Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
162. S2 - Innocent Girl


__ADS_3

"Aku anterin sampe rumahmu ya sudah malem ini," ujar Ardi saat mereka sudah melaju bersama di dalam mobil Porsche biru metalik milik Ardi.


"Ke RS.Hartanto Medika aja mas. Aku mau ambil mobilku disana." Ella menjawab, teringat akan nasib mobilnya di parkiran UGD rumah sakit.


"Ke rumahmu saja langsung, udah malam ini gak pantes nganterin anak gadis kalau gak dipulangkan ke rumahnya." Ardi menolak mentah-mentah.


"Aku udah biasa pulang malam kok kalau on duty di RSUD. Lagian besok aku berangkat kerjanya gimana hayo?" Ella ikutan tak mau kalah.


"Besok aku anterin deh ke RS. Hartanto Medika. Kamu masuk apa besok? Dapat sift apa?" Ardi menawarkan alternatif bantuan. Lumayan kan bisa ketemuan lagi sama Ella.


"Gak usah deh besok aku naik taxi saja." Ella yang menolak Ardi kali ini.


"Yaudah terserah kamu kalau gitu." Ardi pasrah saja. Tak ingin terlalu memaksa Ella.


Mereka berdua kemudian terdiam, entah mengapa masih terlalu canggung untuk sekedar bercakap-cakap. Karena mengingat hubungan mereka yang belum jelas dan tidak semestinya. Hanya alunan musik dari lagu bad liar by Imagine dragon saja yang mengalun meramaikan suasana. Band musik favorit Linggar.


But I'm a bad liar, bad liar


Now you know


Now you know


I'm a bad liar, bad liar


Now you know, you're free to go (go)


(*Tapi aku pembohong yang buruk,


pembohong yang buruk


Sekarang kamu tau


Sekarang kamu tau


Aku pembohong yang buruk,


pembohong yang buruk


Sekarang kamu tahu, kamu bebas pergi dariku.)


"Hahahaha pas banget...Bad liar...Jadi inget seseorang pembohong yang buruk." Ardi menyeletuk tiba-tiba.


"Jahat banget. Masa mas Ardi ngatain aku pembohong. Asli aku syok banget lho waktu itu." Ella menanggapi ucapan Ardi.


"Habisnya kamu gak mau jujur sih. Susah bener buat bilang kalau kamu kangen, kalau kamu masih cinta sama aku. Padahal aku udah terang-terangan bilang perasaanku padamu." Ardi mengingat-ingat kejadian di tangga darurat itu.


So look me in the eyes


Tell me what you see


Perfect paradise


Tearing at the seams


I wish I could escape


I don't wanna fake it


Wish I could erase it


Make your heart believe


(*Jadi lihatlah kedalam mataku


Katakan padaku apa yang kamu lihat


Surga yang sempurna


Terjalin di dalamnya

__ADS_1


Aku berharap aku bisa melarikan diri


Aku tidak ingin berpura-pura


Seandainya aku bisa menghapusnya


Membuat hatimu percaya padaku)


"Sebenarnya aku juga ingin membuatmu percaya akan perasaanku. Tapi entah mengapa aku berakhir dengan mengatakan kebohongan. I'm a bad liar."


"Kamu gak cocok jadi pembohong, kamu cocoknya jadi gadis yang baik. Be a good girl. Be my innocent girl," Ardi mananggapi ucapan Ella.


(*jadilah gadis yang baik. Jadilah gadisku yang jujur)


Dan Ella mengangguk sebagai jawaban. Bertekad dalam hatinya untuk kembali menjadi gadis yang jujur. Jujur pada perasaannya sendiri.


"Oiya Linggar gimana kabarnya? Udah dipulangin dengan selamat kan tadi?" Ella bertanya setelah beberapa saat kemudian.


"Iya udah aman di rumah. Ada Inem dan Bambang juga kok yang jagain dia sekarang. Dia nitip salam buat kamu." Ardi menjelaskan keadaan Linggar.


"Salam? Salam apaan?"


"Salam fvck you hahaha"


"Hahahaha jadi penasaran pengen lihat ekspresi wajah dia waktu infuse-nya dilepasin perawat cowok kekar dan brewokan tadi." Ella tertawa ngakak bayangin wajah ngambek Linggar.


"Asli kamu jahil banget, El. Malang bener nasib Linggar hahahaha." Ardi ikutan tertawa ngakak juga membayangkan wajah kesal adiknya itu.


Tak beberapa lama kemudian mereka telah sampai di depan rumah Ella. Ardi memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah itu.


"Aku perlu turun menyapa orang tuamu?" tanya Ardi meminta ijin pada Ella.


"Gak usah deh, kayaknya belum waktunya."


"Aku ingin secepatnya menemui papamu, El."


"Haah? Untuk apa?"


Ella terdiam mendengar jawaban Ardi. Kaget juga bahwa Ardi yang sekarang jauh lebih dewasa dan serius pembawaannya. Ada rasa bahagia tak terkira yang tiba-tiba membuncah di dada Ella demi mendengar ucapan Ardi itu.


