
Selepas acara makan malam dengan keluarga Pradana, Mahes dan Laras melanjutkan dengan sesi ramah tamah dan senda gurau dengan Erwin dan Kartika Pradana. Memang beberapa hari sekali mereka selalu menyempatkan untuk mampir ke kediaman ini. Sekedar untuk makan malam dan menginap. Kasian juga kesepian mereka berdua ditinggalin sama semua anaknya.
"Ini si Rangga makin berat aja ya?" Erwin berkomentar saat menggendong Rangga.
"Iya ya? Gendong bentar aja udah capek rasanya." Kartika menyetujui. "Kamu kasih makan apa aja dia, Ras? Kok bisa gembul gini?"
"Cuma ASI sama MPASI doank kok. Tapi ya gitu emang dia porsinya dobel kaya om Linggarnya." Laras menjelaskan.
"Ya gak pa-pa lah yang penting sehat," Mahes ikutan berkomentar. "Oiya Linggar gimana kabarnya, yang?"
"Linggar? Linggar kenapa?" Kartika langsung curiga sekaligus cemas akan keadaan putra bungsunya.
Laras langsung melotot pada Mahes. Duh ini orang, dibilangin jangan kasih tahu mama dan papa kalau Linggar kecelakaan malah keceplosan.
"Nggak pa-pa kok ma, maksud mas Mahes cuma nanyain Linggar udah pinter belum disana, ya kan sayang? Kan lagi magang dibawah arahan mas Ardi."
"Hehehe iya maksudnya kapan Linggar bisa cepet pulang kesini nemenin mama dan papa." Mahes menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gawat, nyaris aja keceplosan bilang soal Linggar. Tentu saja dirinya tahu soal Linggar dari Sari meskipun Ardi atau Bambang tak mau cerita.
"Gak usah buru-buru juga gak pa-pa. Biar pinter dulu dia, bisa kacau kalau belum pinter udah dipaksain jadi pimpinan enam perusahaan." Erwin berkomentar.
"Iya setuju. Ardi buru-buru banget si mau lepas posisi." Kartika ikutan cemas akan nasib anak-anaknya sekaligus nasib perusahaan.
"Mas Ardi juga udah terlalu banyak yang diurusin, kasian." Mahes membela Ardi. "Tapi pasti juga Linggar gak bakal dilepas begitu saja kok, pasti masih diawasi nanti sama mas Ardi."
"Udah mama sama papa gak usah banyak pikiran. Kalian menikmati masa tua saja. Biar para generasi muda saja yang bekerja. Yang muda yang berkarya kan motonya!" Laras memberi saran pada mama papanya yang langsung dibalas dengan tawaan persetujuan oleh semua yang hadir.
"Aku naik dulu, masih ada beberapa hal yang harus aku periksa. Permisi," Mahes pamit undur diri dari acara ramah tamah keluarga dan beranjak ke kamarnya di lantai dua.
Mahes mengambil tab dan ponselnya lalu duduk di sofa, memulai membaca satu persatu pesan di ponselnya. Membalas pesan-pesan yang sekiranya penting. Dan membiarkan yang tidak penting. Selanjutnya baru berkutat dengan pekerjaannya di tab. Kerjaan administrasi RS. Hartanto medika yang ada di wilayah timur di bawah pimpinannya.
Tak beberapa lama kemudian, Laras ikutan masuk ke dalam kamar. Menghampiri Mahes dengan gaya sedikit centil dan menggoda. Dengan semena-mena Laras mengambil duduk tepat di pangkuan Mahes.
"Sayang, aku udah mengungsikan Rangga bersama mama dan Nanny. Apa kamu gak pingin 'makan' sesuatu yang menyenangkan malam ini?" digerakkan jemari lentiknya untuk menyentuh wajah Mahes dan membelainya dengan lembut. Sangat sensual dan menggoda.
Sebagai pria normal mana mungkin Mahes tidak tergoda coba dengan kelakuan nakal istrinya itu.
"Kamu mau main-main ya malam ini? Siapa takut?" Mahes meletakkan tab-nya di sofa. Dirangkulnya tubuh Laras yang ada di pangkuannya. Didorongnya tubuh Laras semakin mendekat ke arah tubuhnya. Didekatkannya wajah istrinya itu semakin dekat pula ke wajahnya sendiri.
