
Akhirnya hari yang dinanti telah tiba, hari yang telah dihitung dengan sangat cermat oleh guru spiritual mama Kartika. Bahkan pawang hujan profesional pun tak ketinggalan untuk memainkan perannya. Mengalihkan kumpulan awan yang berada di sekitar lokasi resepsi pernikahan ke tempat lainnya, katanya si begitu. Untuk memastikan suasana hari ini cerah ceria tanpa guyuran hujan.
Hari ini adalah hari baik yang telah ditentukan dan didoakan sebagai hari berlangsungnya pernikahan Ardi dan Ella. Pernikahan putra pertama keluarga Pradana, sang pewaris Pradana Group dengan wanita pujaan hatinya setelah sekian lama menanti dan menunggu.
Setelah melewati begitu banyak rintangan dan ujian yang menghadang cinta mereka. Akhirnya kedua insan itu akan bersatu hari ini. Dalam ikatan suci yang disebut dengan pernikahan.
Mulai pagi hari, bahkan saat matahari belum terbit, keadaan kediaman Pradana sudah heboh layaknya kapal pecah. Memang acara akad nikah beserta resepsinya tidak dilaksanakan di rumah melainkan di sebuah hotel bintang lima. Bahkan untuk kelancaran acara ini sudah memakai jasa E.O profesional kenamaan. Tapi tetap saja sebagi orang Jawa, mau tak mau suasana rumah tetap ribet. Terlalu banyak aturan dan ritual aneh yang masih harus dilakukan dan disiapkan di rumah.
Seakan menambah kehebohan yang ada, para keluarga, sanak saudara, tamu dan undangan yang berasal dari dalam kota malah datang ke kediaman Pradana. Ngapain coba? Bikin ruwet saja.
Seharusnya kan mereka bisa langsung saja ke hotel. Melakukan persiapan disana seperti berganti outfit dengan seragam untuk keluarga yang telah disiapkan atau berdandan dengan MUA yang telah ready disana.
Untuk acara pernikahan Ardi Pradana ini memang persiapan yang dilakukan tidak tanggung-tanggung. Yah meskipun bisa dibilang mepet dan dadakan tetapi segalanya berjalan lancar dan terkendali. Tentu saja karena uang memegang kendali sehingga bisa langsung 'Sim Salabim'.
Galbadia Hotel, tempat dilaksanakan acara telah dibooking seluruhnya selama empat hari berturut-turut oleh keluarga Pradana. Untuk menyediakan akomodasi bagi siapa saja tamu mereka yang ingin menginap disana.
Sesuai rundown acara yang diberikan Hawa sang petugas E.O, acara akad nikah akan dilaksanakan nanti sore di Galbadia Garden hotel back yard. Dengan konsep Garden party dan undangan terbatas. Hanya untuk keluarga, kerabat dan sahabat dekat saja untuk menciptakan suasana yang lebih sakral.
Kemudian selanjutnya Resepsi tahap pertama akan dilakukan di ballroom hotel malam harinya. Untuk hari ini tamu yang diundang khusus golongan tamu VIP para sultan, pejabat, artis dan tokoh kenamaan lainnya. Sementara undangan lain yang lebih luas akan dijamu dalam resepsi di hari kedua besok.
"Nggar, kamu sudah kasih kabar kan sama calon mertuamu? Mereka bisa datang kan nanti?" Kartika memastikan calon besannya dapat hadir hari ini.
"Sudah ma, undangan resmi juga kan sudah dikasihkan jauh-jauh hari sama Ditha." Jawab Linggar meyakinkan mamanya biar gak heboh.
"Mereka bisa datang kan?" Kartika kembali bertanya.
"Bisa kayaknya. Bahkan mereka sudah ada di kediaman Sampoerna yang di Surabaya sejak beberapa hari yang lalu. Mas Budi, Mas Wira dan Mbak Rena juga sudah hadir juga." Linggar menjelaskan lebih detail lagi.
"Bagus lah kalau begitu." Kartika tersenyum puas mendengarnya.
"Oiya nanti kamu, Mahes dan para pria berangkat bareng Ardi jam satuan ya. Bantuin mas mu persiapan dan pengambilan foto serta Vidio di groom's room. Mama, Laras dan para wanita berangkat duluan abis ini buat dandan disana."
