Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
41. Girls talk


__ADS_3

Hari ini sepulang jaga poli penyakit dalam, Ella menjemput Intan di poli saraf. Rencananya mereka akan pergi makan siang bareng setelah ini. Makan siang bertiga dengan Sari, yah benar Mayang Sari Hartanto.


Akhirnya Sari menghubungi Ella untuk bertemu dan berbicara. Setelah bahkan lebih dari sepuluh hari berlalu. Karena keduanya merasa sama-sama canggung setelah kejadian yang terjadi di Banyu Harum akhirnya mereka melibatkan Intan. Intan akan menjadi penengah diantara mereka berdua.


Sedikit banyak Intan juga sudah mengetahui kejadian di pesta ulang tahun Kartika Pradana dari Ella. Dan Intan sebagai mediator juga cukup bijak untuk tidak hanya mendengar masalah itu dari sisi Ella saja. Sari terlebih dahulu sudah berbicara dan bercerita pada Intan tentang kejadian itu dari sudut pandangnya sendiri. Biar adil dan fair enough.


Siang itu Ella dan Intan akan bertemu dengan Sari di cafe gaul yang ada di dekat RSUD G. "Yuk, Tan. Udah siap pergi?" Sapa Ella begitu menghampiri Intan di poli saraf.


"Udah. Yuk kita go!" Intan mengajak Ella berjalan ke arah parkiran motor dan memgambil motor mereka masing-masing. Kemudian mereka melaju ke cafe tempat mereka janjian dengan Sari. cafe yang letaknya tak beberapa jauh dari RSUD G.


Saat memarkirkan motornya di depan cafe, Ella melihat Nissan Juke putih Sari sudah terparkir disana. Dan benar saja, saat mereka memasuki cafe, Sari langsung melambaikan tangan memanggil mereka ke meja yang sedikit mojok. "El, Tan, sini sini"


Ella dan Intan langsung menghampiri Sari. Ella mengambil duduk tepat di hadapan Sari sementara Intan duduk diantara mereka berdua. "Udah lama, Sar?" Sapa intan.


"Nggak. Barusan aja kok," Sari menjawab.


"Di puskesmas enak gak kerjanya, Sar?" Ella mencoba berbasa-basi menyapa Sari. Dia memang masih kesal dengan gadis itu sejak kejadian di Banyu Harum. Bahkan Sari juga sama sekali tak menghubunginya atau memberinya penjelasan apapun sejak saat itu. Yah baru hari akhirnya Sari mengajaknya untuk bertemu dan berbicara. At lease Ella harus menghargai niat baiknya itu. And let's see what she gonna talk.


"Kalau pas jaga UGD si nyantai. Pasiennya jarang banget. Tapi kalau pas di poli ya sama aja. Rame sampai jam 12 an baru kelar biasanya." Sari menjelaskan.


"Oiya mau pesen apa?" Disodorkannya list menu ke hadapan Ella dan Intan.


"Americano ice aja," Intan memutuskan.


"Aku Thai tea original." Ella menambahkan.


Sari menulis menulis pesanan kedua temannya itu di kertas pesanan. Dia juga menambahkan beberapa makanan cemilan sebagai tambahan pesanan. Kemudian dipanggilnya waiters untuk mengambil pesanan mereka.


"Jadi gimana ni...Siapa yang mau cerita duluan?" Intan sebagai sang mediator memulai tugasnya.


"Sari kan yang katanya mau ngomong."


"Iya...Aku, aku mau minta maaf sama kamu, El. Maaf banget ya soal kejadian di Banyu Harum." Ujar Sari dengan nada penuh rasa bersalah dan penyesalan pada Ella.


"Iyah. Kamu juga gak tahu apa-apa soal rencana mama Mas Ardi kan?" Ella balik bertanya pada Sari.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku juga sangat kaget waktu Budhe Kartika tiba-tiba memanggil namaku." Sari menceritakan kejadian di Banyu Harum. "Tapi kamu juga harus tahu, El. Baik aku maupun mas Ardi sama-sama dalam posisi terjebak waktu itu. Kami tidak mungkin untuk dapat menolaknya."


"Yah untuk keluarga kalian yang sangat mementingkan nama baik. Tentu saja tidak mungkin untuk melakukan hal yang memalukan di depan umum." Celetuk Ella.


"Bukan begitu, El. Acara waktu itu dihadiri banyak sekali orang berpengaruh dan awak media juga. Kalau aku atau mas Ardi menolak permintaan nyonya yang sedang berulang tahun tentunya akan menjadi scandal. Dan tentu saja akan masuk koran, jadi headline news bisa-bisa. Putra keluarga Pradana menolak putri keluarga Hartanto? Perselisihan antara keluarga Pradana dan Hartanto? Kamu mau kayak gitu?" Sari mencoba menjelaskan.


