
Linggar dan Kartika berjalan beriringan mengampiri meja mereka. Bergabung dan duduk bersama di kursi yang berhadapan dengan Ella dan Mahes. Membuat Ella semakin panas dingin dan jantungnya berdetak dag dig dug tak karuan.
Mahes langsung berdiri dari kursinya, mencium tangan Kartika dan menyalami Linggar untuk menyapa mereka. Sementara Ella masih terduduk kaku dan terdiam, terlalu gugup untuk bereaksi dan sekedar menyapa.
"Lho Mahes udah punya cewek? Kok gak pernah dikenalin ke keluarga?" Kartika bertanya menyelidik, mengalihkan pandangannya dari Mahes kepada Ella. Mungkin dia sedikit heran kok kayaknya pernah lihat gadis itu, tapi dimana ya? Apalagi gadis itu terus saja menundukkan kepalanya daritadi, membuat Kartika tak bisa melihat dengan jelas wajah sang gadis.
"Bukan budhe. Ini kan Ella, Ceweknya Ardi." Mahes malah langsung membuka jati diri Ella terang-terangan. Sedikit heran juga kok bisa-bisanya Kartika tidak mengenali Ella.
"Iya mama gimana si, masak lupa sama mbak Ella?" Linggar menyeletuk. Pria itu tersenyum-senyum kegirangan bisa ketemu dengan Ella lagi. Sementara Ella dengan canggungnya hanya bisa mengangguk sopan untuk menyapa Kartika.
"Oh jadi kalau Ardi lagi gak ada kamu bisa jalan sama Mahes sebagai cadangan? Dasar cewek ganjen. Pinter banget ya kamu pilih cowok? Atau kamu memang sengaja mengincar pria-pria kaya seperti mereka?" Kartika menatap Ella semakin tajam. Sorot matanya seperti laser yang dapat menembus dan melubangi tubuh Ella. Membuat nyali Ella semakin menciut, tak berani menjawab.
"Mama ngomong apa si?" Linggar tidak suka dengan ucapan kasar mamanya pada Ella. Terlalu mengada-ada dan tak beralasan. Linggar tahu betul Ella bukan wanita seperti yang dituduhkan mamanya.Dan lagi, bagaimana pun Mahes adalah sepupu Ardi, hubungan mereka berdua pun cukup akrab. Mana mungkin Mahes berani berbuat macam-macam pada cewek kakaknya itu.
"Tadi ada temen yang lain kok, budhe. Tu bekas piringnya juga masih ada. Kami gak berduaan kok, lagian Ella sekarang adik kelas saya PPDS. Jadi kami cuma keluar makan bareng sebagai sesama residen." Mahes berusaha menjelaskan.
Ardi memang pernah cerita pada Mahes bahwa hubungannya dengan Ella masih terhalang restu. Mahes sendiri juga tahu bahwa mama Ardi tidak menyukai Ella. Bahkan di pesta ulang tahun waktu itu, Kartika sempat menjodohkan Ardi dengan Sari, adiknya. Perjodohan yang terkesan serampangan dan mendadak, mungkin hanya bermaksud untuk menghancurkan hati Ella?
Tapi tetap saja Mahes tak mengira mama Ardi bisa sejahat itu kepada Ella. Sebegitu tidak sukanya kah Kartika pada kekasih putranya itu? Kasihan Ella donk kalau diperlakukan kayak gini terus?
"Adik kelas? Kamu kuliah lagi?" Kartika kembali bertanya keheranan. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana bisa gadis kecil ini begitu berani menentangnya? Bukannya memperjuangkan untuk bisa mendapatkan restunya dan menjadi isteri Ardi. Gadis ini malah terkesan menabuh genderang perang untuk melawan dirinya. Menegaskan bahwa Ella tak akan mau melepaskan profesinya itu, tidak juga demi dapat menikah dengan Ardi.
"Ella keterima di PPDS Penyakit Dalam, Budhe. Ella keren banget lho, dia gadis yang sangat cerdas." Mahes kembali menjelaskan, sedikit mempromosikan Ella, untuk memperbaiki citra gadis itu di depan Kartika.