"Ok, ma." Linggar menyanggupi.
Kemudian Kartika berlalu dari Linggar, menghampiri Laras dan berbicara dengannya. Keduanya nyonya rempong itu kemudian terlihat sibuk berkoordinasi dengan Hawa, sang pegawai E.O yang bertanggung jawab dalam event kali ini. Yah urusan emak-emak ruwet, yang sabar aja ya mbak Hawa hehe.
Linggar melanjutkan langkahnya ke arah ruang tengah, menyapa beberapa keluarga dan kerabat yang datang berkumpul disana. Orang-orang kolot yang menolak untuk langsung datang ke hotel dan memaksa berkumpul dulu disini, sebelum nanti beriringan berangkat bareng ke hotel.
"Katanya kamu juga sudah tunangan ya, Nggar?" Tanya salah seorang tente dari pihak keluarga mama Kartika pada Linggar.
"Sama putrinya Sampoerna Group lagi." Tambah Tante lain dengan bersemangat.
"Pertunangan resminya belum kok, ditunda dulu karena fokus ke acaranya mas Ardi." jawab Linggar.
"Owalah, iya santai saja. Kamu juga masih muda." Celetuk Tante yang lainnya ikut nimbrung.
"Terus ini kemana mantennya? Ardi mana? Kok dari tadi gak kelihatan?" Kali ini salah satu Om bertanya.
"Lho iya ya? Daritadi gak keliahatan batang hidungnya si mas Ardi." Linggar baru sadar kalau tidak melihat Ardi dari tadi pagi bahkan sampai siang bolong begini.
"Sebentar saya cari dulu mas Ardi-nya. Permisi..." Linggar pamit undur diri untuk mencari kakaknya itu.
__ADS_1
Linggar mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tengah, tidak ada. Beralih ke ruang tamu, tidak ada juga. Sampai akhirnya Linggar ke bagian ruang makan dan jamuan pun Ardi tidak nampak disana.
"Mas Mahes, lihat Mas Ardi gak?" Linggar bertanya pada Mahes yang sedang menggendong Rangga dan beramah-tamah dengan beberapa tamu.
"Gak liat tu daritadi." Jawab Mahes ikut celingukan mencari sosok Ardi.
"Kemana ya?" tanya Linggar kebingungan.
"Kamu sudah cari di atas? Di kamarnya?" Mahes menebak-nebak. Memberi solusi tempat Ardi kira-kira berada.
"Don't tell me..." Linggar langsung bergegas berlari ke lantai dua, menuju kamar Ardi.
'Masa iya si tukang molor itu ketiduran di hari pernikahannya sendiri? Dasar Geblek!'
Begitu sampai di lantai dua, Linggar langsung memasuki kamar Ardi yang tertutup rapat tapi tidak dikunci. Dan didapatinya disana kakaknya itu malah sedang tidur dengan lelapnya seperti beruang kutub yang sedang hibernasi. Dengan bad cover tebal yang menyelimuti tubuhnya, pules banget sepertinya.
"Yaelah mas, bangun hoiii!" Linggar menepuk keras bahu kakaknya itu untuk membangunkannya. Membuat Ardi terlonjak kaget dan terbangun dari tidurnya seketika.
"Hmmm nanti dulu, lima menit lagi..." ujar Ardi mengerang sambil tetap merem rapet matanya.
"Mas? Kamu mau batal nikah? Hari ini kamu nikah lo!" Linggar mengingatkan Ardi.
"Nikah?" Ardi langsung membuka lebar matanya seketika. "Hari ini?"
"Iya kamu nikah di penjara hari ini hahaha."
"Gak bakalan!" Ardi beralih dari posisi rebahan ke posisi duduk. Bengong sebentar mengembalikan nyawa dan kesadarannya.
"Jam berapa ini, Nggar?" lanjutnya bertanya.
"Astagaaaa..." Ardi bergegas bangkit dari kasurnya.
"Buruan cepet mandi. Makan dan temuin tamu. Lalu kita berangkat ke hotel buat persiapan." Linggar mengingatkan rundown acara yang harus dilakukan.
"Ok."