"Yang terkena dampak bukan hanya kami dan keluarga kami, El. Okelah kami sekeluarga akan menanggung malu. Tapi dampak luas lainnya? Investor, pemegang saham dan para mitra tender pasti akan berpikir ulang mengenai kerjasama dengan perusahaan kami. Tentunya mereka takut perpecahan antar kedua group besar ini akan berimbas pada profit mereka."


Penjelasan Sari membuat Ella kontan terdiam. Dia yang bukan berasal dari orang bisnis dan keluarga sultan tentu tidak akan berpikir sampai kesana. Dirinya yang orang awam cenderung menyalahkan Ardi dan Sari yang terkesan plin plan karena tak mau menolak permintaan mama Ardi. Menyalahkan mereka yang tak memikirkan perasaannya, membuatnya patah hati.


Tetapi setelah mengetahui kenyataan ini, Ella jadi merasa bahwa sakit hati yang dia rasakan sama sekali tak ada apa-apanya. Keputusan yang Ardi dan Sari buat waktu itu sudah tepat. Masih mending untuk mematahkan hati Ella seorang. Daripada dapat merusak reputasi kedua keluarga besar yang dapat menggoncangkan seluruh tatanan dunia persilatan ini.


Mereka bertiga terdiam tak berbicara, bahkan saat waiters mengantarkan pesanan ke meja. Tak ada yang bereaksi menyambut atau sekedar mengucapkan terima kasih pada waiters itu. Sampai waiters itu menata pesanan mereka di atas meja dan pamit meninggalkan mereka.


"Secara pribadi aku mau minta maaf sama kamu, El. Aku tahu pasti sakit banget buat kamu. Dan pastinya kamu kecewa sama aku. Kamu pasti mengira aku mau merebut mas Ardi darimu...Teman makan teman." Sari kembali melanjutkan perkataannya setelah cukup lama mereka terdiam.


"Kamu...Kamu suka sama mas Ardi kan?" Ella menanyakan sesuatu yang sudah lama terasa mengganjal di hatinya. Sari terlalu dekat dan terlalu perhatian pada Ardi untuk sekedar sebagai sepupu.


"Iya aku memang menyukai mas Ardi. Tapi itu dulu... Anggap saja hanya cinta monyet dari ABG labil." Sari mengakui perasaannya pada Ardi.


"Keluargaku dan keluarga Pradana itu sangat dekat. Mama mas Ardi dan Papaku bersaudara, yah meski saudara tiri sih. Dan kakakku, Maheswara itu sepantaran dengan Mas Ardi. Mas Mahes waktu SMA numpang tinggal di kediaman pradana demi untuk dapat bersekolah di SMA islam terfavorit se kabupaten. Yah mas Mahes dan mas Ardi akhirnya sekolah bareng di SMA Islam full day school Banyu Harum."


"Aku sebagai ABG yang masih puber waktu itu tentu saja tidak bisa menolak pesona mas Ardi. Kamu tahu sendiri lah seperti apa dia, baik, ganteng, bener-bener tipe cowok idaman wanita banget kan? Dan tanpa sadar rasa itu terus tumbuh karena seringnya kami bertemu." Sari berhenti sebentar. Sari mengaduk gelas Choco latte-nya kemudian meminumnya beberapa teguk.


"Tetapi semakin dewasa aku semakin sadar kalau mas Ardi hanya menganggapku sebagai adiknya. Aku sama sekali tak ada dihatinya. Aku nyerah untuk dapetin mas Ardi, El." Sari mengakhiri ceritanya dramatis.


"Nah cerita masa lalu sudah selesai." Ujar Intan yang dari tadi mendengarkan sambil sesekali meneguk Americano nya. "Sekarang mendingan kalian baikan aja. Toh masalah udah clear dan kalian juga sama-sama udah punya pasangan."


"Tunggu-tunggu, Sari sudah punya pacar?" Ella sedikit kaget mendengar kabar itu.


"Lho kamu belum tahu, El? Padahal kamu kenal juga sama pacarnya." Intan malah ikut kebingungan melihat reaksi Ella.


"Hah? Siapa?"


"Si Jun. Junaedi tu yang diem-diem menghanyutkan. Dia pacarnya Sari hahahah."

__ADS_1


What?! Si Jun? Temen setimnya satu putaran Interenship? Kok bisa? Dan juga bisa-bisanya Ella tidak sadar. Haduh Ella semakin merasa bahwa dirinya adalah orang yang sangat tidak peka. "Tapi...Kok bisa?" Ella makin penasaran.


