
Pergilah keliling semesta
Yang kubisa hanyalah merapal doa
Berharap akulah rumahnya
Kembalilah sesuka hati
Yang kubisa hanya menyambut dan mencintai
Berharap kau tak beranjak pergi lagi
Perlakukanlah aku sesuka hatimu
Namun jangan ragu untuk melepaskanku
Bila kelak tubuhku menjauh dari pihakmu
Namun aku hanyalah manusia yang punya hati
Meski berkali-kali kau tusuk belati
Aku pun tahu kapan kau harus pergi
_________________________________
Seperti biasa Roni tiba beberapa saat sebelum jadwal jaganya dimulai. Sekedar untuk menyapa Ella yang berjaga di UGD sift sore dan mengajaknya untuk ngopi sejenak. Hal sederhana yang biasa mereka lakukan sebagai pengganti kencan. Sebagai kompensasi karena susahnya jadwal mereka untuk sekedar bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
Betapa herannya Roni saat sampai di UGD bukan Ella yang bertugas disana. Melainkan dokter lain yang tidak dikenalnya. Mungkin dokter pengganti? Tapi Ella kemana? Kenapa Ella tidak mengabari kalau gak masuk atau berhalangan jaga hari ini?
"Dokter Roni?" Seorang perawat UGD bergegas menghampiri Roni dari meja jaganya. Membawa dan menyodorkan tas yang sudah dikenal oleh Roni, shoulder bag yang biasa dipakai Ella saat bekerja.
"Ya mbak?" Roni bertanya keheranan menerima tas Ella yang disodorkannya. "Ini tasnya Ella kenapa?"
"Lho dokter Roni belum tahu? Tadi dokter Ella pingsan waktu jaga. Terus dokter Mahes yang memeriksa dan memindahkan dokter Ella untuk istirahat ke ruangan VVIP. Nah ini barang-barangnya dokter Ella yang masih ketinggalan disini." Sang perawat menjelaskan.
"Ella? Ella pingsan? Kok bisa?" Roni bertanya, kaget dan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Perasaan kemarin hari minggu Ella masih sehat kok. Bahkan kemarin mereka bertemu dan bermain seharian di Atlantis Land. Kenapa hari ini bisa tiba-tiba sakit sampai pingsan segala?
"Dismenore kata dokter Mahes tadi. Coba dokter Roni jenguk sendiri deh di ruangan VVIP 07." Sang perawat memberikan info lanjutannya. Bukan rahasia lagi di rumah sakit ini kalau dokter Roni adalah pacar dari dokter Ella. Pasti aman kan untuk menitipkan barang dokter Ella pada Roni.
Kedua dokter muda itu merupakan pasangan yang sangat fenomenal di RS. Hartanto Medika. Karena keduanya sama-sama dokter spesialis, dan keduanya juga memiliki wajah cantik dan ganteng diatas rata-rata. Benar-benar pasangan yang sangat serasi dan bikin iri siapa saja. Dan tentunya mematahkan hati banyak crew yang naksir mereka.
"Ok, aku bawa ya. Makasih mbak." Roni pamit meninggalkan perawat yang senyum-senyum menanggapi ucapannya. Lumayan jadi bisa ngobrol sama dokter cakep idola RS.
Karena saking khawatirnya Roni berjalan cepat-cepat meninggalkan UGD, ke arah lift dan lanjut ke arah ruang rawat inap VVIP di lantai tiga.
Kamu kenapa, El?...Roni ingat benar dulu Ella juga pernah begini, hanya sekali selama tiga tahun mereka kuliah sebagai residen PPDS. Dan saat itu adalah awal-awal mereka menjadi residen. Saat Ella baru saja putus dari Ardi. Saat emosi gadis itu sedang tidak stabil dan banyak beban pikiran. Saat dia mengalami stress yang berat.
Ella tiba-tiba juga pingsan waktu itu. Waktu perkuliahan sedang berlangsung. Dia tiba-tiba kesakitan karena kram dan nyeri perut yang hebat. Sampai-sampai Roni harus menggendong tubuh Ella untuk dibawa ke klinik. Dan menungguinya seharian sampai keadaanya enakan sebelum akhirnya mengantarkan gadis itu pulang.
Lalu kenapa sekarang kejadian lagi? Apa sekarang Ella mengalami fase stress yang sama seperti tiga tahun yang lalu? Apa gadis itu menderita tekanan batin dan penderitaan seperti dulu lagi? Kenapa?
__ADS_1
Karena prahara cinta segitiga mereka yang pelik? Mau tak mau Roni jadi merasa bersalah juga, jelas dirinya yang telah membuat Ella sakit kalau begitu.