"Kok buru-buru banget?"


"Biar bisa secepatnya bawa kamu pulang, taroh kamarku, diliatin sepuasnya, dipegang-pegang, dicium-cium bahkan dikelonin setiap hari." Ardi menjawab santai.


"Iiiihhhh dasar ya, mas Ardi mesum banget!" wajah Ella terasa sangat panas mendengar jawaban Ardi. Malu mengetahui Ardi bahkan sudah berpikir yang terlalu jauh dan tidak-tidak begitu. Dasar lelaki!


"Lho kalau sudah sah kan gak pa-pa dikelonin?" Ardi makin menggoda Ella yang sudah memerah wajahnya, asli gemesin banget kalau malu begini.


"Kejauhan, mikirnya kejauhan..."


"Hahahha," Ardi tertawa makin gemas.


"Tapi aku serius, El. Aku gak mau kehilangan kamu lagi. Kali ini aku pasti akan melakukan apapun untuk dapetin kamu." Detik berikutnya nada bicara Ardi sudah berubah menjadi sangat serius dengan pandangannya yang tajam menatap Ella.


"Iya...iya aku percaya..." Ella memalingkan wajahnya dari pandangan Ardi. Mana tahan coba?


Untuk beberapa saat keduanya terdiam tanpa kata-kata di dalam mobil. Sampai akhirnya kesunyian dipecahkan oleh sebuah ketukan di kaca mobil. Di kaca mobil tepat di sebelah Ella.


"Ella! Sedang apa kamu? Ini sudah malam!" Seorang pria paruh baya mengetuk kaca dengan nada geram.


Seketika mata Ella terbelalak melihatnya, melihat siapa yang mengetuk kaca mobil di sebelahnya. Kaget, bingung dan tak tahu harus mengatakan apa. Aduh mati aku...Harus bilang apa coba? Harus beralasan apa kalau susah jelas-jelas ketahuan dan ketangkap basah begini?


"Pa...papa?" Ella bertanya setengah tidak percaya akan kehadiran papanya.


Ardi ikut terbelalak ngeri sebelum sanggup menguasai dirinya, mengatasi kekagetannya akan kehadiran papa Ella. Papa Ella yang notabene galak, malah memergoki mereka berduaan di mobil malam-malam begini. It's gonna be a real disaster.


(*ini akan menjadi bencana yang sesungguhnya).


Ardi buru-buru keluar dari mobilnya untuk menyapa dan bersalaman dengan papa Ella dengan sangat canggung. Yah lebih baik daripada tidak sama sekali kan?. "Se... selamat malam, Om."

__ADS_1


"Kamu?..." ujar papa Ella dengan nada kaget dan geram sekaligus melihat kehadiran Ardi di hadapannya. Kenapa anak ini ada disini? Kenapa dia bisa keluar berduaan dengan Ella?


"Iya saya Ardi, Om..." Ardi malah memperjelas identitasnya yang sudah sangat jelas bagi papa Ella. Duh ngapain kenalan lagi coba? Kan udah kenal? Ardi menyesali kebodohannya sendiri.


"Sampai kapan kamu mau di dalam mobil? Ayo masuk rumah, sudah malam!" Bowo tidak menanggapi perkenalan Ardi karena memang sudah kenal dan hafal dengan nama pria itu.


Beliau malah beralih ke Ella, membukakan pintu mobil untuk anak gadisnya itu dan menarik tubuh Ella untuk keluar dari mobil Ardi secara paksa.


"Sudah malam kamu pulang saja dulu. Kalau ada yang perlu dibicarakan, besok saja." Bowo melanjutkan ucapannya kepada Ardi.


"Baik, om..." Ardi menurut saja, tapi tak sanggup bereaksi ataupun beranjak dari tempatnya berdiri.


"Ayo masuk rumah, El! Udah gede masih saja gak tahu waktu!" Bowo menarik paksa Ella untuk memasuki rumahnya, meninggalkan Ardi begitu saja.


Ella masih sempat melemparkan pandangan sedihnya ke arah Ardi. Memberikan anggukan lemah untuk menyuruh pria itu pergi dari sana.


Bowo terus saja menarik lengan putrinya memasuki rumah, menutup pintu rumahnya rapat-rapat sebagai tanda tidak mau menerima tamu. Kemudian menghempaskan tubuh putrinya itu di sofa ruang tengah tempat istrinya sedang menonton tv.


"Lho? Papa? Ella? Ada apa ini? Kok bisa pulang barengan?" Lilik bertanya keheranan. Apalagi saat mendapati mimik wajah suaminya yang sepertinya sedang sangat kesal.


Ada apa ini? Bukannya tadi suaminya ini pergi ke toserba dua puluh empat jam untuk membeli batrei remote tv? Kok bisa pulang bareng Ella? Dan lagi dirinya tidak mendengar suara mobil Ella datang.


"Tanya saja sama anakmu itu. Apa yang sudah dia lakukan barusan!" ujar Bowo mengambil duduk di sofa berhadapan dengan kedua wanita itu.


