
Siang itu Sari dan Roni langsung berangkat ke Jogja dengan mengendarai mobil Roni. Keduanya tiba di Jogja malam harinya. Langsung mencari sebuah losmen di daerah Malioboro. Karena alamat rumah nenek Jun yang dikatakan Roni juga di sekitaran Malioboro ini. Sari memilih sebuah losmen yang asri dengan nuansa jawa dan joglo-nya. Untuk menenangkan dan menyejukkan hati katanya.
Malam itu mereka berdua tak banyak berbicara. Keduanya langsung tidur di kamar masing-masing untuk memulihkan stamina selepas perjalanan panjang mereka. Berencana untuk mencari dan menemui Jun keesokan paginya saja.
Keesokan harinya Sari dan Roni sudah selesai bersiap-siap dan sarapan sebelum pukul sembilan pagi. Mereka berdua kemudian meluncur menuju alamat rumah Jun yang didapatkan Roni dari Mahes. Dengan bantuan sistem navigasi dari go*gle map akhirnya mereka dapat menemukan alamat itu. Yang ternyata tak begitu jauh dari losmen tempat mereka menginap semalam.
Roni memarkirkan mobilnya di halaman luas sebuah rumah bergaya arsitektur sembilan puluhan. Rumah yang terlihat sederhana dan asri dengan nuansa jawa yang kental.
Roni menekan bel di pintu rumah itu, sementara Sari terlihat sangat gelisah dari tadi. Tak lama kemudian seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahunan membukakan pintu untuk mereka. Mungkin bibi Jun seperti cerita Mahes.
Wanita itu eheranan melihat dua orang anak muda yang tidak dikenalnya bertamu ke rumahnya. Tapi rasanya wajah si tamu perempuan tidak asing lagi baginya. Pernah lihat dimana ya?
"Ada yang bisa saya bantu?" wanita itu bertanya.
"Apa benar Junaedi tinggal disini? Kami temannya dari Jawa Timur." Roni yang menjawab kali ini.
"Temannya Jun?" Wanita itu sedikit keheranan. "Mari masuk dulu, monggo silahkan..." lanjutnya mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
"Kamu Sari kan? Tunangannya Jun? Aku Asri bibinya Jun." wanita itu bertanya, memastikan identitas Sari. Baru ingat bahwa wajah gadis itu sama persis dengan wajah di foto yang dipajang di kamar Jun. Wajah gadis yang dicintai keponakannya itu.
"Enggeh. Saya Sari dan ini Roni, teman saya dan Jun sesama dokter." Sari menjawab pertanyaan Asri.
Asri menganggukkan kepala tanda mengerti. "Tunggu sebentar, ya." Kemudian Asri pamit undur diri masuk ke bagian dalam rumah.
Tak lama kemudian keluar dari dalam rumah, seorang wanita paruh baya yang terlihat sedikit pucat dan letih menghampiri mereka berdua.
"Nak Sari?" wanita itu bertanya setengah tak percaya melihat sosok Sari ada di hadapannya.
"Bunda Nia," Sari langsung bangkit dari duduknya, menyambut wanita itu dan mencium tangannya sebagai sapaan. Sepertinya wanita itu adalah ibu dari Jun.
Nia langsung memeluk tubuh Sari dengan sangat erat. Menepuk-nepuk pungggung Sari, dan air matanya mengalir deras begitu saja membasahi pipinya. Menangis tanpa suara di pelukan Sari.
Mendapatkan sambutan tak terduga seperti itu, Sari yang sudah menyiapkan hatinya sejak dari losmen pun akhirnya ambyar juga. Gadis itu pun ikutan menangis pilu dalam kebisuan. Saling berpelukan erat penuh arti dengan ibu dari Jun. Seakan berbagi kesedihan, berbagi ketidak berdayaan dan keputus asaan mereka satu sama lainnya.
