
Jarum jam di dinding kamar ruangan VVIP sudah menunjukkan pukul dua belas malam, dan Ardi masih belum juga memejamkan matanya. Bukan karena tidak bisa tidur, tapi memang masih ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikannya. Berkutat dengan tab khusus kerjaannya.
Ngapain coba malam-malam begini begadang? Ternyata untuk menemani chatting dengan Kresna, hacker kepercayaannya. Kresna yang sedang ditugaskan olehnya untuk menyusup ke data induk perusahaan-perusahaan Pradana yang ada di Bayu Harum. Baik itu perusahaan utama, sampai lima perusahaan besar lainnya.
Proses hacking memang lebih mudah dilakukan saat malam hari seperti ini. Karena biasnya sistem keamanan server perusahaan sedang tidak terjaga. Kegiatan ilegal ini rutin yang Ardi dan Kresna lakukan beberapa bulan sekali untuk mengecek kestabilan perusahaan-perusahaan mereka. Karena ini kegiatan telarang jadinya harus mereka lakukan sendiri dan sembunyi-sembunyi begini.
Sambil menunggu chating balasan Kresna, Ardi mengalihkan pandangannya ke linggar yang sudah tertidur pulas di ranjangnya. Tersenyum lega melihat adik kecilnya itu sudah terlihat lebih sehat dan tertidur dengan damai. Ardi benar-benar tidak menduga bahwa Linggar bisa beneran kecelakaan setelah kebohongannya soal tabrakan beberapa hari yang lalu. Seakan kena karma saja itu anak.
Untungnya kecelakaan kali ini tidak terlalu parah. Tapi tetap saja membuat dirinya cemas juga melihat adiknya terkapar tak berdaya seperti kemarin. Linggar yang biasanya cerah ceria dan selengekan bisa menjadi selemah dan sepucat itu. Terlihat sangat menderita dan kesakitan. Sebagai kakak, mana tega coba ngelihat adiknya seperti itu.
Syukurlah hari ini keadaan Linggar sudah jauh lebih baik. Tidak lagi pucat, tidak sesak napas dan kesulitan bernapas serta kesakitan seperti kemarin. Mungkin karena pengaruh obat yang dikonsumsinya membuat Linggar sudah ketiduran sejak pukul sembilan tadi. Jadwal tidur yang tak mungkin dilakukannya dikala sehat. Si bocah tengil gak mungkin tidur jam segitu.
Ardi memutuskan untuk keluar kamar, mencari udara segar. Berganti suasana dan menghalau kejenuhan. Ardi membawa tab-nya berjalan perlahan ke lift naik ke lantai empat dan lanjut ke kantin yang buka 24 jam. Ardi memesan secangkir kopi hitam untuk menghilangkan rasa kantuk dan suntuknya.
Kemudian pria itu mengambil duduk di salah satu kursi yang dekat dengan jendela. Sekedar untuk meminum kopinya ditemani pemandangan langit yang cerah berbintang. Ardi ingin menambahkan asupan caffein ke otakknya. Membuatnya sedikit lebih cerdas walau hari sudah semakin malam.
Lazuardi
Bagaimana? Udah clear? Gede gak ketimpanganya?
Kresna
Nggak si. Palingan puluhan sampai ratusan juta saja
Lazuardi
Itu sudah fix untuk keenam perusahaan semua?
Kresna
Untuk perusahaan utama jelasnya agak besar pak ratusan juta. Lima perusahaan lainnya yang cuma puluhan juta. Gimana mau ditindak?
Lazuardi
Pasti!
Kecil-kecil gak ditindak keenakan ntar ngelunjak ambil gede lama-lama.
Kresna
Kapan mau dilakukan?
Lazuardi
Secepatnya. Sebelum pengalihan jabatan ke Linggar. Aku gak ingin ninggalin masalah ke anak itu. Bisa makin gila dia ntar, kasihan.
Kresna
Baik. Apa saja yang perlu saya kumpulkan?