Ardi menurut saja berjalan dengan langkah gontai ke arah kamar mandi dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
Selanjutnya Ardi menyiram tubuhnya dengan air shower yang dingin untuk mengembalikan sebagian besar kesadarannya. Cukup lama Ardi menghabiskan waktu kali ini untuk menyelesaikan ritual mandinya. Biar bersih dan wangi donk kan mau jadi groom, tokoh utama hari ini.
'Finally the day has come...my wedding day.'
(*Akhirnya hari ini telah tiba...hari pernikahanku).
Ardi mengutuk kebodohannya sendiri, bisa-bisanya coba ketiduran di hari sepenting ini. Kalau tadi Linggar tidak mencari dan membangunkannya, mungkin dirinya akan terus ketiduran. Kebablasan sampai acara dimulai mungkin. Dan gak jadi nikah akhirnya gara-gara mempelai pria ketiduran?
'Aaaaarrrghhh gilaaa!'
Pasti karena kemarin malam Ardi gak bisa tidur, galau kebanyakan pikiran. Mikirin hal-hal gak penting seputar pernikahannya hari ini. Gara-gara Mahes nakutin kalau salah sebut nama calon mempelai, calon ayah mertua sampai mahar harus mengulang lagi pengucapan akad.
Mahes juga mengancam bahwa dia dan para rekan sultan lainnya akan dengan lantang menyuarakan 'Tidak Sah' kalau Ardi sedikit saja melakukan kesalahan. Teman macam apa coba mereka ini.
__ADS_1
Tentunya akan sangat memalukan, jangan sampai kejadian. Seorang Lazuardi Pradana, sang CEO dari grup raksasa Pradana gagal dalam mengucapkan ikrar akad nikahnya. Mau ditaruh dimana mukanya coba? Pasti bakal menjadi cemooh sepanjang masa bagi grup young bisnisman.
Akhirnya, karena tak ingin hal itu terjadi Ardi berlatih sampai fasih untuk mengucapkan kata-kata itu. Semalaman Ardi berlatih untuk bisa mengucapkannya dengan mantap.
'Amellia Rieka Safitri binti Wibowo Wiratmoko dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan...'
Rasanya sungguh tak masuk akal, mengapa untuk menghafalkan beberapa kalimat pendek begitu saja sangat sulit baginya. Padahal Ardi sudah terbiasa tampil untuk berprestasi dan berpidato di hadapan banyak orang, bahkan dihadapan para pemegang saham. Ardi yang bahkan bisa menghapal naskah dan mengambil garis besarnya sehingga bisa dapat lancar dalam berbicara disetiap pidatonya.
Tapi kali ini beda, kali ini segala yang akan diucapkannya akan mempengaruhi kehidupannya. Mengawali lembaran baru kehidupannya untuk membangun sebuah rumah tangga. Menciptakan sebuah keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah seperti yang diidamkan setiap insan.
Kalimat yang diucapkannya tidak hanya akan didengarkan oleh manusia. Tetapi juga akan didengarkan juga oleh para malaikat dan Tuhan semesta alam. Yang akan diamini dan didoakan oleh segenap keluarga dan kerabat serta malaikat yang turut menjadi saksi. Janji suci dan ikrar sehidup semati yang akan diucapkannya untuk mempersunting Ella, pujaan hatinya.
~∆∆∆~
Sementara itu di waktu yang sama, kehebohan serupa juga terjadi di kediaman keluarga Ella. Mulai kemarin para sanak saudara sudah berdatangan dan bahkan menginap disana. Sejak pagi bahkan sudah ribut dan ribet saking bersemangatnya untuk menghadiri acara pernikahan Ella nanti sore.
Sebagian ingin turut menjadi saksi dan ikut mendoakan kebahagiaan Ella yang akan menempuh hidup barunya. Sebagian lainnya tak dapat dipungkiri karena saking penasarannya, bagaimana prosesi pernikahan ala sultan yang bahkan akan dilangsungkan di hotel bintang lima itu.
Bagi sebagian besar keluarga Ella yang merupakan rakyat jelata, dapat hadir dan mengikuti acara di sebuah hotel bintang lima memang suatu kesempatan langka. Bahkan bisa dibilang mungkin ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Yah Ella hanya bisa berdoa semoga saja keluarganya tidak terlalu norak dan memalukan dalam acara nantinya.