Kartika mendengus dan menghembuskan napasnya keras-keras. Terlihat sangat kesal dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya. "Linggar, Mahes bisa tolong tinggalkan kami sebentar? Aku pingin ngomong berdua dengan Ella." Kartika meminta Mahes dan Linggar untuk pergi meninggalkan mereka berdua saja.
Linggar langsung beranjak berdiri dari kursinya menuruti permintaan mamanya. Sementara Mahes masih ragu-ragu, dia merasa kasian dan tak tega untuk meninggalkan Ella berduaan dengan Budhenya itu. Apalagi dilihatnya wajah Ella sudah pucat dan tubuhnya gemetaran saking takutnya berhadapan dengan Kartika.
Ella mengangkat wajahnya dan mengangguk mantap kepada Mahes sebagai persetujuan. Sebagai tanda bahwa dia akan baik-baik saja. Mahes pun akhirnya meninggalkan Ella sendirian saja berhadapan dengan Kartika Pradana. Sementara dirinya mengikuti Linggar pindah ke kursi lainnya dan memesan makanan dan minuman untuk mereka.
__ADS_1
"Kenapa kamu sekolah lagi?" Kartika bertanya dengan nada ketus setelah tinggal duduk berhadapan berdua saja dengan Ella.
"Saya ingin meningkatkan kualitas diri saya. Agar saya bisa pantas dan sejajar dengan mas Ardi. Agar saya dan Mas Ardi bisa berdampingan dengan setara." Ella menjawab, mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap wajah dan mata Kartika. Bukan tatapan menantang dan kurang ajar yang diberikannya. Tetapi tatapan lembut dengan senyuman terkembang di bibirnya. Ella hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya kuat, tidak takut dan lemah di hadapan Kartika.
"Kamu ingin mensejajarkan dirimu sendiri dengan Ardi? Jangan mimpi kamu!"
"Kalau masalah harta mungkin saya tidak akan sanggup. Tapi saya masih bisa berharap pada gelar dan prestige yang dapat saya perjuangkan." Ella menjelaskan maksudnya.
"Berapa lama study di PPDS Penyakit dalam?"
"Sekitar enam semester."
"Tiga tahun?" suara Kartika meninggi demi mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan Ella untuk menyelesaikan study nya. Bagaimana mungkin Ella seakan ingin menunda selama tiga tahun untuk dapat bersatu dengan Ardi? Tiga tahun itu bukanlah waktu yang singkat.
"Idealnya segitu. Bisa juga kurang atau lebih."
"Tidak saya tidak berani berharap terlalu tinggi..." Ella menjawab pasrah. "Semua terserah kepada mas Ardi dan keluarga Pradana. Keputusan mutlak di tangan kalian."
"Kenapa sih kamu begitu keras kepala? Kenapa kamu begitu ngotot? Apa sebegitu tidak inginnya kamu berada di bawah Ardi? Haruskan kedudukan kalian sejajar?"
"Saya, saya tak ingin hanya mas Ardi saja yang berjuang. Rasanya sungguh tak adil baginya. Saya juga ingin ikut berjuang bersama dengannya untuk menggapai mimpi-mimpi kami bersama."
"Kodrat wanita itu tetap berada dibawah pria. Kamu harus ingat itu. Bahkan setelah menikah nantinya pria yang akan memimpin rumah tangga dan wanita yang akan menjadi pendukungnya." Kartika masih tidak dapat mengerti dengan jalan pikiran Ella.
Disaat banyak sekali gadis diluar sana berlomba-lomba untuk dapat menjadi isteri Ardi Pradana. Disaat kebanyakan gadis mau melakukan apa saja untuk dapat bersanding dengan putranya. Ella malah terkesan tidak mau berjuang untuk Ardi. Tidak mau melaksanakan satu-satunya syarat yang diajukan untuknya. Hanya satu syarat, mereka hanya ingin Ella untuk berhenti bekerja saja.