Sesampai di kamar VVIP 07 Roni langsung masuk saja ke dalam ruangan. Roni mengira Ella sedang beristirahat sendirian saja di kamar itu. Betapa kagetnya Roni saat dirinya semakin mendekat ke arah ranjang Ella, didapatinya ada seseorang disana. Sosok, perawakan dan cara berpakaian yang sudah sangat dihafal oleh Roni, siapa lagi kalau bukan Ardi.
Roni berjalan perlahan mengitari sisi lain ranjang, untuk memastikan kebenaran dari dugaannya. Roni dapat melihat Ella tertidur dengan wajah yang sedikit mengernyit kesakitan. Tangan kirinya yang terhubung dengan selang infuse memegangi perut bagian bawahnya. Sepertinya sangat tersiksa, bahkan dengan bantuan obat analgesik dia masih kesakitan? Hati Roni semakin meronta dan terasa teriris juga melihat keadaan Ella.
Tapi kemudian rasa sedih dan sakit di hati Roni perlahan berubah menjadi rasa marah saat melihat tangan kanan Ella digenggam dengan erat oleh Ardi. Bahkan puncak kepala Ella juga dipegang oleh sebelah tangan yang lain dari pria itu seolah sedang mengusap dan mengelusnya sebelum akhirnya ketiduran.
Ardi duduk di kursi di sebelah ranjang Ella, dengan kepalanya yang bertumpu di pinggiran bed Ella. Sepertinya sedang tertidur sangat pulas. Tertidur sambil seolah tetap menjaga Ella agar selalu nyaman disisinya, tak ingin melepaskan atau berpisah lagi dari gadis itu.
Roni memang marah dan tidak terima dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Tak rela juga Ardi tidur berdampingan dengan Ella serta memperlakukan Ella seintim itu. Iri karena dirinya tak dapat berbuat begitu untuk Ella.
Tapi sekali lagi rasa marah dan emosi Roni yang memuncak dapat dikalahkan oleh rasa sayangnya pada Ella. Tak tega untuk membuat keributan yang dapat membangunkan Ella dari tidurnya. Yang pastinya akan membuat gadis itu kembali kesakitan kalau terbangun.
Alhasil Roni hanya bisa memandangi kedua insan manusia itu tertidur berdua. Roni dapat melihat wajah damai keduanya. Wajah Ella yang bahkan tersenyum didalam tidurnya, tersenyum bahkan saat dirinya kesakitan. Apa sebegitu senangnya dia berada di sisi Ardi? Apa sebegitu nyaman dan leganya bagi Ella untuk bersama Ardi.
Rasanya segala amarah di dalam dada Roni berubah menjadi rasa pasrah dan tak berdaya, bahkan lebih parah lagi rasanya ada yang pecah tapi bukan kaca, ada yang patah tapi bukan tulang. Melainkan hati Roni yang rasanya hancur berkeping-keping.
Harusnya aku sadar semuanya dari awal
Cintamu tak pernah ada untuk diriku
Kukira waktu perlahan dapat membuka hatimu
Menerimaku tapi tak mencintai
Berbagai cara kulakukan untuk buatmu bahagia
Hingga aku lupa tentang perasanku sendiri
Sakitnya cinta tapi tak dicintai
Roni meletakkan tas Ella di meja yang dan buru-buru keluar dari kamar rawat inap VVIP itu. Tak sanggup lagi untuk melihat kemesraan Ella dan Ardi. Roni berjalan gontai ke arah lift untuk kembali ke polinya.
"Ron?" tanpa Roni sadari seseorang sudah berdiri di dekatnya, menyapanya. "Kamu sudah liat Ella?"
"Mas mahes?" Roni sedikit kaget juga mendapati Mahes yang menyapanya. "Sudah mas, barusan aku dari sana."
"Hmmm aku baru mau memberikan obat buat Ella bawa pulang nantinya. Sekalian mau bilangin dia boleh pulang kalau infusenya habis." Mahes menjelaskan maksud kedatangannya.
"Oh, sebaiknya jangan dulu deh,"
"Lho emang kenapa?" Mahes keheranan.
"Liat aja sendiri." Roni malas menjelaskan.
Karena penasaran Mahes buru-buru memasuki kamar Ella. Tak beberapa lama kemudian dia keluar lagi dan mengejar langkah Roni. Mengikutinya ke arah lift. Mahes menekan tombol angka 4, sementara Roni menekan angka 1.
"Ron, ngopi sebentar ke ruanganku yuk." Mahes menawarkan pada Roni. Ingin sedikit ngobrol dengan adik kelasnya itu.
Setelah melihat sesuatu di dalam kamar VVIP tadi, Mahes jadi mengerti kenapa Roni terlihat sesedih ini. Seperti raga kosong yang tak bernyawa saja rasanya.
__ADS_1
Roni menurut saja tanpa membantah mengikuti langkah Mahes keluar dari lift di lantai empat. Berjalan ke arah ruang direktur, masuk ke dalam dan menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada dibagian living room ruangan. Sementara Mahes berkutat di mini bar, menyeduh dua cangkir kopi yang tercium sangat harum aromanya.