Lazuardi
Kumpulin bukti kongkretnya. Fakta yang tak terbantahkan. Serta nama-nama yang terlibat. Nanti kita tindak lanjuti sebelum makin runyam.
Kresna
Ok. Wait a minutes
Ardi menunggu Kresna bekerja dari base campnya, apartemen Kresna yang telah disulapnya menjadi tempat kerja penuh layar komputer super canggih. Ardi setia menanti Kresna sambil menyeruput secangkir black coffee di hadapannya.
Mengedarkan pandangan untuk melihat-lihat pemandangan disekitarnya. Pandangan Ardi tiba-tiba teralihkan oleh sesosok wanita dengan jas putihnya yang berjalan gontai ke arah kantin. Wanita itu mengambil duduk di salah satu kursi disana. Ella?
Mau tidak mau Ardi jadi percaya juga akan adanya takdir. Takdir yang terus saja mempertemukan dirinya dan Ella secara tidak sengaja seperti ini. Bahkan mereka tak perlu saling mencari ataupun saling menghubungi untuk janjian bertemu.
Ngapain Ella malam-malam begini keluyuran ke kantin coba? Kemudian Ardi baru ingat bahwa gadis itu sedang bertugas jaga UGD malam ini. Diamatinya sekalian lagi keadaan Ella yang terlihat sedikit aneh. Kenapa dia? Kenapa kelihatan syok begitu? Mau tak mau membuat Ardi penasaran juga.
__ADS_1
Ardi segera ke counter memesan secangkir coklat hangat untuk Ella. Membawanya dan meletakkan cangkir itu di meja gadis itu. Tapi Ella diam saja, tak bereaksi. Gadis itu bahkan tak menyadari kehadiran Ardi disana.
Kemudian Ardi mengambil cangkir kopi dan tab dari mejanya, membawanya ke meja yang sama dengan yang diduduki Ella. Ardi pun mengambil duduk di kursi yang berhadapan dengan gadis itu.
"Ella? Are you ok?" Ardi bertanya lembut menyapa gadis di hadapannya, menyodorkan secangkir coklat hangat tadi pada gadis itu.
Ella kaget mendengar suara seseorang menyapa dan memanggil namanya. Ella seakan tersadar dari lamunannya, langsung mengangkat wajahnya. Sedikit heran juga begitu mendapati wajah Ardi hadir di hadapannya. "Mas Ardi?"
"Minum dulu biar tenang," Ardi menunjuk secangkir coklat hangat di hadapan Ella.
Ella menurut saja mengambil dan meneguk minuman hangat yang disodorkan Ardi. Menikmati beberapa tegukan. Memberikan rasa hangat, dan nyaman pada tubuhnya. "Makasih..."
"Kenapa? Ada kejadian buruk?" Ardi kembali menanyai Ella. Saking penasaran dan khawatirnya melihat keadaan Ella yang tidak biasa.
"Pasienku barusan meninggal. Dua orang sekaligus, mereka suami istri korban kecelakaan lalu lintas."
"Oh I'm sorry to hear that." Ardi menyatakan simpati.
"Bukannya aku tak bisa menerima kematian pasienku. Sudah berkali-kali aku mengalaminya. Ini tadi juga semua diluar kendaliku karena mereka datang sudah dalam kondisi sudah sangat parah waktu sampai UGD." Ella mengambil napas.
"Yang bikin nyesek adalah dalam keadaan sekarat pun mereka masih saling mencari. Saling menghawatirkan satu sama lainnya. Keduanya minta didekatkan. Akhirnya keduanya meninggal dalam keadaan tersenyum dan bergandengan tangan sangat erat. Seakan mengatakan bahwa maut pun tak dapat memisahkan mereka berdua."
"Ternyata cinta sehidup semati memang ada..." Ella mengakhiri ceritanya dengan dramatis. Kemudian terdiam dan menyesap kembali minumannya.
Ardi diam tak menjawab, bingung juga bagaimana harus bereaksi. Memang tidak mudah untuk melihat saat-saat kematian seseorang, dan pastinya akan sangat menyedihkan. Bahkan bagi seorang dokter yang sudah sering melihatnya pun masih sering menimbulkan syok tersendiri. Apalagi kalau kematian pasiennya begitu dramatis.