Roni hanya mampu memandang kedua wanita yang terlihat menyedihkan itu berpelukan, dan kemudian saling beriringan duduk berdampingan di sebuah sofa. Seorang ibu, dan seorang kekasih yang terlihat sangat tidak berdaya menerima kenyataan bahwa orang yang mereka cintai sedang sekarat, berjuang diantara hidup dan mati.
"Akhirnya kamu datang juga, nak Sari." Ujar Nia.
"Kenapa bunda tidak mengabari saya?" Sari bertanya sedih kepada wanita itu.
"Jun yang melarang bunda. Dia gak mau kamu tahu. Jun gak ingin kamu bersedih dan menangis. Mungkin dia ingin pergi dalam diamnya."
"Bunda...Kenapa ngomong begitu?" Makin deras saja lelehan air mata Sari mendengar ucapan Nia. "Jun itu pria yang kuat, dia pasti sembuh."
"Bunda gak tega melihatnya kayak gitu terus. Dia sangat kesakitan setiap harinya. Apalagi kalau harus menjalani proses kemoterapi, gak tega rasanya bunda melihatnya. Kalau bisa ingin rasanya bunda menggantikan Jun untuk menanggung sakitnya."
"Mungkin lebih baik jika Tuhan mengambil dirinya saja. Biar Jun tidak kesakitan lagi. Biar anak bunda tidak menderita lagi..." Pasrah, ada nada putus asa dan tak berdaya dari seorang ibu yang sampai lebih memilih untuk merelakan anaknya pergi daripada terus hidup dan menderita.
__ADS_1
"Jun itu selalu berusaha terlihat kuat, tidak pernah mengeluh, atau mengadu kesakitan sama bunda. Seolah gak mau bikin ibundanya bersedih dan menangis. Dia ingin menanggung sendiri semua rasa sakitnya, semua deritanya..."
"Tapi mungkin memang masih ada yang mengganjal dihatinya sehingga dia belum bisa pergi dengan tenang, dia masih nungguin kamu. Mungkin masih ada yang harus dia katakan pada kamu..." Nia meremas jemari Sari sambil terus bercucuran air mata. "Temui dia, ikhlaskan dia ya, nak Sari..."
"Bagaimana aku bisa mengikhlaskan Jun? Bagaimana aku bisa merelakan dia pergi kalau aku sama sekali tak tahu apa-apa, dan tiba-tiba mendapat kabar kalau dia begini?" Semakin ambyar saja tangisan Sari karena perkataan Nia.
Kedua wanita itu kemudian terdiam, saling pandang, saling meluapkan kesedihan dan berbagi tangisan mereka yang meluap-luap bagaikan air bah. Membuat Roni rasanya tak sanggup lagi untuk melihat kesedihan mereka lebih lama lagi.
"Bolehkan saya melihat keadaan Jun?" Roni meminta ijin. Mungkin lebih baik dirinya pergi dari sana sehingga kedua wanita itu bisa lebih leluasa untuk bertukar cerita dan berbagi kesedihan. Pasti banyak sekali yang ingin mereka bicarakan berdua.
"Silahkan, monggo langsung masuk saja. Jun sedang ada di taman belakang." Nia menunjukkan arah, mempersilahkan Roni.
Roni beranjak dari duduknya menuju arah yang ditunjukkan Nia. Melewati beberapa ruangan sebelum berakhir di sebuah taman. Taman belakang di kediaman ini cukup luas dan asri dengan beberapa pepohonan yang besar dan rindang. Di salah satu sudut taman terdapat kolam ikan besar lengkap dengan pancurannya. Di sanalah Roni dapat melihat seorang pria duduk diatas kursi rodanya sedang membaca buku ditemani suara gemericik air mancur yang menentramkan hati.
Roni berjalan mendekat, menghampiri pria itu. Semakin tak tega saja rasanya melihat temannya dalam keadaan menyedihkan begitu. Jun terlihat lebih kurus dan pucat, rambutnya juga dipotong sangat pendek mungkin untuk mengatasi kerontokan yang timbul akibat kemoterapi-nya.