"El, itu ada beberapa orang kiriman keluarga Pradana katanya mau Timung kamu." Lilik menghampiri Ella di kamarnya pagi itu.
"Timung apaan ma?" Tanya Ella keheranan.
"Katanya si paket perawatan sebelum nikah. Biar wangi nanti waktu malam pertama hehe." Lilik menjawab dengan menggoda putrinya itu.
"Yaudah deh suruh masuk ke kamar." Ella pasrah saja akhirnya. Dan tak lama kemudian dua orang pegawai salon kecantikan menghampirinya.
Apa lagi coba? Kok perasaan ribet dan banyak banget ritual sebelum menikah untuk keluarga sultan ini. Buat jadi istrinya seorang Lazuardi Pradana saja harus persiapan segitunya. Sementara di lain pihak Apa saja yang dilakukan Ardi untuk persiapan menjadi suami?... (Andai Ella tahu kalau Ardi malah ngorok sampai siang).
Jadi yang dimaksud Batimung Spa adalah perawatan pengantin wanita khas Kalimantan Selatan. Cita rasa nusantara ini dikembangkan oleh para terapis di Gaya Spa & Wellness ke dalam rangkaian treatment. Spa khas Kalimantan Selatan ini menggunakan paduan berbagai rempah seperti kapulaga Jawa, temugiring, kayu manis, bunga sisir, jeruk purut, temulawak, dan rempah-rempah tradisional lainnya.
Dan diklaim dapat memelihara kesehatan dan menghilangkan bau keringat. Dalam perawatannya, spa Batimung akan mengalirkan uap panas ke tubuh yang bermanfaat membantu memperlancar aliran darah. Aroma harum dari rempah-rempah itu akan melekat dalam tubuh dan bertahan bahkan sampai beberapa hari kemudian.
Tepat tengah hari perawatan Timung Ella pun selesai. Asli jadi wangi banget tubuhnya, bahkan untuk bagian dalam pun tak ketinggalan. V spa dengan uap rempah-rempah, dijamin wangi katanya. Masa iya sih? Ah bodoh amat iyain aja wangi. Demi babang sultan tercintanya.
Selanjutnya tepat tengah hari Ella, Bowo dan Lilik dijemput oleh bagian penjemputan. Untuk dibawa ke hotel tempat diadakan acara dan di make up disana. Sementara untuk keluarga lainnya akan berangkat menyusul mendekati waktu pelaksanaan acara.
Sesampainya di Galbadia Hotel, Ella langsung dibawa ke brides's room sementara kedua orang tuanya dibawa keruangan lainnya yang terpisah.
Serangkaian acara pemotretan dan perekaman Vidio pun dilakukan untuk keperluan dokumentasi. Mulai dari saat Ella yang seolah melakukan persiapan dalam balutan bath robe. Sampai Ella menyentuh pakaian yang akan dikenakannya dalam akad nikah nanti seolah bersiap memakainya.
Selanjutnya sesi pemulasan make up dan hairdo yang memakan waktu sangat lama. Lebih lama lagi dengan selingan pemotretan dan pengambilan Vidio. Tetapi setelah melihat hasilnya, tak akan ada yang memprotes bahkan pasti akan melupakan lamanya waktu yang diperlukan. Wajah Ella seakan disulap dengan sapuan make up minimalis yang soft dan elegan. Cantik sempurna.
Busana pilihan Ella untuk pernikahannya kali ini adalah kebaya berwarna putih yang memanjang sampai ke mata kaki. Terbuat dari bahan bruklat berkualitas super dan dipadukan dengan payet-payet indah berwarna silver. Potongan model Krah Shanghai menambahkan kesan anggun dan elegan dari kebaya itu.
Untuk bagian bawah dipadukan dengan kain songket berwarna putih keperakan. High heels berwarna silver menjadi pilihan tepat untuk alas kakinya. Dan terakhir veil bruklat panjang juga ditambahkan diatas kepala Ella yang sudah tertata dan tersanggul rapi.
The beautifull brides is ready to waiting for her groom to take her up.
(* Mempelai wanita yang cantik sudah siap menanti mempelai pria untuk menjemputnya).
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Yuuuuks PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