"El? Ada apa nak? Kamu abis ngapain?" Lilik meraih jemari tangan Ella, menanyainya dengan penasaran dan khawatir sekaligus.


"Aku...aku diantar mas Ardi pulang ke rumah..." Ella menjawab lemah.


"Ardi? Ardi Pradana yang itu?" Lilik bertanya, bingung dan kaget sekaligus. Bagaimana bisa Ella bertemu dengan Ardi? Apa yang terjadi diantara mereka?


"Ella itu berduaan di mobil sama seorang pria. Malam-malam begini, pantes nggak itu? Kamu sebagai seorang wanita dewasa harus bisa menjaga diri. Jangan merusak nama baikmu sendiri." Bowo menjelaskan alasan kemarahannya.


"Maaf...Maaf, Pa. Kami sama sekali gak ada niat untuk ngapa-ngapain di mobil. Aku hanya berniat ngobrol sebentar dan berpamitan serta mengucapkan terima kasih pada mas Ardi." Ella meminta maaf, menyadari kesalahannya yang pulang terlalu malam bahkan tidak langsung turun dari mobil begitu sampai rumah tadi.


"Kamu? Kamu ketemuan lagi sama Ardi?" Lilik ikut menginterogasi putrinya itu. Semakin penasaran bagaimana Ella dapat bertemu kembali dengan Ardi.


"Semuanya hanya kebetulan. Murni kebetulan ma, pa. Ella dan mas Ardi sama sekali tidak merencanakan pertemuan kami berdua. Tapi seolah takdir yang menuntun jalan kami untuk berpapasan dan bertemu kembali." Ella mencoba menjelaskan.


"Kebetulan bagaimana?" Lilik semakin mendesak, sementara Bowo hanya mendengarkan.


"Linggar, adiknya mas Ardi yang paling kecil mengalami kecelakaan. Dan kebetulan waktu itu aku yang jaga UGD. Selanjutnya dia dirawat empat hari di RS. Hartanto Medika dengan aku juga yang menjadi dokter penanggung jawabnya." Ella mulai bercerita, sengaja tidak menceritakan pertemuan mereka di Imperial restoran dan di Tunjungin Plasa.


"Jadi kami mau tidak mau bertemu sebagai dokter dan keluarga pasien. Karena mas Ardi cuma tinggal berdua dengan adiknya di Surabaya ini. Jadi dia yang mengurusi semuanya tentang keperluan Linggar di RS. Hartanto Medika."


"Terus sekarang gimana keadaan Linggar?" Lilik bertanya khawatir juga. Kasian dan tak tega kalau denger ada anak muda yang mengalami kecelakaan.


"Tadi siang Linggar akhirnya dinyatakan sembuh dan dapat keluar rumah sakit. Karena itulah mas Ardi mengajak Ella makan malam untuk mengucapkan rasa terima kasihnya. Terima kasih pada dokter yang merawat adiknya sampai sembuh." Ella menjelaskan alasan kepergiannya dengan Ardi malam ini.


"Apa benar cuma begitu saja?" Bowo ikut menyelidik.


"Apa maksud papa?" Ella kembali bertanya. Bingung dengan arah pertanyaan papanya ini.


"Ya maksudnya apa kalian tidak ada hubungan yang lain? Bagaimana hubunganmu dengan Roni? Masa kamu mau berhubungan dengan dua pria sekaligus?" Bowo bertanya to the point. Tidak suka dengan sikap putrinya yang seakan memberi harapan pada dua orang pria sekaligus.


"Kamu harus bisa tegas memilih dan memutuskan salah satu diantara mereka. Gak boleh kamu menjalin hubungan dengan keduanya sekaligus. Itu namanya tamak, serakah." Bowo melanjutkan.


"Bukan begitu, Pa. Aku, aku akan menyelesaikan masalah kami bertiga secepatnya."


"Secepatnya itu kapan? Bukannya hari minggu besok keluarga Roni sudah datang main kesini?" Bowo mengingatkan Ella pada perkara kedatangan kakak Roni. Perkara yang benar-benar dilupakan oleh Ella karena terlalu banyak kejadian dalam minggu ini.


"Secepatnya setelah Roni kembali dari Jogja. Kami berdua akan mencoba duduk dan bicara."


"El...Mama mau nanya sama kamu, kamu jawab jujur ya. Kamu cintanya sama siapa? Kamu ingin menjalin hubungan lebih jauh dengan siapa? Roni atau Ardi?" Lilik kali ini yang mencoba bertanya. Ingin tahu sebenarnya putrinya ingin bersanding dengan siapa.


"Mas Ardi," Ella menjawab dengan mantab kali ini.


Ella sudah lelah untuk menyembunyikan perasaan dan keinginan hatinya sendiri. Tak ingin lagi menjadi pembohong yang membohongi perasaanya sendiri. Hanya ingin menjadi seorang gadis yang jujur seperti kata Ardi.


Baik Bowo dan Lilik hanya mampu terdiam mendengar jawaban Ella. Jawaban yang terdengar begitu mantap dan jujur dari anak gadis mereka. Rupanya Ella telah menetapkan hatinya.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼


__ADS_2