Kebetulan banget nama Kresna muncul lagi di tab Ardi. Pria itu memberikan laporan yang dimintanya tadi. Ardi pun langsung membalas padanya.
Lazuardi
Kres, bikinin aku gambar animasi yang lucu dengan kata-kata penyemangat. Ini aku kasih kata-katanya.
Kresna
What?! What for? Itu gimana laporannya?
Lazuardi
Laporannya kita bahas lagi besok aja, udah malam.
Gak susah kan bagi orang kayak kamu bikinnya?
Kresna
Gampang. Gimme a second.
"This is my bad day...Rasanya apes banget hari ini." Ella kembali membuka pembicaraan.
(*Hari ini adalah hari yang buruk)
"It's Ok. Tomorrow will be a better day," Ardi mencoba menghibur Ella.
(Gak pa-pa, besok pasti akan menjadi hari yang lebih baik).
"It's getting hard and harder every day by day,"
(*Rasanya berat dan semakin berat dari hari ke hari)
"Kamu bertengkar lagi sama Roni ya?" Ardi coba menebak-nebak. Pasti cowok gila itu cemburu buta lagi pada Ella karena pertemuan mereka tadi di ruangan Linggar. Padahal jelas-jelas Ardi dan Ella gak ngapa-ngapain tadi. Adem ayem saling menjaga sikap masing-masing.
"Iya..." jawab Ella. Kaget juga bagaimana Ardi bisa menebak pertengkarannya dengan Roni.
"Makin lama makin sesak rasanya berada bersamanya. Dia semakin menyebalkan lama-lama. Kenapa dia bisa begitu berubah?" Ella melanjutkan.
"Sorry...pasti karena aku," Ardi meminta maaf.
__ADS_1
"Sebagian iya. Sebagian lainnya mungkin memang sifat aslinya yang pencemburu. Kalau dia begitu terus aku juga tak akan tahan menghadapinya..."
"Kamu harus bahagia, El! Jangan sampai terjebak dalam toxic relationship... Bukannya aku mau menjadi orang ketiga diantara kalian. Tapi jujur saja aku gak rela melihatmu menderita karena dia."
"Aku harus gimana, mas?" Ella bertanya pasrah.
"Semua terserah padamu, El. Up to you. Kamu bisa memakai aku sebagai alasan. Kamu bisa memintaku untuk melancarkan agresi militer secara terang-terangan. Aku bisa maju dan merebutmu kembali menjadi milikku. Aku tak akan keberatan selama kamu yang memintanya..."
"Tapi secara pribadi aku lebih suka kalau kalian selesaikan dulu masalah kalian berdua. Jujur sama dia, selesaikan baik-baik masalah kalian. Kalau dia memang mencintaimu dia seharusnya bisa melepaskanmu daripada membuatmu menderita." Ardi jadi teringat dengan keputusannya sendiri untuk melepas Ella tiga tahun yang lalu. Melepas gadis itu untuk membuatnya bahagia.
"Aku juga tak ingin menjadikanmu kambing hitam. Kalau pun harus berpisah aku maunya bukan karena kamu mas Ardi. Tapi lebih dikarenakan hubungan kami yang memang sudah tidak sehat..."
"Akhiri dulu hubungan lama agar tak ada yang mengganjal untuk hubungan baru nanti... Aku tak keberatan menunggumu sedikit lebih lama. Biarkan saja waktu dan takdir yang menuntun jalan pertemuan kita tanpa kita harus merencanakannya." Ardi memberi saran dengan sabar. Masa iya gak bisa nunggu dikit lagi, nunggu tiga tahun aja bisa.
