambil duduk di kursi pasien tepat di hadapannya. Diamatinya Ella sejenak sebelum akhirnya pria itu meletakkan kedua lengannya di meja. Menjadikan kedua lengan itu sebagai bantalan untuk meletakkan kepalanya. Kemudian memejamkan matanya.
Ella keheranan dengan tingkah janggal Ardi hari ini. Kenapa dia? Apa dia sakit? Kok aneh begini? Karena saking keponya Ella menghentikan kegiatannya sejenak untuk mengamati Ardi. Diulurkan sebelah tangannya untuk menyentuk dahi Ardi. Berusaha mengecek suhu tubuh tunangannya itu. Agak panas, tapi masih batas normal...
"Mas Ardi kenapa?" tanya Ella khawatir.
"Gak pa-pa..." jawab Ardi.
Ella mendengus mendengarnya. Pasti ada apa-apa kan kalau dia seaneh ini? Ardi Pradana yang biasanya selalu terlihat gagah, kokoh tak bercela, tahu-tahu jadi terlihat serapuh ini?...
Ella meneruskan pekerjaannya berkutat dengan layar komputer dan keyboardnya, dan membiarkan Ardi tiduran sejenak. Emang bisa ya tidur sambil duduk begitu? Tapi kayaknya calon suaminya itu entah saking lelahnya atau memang saking muka bantalnya bisa tidur dengan posisi begitu.
"Mas?...Mas Ardi?" Ella kembali menyapa Ardi setelah beberapa waktu dan menyelesaikan tugasnya mengentry data.
Perlahan Ardi membuka matanya, menggosok kelopak matanya perlahan untuk mengembalikan kesadarannya... " Sorry, aku ketiduran."
"Mas Ardi kenapa? Tumben mampir kesini?" Ella bertanya khawatir.
"Ehmm...Something happened." Ardi menjawab dengan sedikit ragu. Kasih tahu gak ya? Ntar Ella ikutan galau dan khawatir kalau tahu?
"What happened?"
"Aku...aku dapat panggilan interogasi dari polisi..."
"Whaaaat?" Ella benar-benar kaget mendengarnya.
"Pengacara Gengen datang bersama polisi membawa surat panggilan itu. Atas tuduhan tindak kekerasan dan penganiayaan yang aku lakukan pada Gengen." Ardi menjawab dengan nada tak berdaya.
"Astagaaa...Makanya kan udah aku bilang jangan diperpanjang lagi masalahnya. Mas Ardi malah ngeyel. Kalau udah kayak gini gimana coba?" Ella tak dapat mengerem omelannya. Gemes karena Ardi tak mau menuruti permintaannya untuk bersabar. Padahal kan pernikahan mereka sudah dekat...
"Masih proses interogasi kok..."
"Kalau terbukti?"
"Hmmm... Jelek-jeleknya pernikahan kita akan ditunda. Atau lebih absurd lagi kita akad menikah di penjara, gimana?"
"Mas Ardi ini mikir apaan si?" Ella tak suka dengan ucapan Ardi, meski hanya untuk bercanda tapi sama sekali tidak lucu. Masalah sudah segawat ini.
"Gak tahu! Aku gak bisa mikir lagi! Pusing banget!"
"Kalau aku dipenjara gimana, El?" Ardi tidak menjawab pertanyaan Ella, malah balik bertanya dengan nada memelas. Like a puppy...
"Aduh apaan si! Mas Ardi ini mikir apa coba? Biasanya kan mas Ardi bisa ngurus masalah beginian dengan kepala dingin. Kok sekarang jadi kayak gini?" Ella gemes lama-lama melihat sifat Ardi yang sama sekali gak setegas biasanya.
"Aku takut kita batal nikah..." Ardi mengutarakan ketakutan terbesarnya.
"Ya makanya. Usaha yang bener donk. Jangan malah pasrah. Gila aja masak kita akad nikah di sel tahanan." Ella ngeri membayangkannya.
"Kalau misalnya...kalau misalnya aku dipenjara kamu masih mau sama aku kan, El?"
"Ogah!" Ella menjawab tegas.
"Aduh jahadnya...Katanya kemarin cinta, katanya kemarin mau nerima apa adanya?" Ardi merengek menagih janji Ella waktu pertunangan mereka.
"Tapi bukan nerima narapidana juga kali! Bukan buat nikah di penjara juga!" Ella makin sewot menjawab.
"Duh nasib... Aku kesini niatnya mau disayang-sayang malah dapat omelan."
"Abisnya...Abisnya mas Ardi kayak gak ada semangat melawan gitu. Yang fight donk. Perjuangkan jangan sampai kalah. Jangan sampai jadi tersangka. Jangan sampai masuk penjara." Ella melanjutkan omelannya.
"Iya udah dilakuin semuanya sesuai prosedur. Aku dan timku udah beberapa hari gak tidur ngurusin Masalah ini. Pusing banget asli..."
Ella terdiam kali ini, memang sudah pasti Ardi tak akan pasrah dan tinggal diam begitu saja menghadapi masalah ini. Ardi memiliki tim yang solid dan profesional yang pasti dapat diandalkan dalam kondisi seperti ini.
Mungkin masalahnya cuma pada waktu yang tidak tepat. Kalau saja kasus ini terjadi tidak mendekati hari pernikahan mereka mungkin Ardi tidak akan sekalut ini pikirannya. Kepikiran acara pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
Undangan sudah dicetak, undangan non formal kepada kerabat jauh juga sudah mulai diberitakan. Gedung, catering, dekor dan segalanya sudah dipersiapkan E.O untuk hari yang ditentukan. Tentu semuanya memberikan tekanan besar tersendiri bagi Ardi. Membuatnya yang biasanya cerdas menjadi seabsurd ini.