Menurut Kartika gadis di hadapannya ini terlalu egois dan ambisius sebagai wanita. Ella seolah sama sekali tidak memikirkan tugas dan kewajibannya sebagai isteri putranya kelak. Gadis ini terkesan hanya memikirkan carier dan profesinya saja. Bagaimana bisa dia menjadi isteri Ardi kelak?
"Saya tahu sebagai wanita, sebagai isteri nantinya saya harus menuruti apa kata suami saya. Dan masalah saya bisa bekerja atau tidak setelah menikah, itu mutlak keputusan yang harus diambil oleh suami saya. Dan itu juga harus dengan pertimbangan dari saya sendiri sebagai isterinya." Ella berhenti sebentar, mengambil napas.
__ADS_1
"Saya tidak bisa terima jika ada pihak lain yang mencampuri keputusan internal keluarga kami. Tidak juga keluarga dari suami saya sendiri." Ella menjelaskan uneg-unegnya tentang keluarga Ardi yang dirasanya terlalu ikut campur dalam urusan anak mereka.
"Tapi tetap saja Ardi sebagai anak tak bisa menentang keputusan kami begitu saja. Terutama keputusanku sebagai ibunya." Kartika semakin emosi pada Ella.
"Anda benar, nyonya Kartika Pradana." Ella sengaja menekankan pangilan nyonya pada Kartika. "Saya juga sadar sepenuhnya bahwa anak laki-laki adalah selamanya menjadi milik ibunya. Dan saya sama sekali tak akan keberatan serta menghalangi suami saya kelak untuk berbakti kepada orang tuanya. Terutama kepada ibunya."
"Tetapi saja juga sangat berharap suami saya kelak dapat memisahkan antara mana tanggung jawabnya sebagai seorang putra dari kedua orang tuanya. Dan mana tanggung jawabnya sebagai seorang suami dari isterinya. Sebagai kepala keluarga yang harus saya jadikan panutan hidup nantinya." Ella mengakhiri ucapannya dengan sedikit dramatis.
Kartika yang terdiam kali ini. Tak menyangka Ella begitu berani untuk mendebatnya, dengan kata-katanya yang tertata halus. Tidak terbawa emosi dan terlalu menyalahkan dirinya. Dan lagi jika dipikir-pikir, semua yang dikatakan gadis ini begitu berbobot, logis dan sangat sesuai dengan ilmu agama. Mau tak mau Kartika harus mengakui bahwa Ella benar-benar gadis yang sangat cerdas. Pantas saja Ardi seolah jatuh cinta, tergila-gila, dan cinta mati kepada gadis itu.
"Kami bukannya mau mencampuri urusan rumah tangga anak-anak kami nantinya. Kami hanya ingin memastikan segalanya berjalan sesuai jalur dengan semestinya. Karena memang terlalu banyak aturan tidak tertulis dalam keluarga kami." Kartika menjelaskan peraturan dan budaya patriarki yang masih dianut dengan teguh oleh keluarga mereka.
"Saya tahu..." jawab Ella singkat kali ini.
"Terus apa yang akan kalian lakukan sekarang? Hubungan kalian sudah mentok. Tidak bisa dibawa kemana-mana lagi jika terus begini." Kartika mengingatkan Ella.
"Anda benar..." sekali lagi Ella hanya bisa pasrah.
"Bagaimana jika aku tetap belum bisa menerima kamu sebagai pendamping Ardi?" Kartika menanyakan sebuah pertanyaan yang bagaikan sebuah petir menyambar ke tubuh Ella. Menggelegar dan membuat dirinya tersengat, mati rasa dan tak sanggup bereaksi untuk beberapa saat.
Ella terdiam saja membisu, dengan menggigit bibir bawahnya. Bukannya dia tak tahu jawaban apa yang harus dikatakannya. Bukannya dia tak bisa memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini. Tapi karena hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan ini. Jawaban yang terlalu pahit dan sakit untuk sekedar dikatakannya.
"Saya akan menyerah..." ujar Ella.
~∆∆∆~
Eng ing eng...Ella nyerah? Akankah Ella akan melepaskan Ardi begitu saja?...
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼
__ADS_1