Wajah cantik itu semakin dekat saja dengan bibir ranumnya yang seolah memanggil-manggil untuk disantap. Walaupun mereka sudah menikah tetap saja kegiatan cumbu rayu seperti ini membuat Mahes bersemangat. Membangkitkan sesuatu yang tegak tapi bukan kebenaran dan menonjol tapi bukan bakat. Dengan debaran jantung yang semakin cepat dan suhu tubuhnya meningkat.
Kedua bibir mereka pun bertemu dan beradu, saling bertautan satu sama lain. Saling membalas dengan ciuman, lum*tan dan hisapan ringan yang memabukkan. Cukup lama keduanya bertukar saliva dalam kenikmatan gairah yang membara sampai membuat mereka kepanasan dan nyaris kehabisan napas. Keduanya pun mengakhiri sesi pemanasan mereka dengan gerakan halus dan perlahan.
"Aku...aku mandi dulu deh, sekalian nanti aku kasih kado kesukaan mas Mahes." Laras berbisik sambil memainkan jemarinya di telinga Mahes.
"Wah apaan tu?" Mahes semakin bersemangat dan penasaran dibuatnya.
"Hehehe ada aja..." Laras beranjak dari posisinya di pangkuan Mahes ke arah kamar mandi.
Mahes mendesah perlahan berusaha meredakan gejolak jiwa yang barusan melandanya. Berniat kembali mengambil tabnya untuk meneruskan pekerjaannya, tapi perhatiannya teralihkan oleh sebuah pesan dari Roni yang diterima di ponselnya. Kok tumben Roni kirim pesan?
Roni
__ADS_1
Mas, ada waktu? Aku ingin bicara sebentar.
Alih-alih membalas pesan itu, Mahes langsung menekan tombol call untuk menghubungi Roni. Sangat penasaran apa yang ingin dibicarakan adik kelasnya itu. Dari nadanya si serius banget.
"Ya, halo mas Mahes."
"Hei Ron? Apa kabar? Ada apa ni?"
"Mas Mahes, sebelumnya aku mau minta maaf dulu karena mencampuri masalah keluarga kalian..."
"Masalah keluarga?" Mahes semakin bingung tapi juga semakin penasaran dengan maksud Roni.
"Mengenai masalah Sari dan Jun, mas."
"Oh? Katakanlah..." Mahes berdiri dari sofanya berjalan ke balkon untuk mencari udara segar. Ingin sedikit menjernihkan otaknya yang sedikit error karena kejadian beberapa saat sebelumnya.
"Hubungan pertunangan mereka diujung tanduk, mas." Roni menceritakan semua yang diketahui olehnya tentang masalah Sari dan Jun pada Mahes.
"Fvck Off!" Mahes mengumpat marah saat Roni menyelesaikan ceritanya. Geram, marah, kecewa menjadi satu rasanya. Dipukulnya pagar balkon dengan salah satu kepalan tinjunya.
"Sari gimana sekarang?" Mahes bertanya khawatir tentang keadaan adik perempuannya.
"Hancur tentu saja...Dia nangis parah banget tadi." Roni terdengar sedikit bingung juga untuk menjabarkan keadaan Sari.
"Bedeb*h sialan itu! Aku telah salah menilainya..." Mahes menyesali kegagalannya dalam menilai karakter Jun. Dari awal memang dirinya sedikit tidak sreg dengan si Jun ini yang terkesan terlalu tertutup. Terlalu misterius dan susah dibaca jalan pikiran anak itu.
Mahes tak keberatan dengan hubungannya dengan Sari karena keduanya terlihat saling mencintai. Bahkan Jun juga mau berjuang untuk melanjutkan study menjadi dokter spesialis sebagai upaya memantaskan diri untuk Sari. Tapi sekarang apa yang terjadi? Berani-beraninya rakyat jelata seperti itu mencampakkan adiknya yang bagaikan putri?