"Kamu benar, mas...Memang selama ini pertemuan kita murni karena kebetulan. Sesuatu yang seolah sudah digariskan oleh takdir agar kita kembali berjumpa. Mungkin juga pertanda bahwa kita seharusnya kembali bersama." Ella merasa senang karena Ardi seakan mengerti dirinya, tidak terburu-buru, tidak menuntut dirinya untuk segera membuat keputusan. Sabar sekali dalam menghadapi kebimbangannya.
Keduanya kembali terdiam. Merenungi percakapan mereka di kepalanya masing-masing. Kedua insan manusia itu berpandangan dan bertukar senyuman indah. Menikmati kebersamaan dengan sesekali menyesap minuman hangat di hadapan mereka. Menikmati suasana malam di kantin dengan pencahayaan remang-remang yang romantis.
"Ini buat kamu..." Ardi menyodorkan tabnya pada Ella. Gambar animasi yang dimintanya pada Kresna. Baru saja selesai tepat waktu. Good job Kresna!
Ella menerima tab Ardi dengan keheranan. Diamatinya layar tab itu, kemudian langsung terbelalak dan terharu. Dapat dilihatnya di layar tab sebuah gambar animasi bikinan pribadi. Dengan pesan 'Dont be sad, coz I'll be by your side...Gun battle!'. Dibagian bawah ada beberapa animasi teddy bear yang dapat bergerak-gerak.
(*Jangan bersedih, karena aku akan selalu ada disisimu...Tetap semangat!)
"Coba klik teddy bearnya satu-satu," Ardi memberi petunjuk pada Ella.
Ella menurut saja menekan gambar beruang itu satu persati. Teddy bear pertama memberikan sebuah pelukan padanya, virtual hug. Kemudian Teddy bear kedua memberikan ciuman hangat, Flying kiss. Teddy bear ketiga memberikan sekuntum bunga, Red rose. Dan Teddy bear terakhir memberikan sebuah kotak hadiah.
"Coba klik lagi hadiahnya..."
Ella menekan sekali lagi layar tab tepat di kotak hadiah itu. Sebuah kembang api langsung meledak dan musik mengalun beserta lirik lagunya...
Baby, take my hand
I want you to be my husband
'Cause you're my Iron Man
And I love you 3000
Lucuuuu! Dan sangat manis! Mau tak mau Ella tersenyum bahagia dibuatnya. Perhatian kecil dari Ardi yang seperti inilah yang selalu dirindukan Ella. Sesuatu yang dulu sering didapatkannya. Small things that can makes her heart melting.
(*Hal sederhana yang dapat melelehkan hatinya).
"Makasih...Makasih banyak ya mas." Ella masih saja tersenyum bahagia memandangi gambar itu. Ardi pun ikut tersenyum melihat senyuman bahagia Ella.
"Kamu cantik kalau tersenyum begitu..." Puji Ardi pada Ella yang mampu memerahkan wajah gadis itu seketika. Tak sanggup menjawab.
"Tersenyumlah...Hiduplah bahagia..." Ardi melanjutkan permintaan dan harapannya untuk kebahagiaan Ella. Dan sekali lagi Ella hanya sanggup menganggukkan kepala tanpa menjawab.
"Kamu masih ingat I love you 3000?" Ardi tiba-tiba bertanya pada Ella.
"Hahaha inget banget lah. Dulu ada seorang ironman yang sok-sokan nembak di tepi pantai dikala sunset. Terus bilang I love you 3000...Gaya banget." Ella cekikikan mengingat saat-saat indah itu, saat pertama kali mereka jadian.
"Dan ada seseorang juga yang berkata I love 4000 pada sang Ironman." Ardi ikutan tertawa mengenang masa-masa bahagia mereka.
"And after all these years, I still love you 10.000, 100.000 even 1.000.000." Ardi melanjutkan kata-katanya.
"I love you too much more," Ella menjawab sambil tersenyum indah.
Keduanya kembali terdiam bertukar senyuman dan pandangan. Hanya duduk terdiam menikmati benersamaan mereka yang seolah telah ditakdirkan.
~∆∆∆~
Uwu time detected
__ADS_1
Aduh mana tahaaan coba kalau se sweet itu diperlakukan oleh babang Ardi...
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