Tak lama kemudian Mahes kembali menghampiri Roni, menyodorkan secangkir kopi untuknya serta mengambil duduk di hadapan adik kelasnya itu. "Cobain Ron, Hacienda Esmeralda yang sengaja diimpor dari Panama."
"Makasih..." jawab Roni.
"Ron, sebenarnya apa sih yang terjadi sama kalian?" Mahes bertanya penasaran. Apalagi setelah melihat ke dalam kamar Ella tadi. Bisa-bisanya Ella dan Ardi tidur bersama seperti itu seperti tanpa dosa. Pantas saja Roni terlihat seterpukul ini.
"Yah seperti yang mas Mahes lihat sendiri tadi."
"Kamu dan Ella sudah putus?" Mahes mencoba bertanya langsung to the point.
"Belum...Mungkin akan segera..." ujar Roni pasrah.
"Ron, bukannya aku membela Ardi karena dia sepupuku ya. Tapi aku dapat melihat kayaknya Ella masih sangat mencintai Ardi." Mahes berkata dengan hati-hati.
"Iya, aku tahu..."
"Sepertinya Ella sakit karena bingung harus bertindak bagaimana. Kasian sekali dia... Ron, kamu tahu kan kalau perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Kalau kamu memang sayang sama dia lepaskan dia. Sebelum dia, kamu dan bahkan kalian berdua akan semakin menderita..."
"Ella itu sangat halus perasaannya, Ron. Dia pasti tak akan tega untuk mengucapkan kata-kata yang sekiranya bisa menyakiti kamu. Dia tak akan tega membuatmu patah hati dan bersedih."
"Dia memang begitu...Ella terlalu baik..."
"Makanya harus kamu yang bertindak, Ron." Mahes kembali menekankan perkataannya.
"Kamu sebagai laki-laki yang harus bertindak dan memutuskan. Lepaskan dia, Ron. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya sendiri. Biarkan Ella bersatu kembali dengan Ardi..."
Roni diam saja tak menjawab. Mahes bukanlah satu-satunya orang yang menasehatinya untuk melepaskan Ella. Kemarin malam mbak Reni juga sempat menelpon Roni untuk menceritakan hasil pembicaraannya dengan Ella. Tentang Ella yang lebih memilih Ardi daripada dirinya.
Ditambah lagi dengan apa yang dilihat Roni secara nyata tadi kamar VVIP. Roni bisa apa lagi coba? Selain pasrah dan melepaskan Ella? Tapi tetap saja rasanya tak semudah itu. Tak segampang itu untuk melepaskan gadis yang sudah diperjuangkannya selama bertahun-tahun ini. Tentunya ada rasa tidak rela.
Roni mengambil cangkir kopinya dan menyesap perlahan kopi di cangkir itu beberapa teguk. Begitu nikmat rasanya, pahit, manis, gurih dan wangi bergabung menjadi satu. Benar-benar rasa kopi yang sempurna. Pastinya dari biji kopi pilihan yang sangat mahal dan berkualitas. Dan entah bagaimana kadar caffein itu mampu membuat otak Roni untuk sedikit berfikir lebih cerdas daripada sebelumnya.
"Memang sudah seharusnya aku yang mengakhiri hubungan kami..." ujar Roni pasrah.
"Benar, akhirilah dengan baik-baik. Dan ingatkan dia bahwa kamu masih sama seperti sebelumnya. Kamu masih sahabatnya. Jangan sampai hubungan baik kalian hancur hanya karena putusnya status asmara kalian." Mahes kembali memberi saran dengan bijak.
"Tentu, mas. Kami sudah berteman dan bersahabat bahkan jauh lebih lama daripada kami berpacaran. Tak mungkin kami dapat tiba-tiba melupakan dan memutuskan hubungan baik kami sebelumnya." Roni menyetujui saran Mahes.
"Aku tahu kamu laki-laki yang baik, Ron..." Mahes senang mendengar keputusan Roni.
"Kamu tidak perlu khawatir akan keadaan Ella. Ardi itu juga pria yang baik walaupun dengan status kesultanan yang menyilaukan. Dia juga sangat mencintai Ella dan rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Ella....Aku percaya mereka berdua sudah seharusnya bersatu kembali dan meraih kebahagian bersama." lanjutnya menjelaskan tentang Ardi.
"Yah semoga apa yang kau katakan benar. Semoga dia bisa membuat Ella lebih bahagia daripada apa yang bisa kulakukan untuknya." Roni mengungkap harapannya dan membuat keputusan.
"Akan kutunggu Ella sembuh sebelum aku akhiri hubungan kami."
"Good luck, I'm proud of you." Mahes menganggukkan kepalanya setuju.
(*Semoga sukses. Aku bangga padamu).
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