Mahes menyesali kelalaiannya dan ketidak pekaannya untuk mendeteksi permasalahan Sari sebelum menjadi separah ini. Merasa gagal sebagai kakak laki-laki untuk melindungi adik perempuan kesayangannya. Kakak macam apa aku ini yang bahkan gak bisa menjaga adikku satu-satunya?
"Sebentar, sayang. Nanti aku akan menyusul..." Mahes menyadari Laras mencari dirinya. Laras yang sudah berdandan dengan lingerie s*xy berwarna merah menyala yang seakan menantang dirinya. Menantang untuk menerkam tubuh sintal bak foto model yang sengaja dipersembahkan untuk suami tercintanya, untuk dirinya.
"Ok, I'll wait you there..." Laras beralih dengan sedikit kecewa menyadari reaksi Mahes ketika melihatnya dengan lingerie barunya. Seperti tidak bernapsu saja suaminya itu, kemana perginya coba suaminya yang panas membara beberapa saat yang lalu? Akhirnya Laras memutuskan menunggu di ranjangnya saja.
"Sorry, ada gangguan. Gimana tadi?" Mahes mengembalikan fokus perhatiannya pada Roni.
"Hmmm jujur aku masih gak percaya kalau Jun berkhianat atau berselingkuh. Dari suratnya juga dia bilang masih mencintai Sari sampai kapan pun..."
"Tapi dia sudah keterlaluan!" Mahes tetap tidak bisa menerima perlakuan Jun pada Sari apapun alasannya. Terlalu mengerikan, licik, pengecut dan tidak manusiawi rasanya untuk mengakhiri suatu hubungan pertunangan seperti itu.
"Iya, mas. Aku setuju...Tapi tujuanku memberi tahukan masalah ini padamu adalah karena aku ingin minta bantuanmu. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang seperti kalian..." Roni mengutarakan maksudnya menghubungi Mahes.
"Kamu punya rencana?..."
"Mas, tolong suruh seseorang untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Jun disana. Tidak sulit kan bagi kalian untuk menyewa seorang stalker untuk melakukannya?" Roni tahu benar orang-orang sekelas sultan pasti sering berhubungan dengan para stalker dalam urusan pekerjaan mereka.
"Oh...bisa." Mahes menyetujui, asli gak kepikiran sebelumnya untuk memakai jasa stalker si. Kenapa gak dari dulu saja ya sebelum kejadiannya makin parah kayak gini?...Tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.
"Aku cuma ingin tahu dia ada dimana dan kenapa. Nanti selebihnya biar aku sendiri yang mendatangi dia. Atau mungkin juga aku akan bawa Sari kesana untuk menyelesaikan masalah mereka dengan baik-baik." Roni menjelaskan maksudnya.
"Benar, aku setuju. Memang itu adalah jalan yang terbaik." Mahes menyetujui usulan Roni.
__ADS_1
"Paling lama dua hari. Kamu akan kukabari lagi hasil yang kudapatkan." Lanjut Mahes menjanjikan hasil dari penyelidikannya soal Jun.
"Ok mas, Makasih ya. By the way jangan kasih tahu Sari dulu kalau mas Mahes sudah tahu masalah ini. Biarkan dia cerita sendiri kalau sudah siap. Karena sepertinya dia masih takut untuk memberitahukan masalahnya kepada keluarga kalian."
"I know...Thanx a lot ya Ron. Kamu udah ngasih tahu aku, kamu juga bersedia bantuin masalah Sari." Mahes menyetujui ucapan Roni. Dalam keadaan begini memang tidak memungkinkan untuk bertanya sebelum Sari sendiri yang bercerita.
"Iya sama-sama. Maaf ya mas gangguin ritual malamnya sama nyonya hehe."
"Walah asyem. Yuk dah aku mau nyamperin nyonya. Bye." Mahes mengakhiri panggilannya. Kemudian mengirimkan pesan pada sekretaris pribadinya untuk mengurusui masalah stalking Jun. Harus secepatnya bertindak, sudah sangat mendesak.
Mahes menutup pintu balkon dan berjalan perlahan menghampiri Laras yang tiduran di ranjang menantinya. Merasa bersalah juga membuat istrinya menunggu terlalu lama. Padahal mungkin Laras sudah menantikan malam ini, sampai mempersiapkan lingerie baru kayak gitu. Yah memang karena kesibukan Mahes dan karena mereka masih mempunyai anak yang masih bayi jadinya sulit untuk melakukan ibadah yang satu ini.