"Good job deh kalau gitu. Mas Ardi harus tetep tenang biar gak melakukan kesalahan."
"Iya...kamu, kamu masih percaya kan sama aku?"
"Iya. Aku percaya kok mas. Aku percaya kita pasti akan menikah." Ella tersenyum menenangkan. Dan Ardi langsung sumringah mendengarnya.
__ADS_1
"Tapi gak tahu kapan nikahnya..."
"Lho, kok gitu El?..."
"Aku gak mau nikah di penjara."
"Empat puluh hari lagi, Kita nikah!"
"Iya...iya..." Ella Sudah cekikikan dalam hati. Entah mengapa rasanya lucu aja melihat Ardi yang setidak berdaya ini. Jauh berbeda dari sosoknya yang biasanya overpower.
Pembicaraan mereka terhenti karena ada ketukan di pintu ruangan. Ella mempersilahkan tamunya untuk masuk. Dan ternyata Sari yang masuk masuk ke dalam ruangan, keheranan melihat Ardi ada di ruangan Ella.
"Lho mas Ardi? Ngapain disini? Bukannya lagi dipingit ya?" tanya Sari menyelidik.
"Kebetulan lewat," jawab Ardi sekenanya.
"Gimana, Sar? Ada vaksin-nya?" Ella mengalihkan pembicaraan. Sekalian kepo juga apakah Sari berhasil mendapatkan suntikan Tetanus untuknya.
"Dapet donk. Ini jadi suntik sekarang? Mau disini atau dimana? Aku yang nyuntik?" Sari menanyai Ella.
"Iya sekarang aja. Ngapain ditunda-tunda. Toh nantinya juga bakal disuntik." Ella memutuskan. "Minta tolong kamu aja yang suntik ya, Sar."
"Ok deh kalau gitu." Sari mendekat pada Ella dan meletakkan peralatan suntikan Tetanus di meja.
Mata Ardi langsung melebar demi melihat benda-benda berbahaya itu. Mau ngapain mereka? "Kamu mau ngapain? Ella sakit? Kok pakek disuntik segala?" Ardi bertanya dengan sedikit panik dan khawatir akan keadaan Ella.
"Vaksin Tetanus, imunisasi. Kan syarat nikah dari KUA harus sudah di divaksin." Sari menjelaskan dengan sabar. Gimana si mas Ardi, dia yang mau nikah malah gak tahu syarat-syaratnya?
"Sakit gak tu?" Ardi semakin ngeri saat Sari mulai mengeluarkan alat suntik itu, memasukkan vaksin ke dalamnya dan menyentil ringan untuk menghilangkan gelembung udara di dalam cairan yang akan disuntikkan.
"Kalau gak pakek suntik gak bisa ya?" Ardi semakin panik saat Ella menggulung lengan bajunya.
"Ya gak bisa lah, kan abis ini Ella bakalan dimasuki benda tumpul. Takutnya kena tetanus." Sari menjelaskan sambil bersiap menyuntik.
'Benda tumpul? Apaan?' untuk sesaat otak Ardi loading memikirkan ucapan Sari.
Sementara Sari sudah cekikikan dan Ella hanya mendengus pasrah.
"Kalau sakit bilang ya, honey." Ardi menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Tapi sedetik kemudian membuka jemarinya agar masih bisa untuk mengintip dari celah-celahnya.
"Duh berisik! Kalau gak berani liat pergi sana!" Ella gemes, mengusir Ardi dari ruangan biar gak menggangu aja.
Sementara Sari semakin cekikikan melihat tingkah keduanya, menggemaskan.
Ardi diam saja tanpa membalas, juga tak mau beranjak dari duduknya. Terombang-ambing antara takut liat jarum suntik, tak tega melihat Ella disuntik, tapi juga penasaran ingin melihat proses imunisasi.
"Nah beres." Sari meletakkan alat suntiknya setelah selesai proses imunisasi.
"Makasih banyak ya, Sar." Ujar Ella.
"Lho mas Ardi kenapa?" Sari bertanya keheranan saat melihat Ardi yang diam saja.
Wajah Ardi terlihat sangat pucat dengan mata melotot, dan banyak keringat sebesar biji jagung di keningnya. Seperti nyaris pingsan. Yaelah masa calon istrinya yang disuntik, malah dianya yang mau pingsan.
"Mas? Mas Ardi?" Ella bertanya khawatir.
"Kamu, kamu gak papa kan honey?" tanya Ardi sesaat kemudian setelah sedikit tenang.
"Kamu yang apa-apa, mas." Jawab Sari langsung tertawa ngakak melihatnya.
Ella pun jadi ikutan tertawa gemas melihat reaksi panik dan ketakutan calon suaminya itu. Asli lucu dan gemesin banget deh.
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
*Suntik Tetanus atau tetanus toksoid adalah memasukkan bakteri ke dalam tubuh yang berfungsi untuk mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan oleh tetanus. Hal ini dianjurkan kepada setiap calon pengantin wanita.
*Bagi wanita yang akan merencanakan kehamilan dianjurkan agar melakukan suntik tetanus toksoid yang bermanfaat meningkatkan antibodi.
*Bagi calon pengantin wanita dianjurkan melakukan suntik Tetanus sampai 2 bulan sebelum menikah.
*Dan dimana bisa melakukan penyuntikan Tetanus? Bisa dilakukann di puskesmas terdekat atau klinik-klinik swasta laninnya.
__ADS_1
🌼Yuuuuks say PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