Tubuh bagian bawahnya ditutupi oleh selimut, sehingga Roni tak dapat melihat kakinya yang terkena osteosarcoma. Sekilas tak akan ada yang mengira pria itu menderita kanker stadium IV. Keadaan Jun hari sedang bagus sepertinya. Memang biasanya keadaan pasien kanker akan naik turun, bahkan kadang tiba-tiba bisa nge-drop atau meninggal dunia mendadak.
"Selamat pagi, bro..." Roni menyapa canggung.
"Roni?" Jun mengalihkan pandangannya dari bukunya, beralih ke arah datangnya sapaan. Tampak sangat kebingungan melihat kedatangan Roni.
"Apa kabar?" malah pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Roni. Tidak baik tentu saja kan?
"Well, as you can see..."
Roni melemparkan senyuman prihatinnya pada Jun. "Dasar kamu ini...Kenapa gak bilang..." Roni langsung memprotes Jun tanpa kompromi. Dia tahu seharusnya dirinya berbasa-basi dulu menyapa Jun, tapi nyatanya gak bisa...Terlalu menyedihkan untuk sekedar berbasa basi dan bercanda saat ini.
Jun hanya tersenyum lemah menjawabnya. "Kamu ngapain kesini?" lanjutnya bertanya. Penasaran juga bagaimana Roni bisa tahu keadaanya bahkan lebih jauh lagi tahu dimana dirinya tinggal. Padahal Jun tidak pernah mengatakannya pada siapapun.
"Aku kesini nganterin Sari..." Lagi-lagi Roni mengungkapkan maksud kedatangannya tanpa tedeng ba bi bu lagi.
"Sari..." Jun membuang napas perlahan dan menutup matanya perlahan. "Seharusnya kamu gak bawa dia kesini..." Jun memprotes tak berdaya.
"Terus maumu apa? Kamu mau mati diam-diam? Kamu mau kabur begitu saja dari dunia ini tanpa kata padanya? Enak saja!" Roni jadi emosi juga mendengar jawaban Jun.
Roni tahu benar maksud dari perbuatan Jun. Tentunya Jun tak ingin Sari bersedih dengan melihat keadaanya yang menyedihkan. Tapi bayangkan saja bagaimana perasaan Sari jika dirinya tak tahu apa-apa lalu mendapat kabar Jun meninggal dunia?
Bayangkan saja bagaimana penyesalan gadis itu karena tidak dapat melihat Jun untuk terkahir kalinya. Bayangkan saja bagaimana penyesalan Sari nantinya. Mungkin bahkan gadis itu tak akan sanggup untuk bangkit kembali.
Penyesalan karena tidak bisa menyelesaikan hubungan mereka dengan cara baik-baik. Memangnya mau membawa perkara ini sampai ke akhirat? Gak bisa begitu juga donk. Semuanya harus diselesaikan dahulu dengan baik, sesedih dan sesakit apapun itu. Supaya tak ada lagi penyesalan di hari esok bagi semua pihak. Supaya lega...
"Aku sudah mengembalikan cincinku padanya. Semua sudah berakhir diantara kami."
"Kenapa harus diakhiri? Kalian masih saling mencintai. Kenapa tidak terus bersama sampai akhir?" Roni memprotes kali ini. Tidak setuju dengan cara Jun mengakhiri hubungan mereka. Terlalu menyedihkan dan tidak adil bagi Sari. Seolah Jun memutuskan semuanya sendirian saja tanpa menanyai keputusan Sari.
Padahal kalau melihat sifat Sari, kalau saja Sari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu tak akan mungkin tega untuk meninggalkan Jun di saat-saat sulitnya seperti ini. Sari pasti akan bersikeras untuk dapat menemaninya, berada di sisinya.
__ADS_1
"Kamu kuat, Jun. Kamu pasti bisa bertahan. Bukan hanya demi kamu, demi ibumu, demi keluargamu dan juga demi Sari juga...Kamu harus sembuh." Roni mencoba membesarkan hati Jun.
"Aku tahu benar keadaanku, Ron. Kamu lupa aku ambil jurusan apa? Onkologi...Huh, seperti lelucon saja ya rasanya..."