"Mas? Ada masalah? Siapa tadi yang telpon?" Laras menghampiri suaminya yang duduk di tepi ranjang.
"Biasa masalah kerjaan kok. Udah clear." Mahes berbohong kali ini. Merasa belum saatnya mengungkap apa yang terjadi sebelum hasil penyelidikan didapatkan ditangannya.
"Yakin?" Laras masih saja khawatir.
"Yang penting aku mau lanjutin menikmati istriku yang cantik ini..." Mahes langsung menarik Laras ke dalam pelukannya, memeluknya sangat erat untuk sebagian meredakan kegelisahannya.
Diciuminya leher tengkuk dan wajah cantik istrinya itu untuk menikmati aroma harum tubuh Laras yang baru selesai mandi. Tak perlu waktu lama untuk menyalakan enggine dalam tubuhnya agar segera memanas. Digendongnya tubuh Laras dan diletakkannya di tengah ranjang.
Mahes pun dengan sigap segera naik ke atas tubuh istrinya itu sambil melanjutkan cumbuannya. Laras seakan tak mau ketinggalan juga melepaskan kancing kemeja mahes satu persatu. Melucuti dan melepas kemeja suaminya sehingga menampakkan dadanya yang bidang. Mereka pun melanjutkan pergulatan dengan lebih panas membara.
"Laraaaaas! Laraaaas!" Sebuah suara teriakan Kartika dan ketukan dipintu tiba-tiba saja membuyarkan segala keindahan dalam pikiran Mahes dan Laras. Mengembalikan kesadaran mereka seketika ke alam dunia.
"Aaaaaaaarrrhh! Ada aja gangguan!" Mahes mengumpat frustasi dan menghentikan aksinya bercumbu. Bangkit dari ranjang dan memakai kembali kemejanya yang berserakan di lantai.
"Aduh mama ini gangguin aja," Laras ikutan mengumpat. Mengambil night robe untuk menutupi lingerie s*xy nya. Merapikan rambutnya yang berantakan sebelum beranjak membuka pintu kamarnya.
"Kayaknya masih kurang malam waktunya, yang. Para pengganggu masih pada idup...to be continoued ya." Mahes pasrah saja mengambil duduk di sofa sambil berusaha mengalihkan pikirannya yang lagi tinggi ke layar ponsel dan tab nya.
"Ya ma, ada apa?" ujar Laras sewot saat membuka pintu. Memasang tampang jutek terang-terangan.
"Ini lhoo si Rangga tadi bisa manggil nenek dan kakek. Pinter banget deh coba dengerin..." Kartika dengan tidak punya dosanya menyodorkan Rangga.
"Maa...ma...maaa." si gembul langsung kegirangan melihat mamanya dan meminta gendong.
Laras hanya bisa menjerit dan menangis dalam hati. Haduuuuh gak penting banget si ma? Masa gangguin saat-saat genting cuma karena alesan kayak gini?...
"Mana coba? Coba bilang sayang, Nenek...ne neeek." Laras mengambil Rangga ke gendongannya dan mencoba mengajari ngomong.
"Neee...neeek" Rangga akhirnya menyuarakannya.
"Nah kan? Duuuh gemes banget cucu mama yang ganteng udah pinter sekarang. Coba kalian bikin lagi yang banyak cucu-cucu yang lucunya kayak gini lagi." Kartika kembali berkomentar dan berlalu begitu saja dari sana setelah mencium gemas pipi Rangga.
Laras pun segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat agar tak ada gangguan lagi. Merasa frustasi dan tak berdaya juga dengan situasi diluar kendali.
''Bilangin mamamu, gimana bisa bikin kalau digangguin mulu..." Mahes menggerutu sebal dan Laras pun hanya sanggup tertawa garing menanggapinya.
Fix acara malam ini gagal total karena si Rangga juga telah dikembalikan kepada mereka. Yang artinya akan tidur di tengah ranjang mereka malam ini. Bahkan acara yang disusun Laras dengan rapi bisa berantakan. Benar-benar masalah keluarga.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