"Yah daripada mencintai tanpa balasan. Mendingan dicintai dan belajar untuk mencintainya juga." Jawab Sari dengan wajah tersipu malu. Jadi beneran dia sama Jun? Ella benar-benar tidak menyangka selera Sari adalah pria yang sangat sederhana seperti Jun. Jun yang pendiam, yang cuek, dan tidak suka terlihat mencolok. Dan yang pasti Jun juga bukan berasal dari golongan sultan.


"Aku cuma anak kedua dari keluarga Hartanto, perempuan lagi. Bebanku untuk memilih pasangan tak seberat mas Ardi yang putra pertama. Mungkin beban itu juga dirasakan oleh mas Mahes, kakakku...Dan lagi, aku belum mau menikah cepat-cepat. Aku masih mau sekolah lagi ambil M.MRS. Magister Managemen rumah sakit, karena yah bisnis keluargaku di bidang kesehatan."


Sekali lagi Ella terdiam mendengar ucapan Sari. Ada rasa kagum dan haru yang dirasakan Ella pada temannya itu. Sama sepertinya Sari juga ternyata masih ingin menimbah ilmu. Masih ingin mengejar cita-citanya. Masih belum ingin untuk hidup dalam ikatan pernikahan.


Ella jadi teringat cerita Ardi tentang aset keluarga Hartanto di bidang kesehatan. Rupanya Sari tak ingin dirinya menjadi ditektur di salah satu rumah sakit milik keluarganya hanya karena posisi keluarganya. Gadis itu ingin meningkatkan ilmunya dulu di bidang managemen rumah sakit. Sehingga saat lulus dia dapat menjadi direktur rumah sakit yang baik dan kompeten. Seolah ingin membuktikan bahwa dirinya memang mampu, bukan hanya sekedar beruntung terlahir di keluarga Sultan.


"Jun itu temenku dari jaman SMA. Kuliah juga barengan satu fakultas di Universitas Jembar. Cuman karena dia pendiam jadi ga pernah ngomong suka padaku sebelumnya"


"Sapa dulu donk mak comblangnya!" Intan tiba-tiba nyeletuk menyombongkan diri. "Aku kebetulan tahu Jun nyimpen foto Sari di ponselnya. Banyak banget, maniak hahahha"


"Jadi kalian pacarannya juga barusan?" Ella semakin penasaran dengan cerita cinta ini.


"Iya. Ya sejak ketemu lagi di Iship ini. Sejak dicomblangin Intan juga hehe...Terus aku kan cerita juga ama Intan. Kalau aku masih susah move on dari mas Ardi sebelum bisa menerima perasaan Jun"


"Sorry lho El. Sebenarnya yang mengusulkan pada Sari untuk ngenalin Ardi ke kamu itu juga aku." Ujar Intan seperti pengakuan dosa.


"Hah?!" Ella semakin terkaget-keget mengetahui kenyataan bahwa Intan lah dalang dibalik dua percomblangan absurd ini. "Gila! Kamu mau buka biro jodoh apa?"


"Yah abisnya gemes aja. Yang satu gak berani gerak, Yang satu gak bisa move on, Yang satu terlalu cuek, dan yang satunya lagi seakan gak doyan cewek." Celetuk Intan seenak udelnya sendiri. "Lhakok ternyata bisa cocok juga kalian dipasangin hahaha."


"Iya aku juga gak nyangka bisa selancar ini hehe" Sari ikut tertawa. "Jujur aku seneng liat mas Ardi akhirnya sama kamu, El. Kalian cocok banget. Jadinya aku bisa ikhlas melepas mas Ardi dan mencoba membuka hatiku untuk Jun"


"Wah kalian gila ya! Kok aku jadi kaya kelinci percobaan kalian gini?" Ella semakin gemas mengetahui tipu muslihat kedua temanya itu.


"Yah kali aja kita bertiga bisa nikah masal setelah lulus interenship nanti hahahah" Celetuk Intan sambil tertawa lepas. Membuat Ella dan Sari juga ikutan tertawa geli membayangkan imajinasi Intan yang semakin liar. Dasar dia kebanyakan nonton sinetron.


"Nah sekarang untuk merayakan suksesnya percomblangan, kita makan ni es cream yang udah dipesen Sari. Sebelum keburu lumer!" Intan mengawali mereka menyendok es cream super besar dengan topping berbagai irisan buah yang sudah dipesan Sari.


Ella dan Sari pun mengikuti intan menyendok es cream itu. Rasa manis, lembut, dingin dan nikmat langsung menyerbu tenggorokan mereka. Rasanya begitu melegakan. Melegakan juga karena akhirnya tak ada kesalah pahaman lagi diantara mereka.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2