"Tapi kamu sudah bertahan sejauh ini. Ayo berjuang sedikit lagi..." Memang dalam penyakit kanker mungkin Jun lebih pintar dari Roni. Jun tahu benar akan keadaan tubuhnya sendiri. Tapi tetap saja Roni ingin temannya ini terus berjuang untuk hidup. Karena kadang semangat hidup dapat membantu menyembuhkan penyakit yang bahkan tidak mungkin untuk disembuhkan.
"Sedikit lagi...memang waktuku tinggal sedikit lagi."
"Jun..." Roni tak sanggup membantah lagi.
"Osteosarcoma stadium IV, metastasis sampai ke organ pencernaan dan paru...Dokter Roni Suherman tolong jelaskan prognosa bagi pasien itu..."
Roni menggeretakkan geliginya dan menutup matanya membayangkan ilustrasi keadaan pasien yang dikemukanan oleh Jun. Jawabannya sudah jelas tanpa perlu berpikir lagi..."Jelek."
"Aku tidak mau mendahului keputusan Tuhan, dan aku juga tak akan berhenti berjuang dan berdoa... Tapi kadang rasanya capek, Ron...lelah sekali."
"Ron...aku titip Sari sama kamu ya. Tolong kamu jagain dia." Jun melanjutkan permohonannya pada Roni. Keinginan terdalamnya bahwa akan ada seorang pria baik yang menggantikan dirinya untuk menjaga dan mencintai Sari.
Meskipun Jun tahu benar dirinya tak bisa memaksakan perasaan Roni dan Sari. Jun bahkan tahu Roni masih mencintai Ella dan berhubungan dengan gadis itu. Tapi tetap saja, jauh didalam hatinya Jun tetap berharap Roni lah yang akan menggantikan dirinya menjaga Sari nanti. Karena Jun tahu benar betapa baiknya temannya ini. Dan pasti Roni dapat menjaga Sari dengan baik juga.
"Gak mau...Aku gak mau merebut dia darimu. Kamu akan hidup, Jun. Kamu harus sembuh untuk bisa menjaganya sendiri!" Roni menolak permintaan Jun mentah-mentah. Bukannya dirinya tidak suka dengan Sari, tapi keadaanya seperti ini coba...
Jun tersenyum mendengar jawaban Roni. "Please, Ron..." pintanya sekali lagi.
Roni hanya terdiam tak sanggup menjawab.
"Kuanggap diammu sebagai iya." Jun mengambil kesimpulan dari sikap Roni. Dan sekali lagi Roni tak berdaya untuk menolak atau memprotesnya.
Pembicaraan mereka terhenti karena Sari dan ibu Jun berjalan mendekat, menghampiri mereka.
"Jun...Ada Sari nyariin kamu." Nia mengangguk dan mempersilahkan Sari untuk mendekat kepada Jun.
Sari berjalan perlahan mendekat ke arah Jun. Tubuhnya bergetar karena isakan tangisnya yang semakin menjadi-jadi demi melihat keadaan kekasihnya yang menyedihkan. Sari berlutut di hadapan Jun, menyamai ketinggian kursi Roda itu untuk dapat memandang lurus ke wajah Jun.
"Kamu jahat...Kamu jahat banget..."
"Maaf..."
"Aku gak mau putus. Aku sayang sama kamu, Jun." Sari menghambur dan memeluk tubuh Jun. Pelukan Ringan karena dia tak ingin menyakiti Jun yang terlihat lemah.
"Aku juga sayang sama kamu." Jun balas memeluk tubuh Sari yang terus menangis sesenggukan.
Roni dan Nia sangat terharu melihat kedua insan manusia yang saling mencintai itu. Tak tega rasanya melihat keduanya yang saling mencinta harus berpisah karena takdir yang kejam...
Perlahan Roni dan Nia berjalan meningggalkan Sari dan Jun untuk berduaan. Memberikan mereka kesempatan menghabiskan waktu bersama.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